
"Semoga aku tidak terlambat. Marry bertahanlah!" Gumam Kevin sambil terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh menuju pondok danau.
Joe yang ada di sebelahnya berpegangan pada pada bangku sambil memejamkan matanya.
"Bos, tolong hati hati!"
Pekiknya ketakutan, sambil berpegangan pada bangku, lalu mencengkram seat belt kuat kuat, karena Kevin memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
*
Justin menyeringai, saat mata Marry mulai mengalir air mata. Sampai berderai air mata, Marry terus bergerak menolak Justin.
PRAKK..
Justin memecahkan botol minumnya, lalu mengarahkan pecahan botol pada wajah Marry.
"Hmmm.... Aku ingin lihat, jika wajahmu tidak cantik lagi, apakah dia masih mencintaimu? Hahahaha....!" Tawa Justin membahana, Marry menggelengkan kepalanya.
Sorot matanya memohon supaya Justin tidak melakukannya.
"Oh, tanganmu sakit?" Tanya Justin dengan. Raut sedih.
Marry hanya bisa menangis dengan mulut tersumpal.
"Hhmm... Aku terlalu kejam, jika merusak wajahmu. Lebih baik aku melakukan sesuatu yang membuatmu akan mengingat aku selamanya, seperti yang telah dilakukan oleh dia!" Bisik Justin tepat di telinga Marry sambil menyeringai kejam, membuat Marry bergidik ketakutan.
Dia belum pernah melihat sisi Justin yang seperti ini.
"Ya Tuhan, maafkan aku, yang telah membuat lelaki ini menjadi monster!" Pekik Marry dalam hatinya.
Justin melempar pecahan botol itu sembarangan, lalu meraba kaki, lalu perlahan ke paha Marry, Justin perlahan membuka pakaian bawah Marry menariknya, dan melepas, lalu melemparnya.
"Hmmm harum sekali aromanya...! Dulu aku selalu menjaga supaya dapat menjadi yang pertama usai menikah denganmu! Tapi, kamu telah mengkhianatiku! Pantas dia tergila gila padamu!"
Justin meraba dan memainkan jarinya pada milik Marry dengan lembut dengan wajah penuh napsu. Lalu membenamkan kepalanya di antara paha Marry.
"Aku akan perlahan lahan melakukannya, supaya kamu bisa menikmatinya!" Desis Justin, sambil melahap bagian inti milik Marry.
Marry menggeliat, menggerakkan tubuhnya, melawan dan menolak Justin.
PLAK! PLAK!
Pukulan bertubi-tubi di arahkan pada tubuh Marry, membuatnya kehilangan setengah kesadarannya.
Marry merasakan tubuhnya terasa sakit dan pandangannya telah buram dan gelap.
Dia merasakan Justin melakukan sesuatu pada miliknya itu. Meskipun melawan, namun, reaksi tubuhnya tetap normal saat menerima rangsangan dari Justin. Membuat Justin tersenyum puas.
"Ternyata kamu menyukainya! Basah dan nikmat sekali." Seringai Justin usai puas memainkan lidahnya pada milik Marry.
Kevin melepas pengikat tangan Marry karena tak nyaman juga, dan melepas penyumpal mulut Marry.
Dengan sekali gerakan dia telah melahap bibir Marry supaya wanita itu tak berteriak.
Menindihnya dengan kasar.
Marry megap megap tak bisa bernapas dengan baik.
Lalu dengan sisa kekuatannya, dia mendorong tubuh Justin, dan menendang bagian vital Justin.
BRUK..
__ADS_1
"Aduh! Dasar ja - lang!" ucapnya terkejut.
Tubuh Justin terdorong, sambil meringis menahan sakit.
Justin terperanjat, lalu menatap tajam pada Marry. Kilatan matanya tampak tak suka, lalu dia memukul Marry hingga tubuh dan wajah Marry lebam membiru, darah mengalir pada pelipis dan sudut bibir Marry.
Tamparan dan pukulan Justin yang bertubi, membuat Marry tak merasakan apa apa lagi.
Kini tubuh Marry again seonggok daging tak berdaya di sudut ruangan. Hanya tergeletak lemah tak berdaya.
Seringai lebar menghiasi wajah Justin, dia melepas pakaian bawahnya, dan miliknya yang telah siap, segera di benamkan pada bagian inti milik Marry.
Sambil menciumi wajah Marry yang telah penuh luka Justin menatapnya dengan tatapan iba.
"Aku masih mencintaimu, meski wajahmu telah seperti ini!" Bisiknya.
Justin merobek kemeja Marry, lalu melemparkannya sembarangan, dan memainkan tangannya di dada wanita yang telah tak berdaya itu.
Marry hanya bisa pasrah, tubuhnya telah lunglai kehabisan tenaga melawan Justin.
"Tolonglah aku Tuhan!" Doa Marry berkali kali dalam hatinya.
Sambil berderai air mata, Marry menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Kini Justin telah menindih tubuhnya dengan kasar dan melecehkannya.
