Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Cerita di pagi hari


__ADS_3

Si pelayan sedang membersihkan dapur saat Marry dan Kevin sedang menikmati sarapan mereka yang tertunda tadi.


Pelayan itu senyum senyum sendiri sambil melirik ke arah Marry yang tersipu malu karena ketahuan melakukan adegan pemanasan tadi.


Kevin hanya terkekeh melihat pemandangan itu.


"Masih ingat, gadis kecil yang pernah kemari beberapa bulan yang lalu?" Tanya Kevin pada pelayannya.


Si pelayan itu terdiam sambil mengerutkan keningnya mengingat yang dimaksud oleh majikannya.


"Oya. Yang mengenalkan diri sebagai putri Anda." Sahut pelayan itu dengan raut wajah tak yakin. Karena seingatnya hanya gadis kecil itu lah yang pernah datang ke villa.


"Ya. Dan ini adalah ibunya." Ucap Kevin sambil meneruskan menikmati omelette buatan Marry.


"Sungguhkah?" Tanya pelayan itu tak percaya.


Kevin mengangguk sambil mengunyah makanannya.


"Ya, Alice adalah putriku. Dan namaku Marry." Sahut Marry sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pelayan itu.


"Mina." Pelayan itu menyebutkan namanya sambil membalas uluran tangan Marry.


"Bagaimana bisa? Apakah ini kebetulan? Atau memang sudah lama berhubungan dengan Tuan Kevin?" tanya pelayan itu dengan sopan.


"Hanya kebetulan saja. Salah paham awalnya." Sahut Marry dengan malu.


"Ya, salah paham yang menyenangkan." celetuk Kevin.


Mina si pelayan hanya terkekeh.


"Sudah lama bekerja di sini?" Tanya Marry sambil menatap wanita paruh baya itu.


"Sudah belasan tahun silam, saat villa ini dibeli dan dirombak oleh Tuan Mars. Lalu saya dipercaya untuk bekerja di sini. Saya tinggal di pondok kecil di belakang sana." Ucapnya sambil menunjuk ke sebuah rumah kecil di dekat pantai.


"Apa tidak takut tinggal di sana?" Tanya Marry penasaran.


Mina menggelengkan kepalanya.


"Sejak kecil, aku tinggal di sana. Bahkan aku telah bekerja pada pemilik sebelumnya."

__ADS_1


"Oya? Lalu ke mana pemilik yang lama?" Cecar Marry.


"Pemilik sebelumnya telah meninggal dunia. Seorang kakek yang tidak memiliki istri dan anak. Aku selalu menemaninya pada masa masa akhir hidupnya. Lalu setelah meninggal, ada keluarganya datang dan mengatakan bahwa rumah ini telah terjual pada Tuan Mars. Lalu Nyonya Mars mengetahui aku pelayan di rumah ini sebelumnya, lalu menawari kembali pekerjaan mengurus villa ini." Carita pelayan itu sambil tersenyum kecil.


Marry manggut-manggut mendengar cerita pelayan vila keluarga Mars itu dengan tenang.


"Silahkan coba masakanku." Marry menawarkan pancake dan omelette buatannya pada Mina.


"Sudah, Nona, terima kasih. Saya sudah sarapan sebelum ke mari." Mina tersenyum sambil meneruskan pekerjaannya kembali.


Marry menikmati sarapan sambil menatap Kevin yang memakan dengan lahap masakannya.


"Kamu seperti tiga hari nggak makan saja!" Ledek Marry sambil menoleh ke arah Kevin.


"Karena masakanmu sangat lezat. Pantas saja kedainya sangat ramai. Dan orang rela antri untuk mendapatkan sekotak muffin atau cupcake buatanmu."


"Oya, lalu apa rencanamu untuk ulang tahun Alice besok." Tanya Marry mengalihkan pembicaraan.


"Terserah padamu saja. Alice suka apa? Mungkin menjadi tema ulang tahunnya besok."


"Dia suka kuda pony. Aku bisa membuatkan kue dan menu kudapan untuk pestanya besok. Perayaan akan di rumah Sophie. Kebetulan Nana sudah pulang. Alice pasti sangat senang jika berkumpul dengan orang-orang terdekatnya. Dan tidak lupa dirimu. Karena kamu adalah idolanya."


Marry tersenyum tipis saat mengucapkan itu.


