
Brenda menghambur ke arah Kevin, lalu memeluknya.
"Kevin, aku hamil!" Ucap Brenda.
Mendengar hal itu, sejenak, dunia terasa runtuh bagi Marry.
Usia pernikahannya masih hitungan hari, dan kini dia mendengar seorang wanita memeluk dan berkata dia hamil pada Kevin, suaminya.
Alice dan Joe terpaku di meja makan menatap Kevin yang masih memeluk Brenda.
Kevin mendorong tubuh Brenda dan melepaskan pelukannya.
"Hamil? Sudah lama aku tak bertemu dengan Brenda. Rasanya pertemuan terakhir bersamanya kami tidak tidur bersama! Apa maksudmu Brenda?"
Kevin terus menatap Brenda penuh selidik.
Kevin tak ingin membuat keributan pagi hari di depan putrinya.
"Joe, tolong antar Alice ke sekolah, nanti aku akan berangkat sendiri ke kantor." Instruksi Kevin sambil menatap Joe.
"Baik, Bos! Ayo Alice, kita berangkat." Ajak Joe sambil membantu membawakan tas ransel gadis kecil itu.
Alice berpamitan pada mamanya, tanpa menatap Kevin.
Ini kali kedua dia melihat Brenda.
Pertama saat dia pertama kali ke apartemen Kevin, yang pergi terburu buru dengan marah, mengetahui Kevin memiliki putri.
Dan yang kedua hari ini, yang tiba tiba datang, masuk dan mengatakan dia hamil.
Alice sangat sedih. Sambil menahan tangis, Alice menggenggam erat seat belt yang dikenakannya hingga buku buku jarinya tampak putih karena terlalu kuat mencengkramnya.
"Aku rasa, itu bukan anak Kevin. Pasti ada kesalahan dan kesalahan pahaman. Aku tahu Kevin selama ini." Ucap Joe sambil melirik ke arah Alice.
"Aku tak ingin ke sekolah!" Pinta Alice dengan suara parau menahan tangis.
Joe segera menepi dan menghentikan mobilnya.
"Kamu ingin aku antar ke mana?"
"Aku ingin ke rumah Nana."
Joe segera memutar balik mobil, dan menuju ke rumah Nana sesuai permintaan Alice.
*
Brenda duduk di sofa sambil terisak. Kevin duduk di kursi lain sambil menatap Brenda dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu? Hanya sekedar akting saja, hah?!" Hardik Kevin yang tak bisa menahan amarahnya.
Marry menghampiri Brenda yang masih menangis tergugu di sofa.
Marry meletakkan segelas air mineral di meja, sambil menyodorkan tissue pada Brenda.
Brenda langsung mengambil tissue, dan mulai menyeka air matanya.
__ADS_1
Tak lama tiba tiba Brenda mulai menangis lagi, kali ini makin kencang.
Marry perlahan meraih punggung Brenda dan memeluknya.
Kini Brenda menangis dalam pelukan Marry, untuk beberapa saat, Marry membiarkan Brenda meluapkan kesedihan dengan menangis.
Marry pernah merasakan hal yang sama. Dia tahu rasanya mengetahui hamil tanpa kemauannya.
Perlahan tangisan Brenda memelan, dan melepas pelukannya dari Marry. Meraih gelas yang berisi air, dan meneguknya sampai habis.
Kevin, masih duduk pada tempatnya, memperhatikan Brenda dan Marry dengan seksama.
Kevin masih menampakkan rasa marahnya pada Brenda karena merusak kebahagiaan yang baru saja terjadi dalam hidupnya.
Marry mengusap punggung Brenda dengan lembut dan Brenda menatap Marry, mengucapkan terima kasih sambil sesenggukan.
Marry menepuk punggung tangan Brenda menguatkan wanita itu.
Entahlah, kali ini Marry merasa, Kevin tidak bersalah. Kali ini Brenda sedang dalam masalah, dan butuh bantuan. Namun, caranya yang membuat shock semua orang di apartemen itu.
Brenda menyeka kembali air matanya dengan tissue, menghela napas dalam-dalam.
"Aku hamil." Ucap Brenda sambil terisak.
"Bukan denganku!" Tukas Kevin dengan keras.
Brenda mengangguk pelan.
"Ya. Bukan anakmu. Ini anak Victor." Brenda menunduk, lalu terdengar isak tangisnya lagi.
Kevin dan Marry menghembuskan napas lega dan saling bertatapan.
"Aku menghadiri pesta bersama Jimmy, kekasihku. Lalu aku mabuk. Aku tak ingat apa apa lagi malam itu. Terakhir kali aku menari bersama Victor, itu yang aku ingat. Kami bersenang senang. Lalu entahlah aku tak tahu. Aku pikir Victor benar benar gay, tapi dia berbohong. Dia lelaki normal dan kami melakukannya."
