
Alice keluar dari kamar dan langsung menuju ruang makan. Kebiasaan jika hari libur adalah langsung menuju ruang makan tanpa harus mencuci muka dan bersiap untuk sekolah.
Alice menguap sambil mengucek matanya. Meminum segelas susu, tanpa menyadari Kevin masih ada di sana. Bahkan sedang duduk menatap Alice.
"Mama, apakah hari ini aku boleh ke rumah Papa Kevin, setelah menjenguk Nana." Tanya Alice sambil meletakkan gelasnya yang telah kosong.
Marry menoleh ke arah Alice dan menatap putrinya dengan heran. Padahal Kevin ada di sebelahnya menatapnya sambil tersenyum.
Marry memberi kode dengan mengarahkan kepalanya pada Kevin.
Namun, Alice tak mengerti dan balas menatap Marry dengan heran.
Marry hanya bisa pasrah menggelengkan kepalanya.
"Boleh! Nanti sebelum ke tempatku, kita menjenguk Nana dulu." Ucap Kevin sambil mengacak acak rambut Alice.
Alice terkejut, tapi terlihat sangat senang.
"Papa tidak pulang?" Tanya Alice.
"Tidak."
"Semalam hujan deras sekali. Papa Kevin menginap di sini. Nanti kita menjenguk Nana dulu. Nana sudah sadar. Tadi Paman Will mengabari Mama."
"Oya? Nana sudah sembuh!" Alice bersorak gembira.
"Ya belum sembuh juga, Alice. Nana masih harus banyak istirahat setelah ini. Dan kami juga jangan merepotkan Nana. Harus bantu Nana." Marry mengingatkan.
"Aku akan selalu membantu, bahkan menjaga Nana setelah Nana keluar dari rumah sakit. Kapan Nana bisa pulang, Mama?"
"Belum tahu. Nanti kita tanya pada Paman Will." Marry mengelus lembut rambut Alice.
"Mama mau membawa muffin untuk Nana?"
"Ya. Kotak ini khusus untuk Nana. Lalu yang ini untuk Bibi Emily, dan yang ini untuk Kevin dan kamu, tentunya." Jawab Marry sambil tersenyum.
"Jadi aku boleh ke rumah Papa Kevin ?"
Marry melirik ke arah Kevin, seakan meminta persetujuan.
"Bagaimana jika Mama ikut juga bersama kita. Kita bisa menghabiskan sisa weekend kita dengan bersenang senang di rumahku." Kevin memberi usul.
"Ya! Aku setuju." Sahut Alice dengan girang.
__ADS_1
"Tapi aku..."
"Ayolah, Ma! Mama kan sudah tidak bekerja dengan Nyonya Ruth lagi."
"Tapi, Mama harus mengawasi kedai. Sudah beberapa hari, Mama tidak melihat kedai." Jawab Marry.
Alice terlihat kecewa saat Marry menolak untuk ikut ke rumah Kevin.
"Alice, kamu bisa bersenang-senang dulu dengan papa Kevin. Nanti sore, mama akan menjemputmu di sana." Marry berusaha untuk menghibur Alice yang mulai merajuk.
Kevin yang sedikit kecewa, hanya bisa tersenyum mendengar keputusan Marry. Dia tak bisa apa apa.
*
Marry, Alice, dan Kevin telah tiba di rumah sakit sambil menenteng bingkisan untuk Nana dan Emily.
Marry mengetuk pintu kamar. Dan William yang membuka pintu.
Terlihat Emily duduk di kursi di sebelah Mana sambil menyuapi bubur.
"Halo Nana!" Teriak Alice sambil menghambur ke ranjang dan memeluk Nana dengan gembira.
"Aku sangat sangat sangat sangat dan amat sangat merindukan Nana." Ucap Alice.
Nana membelai lembut rambut Alice dan menciumnya.
"Nana, aku janji nggak akan nakal dan buat repot. Aku akan selalu bantu Nana dan menurut dengan Nana." Alice berjanji.
"Iya. Terima kasih, sayang. Tapi Kamu benar benar tidak pernah menyatakan Nana repot dan capek." Sahut Nana.
"Mama membuatkan Nana muffin madu, khusus buat Nana." Alice menaruh kotak muffin di meja dekat tempat tidur pasien.
"Dan ini untuk Bibi Emily." Alice menyodorkan kotak pada Emily.
"Terima kasih, anak cantik!" Sahut Emily yang gemas dengan Alice saat itu.
"Bagaimana keadaan Nana?" Tanya Marry sambil mengelus tangan Nana yang mulai berkeriput.
"Aku sudah tua Marry. Mungkin sudah saatnya William ada yang mengurus." Sahut Nana lirih sambil melirik pada cucunya itu.
William hanya terdiam dan melirik pada Emily.
Emily hanya tersenyum serba salah.
__ADS_1
Kevin yang mulai paham dengan situasi saat ini mulai mengerti.
Nana menginginkan William segera menikahi Emily, sehingga membuat Nama menjadi tenang.
Tak selang berapa lama, dua orang perawat datang untuk membersihkan tubuh Nana dan merawat, serta memeriksanya.
William, Emily, Marry, Kevin, dan Alice keluar dari kamar pasien.
"Nana memintaku segera menikah, Marry." Bisik William.
"Lalu?"
"Aku harus bagaimana?"
"Hah? Emily menyukaimu kan, dan kalian selama ini berhubungan, bukan? Apa yang kamu ragukan Will?"
William terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.
*
"Nana meminta Will untuk segera menikah?" Emily curhat pada Kevin.
"Oya? Baguslah!" Sahut Kevin.
"Bagus gimana?" Emily sontak melotot.
"Loh, bukannya kalian selama ini saling berkencan, saling suka, berhubungan. Lalu apa?"
Emily menghela napas dalam-dalam. Banyak pertimbangan yang membuatnya harus memikirkan matang matang semuanya.
*
"Emily sepertinya tak suka saat Nana membahas tentang pernikahan. Kamu tahu, Emily sama seperti Kevin. Sangat sulit untuk berkomitmen dan lebih mengurus bisnis atau hal lain selain pernikahan dan kehidupan rumah tangga." William mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
"Benarkah?"
"Ya seperti itulah."
"Baiklah. Nanti aku akan coba berbicara dengan Nana atau Emily. Semoga aku mendapat jawaban yang bagus."
William dan Marry terkekeh sejenak.
*
__ADS_1
Setelah sempat bercanda bersama Nana. Alice pamit pada Nana.
"Nana, aku pergi dulu. Besok aku akan menjenguk Nana lagi," pamit Alice.