Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Arena Bermain


__ADS_3

Kevin sengaja memilih mobil sedan yang dapat dibuka atapnya untuk berjalan-jalan. Cuaca saat ini sangat cerah. Musim semi memang sangat enak untuk berjalan-jalan, apalagi dengan suasana perjalanan yang lancar saat weekend.


Kevin sengaja membuat mode silent pada ponselnya, dia sengaja ingin menikmati waktu bersama gadis kecil ini.


Kevin mengendarai mobilnya melaju menjauhi pusat kota, menuju ke sebuah daerah pantai, jaraknya tempuhnya sekitar dua jam perjalanan.


Sebelum keluar dari kota, Kevin mengisi bahan bakar sambil membeli camilan untuk perjalan mereka di mini market yang ada di pom bahan bakar.


Setelah membayar dan mengisi bahan bakar, Kevin melaju kembali bersama Alice yang terlihat senang dan kagum.


"Aku tidak pernah pergi sejauh ini selama dengan Mamaku." Ucapnya.


"Sungguh?" Kevin menatap ke arah Alice sejenak.


"Aku menghabiskan waktu di rumah Bibi Sophie, kedai Paman Ben, lalu Nana, tempat Rubby temanku, dan di apartemen kecil itu. Mama selalu sibuk bekerja, atau sibuk di kedai." Cerita Alice saat dalam perjalanan.


"Kedai? Mamamu punya kedai?" Tanya Kevin sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, Mama bekerja sama dengan Paman Ben, membuka kedai kopi di dekat rumah sakit. Nana, yang memberi informasi, jika di sana boleh membuka kedai. Mama bekerja sangat keras, untuk menghasilkan banyak uang. Selain untuk biaya hidup kami, Mama juga membeli seperangkat komputer untukku. Aku juga sering mengikuti lomba di sekolah, dan sering menang." Celoteh Alice dengan bangga.


"Oya? Kamu ikut lomba apa?"


"Kejuaraan tingkat sekolah dasar."


Kevin menoleh, menatap Alice penuh perhatian.


"Aku membuat sistem alarm untuk ponsel. Supaya jika ada yang mencoba mengkloning ponsel langsung terdeteksi. Lalu aku juga membuat sistem Gps yang dipasang pada ponsel. Saat ini aku menaruhnya pada ponsel Mamaku. Lalu aku hubungkan pada ponselku. Jadi aku bisa tahu mamaku sedang ada di mana saat ini. Kecuali tempat itu tidak ada sinyal, maka, jejak akan hilang." Alice tersenyum dengan bangga.


Kevin menganguk angguk kagum, namun, berusaha tidak menunjukkan pada Alice.


"Hai, lihat! Kita hampir sampai di tempat yang aku maksud." Kevin menunjuk ke arah depan.


Terlihat palang papan nama Citytown di depan mereka.


Alice membuka jendela mobil, dan melongokkan kepala ke luar, ia menghirup udara segar di sana. Terlihat laut lepas di pinggir jalan, lalu di seberangnya ada sebuah bianglala besar, dan kawasan dengan banyak tempat permainan.


"Wow.... Seru! Aku baru kali ini melihat laut secara langsung. Dan itu! Kincir raksasa! Komedi putar! Wah... Banyak tempat bermain... Aku mau, aku mau!" Sorak Alice dengan gembira.


"Kita akan ke sana, tapi kita sepertinya harus makan siang dahulu saat ini."


Alice tersenyum lebar, lalu tiba tiba dia memeluk dan mencium pipi Kevin. Kevin yang terkejut, tersenyum menerima perlakuan gadis kecil itu.


Kevin memarkirkan mobil di pinggir jalan, di dekat sebuah kedai makan tepi pantai. Kevin melepas kacamata hitamnya, lalu turun dari mobil bersama dengan Alice.


Mereka masuk ke kedai dan memesan 2 burger set, dan dua jus jeruk. Mereka menikmati makan siang dengan lahap karena telah lapar.


Alice menatap layar ponselnya, dan menunjukkan pada Kevin.


"Lihatlah! Mungkin mamaku sedang sibuk saat ini, dia mematikan ponselnya saat ini. Terakhir, titiknya ada di Hawaii."


Kevin melihat dan memegang ponsel Alice. Dia menatap program yang digunakan oleh gadis kecil itu.

__ADS_1


Kevin tersenyum, saat mengetahui aplikasi yang digunakan untuk menjalankan program tersebut adalah berasal dari perusahaan miliknya.


"Sejak kapan kamu menyukai hal seperti ini?" Tanya Kevin sambil menatap Alice yang sibuk memakan burgernya jumbonya.


"Sejak kecil. Aku sering bermain dengan ponsel milik mamaku, hingga ponselnya kelebihan kapasitas karena sering aku pakai untuk bermain."


"Kamu suka game?"


"Ya. Aku sangat suka. Banyak permainan yang sudah aku buat dan aku juga telah menghasilkan uang dari permainan yang aku buat." Sahut Alice.


"Tapi, kali ini, mungkin kita tidak banyak bermain dengan ponsel kita. Aku ingin istirahat sejenak dari gadget. Kita bermain di arena bermain di sana." Ucap Kevin sambil menunjuk arah arena bermain, seperti pasar malam itu.


