
Mia menuju kantor Mars Group untuk menemui Nyonya Vicky untuk mengurus berkas perjanjian kerja dengan klien.
Mia sangat bersemangat dapat kepercayaan mengurus hal yang besar.
"Terima kasih telah mengurus semua urusan surat menyurat seperti ini. Ini sangat membantu kami. Nanti silahkan berhubungan langsung dengan bagian legal perusahaan." Ucap Nyonya Vicky sambil tersenyum.
"Sama sama, Nyonya. Terima kasih atas kepercayaannya menggunakan jasa kami." Sahut Mia dengan sopan.
"Apakah ada hal lain yang diperlukan lagi?" Tanya Nyonya Vicky.
"Eh.. Ti-tidak ada. Semua sudah beres Nyonya. Saya permisi." Mia sedikit tergagap karena ketahuan melamun, dan pamit pada Nyonya Vicky.
Beberapa malam ini dia menghabiskan malam bersama Justin dan melalui malam malam yang panas bersama Justin. Sehingga membuat dirinya sedikit kelelahan saat bekerja.
Namun, dia sangat menikmati kegiatan malamnya itu bersama Justin.
Pertemuan pertama Mia dan Justin adalah di kampus. Mereka mengambil jurusan yang sama dan sering masuk ke kelas yang sama juga.
Karena sering ketemu dan akhirnya mereka saling berkenalan dan menjadi dekat. Mulanya hanya sekedar membahas tugas kampus. Namun lama kelamaan, Justin mulai menceritakan kehidupan pribadinya pada Mia.
Justin menceritakan kisahnya dengan Marry. Rasa cintanya dan sakit hatinya pada Marry karena gadis itu tiba tiba meninggalkannya dirinya tanpa kabar. Justin yang memiliki harapan dan masa depan bersama Marry menjadi hancur. Justin tak percaya lagi yang namanya cinta.
Mia yang selama ini tidak pernah mengalami dekat dengan lelaki, merasa sangat senang Justin mau terbuka dengannya, meskipun Justin lebih sering menceritakan tentang Marry.
Marry suka ini, Marry pintar ini, Marry begini, Marry begitu. Semua tentang Marry. Terkadang Mia sangat membenci Marry, tanpa pernah mengenalnya.
Persahabatan Justin dan Mia diartikan berbeda oleh Mia.
Mia jatuh hati pada Justin dan menganggap Justin juga mencintai dirinya.
Hingga suatu malam, menjelang ulang tahun Mia. Justin memberi kejutan pada Mia dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun tengah malam tepat pukul 00.00.
Justin datang ke apartemen gadis itu dan memberi kue ulang tahun dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Hal manis yang selama ini tidak pernah diterima oleh Mia.
Membuat Mia tersentuh dan semakin mencintai Justin. Lalu mereka berciuman.
Ciuman yang panas dan bergairah. Mia seolah meminta lebih dan menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Justin yang telah lama menahan hasratnya, seolah mengerti isyarat Mia.
Justin dan Mia akhirnya saling melenguh dan merintih, berteriak saat merengkuh nikmatnya duniawi.
Tubuh mereka yang tanpa mengenakan sehelai benang pun melenggang mulai dari sofa, meja makan, hingga akhirnya berakhir di tempat tidur.
Mia melepaskan kesucian untuk Justin, dan Justin yang selama ini menahan hasratnya, melampiaskan pada Mia.
__ADS_1
Sejak itu mereka semakin dekat. Justin mulai membuka hatinya untuk Mia.
Hingga mereka melanjutkan S2 bersama sama, dan Justin melamar Mia tepat di hari ulang tahun gadis itu juga. Yang kebetulan Terence dan Claire sedang berlibur di sana.
Mereka merayakan ulang tahun Mia bersama sama sekaligus merayakan Justin melamar Mia.
Lalu Justin bekerja pada Ayah Mia. Yang memiliki firma hukum yang terkenal dan besar. Hingga saat ini.
Mia tak menyangka, Justin akan bertemu kembali dengan Marry. Dia yang diundang ke pernikahan Terence, akhirnya datang dua hari lebih cepat dari jadwal.
Mia sengaja ingin bertemu dengan Marry dan meminta agar wanita itu menjauhi Justin.
Mia juga terkejut saat mengetahui, Marry memiliki seorang anak. Mia khawatir itu adalah buah cinta Marry dan Justin. Maka, dia langsung menemui Marry dan mengancamnya, supaya benar benar menjauhi Justin.
Mia tidak ingin Marry menjadi batu sandungan bagi kebahagiaan dirinya dan Justin.
