
PLAKKK....
Sebuah tamparan mendarat dengan keras di wajah Marry. Marry jatuh terjengkal ke sudut ruangan.
BRUKK...
Marry meringis kesakitan di tambah terkejut, tak percaya perlakuan kasar Justin.
"Justin, mengapa?" Marry mendongak menatap Justin tak percaya.
Aroma alkohol dari napas Justin, membuat Marry mengerti.
Tapi, mengapa, Justin sampai seperti ini.
Justin menyeringai lebar menatap Marry yang meringkuk di sudut ruangan.
Dia menghampiri Marry, dan menyeka darah segar dari sudut bibir Marry karena tamparannya barusan.
"Sakit?" Tiba tiba raut wajah Justin terlihat melunak, dan sendu, seolah mengasihani Marry.
Marry memalingkan wajahnya, menolak Justin, dan berusaha untuk berdiri.
Justin hanya menatap Marry.
"Mengapa kamu meninggalkan aku, Marry? Semua ini salahmu, hah! Kamu yang telah membuatku menjadi seperti ini!" Teriak Justin tiba tiba.
Tangan kokoh Justin mencengkeram dagu Marry dengan kuat, sehingga membuat Marry kesakitan.
"Jus..tin, a-apa yang terjadi sebenarnya padamu?" Suara Marry terbata, tertahan cengkraman Justin.
Justin menghempaskan tubuh Marry hingga terjatuh ke lantai, dan kini dia membungkuk seraya berjongkok mendekati Marry.
"Semua salahmu! Jika kamu tak meninggalkan aku saat itu, aku tak akan seperti ini." Justin akhirnya memilih posisi duduk di samping tubuh Marry, yang tergeletak, dan sedang berusaha duduk, karena tangannya masih terikat.
Marry menatap Justin yang berkali kali menghela napas dengan berat.
"Kamu tahu, selama hidupku selalu diatur oleh orang tuaku. Orang tuaku selalu mendorongku terlalu keras untuk berprestasi dalam akademik, hingga aku menyaksikan pertandingan basket yang dimainkan oleh Kevin. Sejak itu basket menjadi jalan keluar dan pelampiasanku. Aku mengidolakan dia sejak aku masih kecil, dan aku bercita-cita ingin bermain basket seperti dia. Hingga kita menerima beasiswa itu. Aku memiliki dua beasiswa Stanford dan Harvard. Di Stanford, aku mendapat beasiswa karena kemampuan basketku. Dan aku bercita-cita lepas dari bayang-bayang orang tuaku di sana, bersamamu yang pasti akan mendukungku."
Justin bercerita dengan tenang, sejenak dia menatap Marry yang masih memperhatikannya.
"Namun, malam itu, kamu tak datang. Aku galau hendak memilih yang mana. Aku bertanya pada Terence dan Claire, dan mereka tak mendengar kabar juga darimu. Aku datang ke rumahmu, dan selalu kosong. Kamu pergi entah ke mana. Hingga mamaku memutuskan untuk memilih menerima yang di Harvard. Dengan alasan karirku. Mamaku dulu alumni di sana, dan langsung mengurus semuanya. Selama itu aku tak fokus. Permainan basketku menurun, dan akademisku juga merosot. Mamaku mengetahui itu, dan mengenalkan aku dengan rekan bisnisnya, orang tua Mia. Tak ada yang salah dengan semua itu. Mia selalu menemaniku dengan sabar, mendampingi aku, dan mencintai aku. Hingga aku bisa sedikit melupakanmu."
Justin menoleh pada Marry.
"Maafkan aku Justin." Ucap Marry tulus.
"Hingga aku bertemu denganmu kembali. Dan ternyata aku tak bisa melupakanmu begitu saja. Aku ingin menjadi yang pertama bagimu, Marry. Tapi, ternyata dia yang merebutmu dariku! Dia.. Apa kelebihan dia dari aku, hah?!"
Justin menatap tajam pada Marry, tak terima Marry bersama Kevin.
"Apa dia lebih kaya dariku? Apa karena nama Mars dibelakangnya? Mengapa kamu mengkhianati aku dengannya, Marry?!" Teriak Justin tepat di wajah Marry.
Marry dapat merasakan hembusan napas penuh amarah menyeka kulitnya.
Sungguh, ini pertama kali Marry melihat Justin semarah dan emosi seperti ini.
"Aku selalu menjagamu, bahkan saat kamu menolak lebih jauh denganku, aku pun tak masalah. Tapi Dia... Mengapa kamu mau dengannya tapi tidak denganku!?"
Justin kini berada di atas Marry.
__ADS_1
"Justin, buka seperti itu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Mia mencintaimu, dan kalian telah bertunangan. Aku merelakanmu untuknya. Aku telah melepasmu, Justin."
"Tapi aku tak akan melepaskanmu!" Justin menyeringai sambil membelai wajah Marry.
Marry memalingkan wajahnya, menolak Justin yang berusaha menciumnya.
PLAK
Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Marry. Membuat Marry tersentak.
Marry menggelengkan kepalanya.
"Justin, lepaskan aku! Kita, aku dan kamu akan bahagia dengan jalan masing-masing. Percayalah padaku. Mia adalah gadis baik baik. Dia akan menjadi pendamping yang baik bagimu." Bujuk Marry perlahan. Marry berusaha tenang menghadapi Justin.
