Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Menghilang


__ADS_3

"Kevin, kok kemari? Tadi Alice sudah dijemput tadi oleh Mika." Olivia menghampiri Kevin yang menjemput Alice ke sekolah.


"Mika?" Kevin ganti bertanya.


"Iya." Olivia menatap Kevin dengan raut penuh tanda tanya.


"Ada apa, Kev? Tadi, Mika mengatakan kamu sedang meeting, jadi dia yang berinisiatif untuk menjemput,nkarena melihat kamu dan Joe sedang sibuk dengan proyek yang sedang kalian kerjakan." Imbuh Olivia sambil menatap Kevin.


Kevin terdiam berpikir keras.


"Mika? Untuk apa dia menjemput Alice? Aku tak pernah meminta dia untuk menjemput. Dan aku memang meeting, tapi tidak terlalu sibuk karena Joe dan Mike yang mengurusnya." Ucap Kevin dalam hati.


"Kevin? Apa ada masalah?" Tanya Olivia menyadarkan Kevin dari pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


"Sudah berapa lama mereka pergi?" Kevin menoleh ke arah Olivia.


"Kira kira sepuluh menit sebelum dirimu tiba di sini."


"Baik. Terima kasih, Liv. Selamat siang."


"Hati hati di jalan, bye."


Olivia melambaikan tangannya pada Kevin.


*


"Mika? Mengapa dia menjemput Alice?" Kevin menghela napas panjang sesampainya di balik kemudi mobil.


Lalu dia mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menghubungi Marry.


"Apakah Alice sudah sampai?" Tanya Kevin, saat panggilan terjawab.


"Loh, bukannya kamu yang menjemput Alice?"Ardy ganti balik bertanya.


"Iya. Tapi, tadi aku sedikit terjebak macet, jadi terlambat sekitar sepuluh menit, dan Mika telah menjemputnya."


"Mika?"


"Ya, Olivia bilang, Mika yang menjemput. Katanya, aku meminta Mika untuk menjemput Alice. Makanya aku tanya, apakah Alice sudah tiba di rumah?" Cecar Kevin dengan nada khawatir.


"Tunggu sebentar, jarak antara sekolah dan rumah sekitar dua puluh menit, seharusnya, jika lancar, mereka telah tiba di rumah. Atau aku coba hubungi Mika saja, untuk memastikan keadaan mereka." Marry mencoba menenangkan Kevin.


"Oke. Aku akan langsung pulang saja sekarang."


Kevin menutup panggilan ponselnya, dan menghidupkan mesin mobilnya.


Saat hendak bersiap untuk melajukan mobilnya, ponsel Kevin bergetar.


Kevin merogoh kembali sakunya dan mengambil ponselnya.


Panggilan dari nomor tak dikenal. Kevin ragu untuk mengangkat panggilan itu. Namun, ponsel terus bergetar dan panggilan seolah penting.


Kevin mengambil napas dalam-dalam, lalu menjawab panggilan dari nomor tak dikenal itu.


"Ya, ini siapa?" Ucap Kevin dengan suara tegasnya.


"Kevin? Ini aku Mika."


Kevin tersentak, mendengar suara Mika di seberang sana.


"Ya, Mika, ada apa? Apa Alice bersamamu? Apa kalian baik baik saja? Sekarang kalian ada di mana?"


Kevin segera memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Kev, mobilku mogok. Alice bersamaku. Kamu tenang saja. Kamu bisa datang kemari?" Tanya Mika.


"Kamu ada di mana sekarang?"

__ADS_1


"Sebentar, aku.... Hhmm, aku ada di dekat pom bensin, persimpangan menuju rumah kalian. Tadi aku mau mengisi bahan bakar, malah mogok, sebelum sampai ke sana." Sahut Mika.


"Baiklah. Kalian tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana."


Kevin menutup panggilannya, lalu segera tancap gas menuju tempat yang dimaksud oleh Mika.


Kevin dengan mudah dan cepat tiba di tempat yang di maksud. Dia melihat sebuah mobil sedan dengan kap depan terbuka, dan seseorang ada di depannya.


Kevin menghentikan mobilnya, dan melihat Mika sedang berdiri sambil memeriksa bagian mesin mobil sambil berkacak pinggang.


Kevin mengerutkan keningnya saat tak melihat Alice dalam mobil, maupun di dekat Mika. Dia lalu melayangkan pandangan di sekeliling tempat itu dari dalam mobilnya mencari sosok Alice.


Mika menatap ke arah Kevin dan melambaikan tangannya.


Kevin mengangguk, lalu keluar dari mobilnya, menuju ke arah Mika.


"Di mana Alice?" Tanya Kevin sambil berjalan menghampiri Mika.


