Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Sesuatu Yang Di Tanam


__ADS_3

"Kau sudah bangun?" tanya Ha Jae duduk di sofa kamar Yokada.


Yokada bangkit dari tidurnya. Dia mencoba menyegarkan badannya. Berdiri mengambil segelas air putih di meja tempat Ha Jae duduk. Yokada duduk di samping Ha Jae memandang jauh ke luar Jendela.


"Kau tidak tidur?!" tanya Yokada.


"Aku akan pulang ke Indonesia beberapa minggu. Aku ingin kau mengurus semua keperluanku." ucap Choi Ha Jae.


"Apa? Kenapa mendadak?! Di Indonesia tidak ada pekerja yang harus kau selesaikan?!" tanya Yokada.


"Aku tau. Aku sadar siapa diriku. Senpai," Ha Jae memandang Yokada serius. "Kau memberikanku kehidupan. Karna aku ingin hidup."


Yokada tak bergeming mendengar apa yang Ha Jae katakan.


"Dan hidupku, adalah milik Tuan. Untuk Tuan," sambung Ha Jae menatap Yokada dengan mata tajam berkaca. "Terimakasih sudah berikanku sebuah kehidupan. Bahkan untuk keluargaku. Dan ijinkan aku untuk memberikan yang terbaik untuk Tuan."


Yokada hanya diam bergeming menatap Choi Ha Jae dengan serius.


"Tuan," panggil Ha Jae bangkit dari duduknya.


Ia duduk bersimpu di hadapan Yokada.


"Ijinkan saya," ucap Ha Jae memohon.


"Aku akan mengurus semuanya. Tapi ingat, aku yang menginginkannya," ucap Yokada.


Dia  lalu bangkit bergegas ke kamar mandi.


"Yha, Ha Jae! Kau sudah buat sarapan?!" sergah Yokada dari dalam kamar mandi.


"Aa, Ya," jawab Ha Jae.


"Belum." imbuhnya lirih.


Ha Jae lalu bangkit bergegas menuju dapur bawah untuk membuat sarapan. Dia melihat beberapa bahan makanan yang berada di kulkas.


"Masak apa ya?" gumam Ha Jae melihat isi kulkas.


Hanya beberapa daging di Frezzer, tak ada satu pun sayuran yang ada di kulkas. Ha Jae menutup kulkas dan bergegas pergi ke atas. Ha Jae mengambil jaket dan krudungnya. Dia terdiam bergeming menatap krudung dalam tangannya.


"Apa aku pantas?!" gumamnya dalam hati.


"Yha! Ha Jae!" sergah Yokada dari lantai bawah.


Choi Ha Jae bergegas memakai krudungnya lalu turun ke lantai bawah.


"Nani?" sahut Ha Jae.


"Kau mau sarapan apa?! Biar aku pesan Online." seru Yokada.


"Tidak usah, biar aku masak." jawab Ha Jae.

__ADS_1


"Aku mau belanja beberapa sayur ke depan. Mau titip sesuatu?" tanya Ha Jae.


"Tidak pergi lah." sahut Yokada sibuk membuat segelas susu.


Ha Jae bergegas pergi ke swalayan dekat rumahnya.


......................


Ting tong, Ting tong! (bel rumah berbunyi).


"Hais bocah ini." gumam Yokada. "Masuk."


Big Man masuk berlahan ke dalam rumah.


"Kulo nuwun," ucapnya.


"Monggo." sahut Yokada berdiri menunggu Big Man masuk.


"Ikut aku." titah Yokada pergi kesebuah ruangan.


......................


"Omma aku ingin itu, aku ingin itu," Rengek seorang anak kecil.


Dia meminta sebuah mainan yang di pajang di sebuah rak toko.


"Sudah diam! Uangnya hanya cukup untuk kita belanja bulanan! Kau ini rewel sekali!! Kalau kau nakal, akan Omma hukum nanti." hardik seorang ibu yang menggandeng tangan anak itu.


Ha Jae diam-diam memperhatikan mereka. Dia lalu bergegas mengambil sebuah Boneka yang di inginkan anak itu. Dia tersenyum melihat boneka baby dalam kotak besar berwarna pink itu.


