Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Berkelahi lagi


__ADS_3

"Kamu hanya bermimpi menjadi keluarga Mars!" Ejek Hank sambil dengan sengaja menabrak Alice saat berpapasan.


Alice terjatuh, buku yang dibawanya langsung berserakan di lantai. Dia mendengus dan menoleh ke arah Hank dengan tatapan marah.


"Apa urusanmu, hah?!" Balas Alice dengan kesal.


Alice memungut buku yang jatuh, lalu menatap tajam pada Hank.


Hank menyeringai senang, lalu menarik rambut Alice hingga terjatuh. Dia tidak suka, jika Alice tidak meladeninya.


"Aduh!" Alice menatap Hank dengan kesal.


"Baiklah. Siswa kelas khusus. Ada yang tahu, khususnya di mana? Mamanya menemui Tuan Mars dan tidur dengannya, lalu meminta sekolah untuk menerimanya jadi siswa kelas khusus juga." Ucap Bank sambil tertawa mengejek. Lalu beberapa siswa yang mengikuti Hank ikut tertawa.


Alice sangat marah, jika Hank membawa bawa mamanya.


"Itu tidak benar!" Serunya dengan geram.


Alice mendekati Hank, menatapnya tajam. Hank tersenyum mengejek.


"Kamu bisa menang karena bantuan mamamu yang mendekati Tuan Mars."


"Tidak! Aku berusaha sendiri. Jika tidak percaya, aku bisa membuktikan." Sahut Alice dengan kesal.


Hank tersenyum sinis dan mendorong tubuh Alice. "Apa yang perlu dibuktikan?"


"Kamu punya kemampuan apa? Tunjukkan! Kita adu membuat karya, bukan hanya mengejek." Tukas Alice balas mendorong tubuh Hank.


"Bagaimana bisa mamamu membelikan kamu gadget canggih. Aku juga sering melihat mamamu pergi ke hotel hotel mewah." Sahut Hank.


"Mamaku bekerja!" Teriak Alice.


Kedua anak kecil tadi saling dorong dan balas dorong.


Pemicu permusuhan itu awalnya adalah ketika Hank dan Alice mengikuti kompetisi membuat robot. Hank yang dari keluarga mampu, dengan peralatan modern dan canggih, membuat robot yang bagus. Namun ternyata kalah dengan robot yang dapat membantu memberi makan hewan peliharaan buatan Alice.

__ADS_1


Alice membuat alat itu dengan bahan yang sederhana dan murah, namun sangat membantu kehidupan sehari-hari. Robot pemberi makan hewan tadi, banyak yang tertarik. Akhirnya menjadi milik Mars Company dan Alice mendapat uang sebagai hadiah.


Lalu Alice membuat bantal anti mendengkur, yang akhirnya penemuannya yang sederhana itu dibeli oleh sebuah perusahaan dari Jepang, dan Alice mendapatkan hasil yang besar dari penjualan penemuannya itu.


Itulah yang membuat Hank menjadi iri dan tidak suka. Suatu hari, Hank ikut ayahnya saat bekerja di hotel. Ayah Hank adalah manager hotel milik keluarga Mars. Sedang mamanya hanya ibu rumah tangga yang memiliki hobi berkumpul dengan sosialita.


Suatu hari, Hank melihat Marry, mamanya Alice keluar dari hotel. Padahal saat itu dia sedang menyiapkan kamar kejutan untuk mempelai pengantin karena mereka melangsungkan pesta di hotel tempat ayah Hank bekerja.


Setelah itu, Hank menceritakan itu pada mamanya saat berkumpul dengan teman sosialitanya. Dan ada beberapa wanita sosialita istri pengusaha kaya, yang dahulu teman sekolah Marry, langsung menceritakan rumor bahwa Alice adalah anak dari hubungan gelap Marry dengan pejabat, pengusaha, dengan kata lain, Marry adalah wanita panggilan.


Itulah mengapa Alice tidak memiliki ayah, karena Marry, mamanya terlalu banyak berhubungan dengan lelaki, jadi tidak yakin siapa ayah kandungnya.


Itulah yang menjadi senjata Hank, untuk menyebarkan rumor dan menjelekkan Alice di mata teman temannya. Karena Alice selau melawan jika Hank dan geng nya sedang mengganggu.