"Di dalam, tidur. Kecapean mungkin." Sahut Mika sambil menunjuk jok belakang mobilnya.


Kevin melongok kepalanya melihat bagian jok belakang, dan melihat Alice sedang tertidur pulas di sana.


Kevin tersenyum lega.


Lalu menatap Mika, yang masih manyun sambil menatap mesin mobilnya dengan tatapan sedih.


"Ada apa?" Tanya Kevin, sambil memeriksa bagian mesin depan.


"Aku pun tidak tahu, Kev. Tiba tiba mogok saat hendak aku bawa ke pom di depan sana." Sahut Mika sambil mengehela napas.


"Sebentar, biar aku periksa dulu."


Kevin mendekati bagian mesin mobil dan melongokkan kepalanya menatap mesin dan kabel yang ada di dalam kapal mobil itu dengan seksama.


BUK!


*


*


Satu jam berlalu, Kevin sama sekali belum memberi kabar, dan ponsel Mika sama sekali tak dapat dihubungi.


Marry semakin gusar. Berkali kali dia menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi dua orang itu.


Kevin belum kembali. Alice juga. Dan Mika seolah menghilang.


Marry menghubungi Olivia, dan mengatakan hal yang sama seperti yang tadi Kevin katanya.


"Alice dijemput oleh Mika."


Marry lalu menghubungi Joe.


"Joe, kamu ada di mana?"


"Aku ada di kantor. Ada apa?"


"Apa Kevin telah menghubungimu?" Marry terdengar cemas.


"Loh, bukannya dia menjemput Alice dan langsung pulang."


"Nah, itu dia. Sampai sekarang belum sampai di rumah. Dan terakhir kali menghubungi aku, sekitar satu jam yang lalu. Ponselnya pun tak dapat aku hubungi."


Marry menghela napas dengan gusar.


"Bagaimana bisa?"


"Tadi, Kevin terjebak macet, jadi sedikit terlambat menjemput Alice. Ternyata Alice telah dijemput oleh Mika. Dan kini semua ya belum ada yang sampai di rumah, dan tak ada yang dapat dihubungi." Tukas Marry dengan khawatir.

__ADS_1


"Kamu sudah menghubungi Mika?" Tanya Joe.


"Sudah. Tapi, tak tersambung." Sahut Marry.


Joe terdiam berpikir. Dan Marry terus mengucapkan ribuan doa untuk keselamatan suami dan putrinya itu. Marry seakan mendapat firasat yang tidak baik saat ini.


"Joe, aku khawatir." Ucap Marry lirih.


"Marry, kamu tenang saja. Aku akan menghubungi beberapa orang untuk mencari Kevin, Alice, dan Mika. Coba kamu hubungi Nyonya Tracy. Siapa tahu Mika telah kembali." Ucap Joe mencoba menenangkan Marry.


"Baik Joe. Terima kasih."


Marry menutup panggilan ponselnya. Lalu duduk untuk menenangkan pikirannya.


Marry menatap Bayi Austin yang sedang terlelap di dalam box tidurnya.


Marry lalu mengambil segelas air dan meneguk hingga habis.


Marry lalu menghubungi Sophie.


Tak lama Sophie datang bersama Liam.


"Sophie. Aku minta tolong, jaga Austin! Jangan ada seorang pun mendekatinya. Aku percaya padamu Sophie!"


Sophie heran menatap kakaknya yang terlihat aneh.


"Ada apa, Marry?"


"Kevin dan Alice menghilang. Dan aku memiliki firasat buruk kali ini. Entah mengapa aku curiga dengan Mika. Jadi, aku minta, jaga Austin, jangan ada orang asing yang mendekatinya. Tetap dalam pengawasanmu. Nanti aku akan minta beberapa penjaga untuk menjaga kalian di sini."


"Marry, apa yang akan kamu lakukan?"


Marry diam dan menatap adiknya itu.


"Aku akan mencari suami dan putriku."


"Di mana kamu akan mencari?"


"Entahlah, tapi aku akan berusaha mencarinya." Sahut Marry sambil menghembuskan napas dengan berat.


"Marry! Sudah ada kabar dari Kevin?" Joe dengan napas tersengal-sengal bertanya dari ambang pintu.


Marry dan Sophie menoleh ke arah Joe.


"Belum." Jawab Marry.


"Sophie, aku titip Austin padamu. Joe, kita bicara di luar saja."


Tukas Marry sambil berjalan keluar dari kamar Austin. Joe mengikutinya.


*


*


BERSAMBUNG....


*


*


Mohon bersabar untuk kelanjutan kisahnya....


update malam hari... 🙏


Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia mengikuti kisah ini ..


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2