
Tok tok tok!
Joe mengetuk pintu kamar di seberangnya. Dia membawa sekotak cupcake kesukaan Olivia, yang dibelinya di kedai milik Marry. Dia sengaja memesan terlebih dahulu saat jam makan siang, jika tidak, muffin dan cupcake itu akan habis secepatnya.
Tok tok tok!
Joe mengetuk kembali pintu kamar itu.
"Hmmmm apakah dia pergi?" Gumam Joe. Dia berpikir sejenak untuk tetap menunggu atau kembali masuk ke kamarnya.
Joe menunggu beberapa saat, lalu memutuskan, mengetuk sekali lagi, jika tidak ada respon, maka dia akan kembali masuk.
Tok tok tok!
Joe menahan napas, dan berdoa. Semoga pemilik kamar ini ada.
"Sebentar!" Teriak seseorang dari dalam.
Joe berbinar saat mendengar suara nyaring Olivia.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, dan anak kunci berputar.
Pintu terbuka sedikit, dan kepala Olivia menyembul.
"Oh, hai!" Olivia tersenyum seolah tak percaya.
Lalu dia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Joe untuk masuk.
"Maaf mengganggu. Kamu sedang apa?" Tanya Joe tidak enak.
Olivia terkekeh.
"Aku sedang memasak di dapur. Kebetulan kamu datang. Aku memang menyiapkan untukmu juga, renvanai, nanti aku taruh di depan pintu kamarmu, supaya saat pulang pesta, kamu dapat makan. Setidaknya, jika kelaparan dini hari, ada makanan yang dapat dinikmati." Sahut Olivia.
"Sekarang tidak perlu repot-repot mengantar. Aku sudah datang dan ingin menikmati masakannya!" Joe mendekati Olivia.
Kini mereka saling berhadapan. Keheningan menyerang mereka berdua. Hingga mereka dapat saling mendengar suara napas masing-masing.
Joe memajukan tubuhnya, mendekat pada Olivia. Kedua ya menikmati saat-saat seperti itu.
Olivia memejamkan matanya, dan menikmati setiap kecupan dan ciuman yang dilontarkan oleh Joe.
Untuk beberapa saat keduanya hanyut dalam kenikmatan duniawi. Sampai Olivia tersadar mencium aroma sesuatu yang gosong dari arah dapur.
"Oh, maaf Joe!" Olivia mendorong tubuh Joe, dan bergegas berlari ke arah dapur.
Olivia buru buru membuka oven dan mengeluarkan isinya yang telah berubah menjadi hitam dan hangus.
Olivia mengendus kesal, lalu tersenyum geli.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Joe dengan khawatir.
"Ayam hitam!" Seru Olivia sambil memonyongkan bibirnya.
Joe terkekeh melihat ayam panggang yang telah berubah menjadi gosong itu.
"Ini sama sekali sudah tidak dapat di makan!" Gumam Olivia dengan sedih.
"Bagaimana, jika kita memesan makanan saja. Kebetulan aku membawakan dirimu ini."
Joe menunjukkan kotak cupcake yang tadi diletakkan di meja ruang depan.
"Astaga Joe. Bagaimana kamu dapat cupcake kesukaanku!" Kini wajah Olivia menjadi terlihat ceria dan langsung merebut kotak itu dan membukanya.
"Hhmmm harumnya! Aku sangat suka cupcake!" Seru Olivia dengan gembira.
"Terima kasih Joe!" Olivia mencium bibir Joe dengan ringan. Lalu melepaskan.
*
Sambil menunggu pizza pesanan datang Joe dan Olivia menikmati cupcake dan kopi panas.
"Bagaimana keadaan Alice di sekolah?" Tanya Joe usai menyesap kopinya.
"Alice?" Olivia menatap Joe heran.
"Alice baik baik saja. Dia rajin seperti biasa, dan bulan depan bisa ikut ujian untuk naik tingkat kembali. Ada apa memangnya?" Olivia tak dapat menahan penasarannya.
"Seminggu yang lalu, Alice dan Marry datang menjenguk Kevin saat di rumah sakit. Dan itu bertepatan dengan kedatangan Brenda dan para wartawan infotainment."
"Astaga!" Olivia menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Dia melebarkan matanya menatap Joe.
"Semoga dia tidak trauma setelah itu. Sejak itu, Marry dan Alice seolah menjaga jarak dengan Kevin. Dan aku telah mengurus semuanya. Baik pihak infotainment maupun orang yang telah menganiaya Kevin." Joe menuturkan semua.
