Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Apa yang akan kamu lakukan Kev?


__ADS_3

Pelayan membantu menarik kursi supaya Marry bisa duduk.


"Terima kasih." Ucap Marry dengan sopan.


Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk.


Lalu menuang sampanye ke gelas dan menaruh di depan Marry dan Kevin.


"Selamat menikmati Tuan dan Nyonya. Sebentar lagi hidangan pembuka akan diantar." Ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya.


Kevin dan Marry mengangguk.


Setelah pelayan itu pergi. Marry menatap Kevin dengan tatapan tak percaya.


Ini pertama kalinya Marry makan malam di restoran yang mewah dan mahal.


Kevin memilih tempat di balkon, dengan pemandangan kota yang indah di malam hari. Lalu hanya ada satu meja dan dua kursi dengan lilin di meja, berhias bunga.


Suasana temaram dan syahdu menambah romantis suasana.


Kevin mengenakan setelan jas formal, lalu Marry dengan balutan dress berwarna hitam seksi dengan belahan samping sepaha.


Punggung yang sedikit terbuka, menambah keseksian Marry.


Kevin masih terus menatap Marry dengan takjub.


"Kamu sangat cantik malam ini." Puji Kevin.


"Terima kasih. Ini berkat pakaian yang kamu berikan padaku juga mungkin." Ucap Marry sambil tersenyum sinis.


"Bukan cuma malam ini, dari awal kamu sebenarnya sudah cantik. Hanya aku baru benar benar memiliki kesempatan memperhatikan dirimu, malam ini." Ucap Kevin lirih.


Marry tersipu, wajahnya bersemu merah mendengar pujian Kevin.


"Mungkin, terlambat meminta maaf. Aku telah membuat dirimu menanggung beban sejak usia remajamu. Aku merenggut masa mudaku, bahkan cita citamu. Aku sungguh menyesal dengan tindakan bodohku di masa lalu."


Kevin mengucapkan dengan bersungguh-sungguh sambil menatap wajah Marry.


Tak lama pelayan datang membawa hidangan pembuka bagi mereka.


Kevin dan Marry mengucapkan terima kasih, dan menikmati hidangan pembuka mereka.


Marry masih diam sambil menikmati makanannya.


"Apakah kamu sering melakukan ini?" Tanya Marry.


"Melakukan apa?" Kevin heran sambil menghentikan makannya dan menatap Marry.


"Mengajak kencan gadis gadis di tempat mahal seperti ini."


Kevin tersenyum kecil.


Kevin meraih tangan Marry dan menggenggam jemari tangannya.


"Kamulah yang pertama."


Marry terkejut, dan menatap Kevin seakan tak percaya.

__ADS_1


"Aku tak pernah berkencan dengan wanita lain selain denganmu saat ini. Kamu wanita pertama yang makan malam seperti ini hanya berdua bersamaku." Ucap Kevin bersungguh sungguh.


Marry tersipu untuk kedua kalinya.


Ada rasa bahagia terselip di dadanya. Kenyataan dia wanita pertama yang berkenan dengan Kevin.


"Tapi kamu bukan wanita pertama yang pernah tidur dengannya!" Bisik nalarnya.


Marry menarik jemarinya dari genggaman Kevin, lalu meneruskan makannya.


Tak lama kemudian makanan utama mereka tiba.


Marry menatap steak di depannya sebelum menyantapnya.


"Mengapa hanya dilihat saja?" Tanya Kevin yang heran menatap Marry yang hanya melihat makanannya saja.


"Ini pasti mahal harganya. Jujur, aku belum pernah makan seperti ini, apalagi di restoran yang mahal seperti ini."


"Kamu pantas menerima ini, Marry. Oya, ulang tahun Alice sebentar lagi. Bagaimana jika mengadakan pesta untuknya?"


Marry terhenyak.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Tak sengaja melihat di laporan hasil kegiatan siswa." Jawab Kevin.


"Ooooh..."


"Marry, apakah kamu mau menceritakan tentang dirimu?"


Kevin terkekeh.


"Aku kan juga ingin mendengar langsung dari dirimu." Kevin menatap Marry dengan tenang.


"Alice sangat menyukai kuda pony. Kamu ingat?"


Kevin mengangguk.


"Aku pernah memberikan sebuah boneka hasil dari bermain lempar hadiah di arena bermain." Kevin tersenyum geli saat mengingat hal itu. Itulah awal awal dia mulai mengenal Alice.