Bahkan Alice selalu membantu melawan teman lain, yang sedang diganggu oleh Hank dan teman temannya.


"Ayo, kita laporkan pada Bu Olivia!" Seru seorang teman sambil berlari kecil menuju kantor.


Di koridor anak anak sudah tampak ramai menonton perkelahian antara Hank dan Alice.


Seketika saat Hank membuang kertas itu. Alice, langsung mendorong tubuh Hank, dan menggigit tangannya kuat kuat hingga membekas.


"Aaaarrgg..!" Hank berteriak, lalu mendorong balik tubuh Alice.


Dan perkelahian tak terelakkan.


Di kejauhan beberapa guru dan kepala sekolah, berlari tergopoh-gopoh menuju TKP, lalu mengamankan dua bocah tadi.


"Brengsek kamu Hank!" Teriak Alice.


"Anak pelacur!" Balas Hank.


Alice meronta-ronta dalam dekapan Olivia, sambil menutup telinga Alice supaya tidak mendengarkan semua ocehan Hank.


*

__ADS_1


Olivia menghubungi Marry, namun, saat ini dia sedang berada di luar kota sedang menjemput nenek dari keluarga Terence di sebuah panti asuhan.


Lalu Olivia menghubungi Joe, mengabarkan keadaan Alice yang sedang terkena masalah di sekolah.


Tak selang berapa lama, Kevin segera datang ke sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah.


Usai menemui kepala sekolah, Kevin menghampiri Ayah Hank, yang tertunduk saat melihat Kevin.


"Maaf Tuan Mars. Saya sungguh tidak tahu, Hank akan menganggu Alice." Ucap Ayah Hank dengan suara lirih.


"Aku hanya minta, kamu ajari anakmu sopan santun. Alice hanya melawan saat diganggu olehnya. Dan ada banyak siswa lain yang telah menjadi korban kenakalan Hank. Satu lagi, aku tidak mau lagi ada laporan dari pihak sekolah mengenai hal seperti ini lagi. Atau aku akan melaporkan hal ini pada Mama dan Papa." Ucap Kevin.


"Ja-jangan Tuan. Saya yang akan mengajari dan menasihati Hank." Sahut ayah Hank terbata bata.


Kevin mengangguk dan berlalu menghampiri Alice yang duduk ditemani oleh Olivia.


"Maaf, Tuan Mars. Aku terpaksa menghubungi Joe mengabarkan masalah ini." Olivia merasa tidak enak pada Kevin karena takut menganggu pekerjaannya.


"Tadi aku telah menghubungi Marry, namun dia ada di luar kota. Sophie sedang mengantar pasien gawat darurat ke rumah sakit, dan Ben sedang mengantar pesanan pelanggan untuk pesta. Jadi yang terpikir adalah Anda, maka saya dengan sangat terpaksa menghubungi Joe." Sambung Olivia berkata dengan cepat alasan menghubungi Joe.


"Tidak masalah. Aku akan selalu siap mengenai Alice. Dan aku rasa sejak saat ini Hank tidak akan menggangu Alice lagi." Sahut Kevin sambil tersenyum lebar lalu melirik Alice.


"Astaga, pakaianmu jadi kotor seperti ini, rambutmu berantakan. Apa yang akan dikatakan Mamamu saat melihat ini?" Ucap Kevin sambil menggelengkan kepalanya sambil berjongkok sejajar dengan Alice.


"Dia bermulut besar! Dan mengatakan mamaku pelacur. Aku tidak terima itu." Dengus Alice kesal.


"Dia tak akan mengulangi lagi. Jika dia mengulangi lagi, maka orang tuanya yang akan menanggung akibatnya." Ucap Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ayolah, jangan kesal lagi! Atau kita bisa ke toko es krim setelah ini, lalu ke tempatku, hingga mamamu menjemput." Rayu Kevin, yang melihat Alice masih cemberut.


Alice tersenyum sambil menatap Kevin, lalu dia mengangguk kuat kuat.


Olivia tersenyum menyaksikan kedekatan antara Kevin dan Alice.


Dia pun merasakan ada sebuah ikatan yang terjalin di antara keduanya. Perlakuan Kevin yang benar benar seperti ayah, terlihat tulus.

__ADS_1


Setelah mengucapkan terima kasih pada Olivia, Kevin dan Alice segera berlalu meninggalkan sekolah.


__ADS_2