
Malam semakin larut, suara dentuman musik mengalun seirama dengan hentakan nadanya. DJ memandu dan memilih musik untuk menghibur para pengunjung yang datang.
Terlihat Justin ada di antara para pencari kesenangan duniawi itu. Para penggembira yang membutuhkan penghiburan bagi diri mereka.
Justin duduk di bar sambil meneguk gelasnya.
Matanya kuyu, namun terlihat ada amarah dalam dirinya. Kekecewaan akan penghianatan oleh Marry yang selama ini ditutupi membuatnya patah hati.
Saat dia mendapat pekerjaan membantu menangani beberapa surat perjanjian kerja di perusahaan Terence, dan mendapatkan kepercayaan menjadi kuasa hukum untuk proyek antara pemerintah dan Mars Company, Justin berharap dapat bertemu dengan Marry kembali.
Pertemuan dengan Marry membuatnya melupakan patah hatinya yang lalu. Dia yakin akan mendapatkan cinta Marry kembali. Beberapa kali pertemuan, Marry masih mencintainya seperti dulu. Bahkan saat mereka berdekatan, seakan gairah mereka semakin membara, dan hasrat selalu ingin saling merengkuh nikmat satu sama lain.
Namun, kenyataannya. Marry meninggalkan dirinya kembali dengan alasan memiliki seorang anak, yang pada akhirnya dia mengetahui itu anak Kevin Mars. Dan Marry selalu mengatakan meminta kembali pada Mia, tunangannya.
Mia?
Justin seolah mengingat nama itu. Nama yang beberapa bulan terakhir seakan tak pernah ia pikirkan, tiba tiba menari nari dalam kepalanya.
Justin mengambil ponsel dari sakunya.
"Halo!" Seseorang menjawab panggilan Justin. Mia.
"Kamu di mana?" Tanya Justin.
"Halo, Justin. Aku sedang di bandara. Ada apa?"
"Kamu mau ke mana?" Suara Justin melemah karena terlalu banyak minum.
"Justin, apa kamu baik baik saja?" Suara Mia mulai terdengar khawatir.
Suara dentuman musik terdengar berisik, membuat Mia tak jelas mendengar suara Justin.
"Justin, kamu ada di mana?"
"Aku ada di Klub Star."
"Baik. Kamu tunggu di sana, jangan kemana-mana!"
Mia menutup panggilan. Dan Justin hanya termangu sambil menatap gelasnya.
Justin menyodorkan gelasnya kembali pada bartender meminta lagi.
*
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Mia tiba di depan klub dengan menggunakan taksi.
Tas koper masih di tangannya.
Sebenarnya dia ingin memberi kejutan untuk Justin dengan memberi kejutan akan kedatangannya. Dia mendapatkan pekerjaan di kota ini selama satu Minggu ke depan. Mia ingin berkunjung dan mengenal lebih jauh Keluarga Justin juga pada kedatangannya kali ini.
Hampir satu bulan, dia dan Justin tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Firma hukum yang besar dengan klien dari berbagai kota dan negara bagian, membuat Mia dan Justin sering berjauhan.
Terakhir bertemu saat pernikahan Terence dan Claire. Yang membuat Mia akhirnya berjumpa dengan Marry, mantan kekasih Justin semasa remaja.
Mia sadar, Justin masih menyimpan rasa pada Marry. Saat mengetahui Marry memiliki seorang anak, Mia sangat khawatir jika seandainya itu adalah anak dari Justin. Dia tak ingin kehilangan Justin. Mia sangat mencintai Justin, dan sangat tidak ingin Marry merebut kembali Justin.
__ADS_1
Sehingga membuat Mia menemui Marry dan mengancam untuk menjauhi dan jangan mengganggu Justin kembali.
Mia menangkap sosok Justin sedang memegang gelas dan meneguk minumannya di bar klub itu.
Mia mendekati Justin.
"Mia?" Justin terheran.
"Sudahlah Justin. Kita pulang." Ajak Mia.
Mia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu memapah tubuh Justin keluar dari klub malam itu.
Mia memanggil taksi dan memasukkan tubuh Justin yang sudah teler dalam taksi, dan menghempaskan punggungnya di sandaran taksi.
"Hotel Hilton." Ucap Mia pada sopir taksi tersebut.
Sopir taksi itu mengangguk lalu membawa Mia dan Justin ke hotel tujuan.
Justin yang teler, hanya bisa mengigau tak jelas sepanjang perjalanan.
Setelah sampai di hotel, Mia membayar argo, dan memapah tubuh Justin masuk dalam hotel.
