
Terence menyesap kopinya, lalu menyulut rokoknya. Joe duduk di hadapannya.
"Mengapa tiba-tiba mencariku?" Joe menatap Terence sambil ikut menyulut sebatang rokok.
Joe mengangkat tangannya memberi isyarat untuk memesan kopi juga.
"Kamu masih ingat kejadian usai pesta ulang tahun Kevin dulu?" Tanya Terence.
"Sebagian besar aku masih ingat, karena aku tidak mabuk seperti yang lain. Dan kamu juga. Kamu memilih menikmati berduaan di kamar bersama kekasihmu." Ucap Joe sambil tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
Mereka terdiam sejenak, kala pelayan datang mengantar kopi pesanan Joe.
"Marry bekerja di sana malam itu." Tatapan Terence menerawang, lalu menoleh ke arah Joe.
"Kamu berpikir salah satu dari kami yang menghamilinya?"
Terence hanya mengangkat bahunya saja, sambil menikmati perpaduan rokok dan kopinya.
"Aku ingat pernah bertemu Marry turun dari tangga sambil menangis malam itu, lalu aku tak begitu memperhatikannya." Joe mencoba mengingat kembali kejadian malam itu.
"Astaga! Apa kamu masih ingat Ray, yang membawa pil ajaib itu?" Tukas Joe sambil menatap ke arah Terence.
"Ya. Aku sempat meminta pil itu dan meminum bersama dengan Claire di dalam kamar, hasilnya. Pagi itu kami berdua bangun dalam keadaan tanpa busana, dan kami tidak ingat apa yang telah terjadi pada kami." Terence menyeringai nakal, pada Joe.
"Untung Claire tak hamil!" Celetuk Joe.
Detik itu juga, keduanya saling bertatapan saat mendengar ucapan Joe.
"Kevin!!" Teriak mereka bersama sama sambil saling menunjuk.
Terence mengusap usap wajahnya, dan menggelengkan kepala. Joe berkali kali mengerjapkan matanya tak percaya.
Mereka berdua menghela napas dalam-dalam, memikirkan rencana selanjutnya, untuk mengatakan pada Kevin tentang malam usai pesta ulang tahunnya dulu. Untuk menarik benang merah antara Kevin, Marry, dan Alice.
"Harus tes DNA untuk memastikan semuanya." Gumam Terence.
"Apakah Marry mengijinkan?" Tanya Joe tak yakin.
"Kita harus mengatakan semua ini pada Kevin secepatnya." Terence menukas.
"Ya. Tapi, mengapa selama ini Marry merahasiakan semuanya?" Sahut Joe dengan heran.
"Joe, aku mengenal Marry sejak kecil. Dia sangat keras kepala dan seorang gadis yang gigih. Beberapa hari yang lalu, Claire bertemu Marry. Marry menceritakan semua alasan merahasiakan semua ini. Meski dia tidak pernah menyebut nama Kevin. Namun, Claire ingat malam itu, aku dan dia mencampur minuman kami dengan pil ajaib itu, dan paginya, kami tidak ingat apa yang salah terjadi malam itu. Dan saat itu, sepertinya Kevin membawa botol yang berisi minuman yang dicampur oleh pil itu bersama dua orang gadis. Namun, mengapa Marry yang ada di sana? Dan kemana dua gadis itu pergi?" Terence masih terus berpikir.
"Ya Tuhan. Aku ingat. Dua gadis itu ada di mobil bersama Ray, pagi itu." Joe membelalakkan matanya. Pikirannya mulai merangkai semua fakta yang ada.
"Kita harus mengatakan pada Kevin."
__ADS_1
"Lalu Justin?"
Terence menghela napas.
"Semua tergantung pada Marry. Tapi, dia harus bisa menerima kenyataan, bahwa Kevin adalah ayah biologis Alice. Dan Kevin juga harus bertanggung jawab dengan semua yang telah terjadi." Ucap Terence sambil menatap ke arah Joe.
"Aku tak habis pikir, bagaimana bisa Marry dan Kevin?" Joe hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*
"Papa Kevin, kata Bibi Claire, aku diminta untuk menjadi penabur bunga menuju altar." Celoteh Alice sambil menikmati burgernya di meja kedai.
"Wow... Kamu pasti akan sangat terlihat cantik mengenakan gaun." Puji Kevin.
