
"Bukalah hatimu untuknya! Bukankah dia cukup menarik juga? Lagi pula dia adalah ayah kandung dari putrimu." Sebuah suara dari pikiran Marry, seolah membisikkan kata kata itu.
"Astaga! Aroma tubuhnya benar benar membuatku gemetaran! Marry sadarlah!" Pekik Marry dalam hatinya.
Namun, yang ada tubuh Marry seolah tak menghiraukan nalarnya.
Pesona Kevin sekarang membiusnya. Marry hanya terdiam terpaku dan membisu. Dirinya yang telah lama tidak mendapat sentuhan lelaki....
Tidak! Beberapa bulan yang lalu dia bersentuhan dengan Justin, dan membuat percikan percikan asmara hingga hampir meledak. Hingga akhirnya, Marry menerima kenyataan bahwa, Justin telah memiliki seorang tunangan.
Kini, saat ini, seorang pria tampan. Bahkan lebih tampan dari Justin, menurut Marry pribadi jika mau mengakuinya. Dan salah satu keluarga Mars yang terkenal dan kaya raya. Ditambah ayah kandung dari Alice, putrinya.
Seolah pikiran Marry berkecamuk antara menolak dan menerima.
"Marry, aku tahu sulit bagimu untuk menerimaku. Tapi, aku berjanji, akan selalu menjagamu dan Alice. Aku akan mencintaimu. Aku akan belajar hidup lebih baik untuk menjadi pasangan dan ayah yang baik. Marry, terimalah aku. Aku ingin kita perlahan saja. Aku tak ingin memaksamu." Ucap Kevin, sambil mendekatkan dirinya pada Marry, dan tangannya menyentuh wajah Marry yang lembut dan mengelusnya perlahan.
Bibir Marry yang ranum dan penuh, sangat menggoda Kevin.
Demikian pula, sentuhan Kevin di wajah Marry menimbulkan lonjakan gejolak yang tak dapat diungkapkan. Seolah Marry yang merindukan belaian kasih sayang seorang pria, membuatnya luluh dengan ketulusan Kevin kali ini.
Marry memejamkan matanya, seolah meminta lebih.
"Aku ingin kita memulai semua ini dengan perlahan saja." Bisik Kevin tepat di telinga Marry, sehingga membuat bulu kuduk Marry berdiri.
Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Marry.
"Hhmmm..." Gumam Marry.
"Astaga! Bibirmu sangat harum dan manis, Marry!" Ucap Kevin dalam hatinya.
Kevin mencium dengan lembut namun pasti.
Reaksi tubuh Marry. Berbanding terbalik dengan pikirannya.
"Astaga Marry, mengapa kamu malah menikmati ciuman lelaki itu! Seperti wanita murahan saja!" Rutuk Marry dalam hati.
"Tapi aku juga wanita normal. Salahkah aku?"
Marry membalas ciuman Kevin. Dan saat Marry membalas ciumannya, salah satu tangan Kevin memegang menahan kepala Marry dan tangan satunya merangkul pinggang Marry yang indah itu.
Lidah Kevin mulai bergerilya dalam mulut Marry, terdengar desis Marry seakan menikmati setiap permainan yang Kevin lancarkan.
"Marry aku mencintaimu!" Bisik Kevin lirih sambil mengecup leher Marry.
"Ahhh..." Lenguh manja terdengar dari bibir seksi Marry, membuat kejantanan Kevin semakin berkobar.
__ADS_1
Tiba tiba, terdengar suara pintu dibuka.
"Papa Kevin... Pa....!" Suara Alice memanggil Kevin.
Marry dan Kevin buru buru melepaskan pelukan dan menjauh.
Marry menyalakan kran dan pura pura mencuci gelas yang ada di dekat wastafel.
Lalu Kevin berpura pura mengelap meja.
Alice yang berjalan ke ruang dapur hanya bisa menatap heran tingkah laku aneh dari dua orang dewasa di depannya itu.
"Papa, mengapa mengelap meja dengan celemek? Bukan kah lap nya ada di belakang Papa?" Tanya Alice dengan heran sambil menunjuk lap, yang tadi untuk menyeka tumpahan susu kocok yang mereka buat.
Kevin terhenyak, dan buru buru mengambil lap itu dan mengelap meja yang sebenarnya bersih, bahkan bukan hanya lap, namun tangan satunya secara refleks masih menggunakan celemek untuk mengelap meja.
