Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Merasa bersalah


__ADS_3

Alice menghambur memeluk Marry setibanya di rumah sakit.


Sophie dan Ben, juga bayi mereka juga datang untuk menjenguk Marry. Marry memukul mereka satu per satu.


"Astaga, Marry!" Pekik Sophie sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Dia terkejut melihat tubuh Marry yang lebam dan banyak luka. Termasuk jahitan yang ada di bagian pelipis.


Marry tersenyum sambil memberi isyarat ada Alice, supaya tidak membahas hal tersebut.


"Eh,ya. Aku membawakan dirimu burger kesukanmu. Kamu.i sengaja membeli jauh hanya untuk dirimu. Benar, kan, Alice?"


Tanya Sophie sambil menyenggol pelan lengan Alice.


Alice mengamati ibunya dengan rasa prihatin.


"Mama, apalah Justin yang melakukan ini semua?"


Marry menjawab dengan anggukan kepala.


"Mengapa dia melakukan ini padamu? Apa Mama jahat padanya?"


Marry tercenung untuk sesaat.


"Apakah aku jahat? Sehingga dia melakukan ini padaku?"


Tanya Marry dalam hati.


"Ya. Justin sangat jahat pada mamamu. Jadi ingatlah, kamu harus waspada padanya! Jangan sembarang mengobrol jika dengan orang asing!" Sergah Sophie sambil mengelus lembut rambut keponakannya itu.


"Tidak. Justin tidak jahat." Sanggah Marry sambil tersenyum.


"Tapi tidak salah juga ucapan Bibi Sophie supaya kamu harus waspada!" Imbuh Marry kemudian.


"Baik, Ma."


"Lalu bagaimana kegiatanmu selama ini?"


"Oya, aku dan Papa bekerja sama mengembangkan beberapa robot bantuan buatanku. Kata papa, dia ingin menyempurnakan beberapa bagian, lalu jika berhasil akan memperbanyak dan dijual bebas. Papa akan mematenkan beberapa produk buatanku, supaya aku dapat uang banyak." Ucap Alice dengan gembira.


Marry melotot.


"Alice, jika itu mengganggu sekolahmu, kamu bisa menolaknya. Kamu tak harus repot atau sibuk dengan karyamu. Jika kamu tak berani menolak, biar mama yang bilang ke papa."


Alice menggeleng cepat.


"Aku tak terganggu, Ma. Aku malah senang. Papa dan aku jadi lebih dekat. Lu aku bisa belajar banyak hal juga. Dan yang lebih seru, aku bisa masuk ke ruangan besar seperti museum teknologi yang ada di perusahaan."


"Oya?"


"Iya. Papa juga sering mengajakku ke kantornya dan menunjukkan pekerjaanannya. Papa itu punya sekretaris yang cantik juga. Namanya nona Kim. Orang Korea. Lalu papa juga punya tempat khusus untuk para pemain game profesional. Tapi, para karyawan di sana juga memiliki tempat tersendiri untuk bersenang-senang dengan bermain game juga. Papa, bilang, jika aku ingin bekerja di tempatnya,baju harus rajin belajar."


Cerita Alice dengan riang.

__ADS_1


Marry hanya manggut-manggut.


"Dasar Kevin! Memanfaatkan anak untuk pekerjaan, huh! Lihat saja nanti!" Seru Marry dalam hatinya.


Tapi, dia sadar. Alice dan Kevin memang memiliki banyak kesamaan selain di rupa wajah. Kesenangannya pun sama, jadi Alice dan Kevin sangat nyambung, dibandingkan dirinya.


Terkadang Alice mengomel bahwa mamanya terlalu lebay bagi dirinya. Makan ini, makan itu, itu nggak boleh, harus seperti ini, itu. Marry merasa terkadang dia tak sepemikiran dengan putrinya. Namun, Marry yakin, Alice tahu bahwa dia sangat sayang pada Alice.


Setelah hampir dua jam mereka saling melepas rindu, jam besuk hampir selesai.


"Alice, kamu bisa berikan pelukan besarmu untuk mamamu! Kita harus pulang sebelum perawat mengusir kita pergi dari sini!" Ucap Sophie.


Alice memeluk Marry dengan sayang.


"Ma, mengapa Bibi Emily tidak bisa membuatmu sepat sembuh?"


Marry terkekeh mendengar pertanyaan Alice.


"Mama tidak sakit, Sayang. Mama akan segera pulang. Mama nggak betah lama lama di sini!" Bisik Marry sambil memeluk putrinya itu.


"Tapi apakah rumah sakit yang keren ini tidak memiliki obat yang ampun untuk menghilangkan luka di wajah mama?"