"Seperti itu, menurutmu?"
Marry mengangguk.
"Dengar, Marry. Aku ingin tubuhmu!" Justin mengendus endus tubuh Marry perlahan penuh napsu.
"Aku berusaha menahan hasrat sejak dulu. Berharap kita dapat merengkuh nikmat bersama. Tapi kamu telah menyerahkan padanya. Lalu sekarang, kamu mungkin telah berkali-kali tidur dengannya. Aku ingin seperti itu, ja- lang!" Ucap Justin dengan wajah menyeringai.
Marry menggeleng.
"Aku telah menikah dengannya Justin."
"Lalu, aku? Apa aku tak berhak menikmati tubuhmu ini Marry?"
"Justin, tolong, jangan lakukan ini. Aku telah menikah dengan Kevin. Dia ayah dari putriku. Dan kamu adalah tunangan Mia. Kembalilah padanya. Justin dengarkan aku?"
Marry memohon pada Justin.
Justin menyimpan mulut Marry dengan syal yang dikenakannya. Lalu menindih tubuh Marry dan menciumi tubuh Marry. Perlahan Kevin meraba punggung Marry dan bagian dadanya.
"Hmmmm.... Nikmatnya! Pantas dia pun tergila padamu, ja- lang!"
Marry menggelengkan kepalanya kuat kuat, berusaha menghindari Justin.
*
"Justin tidak ada di rumah Tuan Mars. Dia berada di apartemen minta bersama Mia." Ucap Ibu Justin saat Kevin dan polisi mencari di kediaman keluarganya.
"Dia tak ada di sana, Bu." Sahut polisi.
"Jangan berbohong padaku! Jika terjadi apa apa dengan istriku, aku tak akan memaafkan nya!" Ancam Kevin sambil menatap tajam ibu Kevin.
"Istri Anda?"
"Ya, istriku diculik oleh putra Anda."
"Bagaimana bisa? Apa hubungan putraku dengan istri anda?"
"Marry adalah istriku!" Tegas Kevin.
Raut wajah ibu Justin langsung berubah seketika.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan napas dengan berat.
"Aku telah memperingatkan dia untuk menjauhi wanita itu, namun, anak itu selalu tak mau mendengarkan!" Ibu Justin menghela napas sejenak.
__ADS_1
"Tuan Mars, istri anda bukan gadis baik baik! Dia selalu mengganggu Justin sejak dulu. Beruntung saat kuliah, gadis itu tak mengganggunya lagi, hingga karirnya meroket seperti saat ini. Dan mendapatkan calon istri yang sepadan dengannya. Tapi, saat kembali, aku tak menyangka wanita itu kembali menggoda Justin. Saya peringatkan pada Anda, dia bukan orang baik baik! Wanita itu yang menghasut Justin!"
Kevin menatap tajam, seolah membantah setiap ucapan ibu Justin tentang Marry.
"Jika ada apa apa dengan Marry, saya tidak akan tinggal diam!" Tekan Kevin.
"Saya yang akan menjebloskan wanita itu ke penjara, karena telah merusak putra saya!" Balas ibu Justin sambil mengeraskan suaranya.
Ayah Justin memegangi istrinya, menenangkan, sambil menarik perlahan masuk ke dalam rumah.
Tak lama Mia berlari kecil menghampiri.
"Apa yang terjadi?" Tanya Mia.
"Siapa kamu?"
"Aku Mia. Tunangan Justin."
"Di mana Justin?" Tanya Kevin.
"Aku kemari mencari Justin. Sudah satu minggu, dia tak pulang ke apartemen, bahkan tidak bekerja. Maka ya aku datang ke mari untuk mencarinya."
Mia menatap Kevin, mengisyaratkan dia bersungguh-sungguh.
Joe menepuk bahu Kevin.
"Aku sedang mencoba menghubungi Terence, semoga dia tahu atau mungkin dia di sana."
Joe mengeraskan suara ponselnya, supaya semua orang dapat mendengarkan pembicaraannya dengan Terence.
"Ya, halo, Joe, ada apa?" Terdengar suara Terence terengah-engah, sepertinya dia sedang sibuk bersama Claire.
"Maaf mengganggumu. Aku hanya..."
"Terence, kamu tahu di mana Justin?" Kali ini Kevin merebut ponsel yang ada di tangan Joe, dan bertanya dengan nada tegas.
"Justin? Aku sudah lama tak bertemu dengannya. Selama ini aku selalu menghubungi Mia atau asistennya saja."
"Apa yang terjadi?" Kali ini terdengar suara Claire.
"Justin membawa Marry! Dia menculiknya!" Ucap Kevin dengan geram.
"Justin menculik Marry?"
"Ya! Kamu tahu kira kira, Justin ada di mana?"
"Hmmm..." Terdengar suara Terence dan Claire seakan bergumam seakan berdiskusi.
"Ya, pondok!" Teriak Claire.
"Pondok?"
"Pondok danau, yang letaknya di balik bukit, tak jauh dari kota. Kami dulu sering ke sana...."
Kevin melempar ponsel ke tangan Joe, lalu bergegas menuju mobilnya.
Klik!
Joe menutup panggilan ponselnya, lalu bergegas menyusul Kevin masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil menderu kencang menuju ke lokasi yang dikatakan oleh Terence.