Brenda menutup wajahnya, ingin melupakan kebodohannya malam itu.
"Aku pikir dia gay! Aku menggodanya, dan dia sungguh tergoda olehku. Aku pikir kami bermain main, tapi nyatanya dia lelaki normal. Aku sangat bodoh!" Brenda memukul mukul kepalanya, menyesali perbuatannya.
Marry memegang lengan Brenda menghentikan perbuatannya, menatap Brenda dengan lembut.
"Brenda. Kamu hanya tidur dengan Victor sekali itu? Atau setelah itu bersama kekasihmu?" Selidik Marry.
"Aku dan Jimmy mulanya hanya settingan, seperti halnya aku dan Kevin. Mulanya aku hanya ingin membantu karirnya di dunia hiburan, namun, aku jatuh cinta padanya. Pada Jimmy, dan pesta di Itali tempo hari adalah terakhir kita bertemu." Ucap Brenda sambil menatap Kevin.
Kevin mengangguk mengiyakan.
"Lalu aku dekat dengan Jimmy. Dan bergaul dengan teman temannya termasuk Victor. Dia pembawa acara show, dan mengaku gay padaku selama ini. Lalu malam itu kami bersenang senang, dan aku menggodanya. Karena aku berpikir dia seperti teman teman gay ku yang lain. Tapi, dia berbohong. Dia masih lelaki normal dan aku bukan hanya sekali ini melakukannya." Brenda berkata lirih hampir tak terdengar.
"Hah? Kamu tidak hanya sekali! Bersama Victor?" Tanya Marry terkejut.
Brenda mengangguk lemah.
"Harusnya aku cepat sadar sejak semula. Dia dapat melakukan dengan baik, bahkan bisa membuatku sangat puas berkali kali. Berbeda dengan pria gay yang lain, yang tak bersemangat saat melakukan adegan ranjang. Dan bodohnya aku, kami tak menggunakan pengaman apa pun setiap melakukannya."
Marry membelai lembut punggung Brenda, menenangkan model cantik itu.
__ADS_1
"Bodoh!" Rutuk Brenda dengan kepala pada dirinya sendiri.
Brenda menatap Kevin dan Marry bergantian.
"Maaf, aku telah menganggu kalian. Kamu kekasih Kevin?" Tanya Brenda pada Marry.
Marry tersenyum membalas tatapan Brenda.
"Aku.."
"Dia istriku." Sela Kevin sambil menghampiri Marry.
Brenda menatap Kevin dan Marry dengan tatapan tak percaya.
"Kami sudah menikah secara resmi. Tinggal perayaannya saja. Nanti aku pasti akan mengundangmu." Ucap Kevin lagi.
"Oh, maaf, maafkan aku." Brenda merasa tak enak.
"Aku tak bermaksud menganggu kalian. Hanya, aku... Aku tak tahu harus menceritakan ini pada siapa."
"Kamu harus berbicara dengan Victor jika begitu. Itu anaknya juga." Sahut Marry, memberi saran.
"Jika dia tak mau bertanggung jawab?"
"Tanggung jawab seperti apa yang kamu mau?"
Brenda terdiam. Dia bingung. Dia belum siap untuk berkomitmen saat ini.
"Brenda, aku yakin perjalanan karirmu akan bagus ke depannya. Dan aku yakin, tanpa harus menikah dengan Victor pun kamu masih dapat menjalani hidup. Tapi setidaknya, anakmu nanti tahu siapa ayah dan ibunya. Saat kamu melahirkan, membesarkan, dan menjaganya kelak, kalian bisa berganti tugas. Tanpa harus terikat dengan pernikahan. Bentuk tanggung jawab Victor, mungkin materi atau bantuan untuk menjaga anak kalian kelak."
Keterangan Marry seolah menjawab semua ketakutan Brenda saat itu.
Brenda tersenyum. Kali ini beban di atas pundak dan kepalanya seakan terlepas dan terasa lebih ringan.
"Ya. Terima kasih. Dan selamat untuk kalian berdua. Bolehkan aku berfoto dengan kalian?"
Marry mengangguk.
"Cheese!"
Brenda mengambil fotonya bersama Marry. Lalu foto bertiga dirinya, Marry dan Kevin.
Mereka sejenak mengobrol ringan.
Setelah hampir tiga jam Brenda di sana. Akhirnya dia berpamitan.
Marry mengantar sampai depan pintu.
"Marry, sekali lagi terima kasih." Ucap Brenda dan memeluknya sekali lagi.
Setelah Marry menutup pintu apartemen, Kevin menyusulnya dan memeluknya dari belakang.
Menciumi leher Marry dan meraba bagian tubuh sensitif Marry.
"Kevin, kita harus bekerja." Elak Marry sambil meliukkan tubuhnya.
__ADS_1
Namun, Kevin seakan tak menggubris ucapan Marry.
"Ayo, Sayang, sebentar saja." Rayu Kevin.