Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Meminta Restu Nenek


__ADS_3

"Catatan sipil?" Tanya orang tua Kevin bersamaan sambil menatap tajam ke arah Kevin dan Marry.


"Ya. Aku dan Marry berencana akan menikah secara resmi. Aku telah mengurus semuanya. Marry dan Alice akan mendapatkan nama Mars. Untuk acara pesta akan kami selenggarakan setelahnya nanti." Sahut Kevin dengan tenang.


"Sepertinya, kamu akan mendahului kakakmu ini!" Sela Emily.


"Maafkan aku, Kak. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya menginginkan hal yang lebih intim saja untuk pernikahan. Tapi, kami berdua tak menutup kemungkinan akan mengadakan pesta juga untuk merayakannya." Sahut Kevin sambil menoleh ke arah Emily.


Tuan dan Nyonya Mars hanya mengehela napas panjang menatap putra dan putri mereka bergantian, lalu menatap William dan Marry juga.


"Astaga, aku sama sekali tak menyangka akan mendapatkan kejutan bertubi-tubi seperti ini." Ucap Nyonya Mars.


"Apa Mama senang?" Tanya Emily dengan hati hati.


"Ya. Mama sangat senang." Jawab Nyonya Mars.


"Dulu, mama yang mengejar kamu untuk menikah, malah Kevin yang lebih dulu. Tapi pernikahan bukan untuk cepat cepatan. Yang penting kalian berdua menemukan pasangan yang terbaik bagi kalian. Mama dan Papa akan membuatkan pesta untuk kalian berdua, terserah waktunya." Lanjut Nyonya Mars sambil menatap suaminya.


"Ya. Papa dan Mama akan membiayai pesta untuk kalian. Tinggal mencari kapan waktu yang tepatnya." Imbuh Tuan Mars sambil tersenyum


Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol.


"Sejak kecil, saya dan Marry bertetangga. Dia dan adiknya sudah saya anggap seperti keluarga sendiri." Cerita William pada orang tua Emily.


Tuan dan Nyonya Mars sangat menikmati makan malam kali itu bersama dua anak anaknya dan calon menantu mereka.


William adalah seorang dokter anak yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Mars, sudah tak diragukan lagi.


Lalu latar belakang Marry, ternyata orang tuanya pernah bekerja juga di rumah sakit milik keluarga Mars.


Mereka menyambut kehadiran calon anggota keluarga baru.


*


Usai menandatangani surat pernikahan yang disaksikan oleh saksi dan wali negara. Marry dan Kevin sekarang resmi menjadi suami istri.


Mereka datang ke catatan sipil dengan mengenakan pakaian resmi. Kevin dengan setelah jas rapi, Marry dengan dress berwarna salem dengan riasan tipis.


Usai menyelesaikan urusan administrasi, Kevin dan Marry berfoto untuk dokumentasi. Joe dan Olivia yang membantu mengurus semua.


Lalu Joe yang mengurus semuanya setelah itu.


Kini Kevin mengajak Marry untuk ke panti jompo menemui Nenek Max.


"Aku senang akhirnya bisa bersamamu, Marry." Ucap Kevin sambil meraih jemari Marry dan menciumnya.


Marry menatap Kevin dengan bahagia.

__ADS_1


"Aku tak pernah bermimpi seperti ini. Bahkan tak pernah sedikit memikirkan dirimu. Hanya saja dulu sempat..." Marry tak meneruskan ucapannya.


"Sempat apa?" Kevin penasaran.


Marry tak menjawab, hanya diam sambil menatap jalanan.


"Ayolah, jangan biarkan suamimu ini penasaran!" Bujuk Kevin.


Marry hanya senyum senyum menatap Kevin.


"Marry, tolonglah! Kamu sempat apa? Jangan buat aku penasaran." Kevin terus mengiba karena penasaran dengan wajah memelas.


Marry menepuk wajah Kevin yang kini telah menjadi suaminya itu, dan mencium pipinya dengan lembut.


"Baiklah, supaya kamu tidak penasaran. Aku akan mengatakannya. Tapi, aku ingin sekali menikmati burger yang ada di kedai depan itu." Marry menunjuk sebuah kedai burger.


Buru buru Kevin membelokkan mobil ke arah kedai dan menghentikan di area parkir.


