
"Jadi? Tolong ceritakan apa yang baru saja kamu lakukan sehingga harus pulang hingga pukul 3 dini hari! Aku menghubungi Kim, dan dia mengatakan bahwa kalian sudah selesai meeting sejak pukul 9. Dan saat ini dia ada di rumah. Lalu aku menghubungi Joe, yang sedang cuti, dan tak ada jawaban sama sekali. Ponselnya mati. Lalu aku harus menghubungi siapa lagi Kev?" Marry menyerocos panjang lebar saat Kevin berganti pakaian.
Kevin mengenakan kaus, lalu berbaring di samping Marry, yang menyangga kepalanya dengan satu tangan.
"Kamu merindukan aku?"
"Aku mencemaskan dirimu Kev! Aku masih bisa menahan diri. Aku berpikir, jika sampai besok pagi kamu belum pulang aku akan meminta bantuan keluarga dan polisi, tak peduli belum 24 jam!" Seloroh Marry sambil manyun.
"Hai, Nak, mamamu ini makin menggemaskan kalau sedang mengomel seperti ini! Semoga kamu tidak terganggu dengan suara berisik dari mamamu ini."
Ucap Kevin sambil mengelus perut Marry, dan berbicara di dekat perutnya.
Marry hanya bisa menghela napas dan masih menatap Kevin.
"Kev, aku masih menunggumu!" Desaknya dengan mata melotot.
"Baiklah, aku akan memulai ceritanya Tuan putri!" Kevin menjawil usil hidung Marry yang makin kembang kempis karena Kevin makin mengulur waktu.
"Aku menemani Joe."
"Joe?"
Kevin mengangguk.
"Dalam perjalanan pulang aku melihat Joe berjalan sendirian dengan wajah menyedihkan. Aku mengikutinya, karena takut jika terjadi apa apa padanya, terlebih menjelang pesta resepsi Minggu ini."
"Lalu."
"Aku mengikutinya hingga dia masuk ke sebuah klub dan menghabiskan waktunya dalam bar. Aku menemaninya."
"Kamu mabuk?" Selidik Marry.
"Kamu bisa menciumiku, untuk memeriksanya." Kevin mendekatkan wajahnya pada Marry dan menciumi istrinya itu.
"Ahhh... Aku ingin mendengarkan ceritamu, Kev!" Marry menghindar dan memukul ringan dada Kevin.
"Dia putus dengan Olivia."
"Hah?! Putus !" Kali ini Marry menegakkan punggungnya dan menatap tajam pada Kevin, seolah meyakinkan pendengarannya.
"Jangan tanya alasannya apa padaku. Menurut Joe mereka tidak ada masalah selama ini. Bahkan beberapa kali dia makan bersama dengan keluarga Joe. Dan Joe juga sudah mengajak bahkan mengenalkan pada keluarga besarnya. Setahuku, orang tua, dan keluarga Joe bukan termasuk orang kaya pemilih. Mereka demokratis semua. Termasuk memilih pasangan, pun mereka tak terlalu ambil pusing."
Kevin mengambil napas dan menerawang tak habis pikir mengapa Olivia memutuskan hubungan dengan sahabatnya itu.
"Lalu, sekarang?"
"Sekarang apanya?" Tanya Kevin.
"Joe bagaimana sekarang?"
"Aku membawanya pulang ke apartemennya. Lalu aku bertemu dengan Olivia dan meminta tolong untuk menjaganya hingga pagi. Nanti aku suruh orang mengurusnya."
__ADS_1
"Olivia bagaimana?"
"Ya dia terlihat biasa saja. Seolah tak ada masalah. Hanya saja, sepertinya, dia memberi jarak pada Joe. Semoga dia benar benar menjaga Joe hingga orang suruhanku datang sebelum dia berangkat kerja." Tukas Joe.
"Mengapa dia bisa seperti itu?"
Kevin hanya menaikkan bahunya sambil berpikir.
"Jika dia masih menunggu berarti ada sesuatu terjadi dengannya, sehingga dia memutuskan Joe. Namun, jika dia langsung meninggalkan Joe sendiri setelah aku pergi, berarti dia memang benar benar sudah tak peduli pada Joe. Danbaku akan menasihati Joe untuk segera meninggalkan gadis itu." Gumam Kevin.
"Apa maksudmu, Sayang?" Tanya Marry bingung.
Kevin menoleh cepat pada Marry.
