Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Rencana Pembalasan


__ADS_3

Kevin menikmati kopi pagi harinya di meja makan sambil membaca kegiatan yang akan dilakukan hari ini.


"Pagi, Bos!" Sapa Joe saat masuk dalam apartemen Kevin.


"Pagi. Kopi? Buatlah sendiri. Marry sedang membantu Alice bersiap di kamar. Tunggulah."


Joe seperti biasa meracik kopi paginya sendiri ketika di kediaman Kevin.


"Sepertinya hubunganmu dan Olivia semakin membaik?"


"Ternyata telingamu banyak juga, Kev." Gurau Joe, sambil duduk di hadapan atasan sekaligus atasannya itu.


"Tapi, aku lebih senang mendengar sendiri dari dirimu, Joe. Seperti dulu." Kevin menyesap kopinya perlahan.


"Baiklah. Nanti saat senggang akan aku ceritakan."


Sahut Joe sambil menikmati secangkir kopinya.


"Ayolah, Joe! Lima menit saja, ceritakan padaku!" Bujuk Kevin.


Joe terbahak-bahak melihat reaksi Kevin.


"Baiklah. Aku telah menceritakan tentang Lana pada Olivia. Dan yang mengejutkan dan sangat mengejutkan adalah. Lana mendonorkan ginjalnya pada Olivia sebelum dia meninggal dunia saat kecelakaan itu. Mereka telah saling mengenal sebelum aku mengenal Olivia." Tukas Joe.


"Pastinya lah. Saat itu Olivia masih beranjak remaja, kamu pasti belum mengenalnya."


"Hai, Paman Joe!" Sapa Alice sambil setengah berteriak.


"Hai juga, Cantik. Wow. Lihatlah, rambutmu keren sekali! Mamamu yang melakukan ini?" Tanya Joe saat melihat kepang dua rambut gadis kecil itu.


"Iya! Aku ingin dikepang seperti Elsa." Ucap Alice.


"Elsa?" Joe heran.


Marry terkekeh geli ketika melihat raut wajah bingung Joe saat bertanya pada Alice.


"Elsa ratu es itu, Paman!" Kini Alice terdengar sedikit kesal, karena Joe tak mengerti maksudnya.


"Hei, Paman Joe mana ngerti Elsa. Paman Joe ini tahunya kapten Amerika, Iron Man, Spiderman Man. Avengers, Batman, Superman, gitu..."


"Frozen, Paman." Ucap Alice dengan sedikit keras.


"Frozen es?" Sahut Joe.


Alice makin melotot menatap Joe dengan tatapan kesal.


"Paman Joe, nggak gaul!" Alice melipat kedua tangannya di depan dada.


"Oohhh... Film kartun Disney itu?" Joe mulai ingat.


"Nah iya.... Betul sekali!"

__ADS_1


Semua tertawa mendengarnya.


"Sudah, sana cepat habiskan sarapanmu. Nanti terlambat!" Marry mengingatkan Alice sambil memasukkan beberapa potong cupcake pada kotak bekal putrinya.


"Ma, Pa, Alice berangkat sekolah dulu!" Pamit Alice sambil mencium dan memeluk kedua orang tuanya itu.


Lalu Alice dan Joe keluar dari apartemen itu menuju ke sekolah.


*


"Sayang, bolehkah aku bermain sebentar denganmu?" Ucap Kevin sambil memeluk Marry dari belakang.


Tanpa mendengarkan jawaban dari istrinya, Kevin telah membopong tubuh Marry masuk ke dalam kamar utama.


"Aku akan melakukannya perlahan saja, karena bayi kita sudah semakin membesar."


Kevin mengelus pelan perut istrinya sambil menciumi perutnya.


"Kamu harus minta ijin dulu pada bayi ini!"


"Ijin apa?"


"Ijin bahwa akan membuat berisik. Tak mungkin aku akan melenguh tanpa kamu buat." Ucap Marry dengan manja.


Kevin tersenyum mengerti.


"Sayang, maafkan papa dan mama ya, jika mengganggu tidurmu. Papa janji, tidak menyakiti mamamu, papa akan membuat mamamu merasakan hal yang menyenangkan." Bisik Kevin tepat di dekat perut Marry.


Keduanya saling merengkuh tubuh mereka, meneguk nikmat duniawi bersama, sambil mengeluarkan suara tanda kenikmatan.


Kevin melakukannya dengan perlahan dan lembut, namun mampu membuat Marry berteriak kecil menginginkan lebih dan lebih.


