Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Carilah Pertolongan


__ADS_3

"Lepaskan, putriku!" Ucap Kevin dengan tatapan penuh kemarahan.


Mika menyeringai dengan tatapan licik.


"Kamu dan Emily telah banyak mendapatkan hal hal yang tak pernah aku dapatkan. Aku hanya ingin pengakuan dari papamu. Bahwa aku adalah bagian dari keluarga kalian, dan mendapatkan hak istimewa juga seperti kalian. Dan mendapatkan bagian sebagai anak keluarga Mars sama seperti kamu dan Emily."


Mika tersenyum sambil mengambil sesuatu dari tas nya.


Kevin menatap tajam Mika dan menoleh pada Alice dengan tatapan khawatir.


"Aku lupa, ternyata gadis kecil ini adalah putrimu! Aku juga ingin kamu merasakan, bagaimana rasanya saat dirimu dijauhkan dari putrimu sendiri. Apa rasanya, hah?" Sela Tom sambil mengayunkan belati tepat di depan wajah Alice.


Kevin menggerakkan tangannya dan menghentak hentakan kursi tempat dia terikat, mencoba melepaskan diri.


Kevin menatap Tom dan Mika bergantian dengan tatapan penuh kemarahan.


"Papa...!" Alice yang ketakutan akhirnya, berteriak.


"Tenang, Nak. Papa akan berusaha menolongmu." Kevin menatap Alice.


Alice mengangguk.


"Brengsek! Heemmm!" Kevin mengerakkan tangannya, hingga lecet, supaya ikatannya lepas.


BUK BUK


Bogem mentah melayang tepat di wajah Kevin beberapa kali, membuatnya terjatuh bersama dengan kursi tempat dia diikat.


Darah mengalir dari kening, dan bibir Kevin.


"Halo, Tuan Mars. Masih ingat denganku!" Seringai dua orang yang tiba tiba memukulnya.


"Hahahaha... Lihat, dia seperti saat kita pukuli tempo hari!" Ucap salah satu orang itu sambil memijak kakinya pada kepala Kevin.


"Papa.. papa!" Berkali kali Alice berteriak dengan panik melihat Kevin yang masih di hajar habis habisan oleh dua orang preman yang dulu pernah dipenjarakan, karena merampok Kevin.


"Papa, bangun, Papa... Tolong lepaskan papaku!" Teriak Alice.


Mika menatap Alice yang berurai air mata dengan tatapan prihatin, namun, palsu.


"Kamu tahu, Nak. Aku adalah bibimu. Seharusnya, aku memperoleh kesempatan dan perlakuan sama seperti dia dan kakaknya. Tapi, apa? Aku berada di benua lain, sebagai seorang kacung! Hidup dan tinggal berpindah-pindah, karena aku mengikuti orang yang hanya memikirkan ambisinya saja. Saat aku mengatakan lelah dan ingin kembali ke Amerika. Dia tak pernah menggubrisnya. Aku ingin menghancurkan keluarga ini. Aku ingin membalas semua kesakitan yang pernah dirasakan oleh mamaku. Dan kamu sungguh beruntung. Tanpa perlu usaha apa pun, hanya karena ibumu menikah dengan salah satu Mars, dan kamu memperoleh segalanya."


Ucap Mika dengan wajah yang tegas dan menakutkan.


"Aku adalah putri Kevin. Dia adalah papa kandungku!" Sahut Alice dengan berani.


"Bagus! Kamu sungguh berani berteriak lantang di wajahku! Lihat saja anak kecil. Kamu akan melihat papamu itu akan mati perlahan-lahan, hahahaha.....!"


Mika, Tom, dan dua preman itu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


*


Marry menutup mulutnya menahan suaranya, supaya tidak berisik. Dia melihat Kevin dipukuli tanpa ampun oleh preman yang dulu pernah merampoknya.


Marry mengirim posisinya pada Joe, dan mengirimkan video saat Kevin dipukuli itu.


Marry menoleh ke arah Alice yang wajahnya disodorkan oleh sebuah belati.


Marry tetap bersembunyi hingga keadaan aman.


Dua preman tadi meludahi tubuh Kevin usai puas menghajarnya. Lalu meninggalkannya dengan tubuh berlumuran darah.


Alice menangis sejadi-jadinya, dan terus memohon untuk berhenti.


Lalu setelah itu menghempaskan tubuh Alice ke lantai dengan tangan masih terikat.


Alice berusaha berjalan mendekati Kevin yang bersimbah darah dan tubuh penuh luka.


"Papa! Papa!" Teriak Alice memanggil Kevin sambil menangis, karena Kevin sama sekali tak bergerak dan mata terpejam.


Marry menahan dirinya untuk tak berusaha supaya tidak ketahuan dan dapat menolong Alice dan Kevin.


