Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Studi Tur


__ADS_3

Alice dan Marry kini telah tinggal di apartemen Kevin. Marry dan Alice tak banyak membawa barang dari apartemen mereka sebelumnya, karena Kevin telah menyediakan semuanya.


"Mama telah membuatkan roti lapis dan muffin cokelat kesukaanmu. Semua sudah mama taruh di kotak makan dalam tak bekalmu. Lalu jangan lupa banyak minum, karena pasti akan lelah berkeliling museum. Satu lagi, selalu dalam kelompok dan dekat dengan Bu Olivia dan guru lain." Marry telah mengoceh mengingatkan pada Alice yang hendak melakukan studi tur ke museum bersama teman temannya dari sekolah.


"Baik, Ma."


Alice menaruh tas bekal dalam tas ranselnya, lalu menaruh botol air mineralnya di sela samping tas.


"Jangan lupa memakai jaket, dan ingat selalu dekat guru dan teman-teman." Ulang Marry.


"Iya, Ma." Sahut Alice lalu meletakkan gelas susunya ke meja.


"Jika kebelet pipis atau mau buang air besar, kamu harus dengan teman dan dalam pengawasan guru ya!" Imbuh Marry.


"Iya..." Kini suara Alice mulai agak jengkel dengan kekhawatiran mamanya itu.


Kevin tersenyum geli lalu menghampiri Marry dan merangkulnya.


"Tenanglah, Alice hanya akan pergi ke museum. Dan itu acara sekolah. Mungkin di sana dia sekitar tiga atau empat jam. Percayalah, Alice anak yang pintar dan bisa menjaga dirinya. Percayakan juga pada gurunya." Ucap Kevin sambil mengecup kening Marry dengan lembut.


"Tapi ini pertama kali dia berkegiatan tanpa ada anggota keluarga yang mengawasi."


"Gurunya ada, kita percayakan pada pihak sekolah. Apa aku perlu menghubungi Joe untuk menemani Alice studi tur?"


Kevin mencoba menenangkan Marry.


Marry memonyongkan bibirnya sambil menatap Kevin dengan jengkel.


Kevin mengecup kening Marry, lalu mendekati Alice dan mengecup keningnya juga.


"Jika ada apa apa, Alice bisa menghubungi aku kapan saja." Sambung Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Alice.


Alice tersenyum penuh makna pada Kevin.


"Aku berangkat dulu ya, Ma. Bye!" Pamit Alice sambil menghampiri Marry.


Marry memeluk dan mengecup putrinya dengan rasa sayang. Lalu mengantar hingga ke arah garasi


Kevin dan Alice berangkat ke sekolah, sedang Marry kembali masuk ke dalam rumah bersiap siap untuk berangkat ke kedainya.


*


Kevin memeluk dan mencium ubun rambut Alice, saat sampai di halaman sekolah.


Kevin membukakan pintu mobil untuk Alice dan mengantar ke rombongan kelasnya.


Olivia menghampiri menyambut kedatangan Alice dan Kevin.


"Aku titip Alice." Pesan Kevin pada Olivia.


"Tentu Tuan. Tenang saja." Sahut Olivia.


Kevin menunggu hingga anak anak masuk ke dalam bis sekolah yang akan membawa mereka ke museum.

__ADS_1


Setelah semua masuk dan bis berjalan menuju ke tempat studi tur. Kevin kembali ke dalam mobil dan menghubungi Joe.


"Hallo, Bos?"


"Joe, kosongkan jadwalku hari ini, dan undurkan semua jadwal hari ini."


"Tapi, Bos?"


Tut...Tut...Tut.


Kevin telah menutup panggilan ponselnya dan melesat kembali ke apartemennya dengan mobil mewahnya itu.


Kevin juga telah memberi pesan pada pelayanannya untuk berlibur hari ini.


Kevin ingin menikmati hari ini hanya berdua dengan Marry di apartemennya.


*


"Anak anak, Mari kita berkumpul di sebelah sini!" Teriak Olivia mengatur siswanya.


"Kita akan mengikuti tur ini dengan guide. Jadi kalian dapat mencatat atau mengambil gambar selama perjalanan di museum ini. Jika ada yang ingin ke toilet, kita akan beri waktu lima menit! Oke?" Ucap Olivia dengan suara nyaring.


