Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Hampir Tak Jadi


__ADS_3

"Liv, kamu kenapa?" Marry menyeruak masuk dalam gudang dan memeluk Olivia yang masih duduk di lantai sambil memeluk lututnya.


"Marry, sepertinya aku tidak bisa melakukan ini?" Tubuh Olivia menggigil seakan ketakutan.


Marry yang masih bingung hanya bisa memeluk tubuh Olivia.


"Marry, ada apa?" Kevin tergopoh-gopoh menghampiri Marry yang memeluk Olivia.


"Olivia? Kenapa dengannya, Marry?" Joe yang menyusul segera mendekati mereka.


Will menarik lengan Alice, dan memberi isyarat untuk tetap tenang dan berdiri di dekatnya saja.


"Aku seperti melihat Tom." Ucap Olivia lirih.


"Tom?" Kevin terkejut.


"Bagaimana kamu bisa berkata demikian? Apakah kamu melihatnya?" Tanya Marry penuh selidik.


"Ya. Dia ada di sekitar sini. Aku tak sengaja melihatnya berbaur dengan para pekerja yang mempersiapkan acara pernikahanku." Olivia menatap Marry dan Kevin bergantian.


"Joe, aku takut. Aku takut dia akan menganggu keluargamu. Aku takut hidupku tak tenang. Joe, aku.... Aku tidak bisa. Maafkan aku." Kali ini tangis Olivia pecah.


Joe meraih tubuh Olivia dan mendekapnya erat.


"Kita akan menghadapi ini, Liv. Aku berjanji akan melindungimu." Ucap Joe.


Olivia menggeleng cepat.


"Bukan aku Joe. Tapi, keluargamu, kamu! Tom tidak akan melukaiku secara langsung, tapi dia akan tega pada kamu dan keluargamu, Joe. Aku tak bisa mengorbankan kalian yang telah begitu baik."


Joe menggelengkan kepalanya, dan memeluk Olivia kembali.


"Aku akan membereskan semuanya." Ucap Kevin dengan tegas.


"Kev? Bagaimana caranya?" Marry menatap suaminya dengan bingung.


Kevin mengambil ponsel dari sakunya. Lalu dia keluar dari gudang di belakang rumahnya.


"Mike, tolong urus semuanya. Aman kan rumah, dan sterilkan dari orang asing." Instruksi Kevin pada Mike asistennya.


"Baik, Pak." Mike mengangguk mengerti dan segera berlalu dari hadapan Kevin.

__ADS_1


"Bibi Ruth, aku harap bibi bisa membantu kami, ada orang jahat yang menyusup masuk ke mari lewat pesta ini. Mereka akan melakukan hal yang tak diinginkan bagi kita semua. Jadi mohon kerjasama team event organizer." Ucap Joe.


"Baik, Kev. Bibi mengerti." Nyonya Ruth segera mengkoordinir team event organizer nya bersama Bob, asistennya.


Tak lama team polisi segera datang dan memeriksa tempat itu.


Acara yang seharusnya dapat berlangsung pukul 10 pagi, hingga menjelang sore, penyisiran dan pemeriksaan tempat dan tamu baru selesai.


Olivia, kini berada dalam kamar Alice. Dia ingin sendiri dulu dan hanya mau ditemani oleh Marry, Sophie, dan Alice saja.


Joe yang menunggu di ruang tengah bersama keluarganya merasa sangat sedih sekali.


"Mengapa aku harus mengulang lagi peristiwa ini, Kev?" Keluh Joe sambil menyulut sebatang rokok.


"Tenanglah, Joe! Aku akan pastikan semua akan baik baik saja. Kamu dan Olivia berhak bahagia." Tukas Kevin sambil menyesap kopinya.


Joe memainkan kepulan asap rokok, dan menatap rokok yang terselip di antara jari tengah dan telunjuknya itu.


"Seandainya dia benar-benar tidak mau menikah?" Joe mantap nanar kepulan asap yang dibuatnya sendiri.


Kevin menghela napas dalam-dalam, dan dalam hatinya prihatin atas kejadian yang menimpa sahabatnya itu.


"Joe. Selama semua belum terjadi, kamu harus optimis. Kita sedang berusaha dulu untuk mengatasi semua ini." Kevin menepuk pundak sahabatnya itu.


*


"Ayah Olivia muncul di sekitar sini, Nek."


Nenek Max mengerutkan keningnya seakan bertanya tanya.


