
Akhir pekan ini, Marry sengaja tidak mengambil pekerjaan untuk event, karena ingin menemani Alice menghabiskan akhir pekan.
Hari ini Alice menghadiri ulang tahun di rumah temannya, Rubby, yang tempat tinggalnya dekat dengan rumah Bibi Sophie. Saat ini, Keda memiliki seorang karyawan yang membantu. Setelah Marry datang, dia langsung bergegas membantu melayani, karena pelanggan mulai ramai mengantri untuk membeli kopi.
Tak berselang lama Ben, tiba sambil membawa bahan untuk meracik kopi yang mereka jual.
"Nanti Sophie yang membawa Alice kemari. Sophie yang menemani di acara ulang tahun, sambil mengajak Liam." Cetus Ben, sambil menghancurkan biji kopi.
"Ya, mereka pasti bersenang-senang di sana." Sahut Marry.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka lagi.
*
"Joe, kalian sudah kembali?" Terdengar Nyonya Vicky di seberang sana.
"Ya, Nyonya, ada apa?"
"Dengar, besok malam jangan lupa. Datang ke pesta ulang tahun Tuan Morgan. Awas, kosongkan semua jadwalnya di hari Minggu besok, untuk menghadiri pesta ulang tahu Papanya ke-65, dan perayaan pesta perkawinan kami ke-35, di rumah. Jadi, tolong jangan sampai temanmu itu tidak datang!"
"Baik, Nyonya, nanti saya sampaikan."
"Kalian ada di mana?" Tanya Nyonya Vicky.
"Kami sedang di rumah sakit. Menjalani pemeriksaan kesehatan rutin."
"Oke. Terima kasih, Joe."
"Sama sama, Nyonya."
Joe menutup panggilan ponselnya, dan merapikan kembali pakaiannya.
"Siapa yang menghubungi?" Tanya Kevin saat Joe keluar dari ruang ganti.
"Mamamu. Besok pesta ulang tahun Tuan Morgan, dan perayaan perkawinan orang tuamu." Jawab Joe.
"Baiklah." Jawab Kevin, sambil berlalu dari ruang ganti.
Kevin berhenti sejenak di tempat yang tadi, dan menatap ke arah seberang. Melihat ke arah kedai kopi. Marry masih sibuk melayani pembeli. Lalu datang sebuah mobil menuju ke kedai dan terlihat Alice dan Bibinya tiba, dan mereka ada di kedai itu.
Marry menyambut Alice, mereka terlihat sangat akrab. Secara tak sadar senyum tersungging di bibir Kevin menyaksikan itu semua.
"Sudah, mampirlah ke sana!" Celetuk Joe sambil memperhatikan Kevin yang fokus melihat Alice dan Marry.
Kevin menoleh ke arah Joe.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Masih tanya untuk apa?" Joe tersenyum sinis.
Kevin menatap tajam pada Joe.
"Masih tanya untuk apa? Untuk bertemu dengan Alice, atau Marry. Dengar, Kev! Aku merasa, sejak kamu menjadi seorang ayah, selama beberapa hari. Aku melihat hidupmu terasa bahagia. Lalu setelah kita kembali lagi ke kehidupan semula, kamu seakan tahu memiliki gairah hidup lagi. Tak ada semangat dalam kehidupan percintaan." Sahut Joe sambil geleng-geleng kepala.
"Bahkan kamu sampai mengusir gadis gadis itu, yang membuatku harus mengurus semua akibatnya. Dan Brenda, sampai curhat padaku, katanya kamu tak seseru dulu. Nggak asik lagi untuk bermain di atas ranjang!" Joe terkekeh sejenak.
"Kevin, bagaimana bisa seorang Don Juan, bisa takluk dengan gadis kecil itu. Atau sekalian saja, kamu dekati Mamanya." Lanjut Joe sambil menaikkan alisnya.
Kevin kesal Joe menceramahi dirinya. Namun, jika dipikirkan lagi, dia juga tak bisa menyalahkan sahabat dan asistennya itu. Bahkan semua ucapan Joe ada benarnya.
Sekali lagi Kevin melihat ke arah kedai. Marry telah sibuk melayani pembeli, dan Alice duduk di bangku yang disediakan di depan kedai.
Kevin bergegas turun dari ruang pemeriksaan menuju ke parkiran.
Kevin berhenti sejenak saat berada di samping mobilnya.
"Joe, apakah memalukan jika aku menemui Alice?" Tanya Kevin menatap Joe.