Marry yang menyaksikan hal itu jadi melotot dan akhirnya tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Alice.
Kevin yang menyadari kebodohannya sendiri, akhirnya juga ikut tertawa.
"Apa kah ada yang sudah lapar?" Tanya Marry dengan suara nyaring.
"Akuuuu....!" Sahut Alice dengan suara keras sambil mengacungkan telunjuknya.
Marry tersenyum geli, sambil mengambil piring, lalu menyiapkan spaghetti yang telah dimasak oleh Kevin tadi.
Marry meletakkan piring yang telah terisi spaghetti di depan Kevin dan Alice.
"Terima kasih, Ma."
"Terima kasih." Ucap Kevin sambil tersenyum.
Wajah Marry terlihat bersemu merah saat Kevin menatapnya.
"Mama, mengapa mukamu jadi memerah seperti itu?" Tanya Alice sambil menatap dengan heran wajah Marry.
"Ah, masa sih? Nggak apa apa, Sayang. Sudahlah, kamu makan saja dulu. Supaya kita tidak pulang kemalaman." Jawab Marry.
Alice akhirnya menurut dengan perintah Mamanya, yang segera menghabiskan makanan itu.
Marry juga memakan spaghetti itu tanpa menikmatinya.
Dia masih memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Kevin. Selera makan Marry mendadak lenyap ketika mengingat peristiwa tadi.
Marry mencuri pandang ke arah Kevin, dan tepat di saat yang bersamaan Kevin juga melirik ke arahnya penuh arti.
__ADS_1
Kevin bersorak dalam hati. Meskipun Marry belum menyatakan secara langsung, namun, dia sangat yakin, Marry menerima dirinya.
Kevin senang memiliki kesempatan mendapatkan hati dan cinta Marry.
Selesai menghabiskan makanan mereka. Marry membersihkan dan memasukkan perkakas yang kotor ke dalam mesin pencuci piring otomatis. Kevin memandu Marry menggunakan alat tersebut.
"Wow... Baru kali ini aku bener bener menggunakan mesin seperti ini. Dan dapurmu benar benar luar biasa." Puji Marry sambil menatap kagum ke arah ruangan dapur milik Kevin.
"Kamu bisa menggunakannya dengan bebas. Silahkan! Aku jarang menggunakan dapur itu, selain untuk membuat kopi atau jika kelaparan tengah malam." Ucap Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, Ma. Kapan kapan kita bisa weekend di sini. Kita bisa berenang, membuat susu kocok, atau mama bisa mencoba resep kue baru di dapur Papa Kevin." Sela Alice dengan riang.
"Ya. Aku akan sangat senang kalian bisa menghabiskan weekend bersamaku di sini. Aku tidak kesepian." Sahut Kevin.
Marry hanya nyengir, dia tak tahu harus berkata apa lagi.
"Ya, kapan kapan." Gumam Marry.
"Asiiikkk.... Minggu depan, ya, Ma. Aku mau setiap weekend kita dapat menghabiskan waktu bersama sama." Ucap Alice dengan riang sambil menarik narik tangan Marry.
Marry melotot ke arah Alice, dan menatap Kevin.
Kevin menghampiri ibu dan anak itu.
"Baiklah. Kita akan membuat janji untuk Minggu depan. Menghabiskan waktu di sini. Oke?!" Seru Kevin sambil menatap Alice dan Marry bergantian.
Alice bersorak gembira, dan memeluk Kevin dengan erat.
Marry hanya bisa tersenyum menatap keakraban ayah dan anak itu.
*
Marry menatap ke arah luar melalui jendela di kamarnya. Alice telah tidur di kamarnya setibanya di rumah tadi.
Marry tak dapat tidur malam itu. Dia masih teringat akan ciumannya dengan Kevin tadi.
"Apakah aku seperti wanita murahan berciuman seperti itu tadi? Aduh, tatapan Kevin benar benar membuat perasaanku kacau balau jadinya."
Gumam Marry sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
Lalu dia menyentuh bibir dengan jarinya.
"Astaga! Ciuman Kevin benar benar sangat seksi." Marry senyum senyum sendiri mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Apakah aku sudah membuka hati untuknya?"
__ADS_1