"Baik, Bu!" Sahut siswanya dengan berteriak.


Anak anak mulai mengikuti guide yang menerangkan sejarah tentang museum ini. Lalu beberapa benda dan gambar di bagian depan museum tadi.


Alice mendengar dan menyimak semua penjelasan dengan baik.dia juga sempat mengambil foto beberapa gambar dan benda yang unik menurutnya.


Hingga jam makan siang, mereka beristirahat sejenak. Karena guide juga harus beristirahat sejenak.


Olivia membawa siswa ke sebuah taman di museum itu, dan beristirahat di sana.


Mereka membuka bekal makan siang mereka di sana dan menikmati makan siang bersama sama.


"Apakah kamu mau muffin buatan mamaku?" Tanya Alice sambil menyodorkan kotak bekalnya pada Ruby dan Hank.


"Aku mau!" Ruby mengambil satu dan mengucapkan terima kasih.


"Jika kamu mau ambilah!" Alice menawarkan pada Hank yang terlihat malu.


Hank akhirnya mengambil satu dan mengucapkan terima kasih.


"Kita sudah berteman. Aku telah mengundang datang ke ulang tahunku, itu artinya kita tak ada masalah lagi." Ucap Alice.


"Iya. Asal kamu tidak mengulangi perbuatan nakalnya itu." Ancam Ruby pada Hank.


"Iya. Maafkan aku." Hank meminta maaf dengan tulus pada Alice dan Ruby.


Mereka saling tertawa dan bersenda gurau sambil menikmati makan siang mereka.


Tiba tiba Alice ingin buang air kecil. Begitu juga dengan Hank dan Ruby.


"Bu, kami mau ke toilet." Pinta Alice pada Olivia.

__ADS_1


Olivia meminta bantuan guru pengawas lain untuk menemani anak anak yang hendak ke toilet, sedangkan dirinya menjaga anak anak yang tengah beristirahat dan bermain di taman.


Anak anak bergantian masuk ke toilet, setelah giliran Alice dia menunggu di lorong bersama dengan teman yang lain menunggu guru dan beberapa teman yang masih antre di toilet.


SRET!


BUK!


Tiba tiba sebuah buku terlempar ke arah Alice dan seseorang terjatuh tepat di depannya.


"Aduh!" Ucapnya sambil terhuyung huyung.


"Paman tidak apa apa?" Tanya Alice sambil mengambil buku ymdan memberi kembali ke Paman itu.


"Terima kasih." Ucap lelaki itu sambil tersenyum.


Lelaki itu Justin, yang sedang menenangkan dirinya menikmati museum sambil membaca buku. Namun, karena tergesa-gesa, dia tersandung dan jatuh di depan anak anak kecil.


Justin terpaku saat menatap Alice. Gadis kecil itu terlihat familiar. Justin berusaha mengingat dan akhirnya dia ingat, gadis yang bersama Marry dan duduk di dekat Kevin saat pernikahan Terence.


"Terima kasih, sekali lagi." Ucap Justin sambil berjongkok.


"Namaku Justin."


"Namaku Alice." Ucap Alice.


"Apakah, ibumu bernama Marry?"


Alice mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Justin.


"Kita pernah bertemu di pernikahan Terence dan Claire. Aku salah satu pendamping pria pengantin saat itu."


"Oh, iya, aku ingat. Paman yang membawakan kotak cincin untuk Paman Terence." Sahut Alice dengan riang.


Justin mengangguk pasti.


"Apakah paman teman mamaku?"


"Ya. Aku teman mamamu."


Jawab Justin sambil tersenyum lebar.


"Alice!" Panggil gurunya.


Alice menoleh ke arah gurunya. "Tunggu sebentar!" Sahut Alice sambil melambaikan tangannya.


Alice menoleh kembali ke arah Justin.


"Baiklah, aku akan masukkan nama Paman dalam daftar tamu undangan pesta pernikahan mamaku." Ucap Alice sambil melambaikan tangan, kali ini pada Justin.


Justin tercenung mendengar ucapan Alice barusan padanya.


"Pernikahan mamaku? Pernikahan Marry?"

__ADS_1


__ADS_2