
Kevin berdiri sambil memegang sebuah amplop yang berisi hasil tes DNA nya bersama Alice.
Beberapa hari yang lalu, Kevin sengaja menjemput Alice di sekolah, karena Marry sedang sangat sibuk mengurus pesta pernikahan Terence dan Claire.
Marry yang pikirannya sedang fokus pada pekerjaannya, langsung setuju saat Kevin meminta ijin untuk menjemput dan membawa Alice berjalan jalan sepulang sekolah, lalu berjanji mengantar langsung ke rumah Sophie setelah itu.
Kevin memang membawa Alice ke sebuah taman hiburan, namun, sebelumnya dia membawa Alice ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
"Mengapa Papa melakukan ini?" Tanya Alice saat duduk menunggu.
"Alice, maaf aku harus melakukan ini semua. Apapun hasilnya nanti, aku berjanji akan tetap menganggap kamu putriku. Aku hanya tidak ingin penasaran. Semoga kamu mengerti." Sahut Kevin sambil menatap Alice.
Alice memeluk Kevin erat.
"Aku takut, Pa!" Ucap Alice lirih, saat dalam pelukan Kevin.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan selalu ada untukmu, Nak!" Kevin membelai lembut rambut gadis kecil itu.
Sebenarnya, Kevin juga takut melakukan tes DNA kali ini.
Jika hasilnya cocok, Kevin sama sekali belum bisa memikirkan langkah selanjutnya.
Namun, jika hasilnya tidak cocok. Dia juga tidak akan merubah sikapnya pada Alice, Kevin telah terlanjur sayang pada gadis kecil itu.
*
"Kamu yakin akan melakukan ini?" Emily menatap lekat lekat adiknya.
Kevin mengangguk dengan yakin.
"Aku sendiri yang akan menganalisis."
Kevin menghela napas dalam-dalam sambil menatap kakaknya.
"Aku percaya padamu, Em." Ucap Kevin tersenyum.
Emily lalu mempersilahkan Kevin dan Alice untuk masuk ke ruang laboratorium untuk mengambil sampel DNA mereka.
Alice duduk dengan tegang, tangannya mengepal, seakan menahan rasa takut. Emily tersenyum saat melihat itu.
"Tenang, Sayang. Ini tidak akan sakit. Aku janji! Silahkan buka mulutmu." Ucap Emily lembut dan tenang sambil tersenyum ramah.
Alice melirik ke arah Kevin dengan ragu. Kevin menepuk pundak gadis kecil itu kemudian untuk memberikan dukungan.
__ADS_1
Lalu Alice menuruti ucapan Emily dengan membuka mulutnya lebar-lebar.
Emily tersenyum geli melihatnya.
"Tidak usah selebar itu, Sayang. Cukup seperti kamu periksa ke dokter gigi." Ujar Emily sambil terkekeh geli.
Kevin dan Alice ikut tertawa geli juga.
Alice lalu membuka mulutnya lagi, kini seperti dia sedang periksa ke dokter gigi.
Emily mengambil sampel dengan hati hati, lalu dia menyimpan dalam sebuah tabung kecil untuk diperiksa.
"Sudah, Cantik!" Emily mengusap punggung Alice. Alice yang masih membuka mulut, hanya bisa bengong.
"Su-sudah??" Tanyanya heran.
Emily mengangguk sambil tersenyum.
"Hanya seperti itu?" Tanyanya keheranan.
"Iya. Kan aku aku sudah janji, tidak akan menyakitimu." Emily terkekeh geli.
Alice ikut tertawa.
"Kamu hebat Anak Cantik!" Puji Emily.
Alice menatap Emily dengan gembira.
"Terima kasih Bibi Emily!" Sahut Alice sambil memeluk Emily dengan erat.
Emily membalas pelukan Alice dengan rasa sayang.
*
Kini, Kevin hanya bisa menatap gedung gedung tinggi menjulang dari jendela ruang kerjanya.
Kevin lalu, menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya yang empuk sambil meremas amplop itu hingga sedikit kusut.
Emily sengaja memberikan langsung pada Kevin. Tadi Emily datang dengan raut wajah datarnya, lalu pergi setelah memberikan surat laporan hasil tes tersebut tanpa banyak kata.
Hati Kevin menjadi gundah gulana.
