
"Selamat pagi, saya Justin Adams. Ingin menemui Tuan Mars untuk mengurus perjanjian kerja dengan Angkatan Laut." Sapa Justin saat masuk dan bertanya ke bagian resepsionis kantor.
Sang resepsionis langsung menghubungi Kim, sekretaris Kevin.
Tak lama, resepsionis itu, meminta Justin untuk langsung naik ke ruangan Kevin.
Justin berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai tempat ruangan Kevin Mars.
Jantung Justin berdetak kencang, dia grogi. Ini adalah impiannya sejak sekolah menengah atas untuk bertemu dengan idolanya. Ya, Kevin Mars adalah idola dan panutan Justin sejak remaja.
Saat dia membaca biografi dan mengetahui beberapa teknologi tentang kemudahan yang membantu kehidupan sehari hari, di berbagai bidang, dan riset riset yang dilakukan oleh perusahan IT Mars company yang didirikan oleh Kevin di usia yang masih belia. Itulah yang menginspirasi Justin untuk menjadi seorang pengacara sukses seperti saat ini. Terlepas dari kehidupan pribadi Kevin tentang skandal dia yang sering mabuk, pesta, dan bersama wanita wanita. Justin mengikuti yang baik baik saja, bagian buruknya tidak dicontohnya. Selain pandai di akademis, Kevin juga merupakan kapten basket di sekolah, hingga universitas.
Saat Terence mengaku sebagai sepupu Kevin, Justin tak percaya, dan hanya menganggap sahabatnya itu hanya mengada ada, untuk menyenangkan hatinya saja.
Namun, saat mama Terence yang menjadi penyelenggara setiap acara di keluarga Mars. Saat Terence mendapat undangan resmi dari sang sepupu untuk menghadiri pesta ulang tahunnya ke-25 dan perayaan kelulusan S3 Kevin, barulah Justin percaya.
Terence berjanji akan memberikan foto beserta tanda tangan Kevin untuk Justin. Dan dia pun mendapatkan dari Terence foto Kevin beserta tanda tangan serta beberapa patah kata penyemangat untuk Justin. Sedang foto yang diambil oleh Marry sama sekali tidak pernah diberikan pada Justin.
Itu yang selalu disimpan pada lokernya saat kuliah di universitas, sebagai pemacu semangatnya, setelah Marry meninggalkan dirinya tanpa kabar secara mendadak.
Kini, bagai mimpi, Justin dapat berada di perusahaan Kevin dan menjadi pengacara yang ditunjuk langsung untuk mengurus perjanjian kerja sama.
Justin selama ini bekerja di firma hukum besar, yang menangani perusahaan besar dan instansi pemerintah. Pimpinan firma memberikan kesempatan mengurus pekerjaan ini, usai Justin menyelesaikan dan memenangkan kasus besar berturut turut. Hal itu sangat menguntungkan bagi karir Justin saat ini.
Justin juga menjadi salah satu kuasa hukum bagi perusahaan yang baru dibangun oleh Terence, itulah sebabnya dia kembali datang ke kota ini dan hadir dalam pesta pembukaan perusahaan milik sahabatnya itu.
Pintu lift terbuka di lantai ruangan Kevin. Justin melangkah keluar dari lift.
Seorang wanita cantik berwajah oriental menyambut kedatangan Justin.
"Tuan Adams?" Sapa Kim, sekretaris Kevin.
"Ya." Sahut Justin sambil tersenyum.
"Mari, silahkan." Kim membimbing Justin untuk masuk ke ruang kerja Kevin.
Justin saat ini sedang berusaha tenang dan menjaga profesionalisme dalam bekerja.
"Pak, ada Tuan Adams, pengacara yang ditunjuk oleh pihak AL untuk mengurus semua perjanjian." Ucap Kim saat menyembulkan kepalanya dalam ruangan Kevin.
"Ok. Terima kasih, Kim." Jawab Kevin, sambil berdiri dan merapikan dan mengancingkan jasnya.
Joe berdiri di belakang Kevin sambil bersiap mencatat jika diperlukan.
__ADS_1
Perlahan Justin masuk ke ruangan Kevin dan tersenyum ke arah Kevin dan Joe.
Seketika keheningan menyerang mereka. Kevin dan Joe terkejut saat mengetahui pengacara yang datang di kantor saat ini
"Hah..? Justin? Tidak salah? Mengapa tidak ada pengacara lain yang dapat di tunjuk oleh negara untuk mengurus pekerjaan ini." Gumam Kevin dalam hatinya
Kevin menatap tajam ke arah Justin, dan Justin langsung merasakan bahwa Kevin sedang menyelidiki dirinya. Namun, segera ditepis jauh jauh perasaan itu.
Justin mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kevin. Kevin memyambut jabat tangan dengan singkat.