"Jika Olivia masih menunggu dan setidaknya masih mengurus Joe setelah kepergian ku, berarti ada sesuatu hal yang ditutupi oleh Olivia. Namun, dia masih menyayangi Joe."
Marry mengangguk mengerti.
"Jika sebaliknya, dia langsung meninggalkan Joe, berarti selama ini dia hanya bermain-main dengan Joe. Jadi aku harus menasihati dan memperingatkan Joe untuk bersiap mencari gadis lain yang lebih baik."
"Aku tak menyangka Oliv akan seperti ini, Kev. Sungguh!"
Marry terlihat kecewa.
"Hai, ini belum pasti Olivia yang mempermainkan Joe. Kita tunggu beberapa jam nanti. Aku sudah menghubungi pegawai ku untuk ke tempat Joe pukul 7 nanti."
"Ya. Semoga ini tidak seperti itu." Marry menyandarkan kepalanya di dada Kevin.
"Sudahlah. Tidurlah, tidak usah pikirkan Joe dan Olivia. Nanti biar aku bantu selidiki."
Marry yang telah mengantuk, akhirnya memejamkan matanya perlahan. Demikian pula Kevin yang akhirnya mengikuti jejak Marry ke alam mimpi.
*
Tok tok tok !
Suara ketukan pintu dari luar, Olivia selesai menyiapkan makanan dan kopi untuk Joe.
Dia membukakan pintu.
"Apakah Anda, karyawan Tuan Mars?"
"Ya. Terima kasih sudah menemani Joe. Bagaimana keadaannya?" Tanya Mike salah satu pegawai Kevin, yang juga teman Kevin dan Joe.
"Kamu bisa lihat dia di atas ranjang." Olivia menaikkan bahunya.
"Kamu, siapa?"
"Aku, Olivia, tetangganya. Semalam Tuan Mars meminta tolong untuk menjaga Joe sampai pagi. Dan sekarang tugasku telah selesai, saya permisi. Saya hendak bekerja."
Ucap Olivia sambil membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
Huek... Huek...
Terdengar Joe muntah di kamar mandi.
Mike langsung berlari menuju ke dalam, dan membantu Joe. Olivia yang tak tega membantu dengan membuatkan air jahe untuk Joe.
Joe melepas pakaian, dan hanya menggunakan boxer, sambil memegang pelipisnya yang masih terasa pusing akibat minuman beralkohol.
Joe duduk di kursi makan, dan menatap ke arah Olivia yang menaruh segelas air jahe di depannya.
"Terima kasih." Ucap Joe.
"Minumlah, supaya lekas pulih dan meredakan pusing dan mual. Aku permisi, karena sudah hampir terlambat."
Olivia langsung berlalu meninggalkan Joe.
TAP
Joe meraih lengan Olivia, dan membuat gadis itu hampir jatuh.
Olivia tersentak, dan langsung menatap ke arah Joe.
"Olivia, tolong jangan tinggalkan aku." Pinta Joe lirih.
Mike yang menyaksikan hal itu hanya bisa menghela napasnya, merasa tak enak.
"Joe, aku harus pergi bekerja, aku tak ingin terlambat!" Tegas Olivia sampul menepis pegangan tangan Joe pada lengannya.
Lalu buru buru meninggalkan kamar Joe.
BLAM
Pintu tertutup rapat setelah Olivia berlalu.
Joe menatap gelas air jahe yang dibuat oleh Olivia untuknya. Tiba tiba Joe menangis terisak.
"Astaga, Joe!" Mike menghampiri rekan kerja sekaligus temannya dan menepuk bahunya.
"Ada apa?" Tanya Mike penasaran.
"Setelah kehilangan Lana, aku pun kehilangan dia!"
Joe menundukkan kepalanya dan membenamkan di antara lengannya di atas meja.
"Ya, Hallo, Bos?!" Ucap Mike saat menerima panggilan dari Kevin.
"Apakah gadis itu masih di sana saat kamu datang?"
"Ya, gadis itu tadi ada di sini, masih menemani Joe dan sempat membuatkan air jahe, lalu pergi meninggalkan Joe. Dan saat ini Joe sedang patah hati sepertinya, Bos."
Jawaban Mike, membuat Kevin tersenyum.
__ADS_1
Masih ada harapan untuk Joe. Olivia masih mencintainya, dan ada sesuatu hal sedang terjadi, sehingga membuatnya berbuat seperti itu.
Kevin berniat menyelidikinya dan menyatukan kembali Olivia dan Joe.