"Dan menjadi boneka kesayangannya hingga kini. Alice tak pernah meninggalkan boneka itu ke mana pun dia pergi. Selalu ada di dalam tasnya." Sahut Marry tersenyum lebar.


"Kamu bisa atur acaranya. Terserah mau di mana. Atau aku perlu menghubungi Bibi Ruth untuk mengurus semuanya?"


"Astaga, Kev. Tidak usah sebesar itu! Mungkin kita bisa rayakan di rumah lama kami. Di rumah Sophie. Kebetulan Nana sudah kembali ke rumahnya. Nanti aku akan tanya pada Alice, siapa saja yang akan dia undang, dan ingin pesta seperti apa." Sergah Marry.


"Ya. Aturlah itu, dan tolong libatkan aku. Aku juga ingin membantu, bukan hanya biaya, namun dalam persiapannya juga."


Marry mengangguk.


"Kamu bisa menghubungiku kapan saja." Kevin menegaskan.


"Baiklah. Setidaknya aku memiliki bala bantuan." Cicit Marry sambil tersenyum kecil.


Mereka berdua tertawa bersama.


Malam itu sebenarnya Kevin ingin melamar Marry. Namun, dia tak ingin terburu-buru. Dia tahu, Marry mulai menyukainya.

__ADS_1


Marry adalah wanita yang menyukai hubungan dengan proses. Bukan wanita yang dengan mudah melakukan kisah satu malam.


Dan itulah bedanya Marry dengan gadis lain yang pernah Kevin kenal.


Marry yang terang terangan jual mahal, membuatnya semakin penasaran dan ingin mengenal Marry lebih jauh.


Marry memiliki prinsip dan berani menolak, jika dia tidak suka.


Kevin ingin menikmati setiap proses pengenalan mereka saat ini. Kevin mulai menikmati setiap momen kedekatan mereka.


Usai makan malam. Kevin membimbing Marry masuk ke mobilnya.


"Mau menghabiskan malam bersamaku? Atau mau aku antar pulang?" Tanya Kevin saat mereka telah duduk di mobil, dan Kevin mulai mengemudikan mobilnya.


Marry terdiam memikirkan pertanyaan Kevin.


"Bukalah hatimu Marry!"


"Kamu berhak bahagia!"


Suara suara itu menari nari di kepala Marry.


Jika pulang, tetap saja sepi. Karena Alice menginap di rumah Sophie.


Namun, jika ke apartemen Kevin, dia akan sama seperti wanita bayaran lain yang pernah menemani Kevin.


Kevin melirik ke arah Marry yang masih bimbang.


Kevin melajukan mobilnya ke luar kota, menjauh dari keramaian dan hiruk pikuk.


Kevin membawa Marry menuju villa milik keluarganya yang berada di dekat pantai.


Tempat kejadian yang membuat Marry Trauma.


Entah kenapa, kata hati Kevin menyuruh Kevin untuk membawa Marry ke villa itu.


Dia sadar, Marry pasti tak akan pernah melupakan tempat itu. Namun, Kevin berharap Marry mau menceritakan semua hal yang tak dapat diingatnya. Dan dia dapat membasuh luka luka itu, dan menyembuhkan luka dan trauma dalam diri Marry.


*


Marry masih terdiam belum menjawab apa pun. Ketika melihat pantai di kejauhan, Marry baru sadar. Kevin telah membawanya ke luar kota.


"Kevin, kamu mau membawaku kemana?" Tanya Marry sambil menole ke arah Kevin dengan gelisah.


"Kevin menggenggam tangan Marry.


"Percayalah padaku! Aku tak akan menyakitimu." Ucap Kevin dengan tenang.


Tiba tiba keringat dingin keluar dari sela kulit Marry.


Ketakutan akan masa lalunya membuat dirinya gentar.


"Apa yang akan dilakukan oleh Kevin? Mengapa aku sangat bodoh? Hanya diam saja! Berteriak lah Marry!" Rutuk hati kecilnya.


Marry melihat sekelilingnya hanyalah laut lepas.


"Bagaimana aku bisa berteriak? Suara debur ombak jauh lebih kencang dari pada suaraku! Jika dia berani macam-macam denganku, aku tidak akan tinggal diam!"

__ADS_1


__ADS_2