Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Sibuk Dengan Kegiatan Masing-masing


__ADS_3

Dua bulan berlalu....


Kevin mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. Dengan kehidupan pekerjaan dan rutinitas. Lalu pergi ke Eropa, Asia, dan negara bagian lain untuk perjalanan bisnisnya. Seperti biasa, Kevin menggunakan Jet pribadi milik keluarganya. Bisnis Jet pribadi, juga dikelola oleh keluarga Mars.


Selain digunakan untuk keperluan bisnis setiap anggota keluarga, juga banyak yang menggunakan fasilitas jet pribadi milik keluarga Mars. Dari pejabat, pengusaha, sosialita, hingga artis dan selebritis kenamaan.


Kevin memulai lagi kebiasaannya dengan bersenang senang, menjajal klub klub malam dari berbagai tempat yang dia kunjungi. Mencari hiburan dan kesenangan duniawi semata seperti yang sudah sudah.


Sempat bertemu dengan Brenda di Itali, dan mereka menghabiskan waktu bersama selama di sana.


Joe hanya bisa pasrah. Dia hanya asisten, yang terkadang membereskan kekacauan yang dibuat oleh Kevin, atasannya. Membantunya kembali ke hotel saat telah mabuk berat. Atau mencarikan wanita penghibur, saat Kevin ingin bersenang-senang.


Joe hanya bisa menghela napas, terkadang dia membagi keluh kesahnya dengan Olivia, kekasihnya, yang juga guru Alice.


Namun, setelah melakukan semua kesenangan itu, apakah Kevin bahagia?


Tentu saja tidak. Kevin meneguk minuman dalam gelasnya. Ia berada di kamar hotel. Sendiri. Usai mengusir, wanita wanita penghibur yang dipanggil oleh Joe. Dia merasa tidak ingin ditemani oleh wanita wanita itu saat ini. Dia ingin sendiri.


Kevin menatap ke arah luar, tampak pemandangan indah di luar sana, lampu lampu kota yang menyala menghiasi kota. Hingar bingar kota vegas, tak membuatnya tergoda. Dia merasa ingin sendiri saja malam itu. Dia merasa seolah ada yang kosong dalam dirinya.


Pikirannya, ingatannya tertuju pada Alice. Kevin menatap foto foto dirinya bersama Alice saat menikmati weekend bersama waktu itu. Kevin meletakkan gelasnya, dan terus mengingat semua kenangan indah bersama gadis kecil itu.


Walau hanya beberapa saat, namun, sangat membekas di hatinya. Dia merasa sangat bahagia. Melihat senyum, tawa, rengekan, candaan, bahkan tangisan Alice masih membekas dalam pikiran Kevin.


Tok.. Tok..


Joe masuk ke kamar Kevin, dan duduk di sampingnya. Mereka kini berada di mini bar kamar hotel, menikmati minuman sambil menatap indahnya Vegas di malam hari.


Joe melirik ke arah Kevin yang masih menatap fotonya bersama Alice.


"Kamu merindukannya?" Tanya Joe sambil menoleh pada Kevin.


Kevin terdiam dan hanya menaikkan bahunya. Lalu meneguk minumannya lagi hingga habis.


Joe menepuk bahu Kevin, untuk menghiburnya.


"Jika aku lihat lihat, dia mirip denganmu, dalam versi berbeda." Ujar Joe.


Kevin menoleh ke arah Joe.


"Apa maksudmu?"


"Beberapa hari yang lalu, dia menang lomba yang diadakan Mars Group." Sahut Joe.

__ADS_1


Kevin mengernyit, seolah mencari jawaban lebih.


"Olivia, guru Alice yang menceritakan padaku. Saat ini, dia mengikuti program percepatan dalam belajar di sekolah. Dalam dua bulan, dia sudah naik dua tingkat. Dan lomba kemarin, Alice adalah peserta termuda." Tutur Joe.


"Olivia?" Tanya Kevin dengan heran.


"Kekasihku." Jawab Joe lirih seolah malu.


Raut wajah Kevin langsung berubah. Berbinar tak percaya, dan menepuk paha Joe, dan meninju pelan dada asisten serta sahabatnya itu.


Lalu dia terkekeh.


"Jangan meledekku!" Tukas Joe, dia menghabiskan minuman dalam gelasnya.


"Kamu serius, Joe?" Tanya Kevin kini dengan raut wajah serius.


Joe mengangguk.


