
Enam bulan sudah Choi Ha Jae berada di Incheon. Akhirnya yang membahagiakan bagi Ha Jae. Karna urusannya di Incheon sudah selesai. Ha Jae sedikit lega dan merasa lebih kuat dari sebelumnya. Walau Ha Jae harus mendapatkan sedikit luka di wajah dan badannya. Namun dia begitu sangat puas.
Brengsek. Gumam Ha Jae dalam hati.
Aku tidak menyangka. Ternyata Manager sendiri yang berusaha hancurkan Perusahaan ini. Batin Ha Jae.
Jika Senpai tau Manager kepercayaan yang dia pilih adalah biang kerok dari semua ini. Pasti Senpai akan sangat murka. Semua pemimpin di semua titik akan kena imbasnya. Gumam Ha Jae dalam hati.
Ha Jae tak menyangka semua masalah yang dia hadapi. Walau ia merasa ini adalah masalah besar baginya. Tapi sebenarnya, ini baru awal dari masalah yang lebih besar lagi.
Apa ini baru awal?! Gumam Ha Jae dalam hati.
Choi Ha Jae belum ada apa-apanya untuk menghadapi semua masalah yang akan datang. Walau pun begitu, Ha Jae terlihat sudah sedikit kuat. Karna dia bisa membereskan semua itu sendiri. Menundukan pemimpin Incheon. Preman yang di takuti di kota itu, dengan mudahnya Ha Jae tundukkan.
Dua hari setelah masalah itu selesai. Choi Ha Jae memutuskan untuk kembali ke Daejeon. Dia sangat senang berada di Incheon. Selain banyak pengalaman yang dia dapatkan. Ia juga banyak mendapatkan teman di sana. Bahkah Choi Ha Jae dapat ketemu dengan beberapa WNI yang bekerja di sana.
Rasanya seperti bertemu dengan sodara kandung sendiri. Choi Ha Jae, begitu sangat bahagia.
__ADS_1
"Aku akan terus mengingat kalian. Aku janji." ujar Ha Jae.
"Baik. Hati-hati ya, tepati janjimu. Jangan lupakan kami." ucap salah satu buruh.
Walau pada akhirnya mereka tau bahwa Choi Ha Jae adalah suruhan dari William Yokada, untuk mengawasi usahanya di sana. Choi Ha Jae meminta kepada mereka semua, agar tidak mengubah sikap mereka kepadanya.
"Nona," panggil seorang buruh.
"Sejak kapan kau memanggilku Nona?! Kau ingin aku pecat?!" gurau Ha Jae.
"Ha ha ha, sudahlah. Panggil aku Ha Jae. Hanya Ha Jae," titah Choi Ha Jae.
Choi Ha Jae ingin tetap di anggap sebagai buruh lepas, sama seperti mereka. Ha Jae tidak ingin dengan posisinya itu. Membuat sikap orang-orang yang sudah di anggap sodara sendiri, menjadi berubah kepadanya.
"Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Tatapanmu begitu sinis." tutur Ha Jae kepada seorang buruh.
"Dan kau, selalu meludah di depanku. Aku pikir menghinaku. Ternyata aku ikutan meludah saat tau air laut dan keringat sama-sama asin, Ha ha ha!" sambung Ha Jae.
__ADS_1
"Benar sekali ha ha ha," timpal seorang buruh.
"Aduh Maaf, aku jadi tak enak," jawab buruh itu.
"Ha ha ha ha!!" pekikan tawa mereka pecah seketika.
Sekarang Incheon berada di genggaman Choi Ha Jae. Semua orang di sana menyegani Choi Ha Jae sebagai seorang pemimpin.
Ha Jae menugaskan beberapa preman Incheon yang dia tundukan, untuk menjaga dan mengawasi gudang besar di pelabuhan.
"Kau, tugas mu dan semua anak buahmu. Adalah menjaga gudang besar." titah Choi Ja Jae.
"Baik Nona," sahut kepala Geng itu.
Jika pentolan preman yang paling di takuti di Incheon menjadi 'Anjing' penjaganya. Pasti tak akan ada yang berani mengganggu gudang besar di Incheon lagi.
...****************...
__ADS_1