Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Awa Mula


__ADS_3

Tujuh tahun yang lalu....


"Hai, Marry, kamu sedang mencari penghasilan tambahan usai jam sekolah. Nyonya Ruth sedang mencari tenaga karyawan untuk event organizer. Jam kerjanya biasanya malam hari, apalagi jika ada jamuan, hanya beberapa jam saja. Dan hasil yang didapat lebih besar dari pada kerja di kedai atau restoran." Ucap Helen saat mereka sedang pulang sekolah bersama.


"Caranya?" Marry mulai tertarik. Dia mulai memikirkan cara untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar untuk pegangannya saat kuliah besok.


Marry sangat gembira, proposal pengajuan beasiswa kedokterannya diterima. Dia mendapatkan beasiswa di Universitas Stanford.


Impiannya adalah menjadi seorang dokter.


Orang tua Marry dan Sophie adalah perawat. Papanya telah meninggal saat menjadi tenaga relawan di negara konflik. Sedangkan Mamanya bekerja di rumah sakit milik besar milik keluarga Mars. Mamanya telah meninggal dua tahun yang lalu, saat Marry masuk sekolah menengah atas karena sakit kanker yang menggerogoti tubuhnya.


Itulah impian Marry terbesar dan menjadi cita citanya, untuk menjadi dokter, supaya bisa menyembuhkan orang sakit, terutama pengidap kanker.


Marry yang cerdas di sekolah, bersahabat dengan Terence dan Claire. Mereka bertiga sering di-bully karena terlihat culun. Setiap mereka diganggu oleh teman teman sekolah, datanglah Justin, kapten tim basket sekolah, siswa tertampan saat itu, idola para gadis gadis. Bahkan para gadis gadis rela memberikan kegadisannya pada Justin. Namun, Justin sama sekali tidak tertarik pada gadis gadis itu.


Justin memilih berteman dengan Terence, Marry, dan Claire. Selain muak dengan teman yang hanya untuk mencari popularitas atau pansos, Justin juga mulai memikirkan masa depannya untuk meraih beasiswa juga. Maka dia mulai bergabung dengan kelompok siswa pandai di sekolahnya.


Seiring berjalannya waktu, Justin jatuh hati dengan Marry, begitu juga dengan Marry. Lengkaplah sudah. Selama masa sekolah menengah atas, Marry berpacaran dengan Justin, dan Terence dengan Claire.


*


Weekend hari itu, Marry mengikuti Helen menemui Bob di kediaman Nyonya Ruth.


Marry sudah tahu, bahwa Nyonya Ruth adalah mamanya Terence.


Itulah yang dia suka dari Terence, meskipun anak orang kaya, dia tetap mau bergaul dengan teman dari golongan biasa seperti dirinya dan Claire. Bahkan Nyonya Ruth juga baik. Bagi karyawan yang masih sekolah, dapat bekerja pada hari weekend saja, atau malam hari pada hari biasa dan jam kerjanya berbeda dengan karyawan yang tidak sedang bersekolah.


Pekerjaan pertama adalah bekerja pada acara pertunangan seorang pengusaha. Lalu kedua di rumah keluarga Mars.


Lalu malam ini, Bob mengirim pesan akan ada pekerjaan, di villa keluarga Mars merayakan ulang tahun Kevin Mars ke-25.


Seperti biasa mereka bekerja sebagai pelayan yang membawakan makanan atau minuman bagi tamu. Lalu setelah itu membersihkan.


Karena villa milik keluarga Mars letaknya agak di luar kota, maka mereka mendapat fasilitas transportasi, akan diantar jemput.


Marry sangat senang karena dapat melihat pantai dan melihat pemandangan yang indah.


Sore itu, saat jeda, Marry pergi ke pantai, berlari kecil menikmati hamparan pasir dan ombak yang bergulung. Lalu menikmati matahari tenggelam.

__ADS_1


*


Malam harinya usai pesta, dia bertugas membersihkan lantai atas. Para tamu sudah pulang keluarga Mars sudah pulang semua. Hanya tinggal Kevin dan teman teman dekatnya saja yang masih berpesta. Terlihat seorang teman membawa beberapa wanita untuk menemani merayakan pesta itu.


Marry menyikat kamar mandi yang bau muntahan orang yang sedang mabuk, dan membersihkan lantai di kamar atas.


Tiba tiba seseorang masuk dalam kamar itu dan menutup pintunya.


Marry yang sibuk menyikat lantai dan menyalakan kran tidak mendengar ada yang masuk.


Kevin berdiri menatap tubuh indah Marry, yang bergerak saat membersihkan lantai.


