Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Kembalinya Choi Ha Jae


__ADS_3

Nyesssszkk!!


Blubukkk blubuoukkk!


Tinggg!


Krongsengggggg!!


Gaduhnya peralatan dapur saling beradu membuat Haneul terbangun dari tidurnya. Pukul sudah menunjukan 7 Pagi. Harusnya mereka masih terlelap tidur, karna semalam hampir jam 2 Pagi mereka terjaga.


"Nami?" batin Haneul tertatih keluar dari kamar.


Haneul mencoba mencari dari mana sumber suara itu. Baru dia membuka pintu kamar. Haneul tertegun karna mencium bauk masakan yang tercium tidak asing di hidungnya. Dia ternyalanga bahagia dan berlari ke arah dapur.


"Mama!" pekik Haneul.


"Sssttttttt," gumam Ha Jae.


Ha Jae menunjuk ke arah Nami yang tertidur pulas di atas sofa. Dia tersenyum puas melihat gadis manis di hadapannya itu. Ha Jae melentangkan tangannya untuk menyambut putri kecilnya.


"Mama," gumam Haneul.


"Kau jangan cepat besar ya," ucap Ha Jae.


"Hah! Kenapa?!" tanya Haneul.


"Mama kesulitan memeluk tubuhmu yang semakin tinggi. Mama jadi seperti anak kecil," tutur Ha Jae mengusap rambut hitam Haneul. "Kau sudah cuci muka?! Bantu Mama siapkan makanan,"


Pagi itu, Ha Jae menyiapkan makanan spesial untuk ke tiga putrinya itu. Ha Jae sengaja memasak banyak makanan. Dia tau, bahwa sabahat-sahabatnya akan langsung datang jika tau Ha Jae sudah tiba di rumah.


"Hei, jangan cicipi terus. Nanti habis," tegur Ha Jae kepada Haneul. "Mama mau mandi dulu. Kau tunggu yang lainnya bangun, ya."


"Hemm," sahut Haneul.


"Oh, ya. Setelah mandi Mama harus pergi. Mama ada urusan yang harus Mama selesaikan," tutur Ha Jae. "Mama belikan baju untuk kalian. Kau rapikan baju Mama, ya. Kau boleh ambil apa pun yang kau mau. Tapi yang lain di bagi, okay,"


"Okay," jawab Haneul.


Dengan cepat, Haneul masuk ke dalam kamar. Dia mencari dan menghampiri koper besar yang pasti berisi banyak oleh-oleh itu.


......................


"Bagiaman? Cantik?! Aku sudah seperti gadis Indonesia?!" ucap Haneul.


"Ehh, di mana ponselmu? Aku harus foto," seru Yuri.


"Nami, kau coba ini. Kau pasti sangat cantik." tutur Haneul memberikan sebuah gaun kepada Nami.


"Aku masih ngantuk," sahut Nami.


"Kya! Kya!! Sedang apa kalian?!" seru Yokada mendekat dari lantai bawah. "Barang siapa itu? Ha Jae?! Dia sudah pulang?!"


"Hemm," gumam Haneul menganggukan kepala.


"Di mana dia?!" tanya Yokada.


"Keluar. Mama bilang ada urusan penting. Oh, Mama sudah masakan makanan untuk kita semua, Paman." jawab Haneul.


"Ais! Sial! Bocah itu. Bagaimana ini?!" gumam Yokada.

__ADS_1


"Kenapa Paman?!" tanya Haneul penasaran.


Yokada tertegun memandang Haneul. "Tidak. Dia bilang mau pergi kemana?" tanya Yokada.


Haneul menggelengkan kepalanya dengan polos. Yokada yang melihat itu pun semakin cemas. Dia mengkhawatirkan hal yang belum Ha Jae ketahui. Yokada mengeluarkan ponsel dari celananya. Dia berusaha menghubungi Ha Jae.


Tittttttttt Tittttttttt! (dering ponsel Ha Jae)


Haneul meraih ransel milik Ha Jae dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalamnya.


"Paman, Hp Mama," Haneul menunjukan ponsel Ha jae yang tertinggal.


"Haiss! Bocah. Kemana dia?!" gumam Yokada.


Yokada langsung kembali ke lantai bawah tanpa seucap kata pun. Dia pergi ke ruang keluarga. Yokada dengan kesalnya membangunkan Man dan Kyun yang tidur di sofa.


"Hai! Bangun kalian! Bangun!" segah Yokada.


"Ahhhh!" igau Kyun.


Yokada meraih segelas air lalu mengiramnya ke arah Kyun dan Man. "Bangun! Bangun," sergah Yokada.


"Ahhh!! Ombakk!!" sergah Kyun bangun dari tidurnya. "Ahh! Senpai! Ini masih jam berapa?!"


Yokada tak menghiraukan ucapan Kyun. Dia dengan serius memandang Man.


"Hei kau, antar aku ke tempat usaha Ha Jae. Aku yakin dia pasti di sana," titan Yokada.