*
Mia dan Justin janji bertemu usai menemui klien mereka di sebuah pusat perbelanjaan.
Mereka berpelukan saat bertemu sambil melempar senyum satu sama lain.
"Jadi, kamu akan membawaku ke mana?" Tanya Mia sambil menggelayut manja pada lengan Justin.
"Pertama tama aku ingin mencari minuman, karena aku merasa sangat haus. Aku ingin membeli minuman. Apa kamu mau?" Tanya Justin. Mia mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Papa, aku tidak mau balon yang berwarna hijau. Aku mau warna pink atau ungu! Mengapa balon pink ku diberikan pada anak itu?" Terdengar suara anak kecil yang sedang ngambek pada ayahnya. Membuat Justin dan Mia saling pandang dan tersenyum geli.
"Alice, anak itu jauh lebih kecil denganmu. Kasian mamanya yang harus menenangkan anak itu. Lagian paman Joe sedang mencari balon pink yang kamu mau itu." Sahut suara seorang lelaki.
Justin familiar dengan suara itu. Raut wajahnya berubah dan menoleh ke belakang melihat percakapan antara ayah dan anak itu.
Benar saja dugaan Justin.
Kevin dan gadis kecil yang dia lihat saat di pernikahan Terence dan Claire. Dan mungkin itu adalah anak dari Kevin dan Marry.
Tak lama, terlihat Joe di kejauhan berlari kecil sambil membawa sebuah balon berwarna pink. Lalu menghampiri Kevin dan gadis kecil itu.
"Terima kasih Paman Joe!" Alice mengecup pipi Joe sambil menyerahkan balon berwarna hijau pada Kevin sambil cemberut.
Joe terkekeh saat melihat kejadian itu sambil berpura pura mengejek Kevin.
"Aku ingin es krim itu!" Tunjuk Alice sambil berlari kecil ke arah gerai es krim.
Joe dan Kevin berjalan cepat mengikuti gadis kecil itu.
__ADS_1
"Bukan kah itu Tuan Mars dan asistennya?" Tanya Mia sambil mengerutkan keningnya.
Justin hanya mengangguk.
"Ayo kita sapa dia!" Celetuk Mia bergegas berjalan.
"Mia!" Justin hendak mencegah, namun kalah cepat , Mia telah berjalan lebih cepat hendak menyapa Kevin.
"Halo, Tuan Mars!" Sapa Mia sambil tersenyum ramah menatap Kevin, Joe, dan Alice.
"Halo, gadis kecil yang cantik, siapa namamu?" Tanya Mia sambil menunduk sejajar dengan Alice.
"Halo, Bibi. Aku Alice." Sahut Alice sambil memamerkan deretan gigi ompongnya.
Mia tersenyum.
"Oh, hai?! Hmmm..." Kevin berdehem sambil berusaha mengingat wajah Mia.
"Oya, kamu dari firma hukum Smith. Yang mengurus pekerjaan mamaku, bukan?" Ucap Kevin sambil tersenyum.
"Ya. Terima kasih sudah mengingatku." Sahut Mia senang.
"Sedang apa di sini?" Tanya Kevin.
"Aku sedang berjalan-jalan setelah selesai bekerja. Bersama tunanganku. Mungkin kalian sudah saling kenal." Mia tersenyum lebar sambil menarik lengan Justin yang berjalan dengan malas menyusul Mia.
Kevin menoleh ke arah Justin. Mulanya dia terkejut, namun dia senyum lebar akhirnya mengembang di bibirnya saat mendengar kata tunanganku dari mulut Mia.
"Jadi Justin tunanganmu?" Tanya Kevin.
"Ya." Jawab Mia sambil tersenyum lebar dan bahagia.
Kevin menatap Justin penuh makna sambil tersenyum.
Justin hanya membalas dengan senyum tipis.
"Bagaimana pekerjaan Justin di perusahaan, Anda Tuan?" Tanya Mia.
"Baik. Sangat baik. Aku cukup puas. Dan sudah selesai, semua sudah masuk ke bagian legal perusahaan. Sampaikan salam dan terima kasihku untuk ayahmu. Dia orang yang hebat." Puji Kevin.
Mia mengangguk dengan gembira.
"Mars Grup adalah klien besar perusahaan Papa. Kami tidak akan mengecewakan klien kami." Sahut Mia.
"Lalu gadis kecil ini?" Tanya Mia hati hati sambil menatap Kevin dan Joe bergantian.
__ADS_1
"Dia putriku." Sahut Kevin sambil berdiri di belakang Alice sambil memegang bahu gadis kecil itu.