Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Berdamai dengan keadaan


__ADS_3

Marry menatap dirinya di cermin usai mengguyur hingga bersih tubuhnya yang penuh dengan pasir.


"Dia sudah tahu? Dia akan bertanggung jawab? Lalu aku di sini bersama dia?! Apakah aku terlihat seperti seorang wanita murahan yang selalu menemani dia? Enak saja! Tidak semudah itu, kamu akan mendapatkan aku?!" Marry bermonolog sendiri di depan cermin kamar mandi.


Tubuhnya hanya berbalut handuk, dan rambutnya yang basah, juga tertutup handuk kecil yang tersedia di kamar mandi.


"Astaga, Marry! Kamu jangan ge er dulu! Memangnya Kevin menyukaimu? Memangnya kamu secantik dan seseksi Brenda, artis itu?!" Marry menepuk nepuk wajahnya menyadarkan dirinya sendiri.


Dia mematut dirinya sendiri. Menatap wajahnya, tubuhnya, dan berpose seperti model papan atas. Marry tertawa geli sendiri melihat tingkahnya.


Marry melangkahkan ke bagian lemari pakaian dan membuka penutupnya. Semua terlihat seperti fashion jaman dulu.


"Nyonya Max pasti saat muda sangat cantik. Apalagi semua pakaian ini, meski terlihat jadul, jika di pakai masih bagus bagus saja." Gumam Marry.


Marry memilih piyama satin untuk dikenakan. Lalu menatap kembali dirinya sambil menyisir rambutnya yang setengah kering.


Lalu berdiri untuk keluar dari kamar itu.


CEKLEK!


Saat membuka pintu, tercium aroma kopi dari arah dapur. Marry menuju ke dapur. Melihat Kevin sedang menuangkan kopi dalam cangkirnya.


"Mau kopi?" Kevin bertanya pada Marry.


"Boleh. Memakai krimer, tanpa gula." Sahut Marry.


Kevin mengambil cangkir dalam laci, lalu menuangkan kopi dan krimer.


Meletakkan di depan Marry yang duduk di kursi dapur.


"Terima kasih telah menyelamatkan diriku." Marry memegang cangkir dengan dua tangannya. Dia meniup nitip kopi yang masih panas itu.


"Tak mungkin aku membiarkan, mama dari putriku meninggal seperti itu? Konyol!" Desis Kevin sambil tersenyum menyindir Marry.


"Heh, enak saja aku mau bunuh diri! Ombaknya kencang sekali." Sahut Marry.


"Kopi buatanmu lumayan juga." Puji Marry sesaat menyesap kopinya.


Kevin hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ini rumah Nyonya Max?" Tanya Marry penasaran.


"Ya. Ini dulu rumah Kakek dan Nenekku. Semasa aku kecil, aku tinggal di sini, dititipkan pada mereka. Aku tinggal di sini selama sekitar tiga tahun. Saat itu orang tuaku sedang sibuk membangun bisnis mereka. Mama dengan rumah sakitnya, dan Papaku mengembangkan bisnis hotelnya. Emily ikut papa dan mama, karena dia selalu jadi anak yang manja yang selalu berlindung di belakang orang tuanya. Lihat saja! Sampai sekarang dia pun masih tinggal bersama Mama dan papa." Tutur Kevin sambil tersenyum kecut.


Marry terdiam, sambil melirik ke arah Kevin.


Marry memperhatikan Kevin yang sedang menerawang. Wajahnya terlihat tenang.


"Astaga, kenapa dia manis sekali! Di balik kelakuan play boy nya, dia adalah anak yang mandiri. Duh, mengapa aku jadi deg deg degan seperti ini?!" Rutuk Marry dalam hati.


"Lalu perusahaan IT yang kamu pegang adalah murni usahamu?" Tanya Marry.


Kevin mengangguk sambil tersenyum dengan bangga.


"Beruntung aku memiliki orang yang cerdas seperti kakekku. Dan aku tinggal di rumah ini. Penemuan penemuan kakek yang ada di garasi selalu membuatku betah hingga berjam-jam di sana. Lalu ketika aku lulus kuliah, aku mulai mengembangkan penelitian tentang karya tulisku sendiri. Papa selalu support finansial anak anaknya, sehingga aku bebas membuat perusahaan sendiri, selama masuk dalam grup keluarga Mars. Lalu aku memperbaiki teknologi di rumah sakit supaya lebih modern. Dan akhirnya, rumah sakit kami menjadi salah satu yang terbaik di dunia."


Marry terlihat kagum saat Kevin bercerita. Dia memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulut Kevin tentang rumah sakit.


Itu salah satu impiannya juga untuk bekerja menjadi dokter di rumah sakit itu.


"Sebenarnya Nenek mewariskan rumah ini padaku. Bahkan dia telah membuat surat wasiat. Namun, aku masih menghormati Bibi Tracy." Ucap Kevin sambil menghela napas.


Marry mengingat bahwa Nyonya Max pernah menyinggung tentang adik Tuan Mars yang bernama Tracy.


Marry menyesap kopinya kembali, bersamaan dengan Kevin yang juga menghabiskan sisa kopi dalam cangkirnya.


"Kamu boleh tidur di kamar itu." Ucap Kevin sambil menunjuk kamar yang tadi Marry pakai untuk mandi dan berganti pakaian.


"Beristirahatlah. Aku tahu kamu pasti sangat lelah malam ini. Selamat malam, Marry." Kevin berpamitan sambil berjalan menuju sebuah kamar di samping kamar tempat tidur Marry.


Marry segera menghabiskan kopinya, dan masuk ke kamar untuk beristirahat.


*


*


Kevin membuka matanya perlahan, sinar matahari yang masuk melalui celah jendela membuatnya terbangun.


Kevin menggeliat, lalu turun dari tempat tidurnya. Membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Aroma harum masakan tercium ke seluruh ruangan. Kevin tersenyum. Entah mengapa dia merasa senang setiap kali bisa dekat dengan Marry dan Alice.


Kevin melangkahkan kakinya ke sumber aroma yang lezat itu. Marry terlihat sibuk di depan kompor, lalu mengaduk aduk sesuatu dan menuang ke dalam panci.


Pagi itu Marry terlihat seksi dan menggoda. Rasanya Kevin ingin memeluknya, menariknya masuk ke dalam kamar dan menguncinya seharian untuk menemani tidur di ranjang.


Kevin buru buru menghilangkan pikiran jorok pagi pagi yang telah menggodanya itu.


Marry masih mengenakan piyama seperti semalam, bedanya Marry hanya menguncir tinggi rambutnya. Melihat Marry yang sibuk memasak, ekspresinya. Benar benar membuat Kevin jatuh hati pada wanita itu.


Kevin menghela napas dalam-dalam sebelum dia melangkah masuk ke dapur dan duduk di kursi makan.


"Hai, selamat pagi!" Sapa Marry dengan riang.


"Aku membuatkan sarapan kesukaan Alice, pancake. Lalu ini omelette. Dan secangkir kopi dengan krimer." Marry menaruh semuanya di atas meja.


Kevin hanya menatap semua masakan itu dengan takjub.


Sudah lama dia tidak diperlakukan seperti ini. Terakhir, saat Nenek Max masih tinggal di rumah ini, dan Kakek masih hidup.


"Wow.... Bagaimana bisa?" Tanya Kevin dengan heran.


"Kebetulan aku berjalan jalan tadi pagi, lalu aku melihat ada sebuah toko serba ada di ujung jalan sana. Lalu aku mampir. Tak ada salahnya membuat sarapan untukmu, sebagai ucapan terima kasih atas pertolonganmu semalam." Sahut Marry sambil tersenyum.


Kevin yang telah kelaparan, segera menyantap makanan yang ada di hadapannya itu hingga habis.


Semalam, Marry tidak dapat tidur dengan nyenyak. Mimpi buruk saat Kevin melucuti pakaiannya, dan menarik tubuhnya bagai hewan, bahkan menindihnya berulang ulang, dan merenggut kesuciannya. Hal itu membuat Marry ketakutan dan keluar dari rumah itu.


Marry menghabiskan malam itu duduk di pantai sambil menikmati deburan ombak hingga matahari berwarna jingga muncul dari arah timur. Marry telah memikirkan semuanya.


Dia bertekad melupakan kisah cintanya dengan Justin. Dan hanya menganggap sebagai masa lalu saja.


Memulai hidup baru menjadi Marry yang tegas dan kuat kembali, tanpa menunggu dan mengharap cinta Justin kembali.


Marry ingin mencoba menerima dan berdamai dengan keadaan. Kenyataan Kevin yang telah mengetahui Alice adalah putri kandungnya. Marry akan memberi kesempatan pada Kevin untuk bertanggung jawab terhadap masa Alice.


Melupakan masa lalu


Berdamai dengan keadaan

__ADS_1


Membuat hidup lebih tenang


- Marry -


__ADS_2