Man yang belum sepenuhnya sadar pun hanya tertegun di hadapan Yokada. Sedangkan Kyun yang mendengar itu, terkejut dan menanyakan keberadaan Ha Jae.


"Coco?! Coco sudah pulang?! Dimana dia? Mana?" panik Kyun.


"Hore! Coco pulang!!" seru Kyun berlari di atas tangga.


Shin tertegun di depan kamar tamu. Yokada yang melihat itu pun semakin panik di buatnya.


"Hei kau. Cepat bangun," hardik Yokada.


"Ha Jae. Apa dia pulang?" tanya Shin mendekat ke arah Yokada.


"Ahh, iya. Ada urusan penting. Jadi dia langsung pergi lagi." sahut Yokada.


Yokada memandang Shin Ji Joon dengan serius. Shin pun, terlihat sendu mendengar kedatangan Ha Jae.


"Ah, sudahlah. Ayo kita ke atas. Ha Jae sudah masak makanan enak untuk kita," ajak Yokada merangkul Shin.


Yokada mengajak Shin Ji Joon sarapan di lantai atas. Sedangkan Man, kembali berbaring tidur di atas sofa.


"Ihhh, jangan!!" sergah Haneul.


"Ahh! Kau ini pelit sekali!" seru Kyun.


"Mama bilang, kita harus makan bersama. Tidak boleh di cemilin," jelas Haneul.


Haneul kembali memukul tangan Kyun coba mengambil makanan dari atas meja. Yokada dan Shin pun datang menghampiri mereka.


"Hai hai, sudah. Haneul, bangunkan Hani dan Jennie. Suruh mereka sarapan bersama di sini," titah Yokada.


"Iya, Paman." sahut Haneul.

__ADS_1


"Ayo, Shin. Silahkan duduk," ucap Yokada.


Yokada duduk di atas meja makan bersama Shin. Kyun pun dengan asik menyantap rendang di hadapannya.


"Kau, ambilkan aku obat botol hijau di kamar Ha Jae. Cepat," titah Yokada kepada Kyun.


"Aku?! Okay," sahut Kyun.


"Kau sakit?! Lebih baik ke Dokter, ayo aku antar," ucap Shin.


"Tidak usah. Tidak apa-apa, kepalaku hanya sedikit pusing." tutur Yokada.


"Paman, aku pijiti, ya," seru Yuri meraih kepala Yokada.


"Aahh, anak pintar. Terimakasih," sahut Yokada.


......................


"Bagimana? Apa berjalan lancar semuanya?!" tanya Ha Jae.


"Iya, Nona. Penjualan kita naik pesat. Ternyata memang benar, peminat produk dalam negri lebih banyak di Indonesia. Nona, tidak salah memilih bisnis." ucap seorang Manager.


"Aku juga tidak salah memilihmu." puji Ha Jae. "Di mana Lee Hani?! Aku tidak melihatnya,"


"Nona Hani belum menjawab pesan yang saya kirim, Nona. Agaknya dia tidur larut malam semalam. Saya lihat perayaan Tahun Baru di rumah Nona meriah semalam." tutur Manager.


"Oh, benarkah?! Aku baru datang pagi ini. Aku tidak tau kalau di rumah ada pesta." tutur Ha Jae.


"Oh, Maaf, Nona. Saya pikir Anda sudah datang jauh-jauh hari." tutur Manager.


"Ah, sudah, lupakan. Bagaimana dengan Tailornya. Apa juga berjalan lancar?" tanya Ha Jae.


"Lumayan, Nona. Walau belum banyak pesanan. Oh iya, kita ada pesanan sepasang gaun pengantin bertema Batik. Kebetulan karna Nona ada di Korea. Akan lebih bagus jika Nona Ha Jae yang pegang pesanan ini. Desainer kita sudah siapkan beberapa contoh model gaun yang akan kita sajikan nanti." tutur Manager.


"Okay, baiklah. Kebetulan, aku ingin sekali menjahit," sahut Ha Jae. "Jadi kapan, semua masuk kerja?!"


"Libur Tahun Baru sampai hari Senin, Nona. Masih ada 4 hari lagi." tutur Manager.


"Hah, benar, libur panjang. Aku minta maaf karna menyita waktu liburmu. Harusnya kau sekarang bersama anak dan suamimu." tutur Ha Jae.


"Tidak apa-apa Nona, dengan senang hati. Karna walau bagaimana pun ini tetap pekerjaan saya." sahut Manager.


"Baiklah, terimakasih. Tunjukan aku tempat menjahitnya," ucap Ha Jae.


"Mari silahkan, Nona. Lewat sini," sahut Manager.


......................


...(Chat dengan Choi Ha Jae)...


...----------------...


"Aku sudah siapkan berkas yang kau mau. Temui aku di taman dekat lapangan."


...----------------...


"Sial! Kenapa dia tidak membaca pesanku?! Aku seperti anjing yang menyedihkan," gumam Jimmy dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2