Siluet tubuh Marry memikat dan memacu adrenalin Kevin seketika itu juga


Pemandangan Marry yang menyeka keringat kala itu terlihat seksi bagi Kevin.


Kevin yang dalam pengaruh alkohol, langsung menerkam tubuh gadis belia itu.


Marry melawan dan berteriak minta tolong. Namun, sayang kamar itu merupakan kamar besar, kran menyala. Dan di luar sana orang orang sibuk dengan wanita penghibur.


Lalu para pekerja yang tersisa sedang sibuk membersihkan peralatan makan di dapur.


Namun semakin dia melawan, semakin tubuhnya terkunci.


Yang lebih brengseknya lagi, setiap sentuhan yang dilakukan oleh Kevin, beraksi pada tubuhnya dengan mengeluarkan lenguhan dan suara rintihan seolah menginginkan lagi dan lagi.


Akhirnya Marry hanya bisa pasrah, saat Kevin menikmati tubuhnya.


Kevin menyeringai puas saat Marry mulai melonggarkan pertahanannya. Dan mulai menikmati semua lekuk tubuh gadis belia itu.


Marry memang pernah melakukan flitring dengan Justin, namun tidak sampai sejauh ini. Kevin menyentuh dengan lembut, sehingga Marry hanya bisa menangis saat menikmati setiap sentuhan dan kecupan yang diberikan oleh Kevin.


Bahkan saat Kevin membuka pertahanannya, Marry mencoba untuk melawan sekuat tenaga, yang hasilnya, perlakuan Kevin berubah menjadi brutal, dan membuatnya kesakitan.


Kevin benar benar menggarapnya tanpa ampun, membuka kasar pakaian Marry hingga tak tersisa satu helai pun, lalu dia mulai menunggangi tubuh Marry.


Marry hanya bisa menangis dan meminta ampun untuk melepas dirinya.


Semakin Marry memohon, Kevin semakin buas.

__ADS_1


Kevin menikmati tubuh Marry dan menembus pertahanan terakhir Marry.


"Tenanglah, ini akan sangat nikmat dan menyenangkan saat kamu tidak melawan." Bisik Kevin tepat di telinga Marry.


Marry yang ketakutan hanya mengangguk dan menurut, dalam hatinya merasa jijik pada Kevin.


"Aawww, sakit sekali..!" Rintih Marry.


"Ah... Sungguh sempit sekali milikmu! Aku sangat suka!" Sahut Kevin sambil terus memompa miliknya pada lubang kenikmatan Marry.


"Aaaaaa.....!!!" Marry berteriak kesakitan kembali hingga air matanya mengalir.


Marry menggoyangkan pinggulnya mengikuti Kevin, dan... Bless...


Pusaka besar nan perkasa milik Kevin akhirnya masuk dengan susah payah.


"Nikmatnya... Ahhh.... Aku sangat menyukaimu!" Seru Kevin, sambil memompa pusaka untuk terus masuk masuk dan masuk menerobos lubang sempit milik Marry.


"Aammpunn, sudah... Aku sangat sakit...!" Teriak Marry sambil menangis.


"Tunggu... Ahhh...ahhh!!"


"Ohh... Ahhh..!"


Jerit rintihan dan lolongan kenikmatan keluar dari mulut Kevin dan Marry.


Setelah menyemburkan berjuta juta benihnya dalam rahim Marry, akhirnya Kevin melepas pusakanya dan tersenyum puas. Kevin menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk kamar itu lalu tertidur.


Marry menguatkan dirinya untuk bangkit dan bangun dari tempat tidur. Dia melihat ada noda darah di sprei, dan akhirnya dia menangis.


Dengan sisa kekuatan yang ada, Marry turun dari tempat tidur, memunguti pakaiannya, dan mengenakan secepat mungkin. Tubuhnya terasa sangat sakit, terutama bagian bawahnya.


Sangat sakit sekali. Ingin rasanya dia mati saja saat itu. Dia tak tahu lagi bagaimana harus menjalani hari hari ke depannya.


Marry benar benar kehilangan harapan setelah kejadian pemerkosaan yang telah dilakukan oleh Kevin padanya.


Marry keluar dari kamar tanpa menoleh kembali. Bergegas berlari menuruni tangga. Saat di tangga dia menabrak Joe yang hendak ke atas. Itu mengapa Joe seolah pernah melihat Marry.


Marry bergegas menuju van yang membawa para karyawan event organizer kembali ke kota.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Marry hanya bisa diam, merenungi yang telah terjadi. Dia memejamkan matanya mencoba melupakan, namun bayangan Kevin yang melucuti pakaian secara paksa selalu menjadi mimpi buruk baginya.


__ADS_2