Lalu menarik lengan Marry mengajaknya memesan burger.


Marry memesan tiga porsi burger untuk dirinya, Kevin dan Nenek Max.


Marry pernah menikmati burger ini, karena kedai ini favorit Nenek Max selama ini. Marry sengaja ingin membawa oleh-oleh untuk Nenek dari Kevin.


"Kita akan memakannya di tempat Nenek Max saja. Sudah lama kami tak mengobrol bersama." Ucap Marry sambil membawa bungkusan pesanannya.


*


*


"Astaga, kamu bersama Kevin! Kemarilah cucu cucuku." Nenek Max menggandeng Marry dan Kevin.


Mereka duduk bersama di ruang tamu panti.


Marry membuka bungkusan burger dan menata di atas meja.


"Wow! Kamu tahu kesukaanku!" Nenek Max berbinar menatap burger kesukaannya itu.


"Kami sengaja membelikan ini untuk kita nikmati bersama." Sahut Marry.


Kevin hanya bisa menatap semuanya dengan tatapan bingung.


Tapi, dia sangat senang melihat Marry yang akrab dengan neneknya itu.


Bahkan Nenek Max yang biasanya sangat sulit menerima orang baru, kini, menerima bahkan menyambut hangat kehadiran Marry.


"Jadi Nenek telah mengenal Marry sebelum ini?" Tanya Kevin.

__ADS_1


"Iya. Dia yang menjemput dan mengurusku saat pernikahan Terence kemarin. Nenek berencana mengenalkanmu padanya. Tapi, ternyata kalian telah saling mengenal." Tersungging senyuman di bibir Nenek Max menatap Kevin dan Marry.


Kini Kevin melirik ke arah Marry memberi isyarat akan mengumumkan pernikahannya dengan Marry pada Neneknya itu.


Usai menikmati burger Marry memijat punggung Nenek Max sambil menatap taman yang ada di halaman panti jompo.


Kevin duduk tepat di depan Neneknya dan menggenggam tangannya.


"Nenek. Aku mohon maaf jika telah lancang padamu. Aku dan Marry telah menikah. Dan kami minta restumu. Maaf seharusnya kami datang lebih cepat, tapi semua memang serba mendadak, Nek." Ucap Kevin lirih.


Nenek Max terkejut seolah tak percaya. Lalu menoleh pada Marry yang ada di belakangnya.


"Maafkan kami telah lancang, tidak meminta restu terlebih dahulu." Ucap Marry sambil berlutut di samping Nenek Max.


Nenek Max menatap Marry dan Kevin. Lalu menepuk ibunya keduanya pelan dan lembut seakan memberi restunya.


"Sejak pertama bertemu denganmu, aku sangat yakin, kamu wanita yang cocok untuk Kevin. Tanpa harus susah mengenalkan kalian. Ternyata kalian telah saling mengenal, bahkan telah mendahuluimu untuk menjodohkan. Nenek bahagia dan turut senang untuk kalian. Restu nenek akan selalu menyertai pernikahan kalian." Ucap Nenek sambil tersenyum.


"Terima kasih, Nek." Sahut Kevin dan Marry bersama.


Mereka saling memeluk Nenek Max penuh rasa sayang.


"Pesan Nenek. Tetap setia dengan janji pernikahan kalian. Jujur satu sama lain, dan komunikasi. Apa pun masalah yang akan kalian hadapi, jika kalian tetap saling jujur, percaya, cinta, dan komunikasi yang baik. Maka, Nenek yakin kalian dapat melewati segala masalah yang ada."


Kevin dan Marry berlutut di depan Nenek Max dan menggenggam tangannya sambil tersenyum bahagia.


*


*


BERSAMBUNG YA....


IJIN PROMO NOVEL KARYA TERBARU....


TIRANI IBU MERTUA



kisah rumah tangga Bima dan Niken.


Lika liku kehidupan pernikahan dengan bayang bayang ibu mertua yang tak menyukai menantu perempuannya.


akankah Bima dan Niken dapat mempertahankan rumah tangga mereka.


Di saat ibu mertua telah terang terangan tidak suka pada Niken, dan telah memprediksi usia pernikahan mereka yang tak akan lama.


Mohon dukungan Favorit kan, Like, dan Komentar nya ya....

__ADS_1


terima kasih 😘😘


__ADS_2