
.
Kevin membawa Alice menuju apartemennya. Mereka melakukan banyak hal. Bermain game, membuat susu kocok rasa buah, hingga berenang di kolam renang pribadi milik Kevin yang ada di apartemen itu.
"Aku senang bisa menghabiskan weekend bersama Papa." Seru Alice dengan riang sambil meminum susu kocoknya usai berenang.
"Aku pun begitu. Aku juga senang menghabiskan hariku bersamamu." Sahut Kevin sambil meminum susu kocoknya.
Mereka tertawa bersama.
"Apa Papa menyukai mamaku?" Tanya Alice kemudian.
Kevin terdiam, lalu tersenyum.
"Jika aku bersama Mamamu, apa kamu akan menerimaku?"
"Tak usah ditanya lagi, aku akan menerimamu!" Alice memamerkan giginya.
"Seandainya mamamu memilih lelaki lain bagaimana? Atau seandainya papa kandungmu datang, dan mendekati mamamu kembali?" Kevin sadar pertanyaannya terlalu berat untuk seorang anak usia enam tahun. Namun, dia ingin berusaha menyiapkan mentalnya dan Alice, seandainya Marry memilih orang lain.
"Aku hanya ingin kamu. Papa Kevin! Tidak mau papa yang lain!" Teriak Alice sambil melipat tangannya di depan dada.
Kevin tersenyum geli melihat putrinya itu.
"Hai, jika kamu ingin aku bersama mamamu, apakah kamu bisa bantu aku untuk mendekatinya?" Tanya Kevin sambil mengedipkan matanya.
Alice mengerutkan keningnya, lalu tersenyum lebar.
"Jadi Papa menyukai mama?"
"Ya. Aku menyukainya. Dan aku sangat membutuhkan bantuanmu putriku."
"Tenang saja. Aku akan membantu Papa 1000 persen!" Sahut Alice dengan girang.
Keduanya tertawa sambil menikmati susu kocok mereka.
*
Marry melayani pembeli di kedainya.
Terlihat Emily masuk ke dalam kedai, dan Marry menyambut dengan gembira kedatangan Emily.
__ADS_1
"Hai, Em. Mau memesan apa?" Sapa Marry dengan ramah.
"Aku ingin memesan capuccino." Sahutnya sambil tersenyum, namun tertahan, seolah ada sesuatu yang mengganjal.
Marry meminta Ben membuat pesanan Emily, dan tak lama kemudian, Marry telah memberikan kopi dalam tumbler pada Emily.
"Silahkan."
Emily menerima tumbler itu dan masih berdiri di tempatnya.
"Em... Apakah kamu baik baik saja?" Tanya Marry mulai terlihat khawatir.
Emily menggelengkan kepalanya.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Pinta Emily.
Marry mengangguk, dan membimbing Emily menuju kursi di luar kedai.
Emily menyesap kopinya dan mengambil napas dalam-dalam.
"Nana ingin William segera menikah." Emily mengucapkan dalam satu napas.
"Lalu kamu?" Tanya Marry.
"Aku takut. Bayangan tentang komitmen membuatku merasa mulas dan takut." Emily menatap Marry, yang masih mendengarkan.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut menghadapi kenyataan. Aku takut seandainya Will berpaling dariku setelah kami menikah. Aku takut Will memiliki seseorang yang lain selain aku. Aku takut terluka, Marry." Emily menatap Marry dengan sendu.
Marry menghela napas, dan berpindah duduk di samping Emily.
"Aku telah mengenal Will, sejak kecil, sejak orang tuanya meninggal, dan Nana membawanya ke rumah. Kami bertetangga sejak itu. Will sering menghabiskan waktu di rumahku untuk membantu menjaga Sophie atau sekedar membantu mamaku di dapur. Lalu setelah selesai memasak, Will membawa pulang hasil masakan itu untuk Nana. Atau dia sering membantu papaku saat memperbaiki sesuatu baik di rumah atau pin di rumah Nana." Marry mulai menceritakan tentang William.
"Kami memang baru pindah ke kota besar ini, saat usiaku sembilan tahun. Sebelumnya, aku dan keluargaku dari pedesaan. Mama dan papa mendapatkan pekerjaan bagus di kota. Lalu kami tinggal di sebelah rumah Nana. Nana lah yang membantu saat kami sibuk mengurus rumah. Sejak kecil aku dan Sophie juga sangat dekat dengan Will dan Nana. Mereka sudah seperti keluarga sendiri. Aku selalu menganggap Nana itu nenekku sendiri. Dan Will seperti kakakku sendiri. Will mencintai sejak pandangan pertama. Bahkan dia tak pernah menyangka jika dirimu adalah putri keluarga Mars, pemilik rumah sakit Internasional. Dia mencintaimu, karena dirimu Em." Marry berusaha meyakinkan Emily.
Emily tersenyum. "Benarkah?" Tanya Emily penasaran.
"William menyukaimu sejak pertama bertemu denganmu di kampus. Dia selalu berusaha mendekati dirimu, tapi sepertinya kamu tak begitu merespon. Dia selalu menyebut dirimu adalah Ratu Dingin saat itu." Marry terkikik geli, sedang Emily menatap dengan melotot.
