Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Teler


__ADS_3

"Ayo kita pulang Joe!"


"Aku tak mau! Aku mau di sini! Aku mau menikmati minuman di sini sampai habis, sampai besok, sampai aku tak bisa menatap matahari lagi!" Rancau Joe sekena hatinya.


"Joe, besok kamu harus bekerja kembali. Aku membutuhkanmu Joe! Ayo lah Joe!" Bujuk Kevin.


"Ayo temani aku minum dulu!" Joe mengacungkan gelasnya, lalu meneguk hingga habis.


Kevin merebut gelas itu, lalu menaruh di meja.


Meletakkan beberapa lembar dolar di bawah gelas, lalu menyeret Joe keluar dari bar itu.


"Mengapa kamu membawaku pulang, hah? Bukannya kamu telah memiliki istri yang cantik itu! Tidak ada lagi yang menginginkan aku, Kev!"


Kevin hanya bisa menghela napas sambil memasukkan Joe dalam mobilnya, lalu mengantar ke apartemennya.


"Astaga Joe! Berat sekali tubuhmu! Mana memakai tangga pula! Apa gajimu tak cukup untuk menyewa apartemen yang lebih bagus?" Rutuk Kevin dalam hati sambil memapah Joe perlahan naik melalui tangga apartemen.


"Aku tidak mau pulang Ke!" Pinta Joe.


"Aku tak bisa membiarkan kamu tidur di jalanan, teman!" Sahut Kevin sambil terus menaiki anak tangga dengan susah payah.


"Aku tak ingin bertemu dengan Oliv. Atau Oliv yang tak ingin bertemu denganku?" Ucap Joe sambil tertawa kecil.


"Kevin, kamu sungguh beruntung memiliki Marry! Aku pun ingin memiliki yang seperti itu."


"Ayo Joe, sebentar lagi sampai di tempatmu!" Ajak Kevin untuk terus menaiki anak tangga satu per satu.


Napas Kevin sudah ngos-ngosan saat mengantar Joe yang tinggal di lantai lima.


Kevin memasukkan anak kunci pada lubang kunci, lalu memutarnya.


Kevin memapah Joe pada ranjangnya.


Joe masih mengoceh tak karuan mengenai Olivia, Marry, dan Kevin, Brenda, Alice. Banyak hal semua keluar dari mulut Joe saat sedang mabuk.


Kevin menuju ke kulkas, dan mengambil sekaleng minuman bersoda.


Menatap sekelilingnya. Ruangan apartemen Joe.


Sudah lama dia tak datang berkunjung ke apartemen ini. Sejak Joe bekerja dengannya. Meskipun gajinya besar, Joe tak ingin pindah dari tempat ini. Joe masih trauma tinggal di apartemen mewah.


Kekasih Joe sebelumnya, adalah seorang putri keluarga kaya. Dan juga teman satu sekolah mereka. Mereka bersekolah di sekolah elit sejak kecil.


Joe sudah terbiasa dengan banyak kemewahan, sama seperti Kevin. Hingga suatu hari sang kekasih meninggal karena kecelakaan. Mobil mewahnya menabrak truk tronton di jalan tol.


Sejak itu Joe sama sekali berubah total. Tidak mau tinggal di apartemen yang mewah. Mengembalikan mobil mewah milik Papanya, dan memilih menggunakan transportasi umum.


Hidupnya kacau, dan tinggal di jalanan untuk beberapa saat. Hingga Kevin yang baru saja lulus dari MIT, menemukan Joe dipukuli preman di jalanan.


Kevin menolongnya, dan memberi tempat tinggal. Memberi pekerjaan, dan membantu mengatasi keterpurukan Joe perlahan-lahan.


Keluarga Joe, sangat berterimakasih kepada Kevin.


Bahkan telah menganggap Kevin seperti anak mereka juga.


Joe yang serius, selalu menjadi andalan Kevin saat kelewat batas. Selau menjaga Kevin.


Mereka bersahabat sejak kecil, dan hanya berpisah saat mereka kuliah saja. Itu pun mereka masih sering bertemu dalam berbagai acara.


"Damn! Ponselku ketinggalan di mobil!" Rutuk Kevin seraya menepuk jidatnya.


Ia lalu bergegas keluar dan menuju mobilnya, lalu kembali lagi naik ke lantai apartemen Joe.


"Lelahnya Joe!" Kevin terengah-engah pada anak tangga terakhir.


Kevin menyeka keringat yang menetes dari rambutnya. Satu tangannya menopang pada tembok, dan satu tangannya berada di pinggang.


Kevin mengatur napasnya sejenak.


"Kevin?!"

__ADS_1


Panggil seseorang dari arah atas.


Kevin mendongak kepalanya.


"Hai, Olivia." Ucapnya sambil terengah-engah.


"Kamu kenapa? Kenapa kelihatan lelah sekali."


"Aku.. aku lelah!" Ucap Kevin yang mendadak pusing.


Kevin terduduk pada anak tangga sambil mengatur napasnya.


"Tunggulah di sini, aku membuang sampah sebentar."


