Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Pesta di Kediaman Keluarga Mars


__ADS_3

Tok.. Tok... Tok...


Suara pintu diketuk.


Marry yang sedang sibuk di dapur untuk membuat sarapan mengentikan kegiatannya, dan bergegas menuju pintu untuk membuka.


"Sebentar!" Serunya.


Marry membukakan pintu.


"Astaga, Helen, ada apa?" Marry terlihat khawatir, melihat tetangga dan juga rekan kerjanya di tempat event organizer, datang dengan keadaan kusut, sambil menggendong balita.


"Marry, anakku demam sudah dua hari ini, dan belum turun turun demamnya. Aku sangat cemas. Aku bisa minta tolong, kamu?" Helen langsung menembak dengan maksud dan tujuannya.


"Apa yang bisa aku bantu?"


Helen meminta tolong Marry untuk menggantikan dirinya untuk bekerja untuk acara di kediaman Tuan Mars.


Sebenarnya Marry enggan untuk menolong Helen, namun, melihat putrinya yang terlihat lemas dan sakit, Marry akhirnya bersedia menggantikan pekerjaan Helen.


Dia teringat semasa Alice kecil dan sedang sakit atau dia sedang bekerja, dia selalu menitipkan Alice pada orang-orang di sekitarnya.


Helen memeluk erat Marry dan mengucapkan terima kasih.


"Semoga lekas pulih untuk putrimu. Tidak usah memikirkan pekerjaan dulu, fokus urus putrimu saja dulu. Biar aku yang menggantikan kamu." Ucap Maret menenangkan Helen.


Helen berlalu dengan perasaan lega, karena Marry bersedia menggantikan pekerjaannya.


*


Acara di kediaman Tuan Mars adalah pukul 5 sore. Namun, sejak pukul sepuluh pagi para pegawai event telah berdatangan untuk menyiapkannya.


Marry menitipkan Alice pada Nana, panggilan untuk seorang nenek tetangganya dahulu saat masih tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, yang kini ditempati oleh Sophie dan Ben, setelah mereka menikah.


Nana, yang menolong dan membantunya dalam mengurus bayi. Marry dan Sophie banyak belajar dengan Nana.


Nana memiliki cucu bernama William, seorang dokter, yang membantu persalinan Marry saat melahirkan Alice di rumahnya.


William telah dianggap sebagai kakak oleh Marry dan Sophie. Dan Alice juga dekat dengannya.


"Hai, Bob! Aku menggantikan Helen hari ini." Ucap Marry saat bertemu Bob, sang manager para pekerja, dan juga asisten Nyonya Ruth, pemilik event organizer.


Nyonya Ruth, masih kerabat keluarga Mars yang kaya raya ini, dan ibu dari Terence, teman baik Marry semasa sekolah dulu.


*


Pesta telah dimulai, para tamu telah berdatangan. Marry yang bekerja sebagai pelayan, bertugas mengedarkan makanan atau minuman bagi para tamu yang datang ke pesta itu.


Terlihat Kevin telah tiba, bersama Joe. Lalu William bersama Emily Mars, kakak dari Kevin. Dan mereka berbincang dengan Tuan Morgan dan Nyonya Vicky Mars.

__ADS_1


Saat Marry sedang mengedarkan nampan menu kudapan, seseorang menepuk pundaknya. Marry terlonjak, hampir menjatuhkan nampan dan isinya yang dibawanya.


"Marry!" Panggilnya.


Sontak Marry yang terkejut, membalikkan tubuhnya, dan sangat terkejut.


"Terence!" Ucapnya sambil memeluk ringan sahabatnya semasa sekolah.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu pelayan...?" Terence mengernyit dan memperhatikan Marry dengan seksama.


"Hidup itu seperti putaran roda, jadi ga usah sekaget itu, Teman!" Sahut Marry sambil menepuk pundak temannya itu.


"Sayang, aku mencarimu kemana mana!" Terdengar suara wanita, berjalan menghampiri mereka.


Marry menoleh dan menatap wanita itu. Wanita itu melotot menatap Marry seolah tak percaya.


"Marry!" Panggilnya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Claire..." Ucap Marry.


Marry menyodorkan nampannya secara tak sadar pada Terence, dan memeluk Claire, sambil berlompatan seperti anak kecil, membuat beberapa tamu menoleh ke arah mereka.


Marry, Terence, dan Claire, adalah sahabat sejak mereka sekolah. Mereka semua semasa sekolah merupakan murid yang cerdas, dan mendapat beasiswa untuk kuliah. Hanya saja, Marry tidak mengirim kembali surat surat pada universitas, dan harus merelakan kuliahnya karena mengurus Alice dan menjalani hidup sebagai seorang ibu.