BRAKKKK....
Terdengar pintu didobrak paksa.
BUK BUK BUK BUK
"Brengsek! Ba**Ngan!" Maki Kevin sambil menarik tubuh Justin dari tubuh Marry, lalu menghadiahkan pukulan bogem mentah yang berkali kali pada lelaki yang telah meniduri istrinya secara paksa itu!
Lalu dia menghampiri Marry, yang pakaiannya setengah lebih sudah terlepas.
Justin segera melepas kemejanya, lalu mengenakannya pada tubuh Marry.
Joe yang mengikuti masuk ke pondok segera mengamankan Justin yang telah babak belur dihantam oleh atasannya itu.
Kevin mengangkat tubuh Marry, menggendongnya, lalu melangkah keluar dari pondok itu, menuju mobilnya.
Sirine mobil polisi terdengar, dan beberapa mobil polisi telah tiba. Detektif polisi dan petugas segera masuk ke pondok dan mengamankan Justin.
Tangan Justin telah terborgol, lalu polisi menggiringnya masuk dalam mobil, dan membawanya ke kantor polisi.
*
Perawat segera menyambut tubuh Marry dan memberikan pertolongan padanya.
Beberapa petugas polisi, segera datang menuju rumah sakit mengikuti Kevin yang membawa Marry.
"Pak, kami akan melakukan visum pada istri Bapak." Ucapnya dengan sopan.
Kevin mengangguk.
Petugas polisi wanita itu masuk ke ruangan Marry dan melakukan beberapa tes visum pada Marry sebagai bukti kekerasan Justin.
Kevin menunggu dengan gelisah di luar ruangan.
Terlihat Emily dan William tergopoh-gopoh menghampiri Kevin.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Emily sambil menepuk bahu adiknya itu.
"Brengsek!" Teriak Kevin meluapkan amarahnya.
Emily menenangkan adiknya. Memeluk Kevin. William juga menepuk punggung Kevin dengan lembut menenangkannya.
"Dia akan baik baik saja, Kev! Aku percaya Marry wanita yang kuat." Bisik Emily.
Kevin menggertakkan giginya geram.
"Harusnya kubunuh saja dia!"
"Ssttt... Jangan menambah masalah, Kev! Kita akan berusaha yang terbaik untuk Marry."
Kevin melepas pelukan kakaknya.
"Semoga Marry baik baik saja." Gumam Kevin.
"Marry adalah wanita yang tangguh, Kev. Aku yakin dia akan dapat melewati ini dengan baik." Imbuh William sambil menepuk bahu Kevin.
Joe berlari kecil di koridor rumah sakit menuju ke arah Kevin dan kakaknya.
"Bagaimana, Marry?" Tanya Joe dengan khawatir.
"Polisi sedang memprosesnya." Sahut Kevin.
"Justin sudah diproses di kantor polisi, dan beberapa petugas sedang memproses TKP nya. Aku yakin dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal." Ucap Joe dengan geram.
"Aku tak menyangka, Justin akan berbuat seperti ini pada Marry." Gumam William sambil menerawang, lalu menatap ke arah Kevin.
Tak lama polisi wanita yang memeriksa Marry keluar dan menghampiri mereka.
"Terima kasih, Tuan Mars. Kami akan mengirimkan laporan pada Anda setelah selesai semuanya." Ucapnya sambil menyalami Kevin dan berlalu pergi.
Kevin, Joe, Emily, dan William segera bergegas masuk ke ruangan Marry.
Marry menyambut kedatangan mereka sambil tersenyum geli dan bahagia, bisa melihat lagi orang orang yang dikasihinya.
"Astaga, Marry!" Pekik Emily saat melihat wajah dan tubuh Marry penuh luka.
Emily lantas memeriksa sekujur tubuh Marry dan mengamatinya.
"Bagaimana lukanya, suster?" Tanya Emily pada perawat yang selesai membersihkan dan mengobati luka Marry.
"Kami sudah mengobati semua lukanya, Dokter. Setelah lebam dan memar kempes, akan kembali seperti semula lagi. Kecuali, beberapa luka di pelipisnya, butuh dijahit sedikit." Jawab perawat itu.
"Baiklah terima kasih."
Perawat itu keluar. Dan kini mereka menatap Marry tak percaya setelah mengalami semua ini, Marry masih dapat tersenyum lebar.
"Aku senang, akhirnya masih diberi kesempatan melihat kalian semua! Terutama suamiku. Terima kasih." Ucap Marry dengan tulus.
Kevin memeluknya dengan erat dan mencium bibir Marry.
"Auww..!" Pekik Marry sambil meringis.
"Kenapa Sayang?" Kevin terlihat khawatir.
"Jangan terlalu kuat menciumku, sakit." Ucap Marry sambil meringis, memegang bibirnya yang masih memar.
"Bos, jangan terlalu bernafsu!" Ledek Joe sambil tersenyum geli.
__ADS_1
Emily dan William hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala.