
Alice berjalan tertatih, sambil menenteng tas ranselnya. Alice menatap layar ponselnya, yang masih terhubung dengan mamanya.
Posisi Marry masih di tempat semula.
"Mama.... Semoga mama baik baik saja, bersama papa." Alice berhenti sejenak sambil menyeka air matanya.
Layar ponsel Alice muncul peringatan jika baterai lemah.
"Aduh... Jangan mati dulu, dong!" Keluh Alice sambil menggenggam ponselnya, dan menggoyang goyangkan ponselnya dengan khawatir.
Sisa baterai tinggal 10 persen lagi. Alice mempercepat langkahnya menuju jalan besar seperti yang diinstruksikan oleh mamanya.
Gelap.
Jalan setapak yang diikuti oleh Alice mulai berbatu dan menanjak, gelap, dan hanya dengan sinar bulan yang samar samar, karena tertutup pepohonan.
Alice berhenti sejenak, mengambil botol minummya yang ada dalam tas. Lalu meneguk air yang tinggal sisa sedikit itu. Meneguk hingga habis, lalu memasukkan kembali botol ke dalam tas.
Saat membuka tas, dan menaruh botol minumnya, Alice melihat sesuatu yang bergetar dalam tasnya.
"Ponsel?" Gumam Alice sambil merogoh tasnya dan mengambil benda yang bernyawa dan bergetar itu.
"Ponsel papa!" Gumam Alice sambil tersenyum lebar.
Layar ponselnya, tertulis nama Joe. Secepat kilat, Alice menjawab panggilan itu.
"Paman Joe!"
"Alice? Kamu di mana?"
"Aku tidak tahu. Aku ada di jalan setapak, sedikit berbukit, dan banyak pepohonan... Sebentar, aku akan nyalakan posisiku saat ini." Tukas Alice, sambil menatap layar dan mengutak-atik ponsel Kevin.
"Alice. Bisakah kamu maju sedikit lagi. Posisiku ada di deoanmu. Tapi, sepertinya terhalang sesuatu."
Alice mempercepat langkah kakinya, dan menuju ke tempat yang Joe katakan.
"Paman Joe, apakah kamu ada di balik tembok ini?" Tanya Alice sambil mengetuk ngetuk pembatas yang berupa seng itu.
"Ya. Apakah itu kamu?"
"Paman Joe!" Alice memanggil Joe di dekat sekat penghalang itu.
"Alice, kamu ke sebelah kanan, sepertinya itu jalan masuknya. Aku memakai mobil."
"Baik. Tunggu aku, Paman."
Alice berlari kecil menyusuri ke sebelah kanan, hingga akhirnya terlihat sebuah gerbang.
Alice berjalan cepat menuju ke gerbang yang terbuat dari seng itu.
"Alice, kamu menjauh dari pintu!" Teriak Joe dari balik sekat.
KRET DUNG
Pintu dibuka dengan paksa. Joe berhasil membuka pintu itu dan memeluk tubuh Alice.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Joe khawatir.
"Mama dan papa. Dia di dalam gudang di sana."
Alice menunjuk ke arah bawah tempatnya tadi disekap.
"Ayo, kamu tunggu di mobil saja." Ajak Joe, sambil menuntun Alice.
__ADS_1
Tak lama sebuah mobil datang, Mike dan beberapa orang tiba di sana.
"Bagaimana, Joe?"
"Jaga Alice. Kevin dan Marry masih di dalam sana."
"Baik. Kamu bersama mereka. Aku akan menjaga Alice sambil menunggu polisi yang ada di belakang." Tukas Mike.
"Tidak! Aku ingin ikut. Aku tidak mau melihat papa dan mamaku mati di sana!" Tolak Alice dengan keras.
"Alice, ini demi keselamatan kamu!" Bujuk Joe.
"Aku ingin bersama Paman Joe!" Tukas Alice dengan tegas.
Sebuah mobil menyusul. William, Emily, Tracy, dan Tuan Morgan Mars tiba.
"Alice!" Panggil William.
Alice segera menghambur memeluk William.
"Paman Will, papa dan mama masih di sana. Mama menyuruhku mencari bantuan untuk mereka. Papa dipukuli hingga tak bergerak...." Tangis Alice pecah dan tak meneruskan ucapannya.
Semua yang mendengar sontak terkejut. William memeluk Alice, menenangkan gadis kecil itu.
"Semua akan baik baik saja, Nak. Dengarkan aku, percaya, papa dan mamamu akan selamat."
Alice menatap William dan tersenyum.
"Kamu bersama bibi Em, di mobil. Kami akan menolong papa dan mamamu. Percayalah! Kami, akan kembali membawa papa dan mamamu dengan selamat."
"Aku percaya padamu, Paman."
William mengangguk yakin pada Alice. Lalu menepuk bahu Joe, memberi isyarat untuk menuju ke gudang tempat Kevin dan Marry untuk menolong mereka.
*
*
"Kita harus pergi dari sini, Kev. Sadarlah! Ayo kita berjalan keluar bersama!" Bisik Marry penuh harap.
Tapi mata Kevin masih terpejam dan tubuhnya sama sekali tak bergerak.
Marry menatap sedih pada Kevin.
"Kevin, jangan tinggalkan aku! Aku yakin kamu pasti bisa bertahan! Kev, tolong bertahanlah! Aku mencintaimu! Alice dan Austin masih membutuhkan papa dan mereka pasti akan sangat kehilanganmu, Kev. Aku mohon, Kev, sadarlah!"
Marry menangis sambil memeluk tubuh Kevin yang masih terpejam itu.
Hati Marry seakan hancur melihat suaminya.
Dalam hatinya dia berdoa, supaya Tuhan memberi mukjizat agar suaminya baik baik saja. Marry memejamkan matanya, sambil memeluk tubuh Kevin.
Suasana gudang yang temaram, hanya lampu dengan Watt kecil yang menyinari ruangan besar itu.
Marry menyeret tubuh Kevin berlindung di balik sebuah lemari besar, berharap tidak ditemukan oleh Mika dan gerombolannya.
Marry mendengar suara langkah kaki berjalan ke arah pintu tempat ruangan itu, dan segera waspada.
BRAK
"Brengsek! Mereka tidak ada!" Teriak Tom.
Mika menyusul masuk.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Mika.
"Mereka kabur!" Sahut Tom.
Dua orang preman itu menyusul masuk.
"Mereka tidak mungkin bisa jauh, aku yakin lelaki itu tak bisa berlari cepat lagi?" Ucap salah satu preman itu dengan yakin.
"Cepat temukan mereka! Aku tak mau tahu! Aku harus melihat salah satu dari mereka mati!" Ucap Mika dengan kesal.
"Brengsek! Bedebah!" Umpat Mika sambil menatap tajam pada Tom.
"Tenang, Nak! Kita akan mendapatkan mereka lagi."
"Aaaaaa..!" Mika berteriak dengan kesal sambil melempar kursi bekas Kevin diikat.
Lalu terduduk di lantai sambil menundukkan wajahnya.
Tom mengelus punggung Mika dengan lembut, lalu menciumi leher Mika dengan penuh nafsu.
"Stop! Jangan! Aku sedang tidak berminat bermain main lagi, Tom!" Tolak Mika sambil mendorong tubuh Tom.
Tom menurut, dan membiarkan Mika sendiri.
Tiba tiba Mika waspada dan memperhatikan sekelilingnya.
"Dia tak mungkin jauh dari sini. Gadis kecil itu tak mungkin menyeret tubuh Kevin yang lebih berat!"
Mika berjalan perlahan sambil memeriksa sekitar ruangan itu.
Marry menahan napas dan menarik tubuh Kevin supaya tak terlihat oleh Mika.
Mika berjalan ke arah lemari tempat Marry bersembunyi. Jantung Marry berdegup kencang, was was , jika mereka ditemukan.
Marry perlahan meletakkan tubuh Kevin. Dan dia mengendap-endap berjalan menuju sisi lain untuk mengalihkan perhatian Mika. Marry mengambil kaleng dan melemparnya ke arah berlawanan.
"Siapa itu!" Teriak Mika dan Tom sambil memeriksa arah tempat Marry melempar kaleng tadi.
"Keluar kau!" Mika berteriak saat mengetahui hanya sekaleng cat kosong.
"Ayo tunjukkan dirimu, jika tidak kami akan mengacak tempat ini dan menghabisi kalian semua!" Ancam Tom.
Marry masih tetap bersembunyi, sambil perlahan mengendap menuju pintu keluar.
BUG
Tubuh Marry menabrak salah satu preman yang hendak masuk dalam ruangan itu.
"Hahahaha.... Lihat aku mendapat siapa di sini!" Sorak preman itu dengan girang.
"Wow...! Seorang lagi menyahut sambil menyeringai lebar sambil menarik lengan Marry.
Tom dan Mika menoleh dan mengerutkan keningnya, lalu tertawa lebar.
"Wow! Anak dan suaminya hilang, kini istrinya yang datang! Bagus! Aku tak usah repot-repot lagi membuat alasan untuk menghabisi satu keluarga keturunan Mars lagi." Ucap Mika dengan suara sadis.
"Lepaskan aku!" Marry mengibaskan tangannya dari cengkeraman preman itu.
"Tenang! Kamu tahu? Suamimu sudah tak bergerak lagi, dan putrimu, mungkin tak jauh dari tempat ini! Dan sekarang, kamu datang ke sini. Aku tak perlu repot lagi."
Seringai Mika.
"Mika, mengapa kamu lakukan ini semua?" Teriak Marry.
__ADS_1