
Kevin mengantar Marry dan Alice kembali ke apartemennya. Alice tertidur pulas di jok belakang karena kelelahan. Marry hanya diam sepanjang perjalanan.
Kevin beberapa kali melirik ke arah Marry, yang hanya menatap ke arah samping, melalui kaca jendela. Kevin hanya bisa diam. Dia merasa, ada sesuatu yang menggangu pikirannya saat ini.
"Apa kabarmu?" Tanya Kevin memecah keheningan. Dia akhirnya tak tahan untuk berbicara dengan Marry.
"Eh.. ya. Kabar? Aku baik." Sahut Marry tergagap sambil menoleh dengan sungkan pada Kevin.
"Kamu terlihat lelah akhir akhir ini?" Kevin membalas tatapan Marry.
"Masa? Tidak terlalu. Hanya tadi aku sedikit cemas memikirkan Alice. Namun, setelah kamu menghubungi aku. Lebih lega. Terima kasih." Marry menghela napas sambil menoleh ke belakang memeriksa keadaan Alice.
"Toko terlihat lebih ramai juga?"
"Ya. Akhirnya aku menambah pegawai, karena pesanan muffin dan cupcake yang membludak. Ben dan Jill sudah hampir tak sanggup lagi, setelah aku fokus mengurus acara Terence dan Claire, yang tinggal Minggu depan."
"Tapi kamu hebat. Bisa menjadi kepercayaan Bibi Ruth yang bawel dan banyak maunya." Kevin tertawa kecil.
"Mengapa Mamamu tidak datang menemui nenekmu?"
Kevin terdiam sejenak. Dia sebenarnya tidak ingin membongkar aib keluarganya pada orang lain.
Mamanya dan Bibi Tracy, adik papanya adalah rival. Musuh bebuyutan sedari dulu. Mulai dari sekolah, pertemanan, hingga kekasih. Entah apa yang membuat mereka saling bermusuhan sedari muda dahulu. Hingga akhirnya Vicky menjalin kasih dengan Morgan, dan hamil. Mau tidak mau mereka menikah. Sejak saat itu Tracy pergi dari Amerika, dan hanya beberapa kali kembali hanya untuk menjenguk ibunya yang sakit, itu pun hanya di rumah sakit, dan sama sekali tidak pernah mau bertemu secara langsung dengan Morgan atau pun Vicky, orang tua Kevin. Namun, Tracy sempat berkenalan dengan Emily dan Kevin, saat mereka menjenguk bersama Ruth.
"Entahlah. Dari dulu sudah seperti itu, dan aku pribadi, selalu senang saat bertemu dengan Nenek. Dia nenek yang hebat. Aku sering mengunjunginya di panti jompo." Tutur Kevin lirih.
Marry hanya mengangguk angguk mendengarkan jawaban Kevin.
Tak lama mereka sampai di apartemen Marry.
"Biar aku bantu menggendong Alice ke atas. Kamu bawa yang lainnya." Sergah Kevin.
Marry menganguk, dan melaksanakan instruksi Kevin.
Kevin keluar dari kamar Alice, lalu menghampiri Marry yang membongkar isi tas milik Alice. Yang isi ya makanan dan aneka cemilan. Marry hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu terlalu memanjakan Alice. Padahal belum tentu seperti itu. Jangan terlalu memberi harapan palsu pada Alice." Ucap Marry.
"Marry, jujur aku tulus melakukan ini semua. Sejak mengenal Alice, aku merasa bahwa hidup memiliki tujuan. Dengan segala yang telah aku capai selama ini. Aku seakan masih merasa kosong. Maka, yang bisa aku lakukan adalah pesta, pesta, dan pesta." Kevin dengan lancar mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak ingin kamu jadi merasa terikat dengan Alice."
"Tidak. Aku tidak merasa seperti itu. Sungguh!"
Marry melihat, Kevin sungguh sungguh dengan ucapannya.
"Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu, bisa membalas semua kebaikan yang telah kamu lakukan."
"Kami tak perlu membalas apa pun, Marry. Cukup jauhi Justin dan mencintaiku!" Ucap Kevin, namun dalam hatinya.
Kenyataannya, Kevin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku pulang dulu, beristirahatlah." Pamit Kevin.
*
*
"Kev, gadis itu adalah Marry!" Ucap Joe sambil berapi-api.