Senyum lebar tersungging di bibir Justin.
"Tuan Adams?" Sapa Kevin sambil membalas senyum Justin.
"Ya. Saya sangat senang bisa berjumpa langsung dengan, Anda. Anda adalah idola saya." Ucap Justin dengan antusias.
Kevin mengerutkan keningnya, lalu terkekeh.
"Terima kasih." Sahutnya
"Saya datang untuk menyerahkan surat perjanjian kerja. Semuamya tertuang di sana. Dan jika ada yang kurang jelas, atau ada kesalahan. Anda dapat menghubungi firma hukum kami, atau langsung menghubungi Saya. Ini kartu nama saya." Tutur Justin sambil menyerahkan map pada Joe, yang. Berada di samping Kevin.
Joe memberikan pada Kevin. Lalu Kevin memeriksa sejenak berkas itu.
"Ya. Sudah benar. Saya sudah terima. Dan sekali lagi, terima kasih." Ucap Kevin.
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Justin berpamitan.
"Sekali lagi, saya sangat senang bisa berjumpa dengan, Anda, Tuan." Justin berpamitan, usai mengambil foto selfie bersama dengan Kevin untuk kenang kenangan.
Justin keluar dari ruangan Kevin dengan penuh sukacita. Dia bersenandung kecil sambil menyetir sepanjang perjalanan kembali ke rumah orang tuanya.
Saat di persimpangan jalan, dia membelokkan mobilnya ke sebuah kedai. Tempat Marry. Lalu dia mengajak Marry pergi untuk merayakan kegembiraannya kali ini.
Mereka menuju pondok di tepi danau tempat favorit mereka dahulu. Justin membawa dua bungkus Lay's dan minuman soda untuk mereka nikmati.
"Jadi, ini perayaan apa?" Tanya Marry.
"Aku sangat gembira sekali. Akhirnya aku dapat bertemu dan berfoto dengan Kevin! Kamu tahu, kan? Aku sangat mengidolakan dia dari dulu." Tukas Justin sambil membuka bungkus keripik itu dan menikmati satu demi satu.
Marry hanya diam. Dia tak tahu harus bagaimana menanggapi kegembiraan yang saat ini Justin rasakan.
Marry membuka kaleng minuman dan berkata.
__ADS_1
"Ya, aku senang untuk kegembiraan yang kamu rasakan kali ini!" Ucap Marry sambil mengangkat kaleng minuman yang dipegangnya.
"Aku senang, kita dapat berbagi kegembiraan bersama seperti dulu lagi." Sahut Justin sambil mengangkat kaleng minumannya.
Mereka bersulang dan menikmati minuman mereka. Lalu tertawa bersama sama.
"Marry, apa kamu pernah merindukan aku selama ini?" Tanya Justin.
Marry terdiam dan berdiri. Lalu menatap danau dari teras pondok.
Justin ikut berdiri dan memeluk Marry dari belakang.
"Aku selalu merindukanmu, Justin." Sahut Marry lirih.
Justin kini menciumi leher Marry dengan lembur.
"Ah... Justin..." Lenguh Marry, membuat hasrat keduanya kembali menyala.
Justin menggendong tubuh Marry masuk ke dalam pondok kosong itu sambil mencium setiap jengkal tubuh Marry.
"Marry, aku ingin selalu bersamamu. Maukah kamu.."
Belum selesai Justin berkata kata, Marry melayangkan bibirnya pada bibir Justin, dan mereka saling berbagi rasa dan hasrat.
Kini kemeja Marry telah terbuka kancingnya, dan Justin melahap dengan rakus gunung kembar Marry, dan menikmati puncaknya yang kian menegang.
"Marry, aku ingin selalu bersamamu." Bisik Justin.
"Hhmmm...." Hanya lenguhan manja yang keluar dari mulut Marry.
Tiba tiba bayangan Alice berkelebat dalam pikiran Marry, seakan menyadarkan dirinya, bahwa dia telah memiliki seorang anak dari lelaki lain.
Marry mendorong tubuh Juatin, namun, Justin seolah tak ingin ada penolakan lagi.
"Justin, aku rasa kita telah salah."
Justin seolah tak ingin mendengar ucapan Marry, dia terus menciumi setiap jengkal tubuh Marry dan berusaha untuk membuka pelindung milik Marry.
Marry berusaha untuk menolak secara halus. Namun, Justin terus memaksa. Marry kini pasrah dengan perlakuan Justin.
Rasa rindu dan haus belaian sentuhan orang yang dicintainya selama ini mengalahkan pikiran rasionalnya.
Tiba tiba ponsel Marry berdering nyaring mengagetkan keduanya.
__ADS_1
Justin mendengus dengan kesal dan meregangkan kungkungan terhadap Marry.
Membiarkan Marry menjawab panggilan ponselnya.