Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Jadi suami jangan egois!


__ADS_3

Kevin dan Marry akhirnya dapat tersenyum lega usai Joe dan Olivia mengucapkan janji setia seumur hidup di hadapan pemuka agama, keluarga, dan teman teman.


Joe mencium mesra Olivia usai acara pemberkatan.


Kevin tersenyum sambil merangkul mesra Marry, lalu menciumnya dengan rasa sayang.


"Terima kasih, Sayang." Bisik Kevin.


Marry tersenyum, lalu menatap Kevin dengan heran.


"Untuk apa?"


"Untuk mencintaiku, menjadi istriku, dan menjadi ibu dari anak anak kita. Aku bersyukur memilikimu."


Kevin menatap Marry untuk kesekian kalinya dengan tatapan penuh cinta.


Marry tersipu, dan mengalihkan pandangan ke acara Joe dan Olivia kembali.


"Apa kita harus membuat junior lagi?" Bisik Kevin tepat di telinga Marry.


Sontak Marry langsung menoleh dan melotot ke arah Kevin.


"Kamu pikir aku adalah pabrik anak?" Ucap Marry sewot.


"Aku ingin memiliki banyak anak, Sayang." Sahut Kevin dengan tatapan memelasnya.


"Tidak! Austin saja baru genap satu bulan, lah kamu sudah minta anak lagi! Nggak! Aku ingin menikmati momen menjadi ibu dulu, ya." Seloroh Marry.


"Tapi, apakah nanti aku boleh bermanja-manja denganmu?"


"Kevin! Please, aku usai melahirkan. Butuh waktu sejenak untuk mengembalikan fungsi dan bentuk organ dalam rahimku, dan memulihkan luka akibat jalan melahirkan. Paling tidak 40 hari dulu, Sayang. Lagi pula aku masih masa nifas. Bersabarlah, ya." Marry menepuk lembut wajah Kevin.


Kevin terdiam menatap istrinya kali ini.


Marry seolah menjadi candu bagi Kevin. Usai melahirkan bayi Austin, Kevin merasa, jika Marry selalu menghabiskan waktunya bersama bayinya. Atau lebih memilih bermain dengan Alice, bahkan memasak bersama putri mereka itu.


Kevin merasa, Marry menjauhi dirinya usai melahirkan.


Kali ini, dia menghabiskan waktunya untuk menyusul sebatang rokok dan menikmati di sudut ruangan sambil menatap orang menyanyi dan berdansa bersama pasangan yang baru menikah itu.


"Kenapa kamu di sini? Tidak bergabung berpesta bersama Joe?"


William menghampiri sambil membawa dua gelas minuman untuk mereka.

__ADS_1


"Aku ingin sendiri dulu."


William mengerutkan keningnya dan menatap Kevin dengan tatapan heran.


"Ya, aku ingin sendiri sementara ini."


"Ada apa?"


William mulai melihat ada yang aneh dari Kevin.


Kevin menghela napas dan menoleh ke arah William.


"Aku merasa Marry seakan enggan bersamaku usai melahirkan." Kevin mulai berkeluh kesah.


"Enggan bersama bagaimana maksudmu?"


"Ya, seolah menolak untuk melakukan hubungan, ya kamu tahu kan." Kevin nyengir malu sambil tersenyum kecil pada William.


Seketika tawa William pecah sambil menepuk belum pundak Kevin.


"Astaga, Kev! Kamu ini aneh aneh saja. Marry itu usai melahirkan. Dia perlu waktu untuk mengembalikan tubuh dan mentalnya dulu. Kita sebagai seorang suami, tidak boleh terlalu egois untuk urusan ranjang dulu usai istri kita melahirkan."


"Mengapa? Bukan kah itu kewajiban istri untuk melayani suaminya?"


"Kamu suami yang egois, Kev!" Tukas William sambil menggelengkan kepalanya.


"Dengar, wanita itu hamil selama sembilan bulan. Kehamilan saja sudah mengakibatkan perubahan bentuk tubuh seorang wanita. Lalu dia melahirkan, dan itu membuat bagian bawah miliknya harus terobek lebih besar sebagai jalan keluar si jabang bayi, jika kelahiran normal. Kamu bayangkan saja bayi Austin itu keluar dari perut Marry bagaimana? Apa kamu tidak melihat saat di dalam ruang persalinan, bagaimana Marry berjuang supaya bayi Austin lahir dengan selamat?"


Kevin terdiam mendengar penjelasan William.


"Lalu setelah bayi keluar, tentu prosesnya adalah menjahit luka. Dan luka di dalam sana itu berbeda dengan luka di kulit. Jika di kulit luka akan cepat mengering dan sembuh. Nah, jahitan di dalam sana itu, perlu waktu untuk mengering dan sembuh. Belum lagi mental istrimu, Kev."


"Makanya aku ingin dia dioperasi saja kemarin, supaya tidak merasakan sakit."