Saat mencapai puncaknya, Kevin mempercepat gerakannya, dan kedua tubuh dua anak manusia itu memegang saling memeluk, menyatukan milik keduanya.


Jutaan benih telah keluar dalam rahim Marry kembali, tapi kini hanya terbuang sia sia.


"Menurut penelitian, rajin melakukan hubungan suami-istri, dapat melancarkan persalinan." Bisik Kevin tepat di telinga Marry


"Ah, hanya maumu saja, itu!" Marry memukul pelan lengan suaminya.


*


*


"Rupanya dia di balik semua ini!" Seringai Tom saat membaca sebuah potongan surat kabar yang tak sengaja dibacanya saat di ruang cuci pakaian di penjara.


Tom yang pandai bersandiwara, akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai juru cuci pakaian para narapidana dalam penjara.


Saya itu tak sengaja, petugas meninggalkan sebuah surat kabar yang memuat pesta pernikahan Keluarga Mars.


Tom sangat ingat sekali, detektif itu dengan jelas mengatakan bahwa, dirinya tak dapat lagi mendekati keluarga Miller dan Olivia. Karena jika sampai itu terjadi, maka polisi dan sang detektif tak tanggung-tanggung untuk segera menindak dirinya.

__ADS_1


Tom melihat Joe dan Kevin dalam satu frame, dan mengatakan bahwa mereka adalah sahabat.


Tom merobek bagian itu dan membawanya ke dalam ruang tahanannya.


"Apa yang akan kamu lakukan saat keluar dari sini?" Tanya seorang tahanan pada Tom.


"Entahlah. Aku telah mendapatkan surat peringatan untuk menjauhi keluargaku satu satunya." Sahut Tom.


Tahanan yang bertanya itu terkekeh.


"Tak heran dirimu ada di sini! Bahkan keluargamu pun menjauhimu." Upaya dengan sinis.


"Brengsek!" Umpat Tom


Lalu tahanan yang lain pun menertawakan Tom, bukan membantunya.


Lalu tanpa alasan yang jelas, hanya berbeda pendapat sana saling sindir, Tom dan tahanan itu berkelahi, hingga para penjaga membereskan mereka dan menaruh Tom dan tahanan itu pada sel isolasi berdua.


"Puas?" Ejek Tom sambil meludah ke lantai.


"Ini semua gara gara kamu!" Balasnya.


"Enak saja menuduhku! Aku hanya menjawab apa yang terjadi dengan diriku. Bahkan keluargaku pun menolak untuk aku dekati." Ucap Tom.


"Pasti mereka punya alasan yang kuat. Jangan mencoba menjadi korban, jika kamu telah masuk ke mari, itu artinya kamu bersalah." Ucap tahanan itu.


Tom duduk sambil menekuk lutut, lalu mengeluarkan selembar sobekan kertas berisi berita tentang pernikahan Kevin yang ia simpan dalam sakunya.


Tahanan yang lain itu hanya diam dan menatap Tom yang terus menatap lembaran kertas itu


"Dia yang membuatku tak dapat mendekati keluargaku. Tapi, dia lupa. Aku bisa mendekati dirinya dan keluarganya. Lihat saja, setelah aku keluar dari sini, dan menghirup udara bebas, aku akan membalas semuanya. Aku akan membuatnya bertekuk lutut dan memohon ampun di hadapanku. Lihat saja nanti." Seringai Tom penuh makna.


Tahanan yang satu itu merebut kertas itu dari tangan Tom dan menatapnya.


Sebuah senyum sinis mengembang di bibirnya.


"Kamu bermasalah juga dengannya?" Tanya tahanan itu.


"Ya. Dia adalah sahabat Joe Miller. Joe adalah kekasih putriku. Dan aku diminta untuk menjauh dari keluarga Miller dan putriku. Itu atas permintaan lelaki ini!" Tunjuk Tom pada gambar Kevin.


"Dia juga yang telah menjebloskan aku dan saudaraku ke sini!" Ucapnya.


Tom langsung menoleh padanya.


"Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku merampoknya! Dan kami tak tahu jika dia adalah Kevin Mars. Dengan bodoh, kaki menganiayanya. Itulah yang membuat aku dan saudaraku masuk ke mari."


Tom tertawa.


"Apakah kamu mau ikut sebuah permainan denganku usai keluar dari sini?" Tanya Tom sambil menatap tahanan itu.

__ADS_1


__ADS_2