"Alice pernah bertanya padaku tentang papanya. Dan aku selau menjawab, papanya cerdas seperti dirinya. Dan papanya lulusan MIT dengan nilai cumlaude." Marry menatap Kevin.


Kevin masih memperhatikan Marry saat bercerita.


"Aku tak pernah menyebut namamu selama itu. Hingga suatu hari dia menemukan foto kita di laci meja milikku yang sengaja aku bawa ke apartemen untuk meja kerjaku."


"Bagaimana kamu mendapatkan fotoku?"


"Justin." Marry menjawab sambil menerawang


Jawaban Marry membuat Kevin terkejut dan mengerutkan keningnya.


"Justin sangat mengidolakan dirimu. Karena selain pintar, kamu adalah kapten tim basket sewaktu di universitas. Itulah yang membuatku nekad meminta foto bersama dan niatku untuk meminta tanda tanganmu. Tapi sebelum aku meminta tanda tangan kejadian itu berlangsung." Marry menghela napas dalam-dalam.


Ada kepedihan tersirat di dalamnya.

__ADS_1


Kevin turun dari kursinya, dan mendekati Marry dan memeluk wanita itu.


"Tapi, yang lebih menyebalkan lagi, ternyata Justin mendapatkan foto dan tanda tangan dari Terence. Huh, tau seperti itu, aku tak harus lembur malam itu." Ucap Marry sambil mendorong tubuh Kevin dan berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri di depan jendela sambil menatap gulungan ombak di laut yang berkejaran.


Mina si pelayan datang kembali sambil membawa pakaian kotor Marry dan Kevin, serta sprei tempat tidur mereka yang kotor. Membawa semuanya ke ruang laundry dan membersihkan di sana.


Sambil menunggu mesin pencuci bekerja, Mina membersihkan peralatan masak yang menumpuk di wastafel dengan memasukkan ke dalam mesin pencuci piring.


"Kamu sungguh rajin sekali." Puji Marry.


"Itu sudah tugas dan kewajibanku, Nina." Sahut Nina dengan sopan.


Marry menuju ke meja dapur, dan mengambil cangkir, lalu menuangkan kopi ke dalam cangkir itu dan meletakkan satu di depan Kevin dan yang satu untuk dirinya.


Sambil menatap Nina yang sibuk menyusun peralatan makan dan masak itu pada tempatnya. Marry mulai mengajak Mina mengobrol.


"Apakah pada acara ulang tahun Kevin dulu, kamu ada?" Tanya Marry penuh selidik.


Kevin yang pendengar pertanyaan Marry pada Mina segera menoleh ke arah Marry dan Mina bergantian.


"Saya tidak bekerja hari itu karena semua yang mengurus event organizer milik Nyonya Ruth. Namun, paginya saya datang untuk bekerja kembali." Jawab Mina sambil berusaha mengingat kejadian yang hampir delapan tahun silam.


"Apakah Kevin juga tidur dengan banyak wanita saat pesta ulang tahunnya saat itu?" Cecar Marry penasaran.


Mina terkekeh mendengar pertanyaan Marry.


"Aku tidak tahu itu milik gadis yang bernama Tuan Kevin atau temannya saat itu. Tapi, pagi itu di kamar atas sprei ada noda darah. Sepertinya ada yang seorang gadis yang melepas kesuciannya malam itu. Karena, di kamar tamu yang ada di pojok, saya juga menemukan hal yang sama, tapi saya melihat Terence, putra Nyonya Ruth bersama dengan kekasihnya. Yang saat ini telah menjadi istrinya." Mina menceritakan kisah pagi saat bekerja membersihkan tempat tidur villa usai pesta.


Kevin meletakkan garpu di atas piring dan menatap Mina.


"Benarkah?" Tanya Kevin.


Mina menatap majikannya.


"Maksud Tuan apa?"


"Maksudku, bagaimana kamu tahu itu noda darah melepas kesucian wanita?" Tanya Kevin penasaran.


"Saya sering melihat dan membersihkan muntahan orang yang mabuk berat. Noda darah pasti ada, jika seseorang yang masih menjaga kesuciannya." Terang Mina.

__ADS_1


"Itu milikku, bersama Kevin." Ucap Marry dingin.


Sontak ucapan Marry membuat Mina terkejut dan menatap tajam ke arah Marry.


__ADS_2