
"Aku permisi dulu." Pamit Marry saat kembali lagi ke kamar. Dia mengambil tasnya, hendak berlalu.
"Tunggu!" Ucap Kevin.
Marry menelan ludahnya, dan berhenti. Lalu dia menoleh perlahan.
"Terima kasih." Tukasnya sambil tersenyum.
Marry menjawab dengan anggukan kepala.
"Sampaikan salam ku untuk Alice. Aku sangat senang, jika dia datang menjengukku." Sambung Kevin, masih dengan senyum tersungging di bibirnya.
Lagi lagi Marry hanya mengangguk. Lalu dia berlalu meninggalkan kamar itu, dan bergegas meninggalkan rumah sakit.
BRUK!
"Sial!" Rutuk Marry saat menabrak seseorang di pintu jendela keluar karena terburu buru.
"Maaf, maaf, maaf, apakah Anda terluka?" Detik itu juga Marry segera menolong orang yang ditabraknya. Kertas dan map yang bercecer, karena tertabrak, Marry bantu pungut, lalu diberikan kembali pada orang itu.
Ternyata Marry menabrak Emily yang hendak masuk dalam rumah sakit.
Mereka berdua saling bertatapan sejenak. Lalu Emily mengambil kertas yang diberikan oleh Marry.
Emily teringat cerita William tentang Marry. Namun, untuk apa dia ada di rumah sakit. Apakah keluarganya ada yang sakit.
"Oh, Nona Mars, maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menabrak Anda. Sungguh saya tidak sengaja." Marry merasa sangat bersalah, ketika mengetahui orang yang dia tabrak.
Emily tersenyum.
"Tidak apa apa. Kenapa terburu buru? Dan mengapa ada di sini?" Tanya Emily hati hati.
Marry terdiam. Dia terkejut
"Apa? Bahkan, kakaknya sendiri tidak tahu jika adiknya masuk rumah sakit?!" Tanya Marry dalam hati.
"Eh, hmmm, Nona Mars, apakah semalam tidak ada yang menghubungi kalian mengenai Kevin?" Selidik Marry.
Sekarang gantian Emily yang mengernyitkan keningnya.
"Mengapa dengan Kevin?" Tanya Emily.
"Semalam Kevin menjadi korban perampokan, dia dipukuli dan di tusuk. Untuk detailnya aku tidak tahu. Aku menemukan dia terkapar di dalam gang di dekat tempat tinggalku. Dan semalam dokter telah memberi pertolongan terbaiknya." Tutur Marry dengan wajah serius.
__ADS_1
"Astaga! Benarkah?! Aku sama sekali tidak tahu, dan tidak ada yang menghubungiku atau kediaman kami." Emily menggelengkan kepalanya.
"Oh, ya ampun! Ya, orang tua kami sedang pergi ke Prancis. Dan aku semalam... " Emily tidak melanjutkan ucapannya, karena semalam dia menghabiskan waktu dengan William di rumah.
"Baik. Aku permisi dulu." Ucap Marry sambil berlalu.
"Marry..." Panggil Emily.
"Terima kasih." Tukas Emily sambil tersenyum.
"Sama sama." Sahut Marry sambil tersenyum.
*
*
"Apa yang kamu lakukan di sana?" Cecar Joe usai menghubungi pihak klien untuk mengundur meeting siang hari. Dan telah menghubungi Kim sang sekretaris untuk menyiapkan semuanya.
"Aku tidak tahu." Sahut Kevin sambil menerawang.
Joe menatap Kevin dengan rasa curiga.
"Itu alasanmu menyuruhku untuk pulang lebih dulu. Kamu ke tempat Marry? Kamu menyukainya?" Tembak Joe tanpa basa basi lagi.
Kevin hanya meringis. Dia juga tidak mengerti mengapa malam itu ingin berjalan kaki melewati jalan itu. Kevin merasa ingin mengulang saat kemarin berjalan jalan bersama Alice dan Marry.
Sontak Kevin melotot menatap Joe dengan tak suka.
"Apa maksudmu? Kamu kira dia sungguh putriku? Tidak. Dia bukan anakku. Aku selalu ingat tidur dengan siapa. Dan selalu memakai pengaman saat melakukan itu." Sahut Kevin dengan ketus.
"Jangan salah paham, Kev. Aku hanya bercanda." Sahut Joe sambil menyeringai seraya memukul lengan Kevin.