"Pada malam usai pesta ulang tahunmu, Rey memasukkan pil ajaib pada minumanmu. Lalu entah apa yang terjadi. Kamu benar-benar merasa lupa perbuatanmu malam itu. Tapi sepertinya kamu telah meniduri Marry malam itu." Imbuh Joe.
"Kamu bisa melakukan tes DNA pada Alice untuk meyakinkan dan mengetahui kebenarannya." Joe memberikan saran.
"Ya, aku setuju akan hal itu." Sahut Terence.
Kevin menoleh ke arah Terence.
"Saudara sepupu, mengapa kamu bersemangat sekali? Kamu tidak senang Marry dan Justin kembali dekat?" Tanya Kevin penasaran.
Terence terkekeh.
"Sepertinya hal itu mustahil. Itu hanya akan jadi kisah masa remaja mereka saja. Karena, Justin telah bertunangan. Dan jika benar dia kembali pada Marry, itu pasti akan berpengaruh pada karir yang telah dia capai. Keluarganya pasti akan sangat menentang hal itu." Jawab Terence.
"Lagian, kamu adalah sepupuku. Meski pun kamu adalah seorang Don Juan, tapi aku tahu. Kamu memiliki hati selembut kapas. Buktinya, hanya dirimu satu satunya cucu yang rajin mengunjungi Nenek di panti jompo." Tambah Terence sambil menepuk bahu Kevin.
Mereka bertiga duduk sambil menikmati sekaleng minuman dan sebatang rokok. Mengobrol hingga larut malam. Membahas banyak hal, mulai dari rencana untuk tes DNA Kevin dan Alice, tentang pesta pernikahan Terence yang tinggal seminggu lagi, pekerjaan, dan hal lainnya.
*
__ADS_1
*
Pagi itu Marry dikejutkan dengan kedatangan Justin pagi pagi, saat kedai baru saja dibuka.
"Ada apa?" Tanya Marry.
"Mengapa kamu tidak pernah datang menemui, bahkan tak memberi kabar. Kamu tak membalas satu pun pesanku, dan tidak mengangkat panggilan ponselku?" Desak Justin
Marry menatap Justin. "Mengapa kamu membohongiku?"
Kini gantian Justin yang terdiam.
"Apa maksudmu?" Tanya Justin.
"Kamu telah memiliki seorang tunangan. Benar bukan? Sudahlah Justin, lupakan tentang kita. Aku tidak akan menggangu kalian. Aku bukan wanita seperti itu." Ucap Marry dengan sinis.
"Marry, dengarkan aku!" Ucap Justin dengan tegas sambil memegang lengan Marry kuat kuat.
Mereka saling berhadapan. Mata bertemu dengan mata. Justin berusaha meyakinkan Marry.
"Marry, hanya kamu yang ada dalam hatiku. Kamu yang selalu aku cintai. Aku bertunangan dengannya karena aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Sungguh, aku akan meninggalkannya dan memilihmu. Aku sungguh mencintaimu Marry. Aku tak bisa hidup tanpamu!" Justin seakan memohon pada Marry.
"Aduh apa yang harus aku ucapkan lagi pada Justin. Aku mencintainya juga, tapi tak mungkin dia memutuskan meninggalkan tunangannya begitu saja. Pasti wanita itu akan marah. Lagi pula, aku masih merahasiakan Alice. Bodoh ya aku!" Rutuk Marry dalam hati.
Pada titik itu, dia merasa sangat galau. Bimbang melanda hatinya. Di sisi hatinya, sangat ingin menerima kembali Justin. Namun, di sisi lainnya, Justin telah memiliki tunangan. Mulut Marry seakan terkatup saat hendak menceritakan tentang Alice. Dia takut Justin akan langsung pergi dan membenci dirinya.
Justin memeluk Marry, dan membai lembut rambutnya.
"Kembalilah padaku, Marry!" Bisik Justin tepat di telinga Marry.
Marry hanya bisa memejamkan matanya. Dalam hatinya berdoa meminta yang terbaik pada Tuhan.
Di sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, sepasang mata menatap Justin dan Marry yang berpelukan dengan tatapan tak suka.
Tunangan Justin, bernama Mia, melihat kejadian itu. Wanita itu mendengus dengan kesal. Dia datang untuk menghadiri acara pernikahan Terence dan Claire, sahabat dari tunangannya, Justin.
Namun, baru saja tiba di telah melihat pemandangan yang membuat hatinya geram dan marah.
"Siapa wanita itu?" Dengus Mia dengan penuh rasa cemburu.
__ADS_1