Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Kejadian Buruk Menimpa Kevin


__ADS_3

Kevin, yang masih setengah sadar, berusaha berdiri, namun tubuhnya tak mampu. Kevin merangkak, dengan sisa kekuatan yang ada. Kevin berusaha untuk keluar dari gang yang sempit dan buntu itu.


Sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, dia terduduk. Darah mengucur dari pelipisnya, dan dari kepala bagian belakang. Lecet dan memar pada tangan dan kaki, dan darah juga mengalir dari perut sampingnya. Perampok itu menusuk Kevin.


Sambil terus berusaha untuk berdiri, Kevin mencari pegangan.


Bruk..!


Terdengar suara benda jatuh karena Kevin berusaha untuk berdiri dengan berpegangan apa saja yang bisa diraihnya.


"Halo...! Apakah ada orang?" Teriak seseorang dari ujung gang itu.


"Halo...?" Suaranya terdengar takut dan ragu.


Kevin mendengar suara dari ujung gang dan suara langkah kaki mendekat.


"To-tolong aku...!" Kevin berseru lirih dengan sisa kekuatannya.


Orang tadi sepertinya melihat tubuh Kevin yang bersimbah darah.


Seorang wanita bergegas mendekat dan hendak menolong Kevin. Saat mendekat dan melihat wajah Kevin.


"Kevin? Astaga, Tolong..!" Ternyata Marry yang menemukan Kevin malam itu. Marry baru kembali dari kedainya.


Marry membantu Kevin berdiri, Marry melihat seorang keluar dari apartemen hendak membuang sampai, segera dipanggil untuk membantu menolongnya. Dengan tertatih-tatih Kevin berjalan dipapah oleh Marry dan tetangganya.


Darah semakin mengalir deras dari perut samping Kevin, Marry melepaskan syal yang dikenakan, dan menaruh pada luka untuk menyumbat, supaya darah segera berhenti mengalir keluar.


"Kevin! Kevin! Kamu bisa mendengarku?" Dua tangan Marry memegang wajah Kevin, memastikan bahwa dia masih sadar.


Marry terengah-engah, dan terlihat cemas. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi pusat bantuan emergency. Kevin duduk bersandar pada anak tangga ditemani Marry yang terus menahan penutup luka supaya darah tidak terus mengalir.


Kevin yang samar samar melihat bayangan Marry mulai tersenyum, dia menaruh tangannya di atas tangan Marry yang menekan luka pada perutnya.


Marry hanya menghela napas dan melirik pada Kevin. Mereka terdiam bersama malam, di kejauhan terdengar sirine ambulan menuju ke arah mereka.


Lalu tubuh Kevin segera dibawa oleh para petugas medis menuju rumah sakit untuk diberi pertolongan.


Marry membantu petugas medis mengangkat tubuh Kevin ke tandu medis, dan memasukkan ke dalam ambulans. Kevin menggenggam jemari Marry dengan kuat seakan tak rela melepas.


Akhirnya Marry ikut masuk ke dalam ambulans untuk menemani Kevin.

__ADS_1


*


*


Marry duduk termenung di ruang tunggu setelah menghubungi Ben untuk menjemput dan membawa Alice ke rumah Ben dan Sophie, karena Marry tidak pulang. Marry sengaja tidak mengatakan hal yang sesungguhnya dahulu supaya mereka tidak cemas.


Marry terus menunggu di sana dengan cemas, sementara dokter sedang melakukan yang terbaik untuk menolong Kevin.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, dua orang polisi menghampiri Marry dan menanyakan tentang kejadian yang menimpa Kevin. Marry menjawab yang dia tahu saja, untuk awal mulanya dia memang tidak tahu.


Selama sekitar lima belas menit, polisi berbincang dengan Marry, lalu meninggalkannya.


Sekitar satu setengah jam proses operasi Kevin berlangsung. Lalu Kevin dipindahkan ke ruang perawatan. Keadaan sudah stabil, tinggal menunggu sadar saat pengaruh obat bius habis.


Marry duduk di kursi menemani Kevin. Marry bertanya tanya mengapa tak ada satu pun keluarga Kevin yang datang, padahal ini rumah sakit milik keluarganya.


Marry menatap wajah Kevin yang tertidur.