"Soal!" Rutuk Kevin meringis menahan sakit saat hendak membalas pukulan Joe.
"Astaga Kevin! Apa yang terjadi denganmu? Mengapa Joe? Mengapa Kevin bisa berakhir di kamar ini dengan babak belur?" Teriak Emily yang langsung menyeruak masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu diikuti oleh William.
Belum sempat Kevin dan Joe menjawab, Emily sudah menatap dengan teliti luka lebam yang menghiasi wajah adiknya itu.
"Wajahmu, astaga! Semoga ini memberi pencerahan padamu untuk tidak tidur dengan perempuan sembarangan ya!? Lihatlah, perutmu. Untung isinya tidak sampai berhamburan ke luar! Dan kamu sangat beruntung bertemu dengan Marry. Kamu harus sangat berterima kasih dengannya!" Cerocos Emily sambil menatap adiknya yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Hai, Kak. Apa maksudmu?" Sahut Kevin masih bingung.
"Pasti kamu selesai party dan mabuk!"
__ADS_1
"Hai, jangan menuduhku sembarangan! Tanya Joe, semalam aku makan malam dengan klien." Sahut Kevin tak terima tuduhan kakaknya.
Emily menoleh pada Joe, dan Joe mengangguk meyakinkan.
"Mengapa sampai seperti ini? Dan mengapa hanya kamu dan Joe tidak? Dia baik baik saja." Selidik Emily.
"Joe sengaja aku suruh langsung kembali, supaya pagi ini dapat menyelesaikan pekerjaan kami. Namun aku sedang sial." Jawab Kevin.
"Dan dia salah telah merampok Kevin Mars." Gumam Joe.
Kevin menyeringai penuh arti.
"Polisi sudah menemukan orang orang yang memukul dan menusukmu. Kini mereka sudah dalam pengamanan polisi." Ucap Joe, membacakan pesan yang diterima dari polisi yang memproses kasus perampokan dan penyerangan Kevin.
"Oh, Hai, Will. Apa kabar?" Kevin mengalihkan perhatiannya pada William yang sedari tadi dia memperhatikan Kevin dan Emily.
"Baik." Sahut William.
"Aku masih tak percaya, Marry yang menemukanmu. Pantas, tadi pagi Alice berada di rumah bersama Nana." Ujar William seolah berbicara dengan dirinya sendiri.
"Alice bersama Nana?" Ulang Kevin dengan nada bertanya.
William menoleh ke arah Kevin.
"Rumah Marry dan Sophie di sebelah rumah Nenekku, yang biasa dipanggil Nana. Setelah Sophie menikah, Marry pindah ke apartemen pusat kota, supaya dekat dengan sekolah Alice dan kedainya. Apalagi, saat dia sedang bekerja untuk event organizer." Ungkap William. Kevin dan Joe mendengarkan dengan seksama saat William berbicara.
"Jadi, kamu mengenal baik mereka?" Tanya Kevin penasaran.
William mengangguk.
"Aku yang membantu persalinan Marry, Alice lahir prematur. Namun, dia sangat kuat. Marry dan Alice adalah pejuang yang tangguh. Terutama Marry, dia sungguh sangat berjuang membesar Alice dengan bekerja keras, membuktikan bahwa dia ibu yang baik dan bertanggung jawab. Aku masih ingat, dia menangis saat merobek surat beasiswa kedokterannya, demi memilih mengasuh Alice, supaya tidak diserahkan pada dinas sosial." Entah untuk alasan apa, William menceritakan itu pada Kevin, Joe, dan Emily.
Kevin terdiam saat William menceritakan Marry. Ada rasa bersalah jauh di lubuk hatinya, namun dia belum menyadari itu. Yang Kevin rasakan saat itu adalah simpati akan perjuangan yang selama ini Marry lakukan.
"Dia anak yang pandai." Celetuk Kevin.
"Alice?" William memastikan, dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Kevin.
"Tuhan memberi berkat pada anak itu. Dia memang anak yang cerdas. Saat ini dia ikut kelas percepatan." Tukas William.
"Hmmm... Baiklah, seperti kami harus kembali ke pekerjaan kami. Jika ada apa apa, kamu bisa panggil perawat atau dokter jaga saja." Ucap Emily.
Lalu Emily dan William meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Kini tinggal Kevin dan Joe yang saling berpandangan.
"Kamu menyukai Marry?" Tanya Joe menatap Kevin.