"Kamu pikir jika dia operasi tidak membuat luka juga?"


"Setidaknya bagian bawahnya tidak luka dan Marry tidak mengalami kesakitan." Sahut Kevin.


William makin terkekeh.


"Kevin, kamu ini pintar, tapi, untuk urusan kesehatan wanita bener benar tidak paham. Mau itu kelahiran normal atau operasi, pasti akan membuat luka. Jika operasi, tetap saja dia memerlukan proses penyembuhan lebih lama. Nah, justru proses kelahiran normal yang proses penyembuhannya lebih cepat. Tapi, ingat. Wanita itu usai melahirkan terkadang mentalnya juga perlu kita jaga." William menjelaskan.


"Mentalnya?"

__ADS_1


"Ya, kesehatan mentalnya."


"Kenapa?"


"Ya, wanita itu tentu tubuhnya berubah. Mulai dari kenaikan berat badan, lalu bentuk dadanya, pinggulnya, dan hampir semuanya mengalami perubahan. Kamu mungkin beruntung, Marry telah berpengalaman melahirkan, jadi dia mungkin dapat mengatasi segala perubahan yang terjadi. Beda dengan Emily."


Kali ini William yang mulai mencurahkan isi hati pada Kevin.


"Mengapa dengan Em, dia kelihatan baik baik saja." Cetus Kevin.


"Emily merasa tidak percaya diri melahirkan. Perubahan bentuk tubuhnya,embuatnya stres. Bahkan dia telah merencanakan untuk melakukan operasi mengembalikan bentuk tubuh dan bagian bawah miliknya."


"Hah?" Kevin. Melotot menatap William.


"Ya! Emily seakan masih belum bisa menerima perubahan bentuk tubuhnya yang terjadi usai melahirkan. Aku menyarankan dia untuk berolahraga, dan berkonsultasi dengan ahli gizi untuk mengatur pola makannya. Bahkan saat siang aku menyewa seseorang untuk membantu merawat bayi Natasha." William meneguk minuman dalam gelasnya hingga habis.


"Sungguhkah?" Kevin masih tak percaya.


"Ya. Dan aku telah menghubungi temanku, seorang psikiater, untuk membantu Emily melewati masa masa ini. Emily mengalami baby blues."


"Hah? Baby blues? Apa itu?" Kevin makin terheran.


"Sindrom usai melahirkan. Emily mungkin memiliki trauma, yang membuatnya stress saat memiliki bayi. Dia perlu berproses, dan perlu waktu untuk menyembuhkan mentalnya juga."


"Lalu mengapa kamu terlihat tenang. Bahkan aku lihat kamu sayang sekali dengan Emily?"


"Pernikahan itu bukan hanya urusan ranjang, Kev. Pernikahan itu adalah sebuah komitmen yang harus kita jalani bersama dengan pasangan. Pernikahan itu juga proses saling menerima satu sama lain. Mencintai dengan tulus segalanya. Baik itu bentuk fisik hingga sifatnya. Aku benar benar tulus mencintai Emily. Mau menerima kekurangan dan kelebihan Emily. Pernikahan itu adalah proses pembelajaran hidup juga. Emily pun juga banyak belajar saat menikah denganku. Ketakutannya akan berkomitmen dengan seseorang, akhirnya memudar, dan dia mau menerimaku, dan mau belajar untuk saling mencintai dengan tulus juga. Lalu dia memutuskan untuk tinggal bersamaku dengan Nana. Itu suatu bentuk kemajuan dalam proses Emily, dan aku sangat senang karenanya."


William menjelaskan panjang lebar.


Kevin terdiam dan merenungkan setiap ucapan William padanya.


"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Kevin.


"Kamu lebih beruntung. Marry tidak memerlukan psikiater lagi. Dia telah berhasil melawan ketakutannya usai menerimamu. Ketakutannya hanyalah masa lalu saat kamu merenggut masa mudanya dan membesarkan Alice sendiri saat dia masih belia. Selama itu dia berproses, dan aku merasa dia perlahan bisa berdamai dengan masa lalunya dan bisa menerima itu. Apalagi saat dirimu benar benar mencintainya, dan saat kamu menyelematkan dari Justin tempo hari. Marry terlihat semakin dewasa, dan benar benar tulus mencintaimu, Kev. Kamu hanya perlu waktu untuk membiarkan Marry dengan dirinya sendiri. Jangan terlalu egois."


Kevin manggut-manggut mendengar setiap penjelasan William.


"Terima kasih, Will. Mungkin aku, perlu waktu untuk memahami wanita."


"Sama sama."


William kembali menepuk bahu adik iparnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bantulah, Marry mengasuh anakmu, dia terlihat mulai lelah." William memberi isyarat menunjuk ke arah Marry.


Kevin mengangguk dan berdiri menghampiri istrinya, lalu menggendong bayi Austin, sedangkan Marry bersenda gurau dengan keluarga yang lain.


__ADS_2