
Marry mencuci tangannya, lalu menuju tempat menginap para pekerja event organizer selama acara berlangsung. Marry langsung menuju kamarnya, di sana mereka tidur empat orang dalam satu kamar. Marry membersihkan tubuhnya.
Ia merebahkan tubuhnya di ranjang bertingkat, dan mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada Alice, mengabarkan jika dia akan pulang besok.
Tubuhnya yang terasa sangat lelah dan letih, membuat Marry langsung tertidur usai mengirim pesan pada Alice, putrinya. Dan ia lupa untuk menghubungi orang tua Rubby untuk menanyakan dan mengucapkan terima kasih telah menampung Alice selama dia bekerja di luar kota.
*
*
Alice bersekolah seperti biasa, pagi itu Kevin dan Joe mengantar Alice ke sekolah sebelum ke kantor.
Hari itu Ibu Olivia, guru kelas Alice, meminta untuk membacakan kisah selama weekend di depan kelas untuk penilaian dalam pembelajaran. Tugas yang harus dikerjakan oleh siswa, yang diberikan dua Minggu yang lalu.
"Selama weekend kemarin, aku bersenang senang dengan Papaku. Kami pergi keluar kota. Kami pergi ke pasar malam dan arena bermain. Lalu kami mencoba semua wahana bermain di sana. Aku sangat senang sekali. Lalu aku pergi ke pantai bersama Papaku. Weekend kali ini sungguh luar biasa menyenangkan bagiku." Alice menceritakan kisahnya di depan ruang kelasnya.
"Terima kasih Alice. Tepuk tangan untuk Alice!" Ucap Bu Olivia. Teman teman Alice bertepuk tangan setelah itu, dan Alice sangat senang menceritakan kisahnya bersama Papanya.
Semua teman temannya juga menceritakan kisah mereka bersama keluarga masing masing.
Mereka mengumpulkan cerita mereka bersama dengan foto sebagi bukti mereka melakukan kegiatan saat weekend.
KRIIINGG..!!
Lonceng jam istirahat berbunyi, Alice dan temannya bermain dan makan siang di luar kelas.
Sementara itu Olivia, merapikan hasil kerja anak muridnya. Dia mengecek pekerjaan muridnya satu satu, dan menatap setiap foto yang dikumpulkan.
Olivia tertegun sejenak melihat foto yang dikumpulkan oleh Alice. Foto Alice dengan Papanya, itu cerita dari sang murid. Foto Alice sedang di tengah arena bermain dengan latar bianglala besar. Olivia tertegun menatap sosok sang papa dari Alice. Itu adalah Kevin Mars. Pengusaha dan anak dari orang terkaya di kota itu. Siapa yang tidak mengenal keluarga Mars.
Olivia akhirnya tersenyum melihat sekali lagi foto itu.
"Mungkin ini adalah hasil editan. Alice adalah murid yang pandai." Gumam Olivia sambil menggelengkan kepalanya.
BRUUKK..
Pintu ruang kelas dibuka dengan tiba tiba dan beberapa siswanya berlari ke arahnya.
"Bu Olivia, Bu... Alice dan Hank sedang berkelahi di luar!" Teriak salah satu siswa.
Lalu mereka bergegas berlari menuju tempat kejadian.
Olivia segera menghampiri dua anak kecil yang berkelahi itu.
Beberapa guru juga berlari ke arah kejadian.
"Dasar penipu!" Teriak Hank.
"Brengsek kamu! Aku bukan penipu!" Balas Alice.
"Mamamu hanyalah wanita panggilan! Tidak mungkin dia papamu! Penipu!" Cecar Hank.
"Aku bukan penipu! Hah!" Teriak Alice sambil memukul Hank.
Lalu Hank membalas memukulnya.
Seorang guru lelaki menganggap tubuh Hank untuk melerai, sedang Olivia menarik tubuh Alice.
"Lepaskan!"
"Lepaskan aku!"
Teriak dua anak itu saat guru memegang dan melerai mereka.
Lalu Alice dan Hank, langsung dibawa ke ruang kantor. Dua anak itu duduk bersebelahan di hadapan kepala sekolah, Bu Susan. Bu Susan bertubuh gemuk, berusia sekitar 45 tahun ke atas. Dengan wajah tegas, memiliki kesan seram bagi dia anak itu.
__ADS_1
Mereka diam. Di belakang dua anak itu berdiri Olivia guru wali kelas mereka.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Bu Susan dengan suara perlahan, namun tegas.
"Dia menyebutku penipu!" Alice bersuara.
"Dia memang penipu!" Sahut Hank.
"Aku bukan penipu! Hah!" Balas Alice.
"Mana mungkin, dia papamu! Kamu hanya menipu kami semua!" Hank membalas Alice.
"Ssttt... Diam! Alice menipu apa Hank?" Tanya Bu Susan.
Hank diam sejenak, lalu menoleh pada Alice sebelum berbicara.
"Dia mengatakan pada teman temannya, bahwa papanya adalah Kevin Mars." Ucap Hank tersenyum simpul menyeringai, seolah meledek Alice.
Olivia terhenyak, dia teringat foto yang dikumpulkan oleh Alice, adalah fotonya bersama Kevin Mars. Dia berpikir itu hanya khayalan anak anak saja. Namun, ternyata Alice bercerita pada teman temannya.
Bu Susan juga terkejut, dia mengernyitkan keningnya, lalu menatap tajam ke arah Alice.
"Apakah itu benar?" Tanya Bu Susan menatap Alice.
Alice membalas tatapan Bu Susan dan menganggukkan kepalanya.
"Ya." Jawabnya singkat sambil menyilangkan dua tangannya di dada.