"Ayah Olivia telah meninggalkan ibu Olivia saat sedang hamil. Ibu Olivia membesarkan Olivia sendiri sebagai orang tua tunggal. Dan suatu hari ayahnya datang hanya untuk menyiksa ibunya dan merampoknya saja. Olivia selalu takut bertemu dengan ayahnya itu. Bahkan, saat ibunya meninggal, ayahnya tak datang. Olivia sendirian dan masuk dalam pengawasan dinas sosial hingga remaja. Dan berjuang sendiri. Lalu pernah bertemu sekali, itu pun dia memaksa meminta uang pada Olivia. Berkali-kali ayahnya masuk keluar penjara. Dan tak pernah jera." Cerita Marry pada Nenek Max.


"Sungguh kasihan Olivia." Sahut Bibi Tracy.


*


Mika menatap layar ponselnya yang bergetar, dan permisi menerima panggilan ponselnya.


"Ya. Bagus. Sementara tinggal lah di sana dulu, dan tunggu instruksi dariku. Untuk saat ini sudah cukup, dan kerjamu sudah bagus."


Mika menutup panggilan ponselnya, dan menyeringai senang menatap polisi yang aku lalang melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Mika yang merencanakan semuanya. Dia berencana membalas dendam pada keluarga Mars. Meskipun dia dibesarkan bahkan diadopsi oleh Tracy, Mika mengetahui bahwa sebenarnya dia bukan putri Tracy, tapi anak yang tak pernah diinginkan oleh keluarga Mars. Ibunya meninggal saat melahirkan dia, dan ayahnya sama sekali tak pernah mencari. Dia sangat membenci Tuan Morgan Mars dan istrinya Vicky.


Terlebih saat melihat kebahagiaan yang meliputi Emily dan Kevin, sungguh membuat hatinya terasa panas dan marah. Dia seharusnya menjadi bagian dari keluarga itu, tapi dibuang dan tak pernah dianggap sama sekali.


Mika sangat sakit hati, dan berniat membalas dendam ibunya pada keluarga Morgan Mars.


Bagi Mika, kebaikan Tracy hanyalah bentuk ungkapan kasihan padanya. Dan Mika sangat sakit hati, karena Tracy tak pernah membawanya dekat pada keluarganya, dan tak pernah menceritakan tentang asal usulnya. Kebencian telah menutup mata hatinya, saat ini.


Bahkan Bibi Tracy yang selama ini mengasuh dan membesarkan dirinya yang sebenarnya adalah sahabat ibu kandung Mika, sama sekali tak digubris kembali oleh Mika, karena hasutan Tom, yang adalah mantan kekasih ibu Mika, sebelum bertemu dan terlibat cinta satu malam dengan Tuan Morgan Mars.


Tom mengaku sebagai orang terdekat ibunya semasa hidup, dan Tuan Morgan membuang dan mengusir ibu Mika saat mengetahui dirinya hamil, karena istrinya tak dapat menerima itu.


Mika terhasut oleh Tom, dan mereka bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Mars.


*


"Olivia, sampai kapan kamu akan bersembunyi seperti ini?" Tanya Sophie.


"Aku tak tahu."


"Keadaan sudah aman. Tak ada tanda tanda, ayahmu itu. Dan mungkin kamu hanya salah lihat saja, tadi. Kevin dan tim polisi sudah memeriksa semuanya. Dan keadaan sudah aman." Terang Sophie.


"Terima kasih." Sahut Olivia sambil menghembuskan napasnya.


"Liv, kita pernah melihat sendiri perjuangan Marry dulu. Aku dan kamu bergantian menjaga dan mengasuh bayi Alice." Ucap Sophie sambil menatap Olivia.


"Lalu apa hubungannya?" Tanya Olivia dengan bingung.


"Kamu lihat sekarang bagaimana seriusnya Marry dan Kevin menyiapkan semuanya. Marry dan Kevin ingin melihat kamu dan Joe bahagia. Sama, aku juga ingin melihat kamu bahagia. Jangan pikir aku tak tahu, saat kamu beberapa Minggu tak bertemu Joe seperti apa? Seperti mayat hidup, tahu!" Seloroh Sophie sambil cemberut.


Olivia merangkul pundak sahabatnya itu.


"Ya, seperti itu kah aku kemarin?"


"Ya."


Olivia terbahak-bahak dan membuat Sophie terkejut.


"Sophie, kamu dan Marry itu adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. Kalian itu bagai keluarga bagiku, bahkan saat Marry sudah menjadi bagian dari keluarga Mars, dia masih mau repot-repot mengurus semua persiapan pernikahanku."


"Ya, itu lah Marry. Aku pun tak tahu bagaimana, jika tak ada dia. Jadi, kamu akan membatalkan pernikahan ini atau meneruskan?" Tanya Sophie.

__ADS_1


Olivia tersenyum lebar.


__ADS_2