Setelah sekitar lima menit menunggu, akhirnya guru sekolah Alice itu kembali lagi.


"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" Olivia menatap Kevin dengan khawatir.


"Terima kasih."


Olivia tersenyum lega.


"Ngapain ada di sini?"


"Aku mengantar Joe. Ponselku tertinggal di mobil, jadi aku terburu-buru mengambilnya."


Olivia tersenyum, dia lupa, bahwa Kevin adalah atasan Joe.


"Lalu sekarang Joe?"


"Kamu mau melihatnya?" Tanya Kevin.


Olivia menggeleng cepat. Membuat Kevin mengerutkan keningnya.


"Hubungan kami telah berakhir." Ucap Olivia.


BRUUKK!


Terdengar suara benda terbentur dari kamar Joe.


Kevin segera membuka pintu ruangan itu dan melihat Joe tergeletak di lantai dan tertindih lemari pajangan.


"Astaga!" Ucap Kevin dan Olivia bersamaan.


Lalu keduanya bergegas menolong Joe yang masih dalam pengaruh alkohol itu.


"Kamu punya es batu?" Tanya Kevin.


"Ya. Akan aku ambilkan." Ucap Olivia, segera menuju kamarnya untuk mengambil es batu.


Tak lama Olivia masuk dengan semangkuk es batu.


Kevin membantu temannya yang sedang muntah di kamar mandi. Lalu memapahnya ke tempat tidur.


Kevin membuka kemeja Joe, dan melepas sepatunya.


"Ini es batunya?"


"Terima kasih."


Kevin mengambil handuk kecil dan meletakkan es batu di sana, lalu mengompres kening, dan tangan Joe yang tadi tertindih lemari.


Olivia melihat semua itu dengan tatapan terkejut dan kagum.


Setelaten itu, Kevin mengurus Joe.


"Akan aku buatkan air jahe untuknya."


Kevin mengangguk.


Saat Olivia membuatkan minuman di dapur Joe, Kevin mengganti pakaian Joe.

__ADS_1


Olivia ke kamar dengan segelas air jahe.


Kevin menegakkan punggung Joe, dan Olivia menyuapi dengan sendok sedikit demi sedikit air jahe.


"Lana.. Lana.. Lana.." Rancau Joe usai meminum air jahe dengan mata tertutup.


Olivia terdiam sejenak, saat mendengar Joe menyebut sebuah nama.


"Biarkan dia istirahat dulu. Semoga besok pagi dia membaik." Ucap Kevin.


"Ya." Olivia mengangguk lemah.


"Bisakah aku titip Joe padamu malam ini, hingga besok. Karena aku juga tengah mempersiapkan pesta resepsi pernikahanku." Ucap Kevin.


"Tapi.."


"Atau setidaknya hingga besok pagi. Besok aku akan suruh bawahanku untuk kemari melihat Joe."


"Ya. Sebelum aku berangkat bekerja, akan aku usahakan untuk melihatnya." Ucap Olivia.


"Terima kasih."


Kevin tersenyum, lalu berlalu meninggalkan kamar Joe, yang kini ada Olivia sendiri di sana.


"Lana... Jangan pergi! Lana jangan tinggalkan aku sendirian..."


Joe kembali mengigau.


"Siapa Lana? Dia baru beberapa hari tidak bersamaku sudah menyimpan nama lain dalam hatinya! Tapi aku juga tak bisa bersama Joe. Keparat itu pasti akan mendekati Joe dan keluarganya, dan memeras mereka. Aku tak boleh egois!"


Olivia duduk di sofa yang ada di kamar Joe, mengawasi lelaki itu yang akhirnya dapat tertidur.


Olivia menyandarkan kepalanya pada bantalan pinggir sofa, dan perlahan memejamkan matanya.


*


"Kamu baru pulang? Ada apa? Kamu baik baik saja? Kamu dari mana saja? Aku menghubungi Kim, katanya kamu sudah pulang. Kev, kamu sungguh tidak apa apa?"


Marry menyambut kedatangan Kevin membombardir dengan banyak pertanyaan.


Kevin memegang bahu Marry dan menatap wajah istrinya itu.


"Seperti yang kamu lihat saat ini. Aku baik baik saja, Marry. Dan aku sangat merindukanmu."


Joe melayangkan ciuman pada bibir Marry.


Marry mendorongnya tiba tiba.


"Kamu itu bau banget, tau! Kamu habis minum ya?" Selidik Marry.


"Aku mau membersihkan diri sebentar, nanti akan aku ceritakan."


"Hah?"


"Tunggulah, aku mandi sebentar. Atau kamu mau menemaniku?" Goda Kevin.


Marry menjebik dengan kesal pada Kevin. Lalu memukul lengannya.


"Sudah sana!"


- BERSAMBUNG -


Jangan lupa sematkan bintang 5


🌟🌟🌟🌟🌟


like dan favoritkan ya , kak.. terima kasih 😘


Silahkan mampir ke karya saya yang lain.


TIRANI IBU MERTUA

__ADS_1


HARTA, TAHTA, BIDUANITA


terima kasih 😘😘


__ADS_2