"Aku dan Olivia tak sengaja bertemu di toserba dekat apartemen. Kami tinggal dalam satu apartemen, dia baru pindah. Unitnya ada di seberang unitku. Aku membantunya, dan berkenalan, hingga berkembang sampai saat ini. Dan aku telah mengenalkannya pada orang tuaku juga. Mereka sangat senang bertemu dengan Olivia. Dan mereka mendukung hubungan kami." Cerita Joe.


Kevin menuangkan minuman dalam gelas mereka kembali, lalu mengangkat gelasnya.


"Selamat, temanku! Aku turut berbahagia untukmu, semoga kalian juga senantiasa berbahagia!" Ucap Kevin.


Joe mengangkat gelasnya dan melakukan cheers


*


*


"Ma, mama tidak usah membelinya aku seperangkat komputer canggih seperti yang aku pernah minta." Kata Alice saat mereka sedang makan malam.


Marry menghentikan makannya, dan menatap ke arah Alice.


"Mengapa?"


Alice menyerahkan sebuah brosur tentang lomba IT yang diselenggarakan oleh Mars Group.


"Aku telah mendaftar ikut lomba ini. Dan telah mengikutinya. Kemarin Ibu Olivia yang membantu mengurus semuanya. Dan tinggal menunggu pengumuman hasilnya, besok Jumat." Terang Alice.


Marry menatap putrinya dengan bangga. Lalu dia berdiri dan memeluk putrinya.


"Kamu mau menang atau tidak. Mama akan selalu bangga padamu. Mama akan tetap membelikan apa pun yang kamu butuhkan." Ucap Marry sambil mencium kening Alice dengan sayang.

__ADS_1


Alice melepas pelukan mamanya.


"Tunggu sampai pengumuman saja, Ma. Setelah itu aku akan tentukan apa yang aku mau." Sahut Alice.


Marry mengangguk setuju. Lalu mereka menyelesaikan makan malam.


Lalu selesai makan, Marry mencuci piring dan perlengkapan makan yang kotor, dan Alice membantu mengeringkannya.


"Akhir pekan besok ulang tahun Rubby, apakah kita bisa membelikan kado untuknya, Ma?"


"Tentu. Sepulang sekolah, kita akan mencari kado untuk ulang tahun Rubby." Jawab Marry sambil tersenyum.


"Apakah Mama tidak bekerja untuk acara?"


"Tidak. Mama ingin menghabiskan akhir pekan ini hanya denganmu." Sahut Marry sambil tersenyum.


"Setelah kamu merayakan pesta ulang tahun bersama Rubby, kita akan berjalan jalan."


"Horee...!!" Seru Alice dengan gembira, sambil memeluk Marry.


*


*


Kevin dan Joe sedang berada di rumah sakit, untuk melakukan medical checkup rutin yang diwajibkan setiap setengah tahun sekali oleh perusahaan. Berhubung, mereka baru kembali dari perjalanan dinas. Mereka melakukan pemeriksaan rutin pada akhir pekan.


Kevin dan Joe berganti pakaian rumah sakit untuk pemeriksaan.


Kevin yang keluar lebih dahulu, berdiri menatap ke arah luar. Di seberang rumah sakit terlihat sebuah kedai kopi, yang tampak ramai. Lalu Kevin melihat seorang yang tampak dia pernah lihat. Marry datang, lalu memakai celemek, dan membantu seseorang yang tadi melayani pembeli.


Kevin memperhatikan Marry dari kejauhan. Tidak terlalu jelas, tapi, Kevin yakin itu Marry.


Joe keluar dari ruang ganti, mendekati Kevin yang tampak serius melihat ke arah seberang. Joe ikut memperhatikan apa yang dilihat oleh Kevin.


Dia melihat sosok Marry di seberang sedang melayani pembeli.


"Jika rindu, datangi saja!" Ucap Joe, yang sukses membuat Kevin tersentak terkejut.


Kevin menghela napas, lalu berlalu dari tempat itu. Joe hanya geleng-geleng kepala melihat Kevin.


Dia sudah paham dengan kebiasaan Kevin. Selama dua bulan melanglang buana melakukan perjalanan dinas sambil bersenang-senang, namun keceriaan Kevin seolah sirna.


Joe melihat keceriaan Kevin saat sedang bersama Alice.

__ADS_1


Namun, ada hal yang masih mengganjal dalam pikiran Joe. Marry. Dia seolah pernah melihat, namun, tidak ingat di mana.


Akhirnya, Joe berlalu juga dari tempat itu, mengikuti Kevin dan melakukan segala macam tes dan pemeriksaan.


__ADS_2