"Mengapa kamu menghianatiku? Aku kecewa padamu Marry!" Justin mengigau saat berada di lift.
Mia hanya bisa mengehela napas dalam-dalam saat mendengar nama Marry disebut.
Justin masih belum dapat melupakan Marry.
*
Menaruh tubuh Justin ke atas tempat tidur.
BRUKK...
Keduanya terjatuh di atas tempat tidur.
"Marry.. jangan tinggalkan aku!" Justin memegang lengan Mia. Mia menoleh dan menatap wajah Justin yang kuyu dan mabuk itu.
Hatinya sangat sedih, namun dia sangat mencintai Justin.
"Aku akan melakukan apa saja supaya kamu jadi milikku seorang!" Desis Mia.
Mia mengelus dengan lembut wajah Justin.
Mata Justin terbuka dan memegang tangan Mia, lalu mencium tangan wanita itu dengan lembut.
Mia hanya terdiam menikmati setiap sentuhan Justin.
"Kulitmu lembut sekali.... Hmmmm..." Justin mencium tangan Mia perlahan. Naik hingga ke pundak.
Justin menatap Mia dengan tenang. Suasana lampu yang temaram dan hening, membuat Justin tergoda untuk melakukan yang lebih.
Justin menautkan bibirnya pada bibir Mia dengan perlahan. Mia membalas ciuman itu dengan lembut.
Mia mendorong tubuh Justin, dan naik ke atasnya.
__ADS_1
Suara lenguhan manja dan desis antara Mia dan Justin mulai terdengar, seakan ingin menuntaskan hasrat duniawi mereka.
Mia membuka kancing kemeja Justin, lalu melempar begitu saja kemeja itu.
Justin meningkatkan permainan dengan mencium leher dan turun ke dada, hingga dua gunung kembar Mia yang mulai menyembul dan mengeras.
Justin membuka pakaian Mia. Lalu mendorong tubuh wanita itu, dan kini dia berada di atasnya.
Justin menciumi tubuh Mia perlahan. Sambil membuka seluruh pakaian wanita itu, hingga tak tersisa sehelai pun.
Justin membelai lembut kaki dan menyusuri dengan tangannya, lalu menenggelamkan kepalanya pada pangkal paha Mia.
"Hmmm... Harum sekali." Desis Justin, sambil memainkan dan menjilat bagian inti milik Mia.
"Oh, Justin! Aku milikmu.." ucap Mia lirih.
Mendengar ucapan Mia, Justin menyeringai lebar.
"Apakah kamu ingin sesuatu yang lebih besar?" Tanya Justin sambil membuka pakaian bagian bawah miliknya sendiri, tanpa menyisakan sehelai pun.
Mia mengangguk dengan tatapan menggoda.
Justin memainkan jarinya pada milik Mia yang telah sangat basah itu. Lalu Justin membenamkan kembali kepalanya di sana hingga membuat Mia berteriak enak dan meminta terus dan terus, hingga cairan putih kental keluar dari bagian intinya.
Justin dengan cepat memasukkan pusakanya pada milik Mia dan memompanya perlahan.
"Wuah... Enak sekali milikmu, sangat sempit! Aku suka.." Puji Justin.
Mia tersenyum saat mendengar pujian Justin.
Mia mendorong tubuh Justin, dan kini dia yang mengendalikan permainan. Mia bergerak naik turun menggoyang pinggulnya perlahan namun pasti.
Justin merem melek menikmati pelayanan Mia.
Keringat mengucur di tubuh mereka, bercampur jadi satu. Suara erangan Justin seakan menjadi pemacu semangat bagi Kita untuk meningkatkan permainan.
Dia menciumi dada Justin, sehingga membuat Justin terlena.
Tiba tiba Justin mendorong kembali tubuh Mia dan memompa dengan cepat.
Suara napas keduanya semakin cepat seirama dengan permainan Justin.
Hingga akhirnya Mia memeluk tubuh Justin dan mencengkeram punggung lelaki itu dengan kukunya, karena dia merasa ada sesuatu di dalam sana yang menyentak.
"Aaahhhh.... Aku akan sampai..."
"Kita bersama sama sayang..."
Tubuh keduanya menegang dan bergetar.
Justin mengerang layaknya pejantan tangguh. Sedang Mia meregangkan pelukannya dan menjatuhkan tubuhnya ke dada Justin.
Tersungging senyum di bibir Mia.
"Aku ingin menjadi milikmu, Justin. Bahkan mengandung anakmu pun aku rela. Supaya wanita itu tidak akan pernah mengganggu hidup kita lagi!"
__ADS_1