"Apakah, Papa akan menikah juga nantinya?" Tanya Alice sambil menatap Kevin.
"Entahlah."
"Mengapa Papa belum menikah?"
Kevin terdiam. Pertanyaan gadis kecil itu membuat hatinya menjadi gusar.
Kemudian Sophie menghampiri keduanya sambil menggendong bayinya.
"Hai!" Sapa Sophie.
"Ya, maafkan Mamamu. Dia mendadak dihubungi Nyonya Ruth untuk menemui pihak katering." Jawab Sophie.
"Mama meminta Bibi untuk menjagamu. Karena kemungkinan Mamamu akan pulang larut malam." Imbuh Sophie menatap keponakannya itu.
Alice manyun. Dia meletakkan burgernya kembali ke piring, dan mengalihkan pandangan ke arah luar.
Sophie dan Kevin sama sama mengerutkan kening dan saling berpandangan.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Sophie lembut sambil duduk di sebelah Alice.
"Mengapa Mama tidak menghubungi, Papa? Mengapa dia meminta Bibi Sophie untuk menjagaku." Alice mulai merajuk.
Sophie menghela napas sejenak.
"Sayang, Kevin harus bekerja. Bukankah, kalian sudah menghabiskan waktu weekend kemarin?"
Alice yang masih merajuk melipat kedua tangannya di dada, dan menoleh ke arah Kevin.
"Jika Mama tidak ada, aku mau sama Papa!" Teriak Alice.
Kevin hanya bisa meringis dan menatap ke arah Sophie.
__ADS_1
"Besok masih hari kerja, dan kamu juga harus sekolah. Tugas tugasmu juga tadi kamu kerjakan di rumah Bibi. Besok weekend, kamu bisa bersama Kevin lagi. Tapi, tanya Kevin dulu, dia sibuk atau tidak akhir pekan besok. Dan ijin Mamamu juga." Bujuk Sophie dengan suara lembut.
Alice menggeleng kuat kuat kepalanya. Sophie berusaha menenangkan dirinya untuk membujuk ponakannya. Sambil menenangkan bayinya yang mulai rewel karena mendengar Alice yang merajuk.
Ben yang melihat hal itu, langsung menghampiri, dan membantu menenangkan si anak bayinya itu.
"Alice, akhir akhir ini kenapa kamu jadi seperti ini?" Selidik Sophie masih dengan nada suara yang lembut. Dia merasa ada sesuatu yang membuat keponakan menjadi seperti ini.
Alice terdiam. Dia masih manyun sambil melipat tangannya di depan dada, sambil menatap arah luar dari jendela.
"Baiklah, kamu malam ini pulang bersama Bibi Sophie. Besok pagi, aku akan datang ke sana, mengantarmu ke sekolah, lalu pulangnya aku jemput kembali." Ucap Kevin berusaha membujuk Alice.
Alice masih diam.
Sophie membiarkan Alice. Dia hanya membelai lembut rambut keponakan ya itu.
Kevin hanya bisa tersenyum menatap Sophie.
"Baik, aku setuju." Jawab Alice tanpa menoleh.
Kevin dan Sophie tersenyum.
"Nah, gitu dong. Kalau kebanyakan ngambek nanti cepat tua!" Canda Kevin sambil menjawil hidung gadis kecil itu.
"Kalau sudah tua nanti akan jadi nenek nenek!" Lanjut Kevin.
Sontak tawa berderai dari mulut Alice. "Aku bukan nenek nenek!" Sahutnya sambil menjulurkan lidahnya pada Kevin. Kevin tertawa menanggapinya.
Sophie berlalu dari meja kedai tempat Kevin dan Alice duduk, untuk menghubungi Marry.
Mulanya, Marry terkejut. Namun, akhirnya dia menyetujuinya. Besok Alice bisa bersama dengan Kevin.
Sophie menyodorkan ponselnya pada Kevin.
"Marry ingin bicara." Ucap Sophie.
Kevin menerima ponsel tersebut.
"Ya. Ada apa Marry?"
"Terima kasih telah menemani Alice. Dan kamu pasti sangat kerepotan." Ucap Marry.
"Tidak. Alice tidak merepotkan diriku."
"Sekali lagi, terima kasih Kevin."
"Marry, kamu tidak perlu mencemaskan Alice. Fokuslah pada pekerjaanmu saat ini dulu. Aku akan menjaga Alice juga. Tenang saja!"
__ADS_1