Marry hanya dapat menitikkan air mata, sambil menggigit bibirnya menatap tubuh Kevin yang telah roboh itu.


Mereka meninggalkan Alice dan Kevin, dan menuju ke ruangan di sampingnya.


Marry perlahan bergerak mencari pintu untuk masuk ke ruangan tempat Kevin dan Alice.


Marry mengamati sekelilingnya yang gelap.


Saat ini dia berada di sebuah gudang di pinggir kota, jauh dari tempat tinggal penduduk. Sepertinya, ini telah di tinggalkan oleh pemiliknya, dan kosong bertahun-tahun.


Marry mengintip pada sebuah celah. Dia melihat Mika dan Tom sedang menghisap rokok. Tapi, Marry menebak itu adalah ganja, atau sejenisnya, yang membuat orang tak sadar.


Lalu melihat Mika dengan wajah sensualnya, duduk di pangkuan Tom, sambil mengalungkan tangannya, dan tubuh keduanya berpelukan.


Tom dan Mika saling berciuman, dan terdengar suara lenguhan dan teriakan manja sepasang manusia yang dipenuhi oleh nafsu untuk memenuhi hasrat duniawi.


"Gila!" Gumam Marry, sambil terus waspada.


Marry melihat dua preman itu, juga sedang menghisap benda yang mirip dengan Mika dan Tom, lalu keduanya, masuk ke dalam ruangan tempat Mika dan Tom.


Kini Marry melihat Mika yang telah tak menggunakan pakaian, bergantian melayani tiga laki laki itu.


Mendadak perut Marry mual, saat melihat hal itu. Marry menenangkan dirinya dan menghirup udara segar, mengalihkan pandangannya, dan tak memedulikan perbuatan orang-orang gila yang ada dalam ruangan itu.


Marry melihat sebuah celah, dan memiringkan tubuhnya berusaha untuk menyelinap masuk melalui celah tembok itu. Dan akhirnya dia berhasil masuk ke gudang tempat Alice dan Kevin.


Marry memberi isyarat untuk tetap tenang pada Alice, dan Alice mengangguk mengerti.

__ADS_1


Marry melepaskan ikatan Alice, lalu memeluk putrinya itu dengan bahagia.


"Mama, papa..." Alice terisak.


"Semoga papa dapat bertahan lebih lama."


Marry melepaskan ikatan Kevin, dan memeluknya.


Marry memeriksa denyut nadi Kevin, yang masih terasa.


"Papamu masih hidup. Semoga Paman Joe segera tiba." Ucap Marry sambil menyeret tubuh Kevin ke sudut ruangan.


"Apa yang akan kita lakukan, Ma?" Tanya Alice.


"Kamu, pergilah, menuju ke jalan utama, bawa tas ranselnya, dan hubungi Paman Joe, Bibi Emily, atau Paman Will. Jika bertemu dengan orang segera meminta pertolongan. Jangan lupa videokan jika kamu merasa aneh, dan hubungkan pada nomor Paman Joe."


Marry memberi instruksi pada Alice.


"Lalu Mama?"


"Mama akan berusaha membawa papa."


"Mengapa tidak bersama?"


"Alice, dengar. Jika kamu pergi lebih dulu, kemungkinan bertemu Paman Joe lebih cepat. Mama harus membawa tubuh papamu yang penuh luka ini. Mama dan Papa tak mungkin. Isa berjalan secepat kamu, Nak. Dengar, kami akan baik baik saja. Percaya pada Mama."


Marry meyakinkan Alice yang menatap Marry dengan raut wajah sedih.


"Aku takut, Ma."


Marry memeluk tubuh Alice, dan membelai rambut putrinya dengan sayang.


"Kamu pasti bisa, Alice. Kamu anak yang hebat dan kuat. Mama percaya padamu." Bisik Marry saat memeluk Alice.


"Mama..."


Alice menatap Marry dengan tatapan tak rela untuk meninggalkan ibunya sendiri bersama papanya yang terluka.


Marry mengangguk yakin.


"Pergilah. Carilah pertolongan untuk Papa. Kamu ingin papa selamat, kan? Mama yakin, kamu bisa." Marry memberi semangat dan meyakinkan Alice untuk pergi mencari pertolongan.


"Mama menyalakan GPS yang telah kamu pasang. Dan telah menghubungkan pada ponsel Paman Joe juga. Kamu tenang saja. Mama yakin, kali ini kita akan berhasil, dan dapat membawa papa ke rumah sakit dengan segera."


Marry menatap Alice.


Alice menghela napas, lalu meraih tas ranselnya, dan mengenakannya.


Alice menoleh sekali lagi menatap papa dan mamanya, lalu menyelinap melalui celah dinding yang berlubang itu, dan segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2