"Aku mau naik kincir raksasa!" Teriak Alice dengan gembira.


Tiba tiba seorang wanita setengah baya mendekati meja Kevin dan Alice.


"Halo, anak manis." Sapanya sambil menatap dan tersenyum ke arah Kevin dan Alice.


"Oh, Hai." Sahut Kevin.


"Ini ada dua kupon es krim, yang bisa kalian tukar di gerai kami yang ada di arena bermain. Kupon gratis. Silahkan pilih mau rasa apa saja. Di sana juga ada aneka makanan yang lezat." Katanya, sambil memberikan kupon tersebut pada Alice.


Alice tersenyum lebar dan menoleh ke arah Kevin. Kevin menganguk, memberi isyarat untuk memperbolehkan untuk mengambil kupon tersebut.


"Terima kasih. Kebetulan sekali, kami ingin bermain di sana usai makan siang ini." Cetus Kevin.


"Ide bagus. Apalagi saat weekend, banyak wahana yang buka, dan biasanya ada pertunjukan di sana." Sahut wanita itu.


"Wah, aku ingin ke sana, Pa!" Rengek Alice sambil menarik ujung kemeja Kevin.


"Alice, bilang terima kasih dulu padanya karena telah memberi kupon." Bujuk Kevin.


Alice menatap wanita pemilik kedai itu.


"Terima kasih, Nek!" Ucapnya dengan sopan.


"Sama sama. Selamat menikmati weekend di Citytown." Lalu wanita itu kembali lagi ke tempat semula


Setelah membayar makanan mereka, Kevin dan Alice menuju ke seberang, ke tempat arena bermain itu.


Mobil, sengaja Kevin parkir di sana supaya aman karena banyak mobil yang parkir di sana, banyak toko dan kedai, dan ramai.


Kevin dan Alice berjalan bergandengan, seperti ayah dan anak.


Suasana di arena bermain terlihat ramai. Mulai dari permainan lempar hadiah, komedi putar, ontang anting, bianglala, capit boneka, dan banyak permainan lainnya. Di sana juga ada pertunjukan sulap, bernyanyi, hingga atraksi hewan, seperti anjing, burung, dan tupai.


Alice menatap semua permainan dengan kekaguman, dia ingin mencoba semua wahana bermain di sana.


Mereka naik bianglala, mencoba komedi putar, bermain ontang anting, cangkir putar. Lalu mencoba aneka permainan yang ada di sana.


"Papa, aku ingin es krim itu!" Tunjuk Alice, saat melihat sebuah foodtruck di tengah arena bermain.

__ADS_1


"Apakah itu gerai es krim, tempat kita makan tadi?" Tanya Kevin mengingatkan.


Alice mengambil kupon yang dia simpan di tas kecil miliknya. Lalu membacanya.


"Ya, itu gerainya!"


"Oke, kita ke sana." Ajak Kevin.


Mereka menukar kupon, sambil membeli hotdog dan taco yang ada di menu mereka.


Lalu menikmati makanan dan es krim hingga habis sambil beristirahat.


Kevin mengambil ponselnya dan mengambil gambar selfie mereka berdua di tengah arena bermain itu.


"Aku juga mau!" Pinta Alice.


Kevin membantu mengambil foto selfie mereka di ponsel Alice.


Alice melihat kembali hasil fotonya, lalu tersenyum dan menyimpan kembali pada tas kecilnya.


Tak terasa hari mulai gelap, Kevin mengajak Alice untuk pulang ke villa milik keluarganya.


Alice mengangguk, karena mulai merasa lelah.


Saat menyusuri jalan menuju arah luar arena bermain, Kevin berhenti sejenak pada gerai permainan lempar hadiah.


Dia membeli tiket, dan mendapat 5 kali kesempatan untuk melempar ke benda yang diinginkan.


Kevin berdiri pada garis batas pelempar, mengambil ancang-ancang, lalu...


BRAK...


Sebuah kaleng kosong jatuh, tanda gagal.


Kevin tak menyerahkan, masih ada empat kali kesempatan lagi pikirnya. Kevin mencoba kembali, dan gagal. Mencoba lagi, dan gagal lagi.


Kevin menghela napas sejenak, lalu mencoba untuk fokus, dia mengarahkan pada satu boneka di depan sana. Lalu dia melempar bola itu dengan yakin ke arah targetnya.


BRUK..


Sebuah boneka kuda pony berwarna pink terjatuh.


"Yey... Berhasil!" Sorak gembira terdengar dariulut Alice.


Kevin tersenyum, lalu melempar kesempatan terakhirnya.


BRUK...


Lagi lagi ada sebuah benda yang jatuh. Kali ini dia mendapat sebuah botol minum.


Penjaga gerai mengambil hadiah yang diperoleh Kevin dan memberikan padanya.

__ADS_1


Kevin memberikan semua pada Alice. Alice menerima dengan senang sambil memeluk Kevin.


Kevin dan Alice berjalan menjauh dari arena bermain itu, menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan dekat kedai. Lalu menuju ke villa untuk beristirahat.


__ADS_2