Ada rasa sakit menyeruak dalam dadanya. Marry teringat saat Kevin menarik tubuhnya, membekap mulutnya dengan ciuman, melucuti semua pakaiannya satu persatu dan menyentuh seluruh tubuhnya.


Marry menutup matanya, berharap semua itu hanya sebagai mimpi buruk. Namun, kenyataannya, dia harus menjalani mimpi buruk itu hingga saat ini.


Marry merutuki dirinya sendiri. Menyadari keputusannya salah untuk menolong Kevin.


Marry merasa tubuhnya sangat letih. Ingin rasanya dia pulang dan berendam dalam bathtub. Namun, hari sudah terlalu larut, jika dia memaksa untuk kembali ke rumahnya.


Karena banyak menimbang dan memikirkan segala kemungkinan, Marry tertidur dengan menelungkup kepalanya pada ranjang pasien.


*


Joe tiba di apartemen Kevin pagi pagi buta. Semalam dia sengaja tidur cepat, dan pagi ini hendak menyelesaikan surat kesepakatan hasil semalam saat Kevin membicarakan pekerjaan sambil makan malam dengan klien.


Joe masuk ke dalam apartemen seperti biasa, menghidupkan lampu ruangan, dan menuju ke meja kerja, tempat dia sering menyelesaikan pekerjaan di kediaman Kevin. Sunyi, sepi, seolah tak ada penghuninya.


Joe terus fokus menyelesaikan pekerjaannya. Joe menuju ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Saat melewati kamar Kevin yang sedikit terbuka, Joe melongokkan kepalanya untuk memeriksa teman sekaligus atasannya itu.


Joe melebarkan pintu, dan kamar terlihat kosong. Joe menuju kamar mandi dan mendorong pintunya, dan terbuka. Kevin tidak ada.


Kevin tercenung. Dia mulai cemas dan khawatir akan Kevin.


"Apa Kevin tidak pulang? Di mana dia?" Gumam Joe, sambil keluar dari kamar Kevin.

__ADS_1


"Kev... Kevin? Kevin!" Joe memanggil nama Kevin sambil berkeliling di seluruh ruangan di apartemen atasannya itu.


Hasilnya, tak Kevin di sana. Joe terduduk di sofa. Mencoba berpikir, kira kira semalam Kevin ke mana. Brenda? Wanita itu sedang berada di Eropa, tak mungkin Kevin di rumah Brenda.


Lalu di mana dia?


Joe mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin. Tak ada jawaban. Joe mencoba berulang kali, dan tidak berhasil. Dia mengecek sinyal ponsel Kevin pada laptop kerja Kevin, untuk melacak keberadaan ponsel itu, dengan harapan dapat menemukan Kevin.


Joe menelusuri tempat di mana saja Kevin singgah semalam.


Joe mengerutkan keningnya saat mengetahui posisi sinyal itu.


"Mengapa Kevin di tempat itu? Sedang apa dia di sana? Semalaman? Atau dia mengalami sesuatu yang buruk?" Gumam Joe.


Tiba tiba ponsel Joe berdering.


"Ya, dengan Joe di sini!" Sahut Joe saat menjawab panggilan dari nomor yang tercatat dengan nama Polisi Kota.


Joe menjawab dengan raut wajah tegang. Sesaat setelah dia menutup panggilan ponselnya, dia bergegas dengan tergesa-gesa meninggalkan kediaman Kevin dan menuju ke rumah sakit.


*


Joe membuka pintu kamar dan masuk. dia melihat Marry tertidur sambil menelungkup kepalanya di antara tangannya.


Kevin telah sadar dan memberi isyarat untuk tetap tenang supaya tidak membangunkan Marry dari tidur.


Joe berjalan menuju sisi yang lain dekat ranjang.


"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Joe sambil berbisik-bisik.


"Aku tak tahu." Jawab Kevin sambil merebahkan kepalanya ke bantal.


Kevin dan Joe menatap Marry yang masih tertidur pulas.


Tiba tiba Marry terbangun, dan melihat dua pria sedang memperhatikannya. Dia segera bangun dan menegakkan punggungnya.


Marry membalikkan tubuhnya, dan berlalu masuk ke kamar mandi dengan salah tingkah.


"Apa yang dilakukan dua orang itu padaku?" Gumam Marry menatap cermin. Marry mencoba menenangkan diri.


Marry membasuh wajahnya, dan mengeringkan dengan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2