Joe menghela napas sejenak.
"Tidak! Akan jadi hal yang memalukan, jika dia benar-benar anakmu selama ini, dan kamu tak mengakuinya!"
"Ya. Tak ada salahnya menjalin relasi dengannya. Apalagi, dia memiliki otak yang cerdas seperti dirimu. Dan juga, memiliki ibu yang cantik." Sahut Joe sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kevin.
Kevin tergelak mendengar gurauan Joe.
"Baiklah. Kamu pulanglah. Aku ingin menemui mereka. Berliburlah hari ini, dan besok kita harus ke pesta orang tuaku. Dan mendengar ceramah mereka tentang menjalin hubungan, dan mencari pasangan."
Joe terkekeh mendengar ucapan Kevin.
"Semoga beruntung, Kawan! Jika ada apa apa, kamu bisa hubungi aku." Ucap Joe.
Kevin menganguk. Lalu berbalik arah menuju tempat Alice dan Marry. Joe hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu masuk ke mobil, meninggalkan rumah sakit.
Dari kejauhan, Alice mengerutkan keningnya saat melihat Kevin berjalan ke arah kedai. Dia berdiri, lalu berlari menyambut kedatangan Kevin.
"Hai!" Seru Alice tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Apakah aku boleh memelukmu anak cantik?" Tanya Kevin sambil tersenyum.
Tanpa banyak tanya lagi, Alice telah menghambur dalam pelukan Kevin.
__ADS_1
Marry yang mengawasi Alice saat berlari tadi, hanya diam, menatap tajam ke arah Kevin dan Alice. Sophie dan Ben hanya saling bertatapan, tak tahu harus bagaimana.
Alice menggandeng Kevin ke arah kedai.
Marry keluar dari kedai itu.
Bentuk kedai kopi milik Marry dan Ben, bangunan portabel, mirip seperti foodtruck, tapi bukan kendaraan, hanya bangunan. Rencananya mereka akan membeli sebuah foodtruck, jika uangnya telah mencukupi.
Disediakan tempat di depan kedai, tempat seperti payung besar dan kursi di bawahnya, untuk pembeli yang ingin menikmati di tempat itu.
"Aku ingin mencicipi kopi best seller di kedai ini." Ucap Kevin.
"Baiklah, akan aku buatkan." Sahut Ben, yang dengan lincah meracik kopi untuk Kevin, lalu tak selang berapa lama, kopi telah tersedia dan dapat dinikmati.
Kevin menyesap perlahan kopinya, dia sejenak. Ben, Marry, dan Alice menunggu komentar dari Kevin.
Kevin menganguk angguk.
"Hmmm... Enak. Tidak kalah dengan buatan brand ternama itu." Ucap Kevin sambil menyodorkan selembar uang pada Ben.
"Tidak usah. Aku yang traktir kamu." Ucap Marry memberi isyarat, menolak uang itu.
"Hai, apa rencanamu hari ini?" Tanya Kevin menoleh pada Alice.
"Aku mau berjalan jalan dengan Mamaku, membeli pakaian dan sepatu." Jawab Alice.
"Kami tahu? Kemarin aku juara lomba yang diadakan oleh perusahaan tempatmu bekerja. Ternyata Bu Olivia susah mendapat kabar beberapa hari yang lalu. Dan kemarin baru pengumuman. Lalu hadiah akan diantar ke sekolah. Aku sangat senang. Itu PC yang sangat canggih, dan aku memerlukan itu." Cerita Alice dengan gembira.
"Bagaimana, jika kita pergi bersama sama? Kebetulan aku juga sedang mencari hadiah untuk orang tuaku." Tukas Kevin.
Alice tak segera menjawab, dia menoleh ke arah Marry, seakan meminta persetujuan.
"Baik. Kamu boleh pergi bersama Tuan Mars. Tapi, sebelum pukul tiga harus sudah kembali lagi ke sini." Sahut Marry sambil mendekati Alice.
Alice menggeleng.
"Mama sudah berjanji padaku untuk berjalan-jalan hari ini!" Alice merajuk.
Marry menoleh ke arah Kevin, yang hanya diam sambil menikmati kopinya.
"Ayolah, kita jalan jalan bersama sama." Ajak Kevin.
Alice menarik tangan Marry.
Marry masih terdiam.
__ADS_1
Akhirnya dia melepas celemeknya, dan memutuskan untuk ikut jalan jalan bersama Kevin dan Alice.