"Ratu Dingin? Es, maksudnya?!"
__ADS_1
"Ya. Itu sebutan untukmu saat dia menceritakan gadis yang sangat dia sukai semasa kuliah. Dia baru membuka rahasianya, saat membantuku melahirkan. Saat itu aku yang sedang kesakitan karena kontraksi. Dia menghiburku dengan menceritakan banyak hal tentang si Ratu Dingin, dan dia mengatakan bahwa gadis itu adalah idolaku."
"Idolamu?"
"Kamu idolaku Em. Aku memiliki buku buku penelitian ilmiah karyamu. Lalu beberapa karya ilmiah semasa sekolah, selalu mengacu pada tulisan makalah atau buku bukumu. Aku bercita-cita ingin menjadi salah satu bagian dari laboratorium milikmu itu. Dan Will tahu itu semuanya. Semua terbongkar saat dia membantuku." Tutur Marry.
Emily menggenggam tangan Marry.
"Keturunan Mars bukan hanya aku dan Kevin." Ucap Emily lirih.
Sontak mengejutkan Marry, dan menatap sambil mengerutkan kening pada Emily.
"Mama dan papaku pernah sedikit bermasalah dan mereka sempat break. Lalu saat mereka sedang renggang. Papa bertemu dengan wanita lain. Dan mereka memiliki kisah satu malam yang panas sehingga si wanita lain itu hamil." Emily menuturkan sisi lain keluarganya.
"Lalu Tuan Morgan dan Nyonya Vicky menikah dan memiliki kalian?"
"Ya, setelah kisah satu malam itu, papa menyadari bahwa dirinya salah. Dan hanya ada satu wanita dalam hatinya, yaitu mamaku. Akhirnya dia kembali pada Mama dan menikahinya. Bahkan papaku tidak pernah mengetahui bahwa wanita lain itu telah hamil. Hingga suatu hari Bibi Tracy mendatangi Papa dan mengatakan bahwa wanita itu hamil dan sedang sekarat di rumah sakit. Mama yang saat itu sedang hamil syok dan kecewa terhadap papaku." Suara Emily terdengar serak, menahan tangis.
"Wanita itu meninggal saat melahirkan seorang anak. Dan anak itu dibawa dan dibesarkan oleh bibi Tracy. Gadis itu adalah sahabat Bibi Tracy. Itulah sebabnya, dia dan Mama dan Papa tidak terlalu baik hubungannya. Papaku gak pernah mau mengakui itu anaknya. Bahkan tak mau melakukan tes DNA. Mama yang sangat kecewa terhadap Papa, sempat berpisah sementara hingga aku dilahirkan. Lalu mereka datang ke psikolog pasutri, dan melakukan sesi konseling. Membangun hubungan kembali. Lalu mamaku hamil Kevin. Setelah Kevin lahir, mama dan papa mulai membesarkan bisnis yang sudah berjalan." Emily memberi jeda sejenak.
"Selama itu, Kevin dititipkan pada kakek dan Nenek selama beberapa tahun. Dan aku yang telah sekolah, mau tak mau ikut mama dan papa. Dan saat usiaku sepuluh atau sebelas tahun, aku mendengar pertengkaran antara Bibi Tracy dan Papa. Papa tetap tidak mau mengakui anak itu sebagai anaknya. Bahkan menolak untuk tes DNA. Mama yang sudah terlanjur sakit hati dan kecewa terhadap papa kembali. Akhirnya menghabiskan waktu di rumah sakit dan membangun lab besar itu. Menghabiskan sebagain besar waktunya untuk bekerja."
"Bagaimana sekarang? Hubungan Tuan dan Nyonya Mars?"
"Papa dan Mama mulai melakukan konseling kembali. Mereka mulai membuka diri satu sama lain. Papa dan Mama mulai memperhatikan Aku dan Kevin yang sudah dewasa. Menyadari bahwa anak anaknya yang berulah adalah dampak dari ketidakharmonisan mereka selama ini."
Marry mengangguk sambil menepuk bahu Emily.
"Lalu apa yang membuatmu ragu pada Will?"
Emily menggelengkan kepalanya.
"Aku bukan hanya tahu pada Will, tapi pada diriku sendiri."
Marry tertegun.
"Kamu mencintai Will?" Tanya Marry.
"Ya. Sangat mencintainya." Sahut Emily.
"Lalu Will juga mencintaimu. Apa yang kamu takutkan? Will dan Tuan Morgan adalah orang yang berbeda. Memiliki watak yang berbeda. Bahkan Tuan Morgan yang pernah melakukan kesalahan, berusaha untuk memperbaiki dan kembali lagi pada Nyonya Vicky."
__ADS_1
"Semudah itu kah?"
"Cobalah untuk keluar dari rumahmu. Dan tinggal di kediaman Nana. Berbaur bersama kami dan menikmati kebersamaan kami. Cobalah melakukan hal lain, di luar kebiasaan dirimu." Marry memicingkan matanya.