Kevin mengumpulkan keberaniannya.
__ADS_1
"Bodoh! Ayolah, ini hanya sebulan kertas. Apapun isinya beranilah! Kamu seorang lelaki, Kev!" Maki Kevin pada dirinya sendiri.
Perlahan, Kevin merobek ujung amplop itu, dan mengeluarkan kertas isinya dengan hati hati.
Kevin membuka lembar hasil itu dengan perlahan seperti slow motion. Lalu membaca deretan tulisan yang terpampang di atas kertas itu. Hingga dia membaca pada ujung deretan kata kata cocok 99,99%.
Dada Kevin bergemuruh saat itu juga. Tiba tiba matanya berkaca-kaca saat mengetahui hasil tes DNA dirinya dan Alice yang ternyata memang anak kandungnya dengan Marry.
Sejenak Kevin memejamkan matanya, lalu menyeka wajahnya dengan sapu tangan. Kevin meneguk segelas air minum hingga habis.
Lalu Kevin segera memanggil Joe untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa, Bos?" Tanya Joe sesaat masuk dalam ruangan Kevin sambil menghampiri atasannya itu di meja kerjanya.
Kevin menyodorkan kertas hasil tes tersebut pada Joe.
Joe menerimanya dan membacanya dengan teliti dan hati-hati dalam hati, lalu matanya terbelalak menatap Kevin tajam seakan meminta penjelasan lebih.
"Ucapan mu dan Terence benar sekali!" Sergah Kevin sambil menghela napas berat. Kevin menerawang menatap ke arah luar melalui jendela kantornya.
Joe seakan tak bisa berkata kata lagi, pada Kevin. Segala dugaannya selama ini benar.
Gadis yang berpapasan dengannya tujuh tahun silam di tangga villa adalah Marry. Kevin telah merudapaksa Marry saat itu.
"Apa yang akan, Anda lakukan, Bos?" Tanya Joe kemudian.
"Aku akan bertanggung jawab!" Sahut Kevin sambil menoleh ke arah Joe.
"Aku benar benar tidak ingat kejadiannya, Joe. Yang aku rasakan pagi itu adalah aku bangun dengan tubuh yang sangat segar. Aku tahu, jika seperti itu, aku usai melakukan hubungan. Namun, aku lupa dengan siapa, dan bodohnya lagi, tanpa mengunakan pengaman. Padahal kamu tahu, aku selalu berpesan pada setiap wanita yang bersamaku untuk mengenakan pengaman." Kevin menggelengkan kepalanya, masih berusaha mengingat kejadian saat itu.
"Itu pesanmu pada wanita lain. Dengan Marry, kamu tidak berpesan. Atau jangan jangan dia masih perawan saat kamu begitu kan, sehingga kamu keenakan dan lupa. Atau pengaruh pil ajaib itu yang sangat kuat, sehingga dirimu tidak sadar." Sahut Joe.
Kevin tersenyum.
"Aku tak habis pikir, mengapa dia tak menemuiku selama ini?" Desis Kevin.
"Mungkin dia terlalu takut untuk menemuimu, Kev. Bayangkan saja, seandainya enam atau lima tahun yang lalu, ada seorang wanita membawa bayi datang padamu dan mengaku itu anakmu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Joe balik bertanya.
Kevin terdiam sejenak. Enam atau lima tahun silam, adalah masa masa dia membangun bisnisnya, mengembang perusahaan ini sekuat tenaga. Kevin bahkan tak pernah berpikir serius untuk seorang wanita, dan menganggap wanita itu hanya sebagai pemuas nafsunya saja.
Kevin melampiaskan kejenuhan dalam bekerja dengan berpesta dan melakukan hubungan bebas.
Dia tak dapat membayangkan, jika saat itu Marry datang di hadapannya sambil membawa seorang bayi.
__ADS_1
Dia yakin, dengan situasi yang seperti dulu, pasti Kevin akan langsung mendepak Marry dan tak memedulikan wanita itu. Apalagi Marry hanyalah seorang pekerja event organizer.
"Ya. Aku rasa Tuhan telah mengatur semuanya saat ini. Memberitahuku di saat yang tepat. Saat aku sudah lebih siap menerima kenyataan." Tukas Kevin sambil meraih kertas hasil tes itu dan menatapnya sekali lagi.