"Marry dan Alice terlihat baik baik saja. Ya seperti biasa." Ucap Olivia sambil menatap Joe.
"Aku hanya sangat sakit pada dirimu. Kamu bekerja dengan sepenuh hati, membereskan urusan Kevin yang seperti itu. Apakah Marry dan Alice termasuk urusanmu juga?" Tanya Olivia menyelidik.
Joe tertawa kecil dan membalas tatapan Olivia.
"Sedikit saja. Tapi sebagian besar semua Kevin yang menjalaninya. Aku pun sangat terkejut saat gadis kecil itu tiba tiba datang dan mengaku sebagai anak Kevin. Padahal aku tau betul Marry sama sekali tidak pernah ada dalam daftar menjadi teman kencan Kevin." Sahut Joe.
Kemudian pintu kamar diketuk, dan pizza pesanan mereka tiba.
Joe membuka kotaknya dan memakan sepotong.
"Marry adalah gadis yang baik. Dia adalah kakak yang baik dan pekerja keras." Olivia mulai bercerita.
"Kamu mengenal Marry?"
__ADS_1
"Sangat kenal. Dia sudah seperti kakak bagiku. Aku adalah teman Sophie, adik Marry. Sejak kecil aku tinggal di panti asuhan. Sophie tinggal di panti asuhan, setelah Mamanya meninggal. Saat itu Marry masih SMA, belum bisa menjadi wali dari Sophie." Olivia membasahi bibirnya dengan lidahnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Marry adalah murid yang cerdas. Namun masuk dalam golongan siswa yang sering diganggu. Setahuku, dia berteman dengan Terence dan Claire. Mereka bertiga sering diganggu oleh anak anak nakal, jagoan sekolah itu. Hingga Justin datang menolong mereka. Justin adalah kapten tim basket sekaligus siswa populer di sekolah pada saat itu. Dan sejak itu, Justin sering menghabiskan waktu bersama Marry, Claire, dan Terence. Lalu semua orang tahu, jika Justin adalah kekasih Marry." Olivia mengakhiri ceritanya, lalu menyomot pizza keju itu.
"Apa yang terjadi dengan Justin dan Marry?"
"Menurut rumor yang beredar setelah mengetahui Marry memiliki anak. Itu anak Justin, dan dia tidak mau bertanggung jawab. Makanya dia tidak pernah pulang sejak memilih kuliah di Eropa."
"Bagaimana mereka yakin?"
"Justin memilih universitas lain, dan tidak pernah pulang ke rumah sejak berkuliah. Lalu Marry memiliki anak dan hingga saat ini masih melajang." Jawab Olivia.
"Kamu mengenal Justin?" Selidik Joe.
"Siapa yang tidak mengenal Justin? Kapten tim basket. Siswa tampan, dan idola para gadis gadis. Tapi, sepertinya Marry mampu memikat hatinya."
"Jangan jangan Justin hanya memanfaatkan Marry." Celetuk Joe.
"Awalnya aku berpikiran seperti itu. Tidak percaya Justin bersama Marry. Tapi, dia terlihat tulus, hingga dia pergi ke benua lain, dan meninggalkan Marry yang telah memiliki anak. Dan rumor berkembang sejak saat itu." Tukas Olivia.
"Lalu saat ini di ada di mana?" Tanya Joe.
"Justin berhasil menjadi pengacara. Itu yang aku baca di biografi siswa berprestasi yang ada di buku alumni. Dia bekerja di firma hukum kenamaan. Dan menjadi salah satu pengacara muda yang memiliki nilai bagus. Banyak memenangkan kasus, dan mampu menyelesaikan kasus dengan baik baik dan lancar."
"Jadi Alice adalah anak dari Marry dan Justin?"
"Entahlah Joe!"
*
*
Alice mendengar suara pintu diketuk. Dan saat ini mamanya sedang memasak.
"Tunggu Alice, jangan buka dulu. Biar mama saja yang membuka pintu!" Cegah Marry. Dan merapikan kembali dusuknya Alice di kursi.
Marry melepaskan lap tangannya dan menuju ke pintu.
Cek lek
Pintu terbuka dan Marry sangat terkejut melihat siapa yang telah datang mengunjunginya dan Alice di apartemen yang kecil ini.
"Mau apa datang kemari?" Tanya Marry dengan raut wajah serius.
Belum Kevin menjawab, Alice telah nongol di depannya
"Papa Kevin!" Alice terkejut, namun, suaranya terdengar riang.
Kevin memeluk Alice sejenak. Dan lagi lagi perasaan hangat itu muncul kembali.
__ADS_1