"Ini, satukan dengan belanjaan ibu ini." titah Ha Jae kepada pegawai kasir.


"Anu maaf, tapi saya tidak membelinya." ucap ibu itu menatap Ha Jae.


"Biar saya yang membayar semuanya. Tapi dengan syarat." ucap Ha Jae.


"Apa Nona?" tanya ibu itu penasaran.


"Jangan pernah hukum anak Anda." ucap Ha Jae melirik ke arah anak kecil yang berdiri di samping ibu itu.


"Dia adalah ladang bagi Anda Nyonya. Apa yang Anda tanam, akan Anda tuai nanti. Anda tidak mau di masa tua nanti. Anak Anda menghukum Anda hanya karna ingin sepotong daging bukan?!" ucap Ha Jae menatap sendu gadis kecil itu.


"Kasihi dia. Karna bukan cuman Anda yang akan dia kasihi nanti. Tapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan orang yang tidak dia kenal sekali pun." imbuhnya.


Ibu itu terdiam menatap anaknya dengan sendu. Dia membelai rambut anaknya dengan rasa bersalah.


"Saya tidak punya cukup uang untuk membahagiakannya. Membeli makanan untuk kita makan saja sudah begitu sulit." jelas ibu itu tersendu menahan tangisnya.


"Jika Anda berkenan, datanglah ke rumah saya. Saya butuh orang untuk membantu pekerjaan rumah. Saya yakin Anda bisa," ucap Ha Jae tersenyum kecil.


Ha Jae mengambil boneka yang sudah di scan oleh pegawai kasir. Dia lalu duduk bertopang lutut di hadapan anak kecil itu.

__ADS_1


"Siapa Namamu?" tanya Ha Jae.


"Ae-Ri," jawab anak itu lirih dengan malu.


"Ae Ri?! Beruntung dan berprestasi. Aku yakin kau anak yang pintar. Ini untuk mu," ucap Ha Jae memberikan boneka itu.


"Terimakasih," sahut Ae Ri dengan malu.


"Itu tidak gratis!" ucap Ha Jae.


Ae Ri menatap ibunya dengan bingung. Ha Jae hanya tersenyum melihat kepolosan anak itu.


"Ae Ri, boneka itu untukmu. Tapi janji Ae Ri harus jadi anak yang baik." ucap Ha Jae membelai rambut panjang anak itu.


"Kakak yakin Ae Ri tau bagaimana jadi anak yang baik." imbuh Ha Jae.


Ae Ri hanya menganggukkan kepala dengan malu.


"Janji?!" tanya Ha Jae mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji." ucap Ae Ri mengikat jarinya ke jari Ha Jae.


"Pintar," seru Ha Jae membelai kepala anak itu.


Dia lalu bangkit berdiri menatap ibu itu.


"Ini. Semua biar saya yang bayar," ucap Ha Jae memberikan sebuah kartu debit ke pegawai kasir itu.


"Ah! Tidak usah Nona, biar saya yang bayar. Saya masih punya uang," ucap ibu itu berusaha menolak.


"Yakin?!" tanya Ha Jae menatap ibu itu.


Ibu itu hanya diam kebingungan. Ha Jae tersenyum tipis melihat ibu itu.


"Maaf, jadi di bayar dengan kartu ini Nona?!" sela pegawai kasir itu.


"Jadi," jawab Ha Jae. "Anggap itu gaji pertama Nyonya. Besok datanglah ke rumah pagar hitam yang lantai atas ada outdoor kacanya. Rumahnya di pinggir jalan tak jauh dari sini."


"Terimakasih Nona, terimakasih." ucap ibu itu menunduk.


"Akan saya tunggu besok. Kalau gitu, saya lanjut belanja dulu. Mari," pamit Ha Jae mengambil kartu berbalik pergi untuk kembali berbelanja.


"Iya silahkan Nona," sahut ibu itu.


Ibu itu bergegas memasukan barang belanjaannya.


"Ah Anda beruntung sekali Nyonya," ucap pegawai kasir itu.


"Iya iya," jawab ibu itu dengan berlinang air mata.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2