"Kamu cantik sekali, Claire!" Puji Marry.


"Wow... Selamat untuk kalian berdua!" Marry memeluk kedua temannya bergantian.


"Loh, Marry, apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu sedang ijin?" Sapa Nyonya Ruth, atasan Marry dan Ibu dari Terence.


"Saya menggantikan Helen. Putrinya sedang sakit." Jawab Marry.


"Kalian saling mengenal?" Tanya Nyonya Ruth penasaran.


"Mama, ini Marry, temanku yang pandai itu. Yang mendapat beasiswa kedokteran di universitas Stanford." Cetus Terence.


"Universitas Stanford? Wow! Tapi, mengapa kamu masih bekerja pasaku?" Nyonya Ruth mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mengambilnya, Nyonya." Jawab Marry sambil tersenyum.


"Maaf, aku harus bekerja kembali." Sambung Marry seraya mengambil nampan yang ada di tangan Terence.


"Marry! Bagaimana aku bisa menghubungimu?" Tanya Claire.


"Aku memiliki kedai kopi di seberang rumah sakit, datanglah!" Sahut Marry, yang terus berlalu melanjutkan pekerjaannya.


Di dekat situ, terlihat Kevin mencuri dengar dan memperhatikan setiap obrolan antara Marry, Terence, Claire, dan Ruth.


"Beasiswa kedokteran Stanford tidak diambilnya? Gila, berani sekali dia, menyia nyiakan kesempatan langka. Dan Terence adalah temannya? Aku akan cari tahu." Gumam Kevin sambil meletakkan gelas pada nampan yang dibawa oleh pelayan pesta.

__ADS_1


*


*


Malam telah larut, para tamu mulai berpamitan untuk pulang. Marry masih di kediaman keluarga Mars untuk membereskan rumah usai pesta seperti biasanya.


Terence yang baru masuk dalam rumah, usai mengantar Claire kembali ke hotel, langsung menghampiri Marry, dan menarik lengannya menuju ke arah balkon.


Kevin melihat hal tersebut, dia bergegas mengikuti dan bersembunyi di balik pintu ke arah balkon itu.


"Apa yang terjadi antara kalian?" Tanya Terence dengan suara mendesak.


"Apa maksudmu?"


"Kami yang tidak mengambil beasiswa itu, dan Justin!"


Marry terdiam, menatap langit yang dihiasi bintang bintang.


"Mengapa kamu tidak datang ke acara prom night, dan menghilang tanpa kabar? Aku pikir kamu ingin fokus kuliah. Namun, nyatanya semua baru aku sadari dua tahun terakhir ini. Saat kelulusan, aku mencari namamu di fakultas kedokteran, namun tidak pernah ada. Dan saat aku bertanya pada pihak kampus, mereka bilang, kamu tidak pernah mengembalikan berkas, dan tak pernah datang." Terence menatap tajam ke arah Marry.


"Dan kamu meninggalkan Justin. Membuatnya patah hati tanpa alasan yang jelas. Ada apa denganmu Marry? Apa yang terjadi denganmu?" Desak Terence.


"Sudah aku bilang, hidup itu bagai roda yang berputar." Jawab Marry sambil m malas tatapan Terence.


"Kata Mama, kamu memiliki anak. Kamu telah menikah?" Tanya Terence.


Kevin yang mencuri dengan percakapan antara Terence dan Marry, sontak terkejut dengan pertanyaan Terence tentang anak dan pernikahan Marry.


"Terence, aku belum menikah. Dan anak itu adalah pemberian Tuhan." Jawab Marry sambil tersenyum.


Terence tersenyum sinis.


"Kamu pikir, dirimu adalah Bunda Maria, yang hamil tanpa suami, hah?"


"Bisa jadi." Marry menaikkan bahunya.


"Sudahlah, aku harus menyelesaikan pekerjaan ini, supaya tidak terlalu malam pulangnya." Ucap Marry kemudian sambil membalikkan badannya hendak meninggalkan tempat itu.


"Marry."


Marry berhenti dan menoleh ke arah Terence.


"Aku dan Claire akan menikah, dan namamu dan Justin masuk dalam daftar paling atas pendamping kami." Ucap Terence.


Marry hanya tersenyum, lalu meninggalkan Terence tanpa kata kata.


Kevin bersembunyi di balik tirai pintu sambil menahan napasnya.


Dia menatap kepergian Marry dengan rasa penasaran.

__ADS_1


__ADS_2