"Baik. Ibu akan panggil orang tua kalian untuk memberi pengarahan tentang perbuatan yang telah kalian lakukan ini." Ucap Bu Susan.
"Bu Olivia, hubungi orang tua anak anak ini segera!" Bu Susan menoleh ke arah Olivia.
Olivia mengangguk, lalu mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi mamanya Alice.
"Nomor yang anda tuju di luar jangkauan!" Terdengar operator yang menjawab.
"Mamaku sedang bekerja di luar kota. Makanya aku bersama Papaku. Dan papaku adalah Kevin Mars. Jika tidak percaya silahkan hubungi dia!" Ucap Alice pada Olivia.
Olivia menghubungi orang tua Hank, dan berbicara sebentar, lalu meminta untuk datang ke sekolah untuk bertemu dengan Bu Susan.
Lalu setelah itu Olivia menutup panggilan, dan kembali mencoba menghubungi Marry, namun gagal lagi.
Lalu akhirnya dia menatap ke arah Alice.
"Bu, jika mencari papaku, Ibu bisa menghubungi Mars Company, di sana dia bekerja." Sahut Alice, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran gurunya saat itu.
Olivia terhenyak, lalu dia dengan gugup menghubungi Mars Company, untuk berbicara dengan Kevin.
*
*
Di sebuah ruangan pertemuan, terlihat Kevin, Emily, Tuan Morgan , Vicky, dan pejabat tinggi perusahan Mars Group sedang berkumpul untuk membicarakan bisnis dan pemekaran usaha mereka selanjutnya.
Tok.. Tok...
Tiba tiba, Kim, sekretaris Kevin masuk ke ruang dengan wajah sungkan.
"Maaf, Tuan Kevin. Ini ada panggilan darurat dari sekolah." Sela Kim sambil menatap ke arah atasannya itu.
Sontak semua yang ada di sana terkejut dan menatap ke arah Kevin.
Kevin menoleh ke arah Joe yang ada di belakangnya mendampingi meeting.
Kevin menghela napas, dan berdiri dari kursinya, menghampiri Kim, dan mengajaknya keluar ruangan.
__ADS_1
"Sekolah?" Tanyanya dengan dahi berkerut.
"Tentang Alice, katanya darurat, dan Anda diminta untuk datang ke sekolah menjemputnya." Sahut Kim.
Kevin menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya. Lalu Joe keluar dari ruangan menghampiri Kevin.
"Dari sekolah Alice." Ucap Kevin.
"Biar aku yang mengurus ke sekolahnya. Dan silahkan melanjutkan rapatnya kembali." Tukas Joe sambil menaikkan alisnya.
"Terima kasih, Joe." Kevin menepuk pundak Joe, dia merasa sangat lega.
*
*
Joe menuju ruangan kepala sekolah, dan Olivia sangat terkejut saat melihat Joe.
"Olivia?! Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Joe heran.
"Kamu? Kenapa kamu di sini?" Olivia balik bertanya.
"Alice. Aku mau menyelesaikan masalah Alice di sekolah. Aku asisten Kevin, dan dia sedang ada meeting. Jadi aku yang menggantikannya." Joe tersenyum penuh arti menatap Olivia.
Beberapa hari yang lalu Joe dan Olivia bertemu, dan akhirnya mereka berkencan. Puncaknya adalah weekend kemarin, mereka menghabiskan waktu berdua di kediaman Joe.
Lalu pagi ini, Olivia baru mengetahui bahwa, Joe adalah asisten pribadi Kevin Mars. Saat mereka berkenalan, Joe hanya mengatakan jika dia bekerja di perusahaan milik keluarga Mars saja.
Setelah menyelesaikan urusan dengan kepala sekolah, Joe mengajak Alice untuk pulang ke apartemen Kevin.
Joe menatap Olivia dan tersenyum. Lalu berlalu mengantarkan Alice.
Olivia akhirnya berhasil menghubungi Sophie, bibinya Alice.
Sophie menghubungi Ben, suaminya, dan mengabarkan kejadian Alice di sekolah, dan kini Alice ada di apartemen Kevin Mars.
Sophie berkali kali menghubungi Marry, namun tidak berhasil, setelah tiga jam akhirnya Marry menghubungi Sophie, karena melihat ada pesan dan pesan suara yang masuk dari Sophie.
"Ada apa?" Tembak Marry.
"Alice ada di kediaman Kevin Mars." Jawab Sophie lirih.
"Hah? Apa?!"
"Kamu sudah sampai?"
"Ya, baru saja."
"Kami ada di apartemen Kevin Mars." Sahut Sophie, lalu menutup panggilan ponselnya.
Kaki Marry seakan mendadak lemas. Tubuhnya, seakan ingin limbung, namun, dia berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Dia memanggil taksi dan bergegas menuju ke apartemen Kevin.
Sepanjang perjalanan, Marry tak habis pikir, bagaimana bisa Alice berada di sana. Dia tak pernah menceritakan tentang Kevin padanya. Hanya sekali, itu pun dengan foto, namun dia tak pernah menyebutkan nama Kevin, dan tak pernah mengatakan Kevin adalah ayahnya.
Marry hanya bisa menghela napas dalam-dalam.
Ketika sampai di gedung yang dimaksud, dia bergegas masuk ke lobby.
"Kediaman Kevin di mana?" Tanyanya pada resepsionis.
"Griya Tawang, lantai 25" Jawab resepsionis itu dengan sopan dan ramah.
Marry menenteng tasnya dan masuk lift menuju tempat yang dimaksud.
Marry berdiri di sebuah pintu dan dengan ragu memencet tombolnya. Joe membuka pintu, dan mempersilahkan masuk.
__ADS_1