"Mereka semua manusia, Sayang. Luka di wajah ini pasti akan sembuh. Tapi, dengan proses. Memangnya sulap. Cling, abrakadabra, wajahmu mulus kembali!"


Marry terbahak, diikuti Sophie dan Ben.


"Mama janji akan segera pulang. Tapi, mama juga harus menunggu hasil laporan dari dokter juga. Mama juga akan meminta obat yang paling bagus, supaya wajah mama ini sembuh seperti sedia kala lagi." Marry tersenyum sambil membelai wajah putrinya.


"Iya, Ma! Aku nggak sabar Mama pulang ke rumah lagi. Aku rindu Mama!"


Alice kembali memeluk Marry.


"Kamu tinggal sementara dengan Bibi Sophie?"


"Iya. Papa meminta Bibi Sophie untuk menjagaku sementara waktu. Karena papa sedang sibuk saat ini." Sahut Alice


"Jangan bandel. Jangan lupa, jaga Nana juga. Temani dia saat Paman Willy sedang tidak ada di rumah."


"Oya, bibi Emily tinggal di tempat Nana. Nanti aku akan minta obat terbaik untuk mama sama Bibi Em." Celetuk Alice.


Setelah mereka saling mengucapkan salam perpisahan. Marry memejamkan matanya berusaha untuk istirahat kembali.


*


Justin mencengkeram dagu Marry hingga membiru dan terasa sakit.


"Ini semua salahmu!" Seringai Justin sambil menatap tajam ke arah Marry.


Sambil tertawa terbahak-bahak, Justin memukuli Marry, merobek pakaiannya hingga tak tersisa sehelai pun.


Tubuh Marry seakan tak bertenaga lagi, dia menangis meminta tolong, memohon pada Justin untuk tidak meneruskan perbuatannya itu.


Namun, Justin seolah tak mau mendengarkan Marry. Terus menggerakkan pinggulnya memompa miliknya pada bagian inti milik Marry.

__ADS_1


"Tidak Justin... Aku mohon.. jangan lakukan... Tidaaakkk!"


Marry terbangun sambil terengah-engah.


Marry memegang tangannya. Memeriksa tubuhnya sendiri.


Nyeri pada bagian intinya mulai terasa kembali. Pada tangannya masih terhubung selang infus.


"Astaga! Hanya mimpi." Gumam Marry.


Lalu Marry turun dari ranjang rumah sakit. Sambil menyeret infusnya, Marry menuju sofa yang terletak di sudut ruangan. Marry duduk di sofa sambil menatap ke arah taman rumah sakit.


Marry tak mengetahui saat Kevin masuk ke kamarnya.


Kevin mengerutkan keningnya saat melihat Marry terpaku menatap ke arah luar melalui jendela.


Kevin melangkah mendekati Marry, lalu memeluknya dari belakang.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Marry tersenyum, mendengar suara Kevin. Dulu dia memiliki trauma dengan lelaki yang kini menjadi suaminya itu. Namun, setelah meluapkan rasa marah, sakit, dan kecewanya. Marry mulai berdamai dengan keadaan, dan memaafkan Kevin.


Terlebih Marry merasa, Kevin sungguh mau berubah dan mencintainya setulus hatinya. Bukan hanya dirinya, tapi juga Alice dan keluarganya.


"Aku merasa bersalah." Ucap Marry. Tatapan Marry masih ke arah depan, menatap bunga bunga yang bermekaran di taman.


Kevin melepas pelukannya, dan menarik kursi supaya dapat duduk di dekat Marry.


"Bersalah pada siapa?"


Marry menatap Kevin.


"Justin."


Sontak Kevin melotot, terlihat jelas kilat matanya tak suka mendengar nama itu.


"Aku telah mengubahnya menjadi monster seperti itu. Tak seharusnya aku meninggalkan langsung dirinya. Harusnya aku lebih peka dulu. Aku terlalu egois mengambil keputusan sendiri untuk keselamatan diriku. Aku menyesal, Kev."


Marry menatap Kevin dengan raut wajah sedih.


"Ini semua bukan salahmu, Marry. Sedari awal dia telah memiliki sakit mental karena keluarganya sendiri. Bukan karena dirimu." Kevin menggelengkan kepalanya meyakinkan Marry.


"Tapi aku pemicunya, Kev. Harusnya pada pertemuan itu aku lebih menahan diri."


Sesal Marry, sambil tertunduk.


"Ssttt.... Kamu tidak bersalah Marry! Dia seperti itu bukan karena kamu. Kamu tak bisa menyalahkan dirimu sendiri."


Kevin memeluk Marry dengan erat.


Marry menangis dalam pelukan Kevin, melampiaskan semuanya.


Dia begitu nyaman dalam dekapan Kevin.

__ADS_1


__ADS_2