Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Di apartemen Kevin


__ADS_3

"Cobalah untuk mencoba hal baru. Menikmati kebersamaan bersama keluarga Will. Lepas dari kemewahan yang selama ini ada di rumahmu."


Marry menatap Emily dengan sungguh sungguh.


"Aku menemuimu karena aku merasa nyaman denganmu. Bukan karena aku mengetahui Alice adalah putri Kevin. Bukan itu. Tapi aku merasa kamu dapat aku percaya. Selama ini aku tak memiliki teman yang benar-benar seorang teman. Bahkan dengan Mamaku pun aku tak dekat, meskipun tinggal satu rumah."


"Oh. Aku sangat tersanjung, Em."


Marry memeluk Emily dengan erat.


"Maaf. Aku ikut terlibat urusanmu dengan Kevin. Aku tak percaya bagaimana bisa Kevin melakukan itu padamu? Aku tak pernah mendengar kamu ke acara pesta pesta liar yang sering dikunjungi oleh adikku itu."


Marry tertawa, namun terdengar getir. Emily dapat merasakannya.


"Jadi kamu mengetahui Alice putri Kevin?"


"Aku lah yang menguji hasil sampelnya. Bahkan aku uji beberapa kali supaya tidak salah. Dan hasilnya 99,9% cocok. Kevin adalah ayah dari Alice." Jawab Emily sambil menyesap kopinya kembali.


"Terima kasih, telah memastikan dia benar-benar anak dari adikmu itu." Marry tersenyum kecut.


Emily menatap Marry. Terlihat ada kesedihan yang dia pendam selama ini.


"Maafkan Kevin. Aku tahu, selama ini kamu pasti berat melalui semuanya sendiri. Kamu wanita yang sangat tegar dan kuat, Marry. Aku sangat kagum padamu." Emily menepuk pundak Marry.


Marry tak percaya Emily mengagumi dirinya. Seorang Emily Mars idolanya sejak remaja, kagum padanya. Marry merasa tersanjung.


"Kamu tahu, aku sempat cemburu padamu." Ucap Emily jujur.


"Cemburu padaku?" Marry mengerutkan keningnya.


"Mulanya dia memberi rekomendasi supaya kamu dapat membuka gerai di depan sana. Lalu terkadang dia menyebutkan namamu, selain Nana. Lalu Alice yang ternyata putrimu. Itu saja sudah membuatku berpikir yang bukan bukan. Lalu saat pesta ulang tahun papaku, Will pulang denganmu. Memperlakukan kamu dengan manis, dan aku melihatnya."


Marry tertawa mendengar pengakuan jujur Emily.


"Lihatlah, Em. Kamu menyukai Will. Ayolah, tunggu apa lagi. Kapan kapan ikutlah bergabung bersama kami, saat Nana sudah diperbolehkan pulang."


"Baiklah. Bagaimana hubunganmu dan Kevin?" Emily mengalihkan pembicaraan.


Marry menghela napas dalam-dalam dan menatap jalanan.


"Aku tidak tahu. Tapi aku mencoba untuk bisa menerima dirinya dekat dengan Alice, dan masuk dalam kehidupan kami." Sahut Marry sambil menatap Emily.


"Mengapa kamu tidak pernah datang untuk meminta pertanggungjawaban Kevin?" Tanya Emily penasaran.


"Untuk apa? Hanya untuk mempermalukan diriku saja? Dan mungkin bukan hanya aku korban Kevin."

__ADS_1


"Marry, aku bisa pastikan, adikku tidak memiliki anak lain selain Alice." Sahut Emily dengan yakin.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Sebrengseknya adikku. Dia tidak pernah menyukai anak anak. Dan dia akan tetap sadar saat melakukan kegiatan panasnya itu. Dia selalu menyimpan pengaman dalam dompetnya untuk berjaga jaga. Aku juga tahu dia dan Brenda hanya pasangan bayaran saja. Kevin dan Brenda hanya saling bersenang senang saja. Hingga akhir akhir ini. Sepertinya Kevin berubah, sejak mengenal Alice dan dirimu."


Marry terdiam. Hidupnya pun berubah sejak Alice menemui Kevin.


Marry tak ingin terluka lagi. Dia ingin melupakan semua dan menyimpan semua rapat dalam hatinya.


Namun, keinginan Alice untuk memiliki dan merasakan kasih sayang seorang ayah. Membuat Alice terus bertanya tentang masa lalu Marry. Dan secara tak sengaja, dia menunjukkan dengan asal sebuah fotonya dan Kevin yang tersimpan di dalam laci. Yang sebenarnya itu untuk Justin, karena sangat mengidolakan Kevin saat mereka sekolah dulu.


Ternyata cerita khayalan Marry diingat oleh Alice, dan dengan mudah dia mendeteksi wajah Kevin dan mencari sendiri tempat tinggal Kevin saat Marry sedang bekerja ke luar kota.


Sebelum berpisah, sekali lagi Emily memeluk Marry dan mengucapkan banyak terima kasih. Dia pun berjanji akan mencoba hal hal baru seperti yang disarankan Marry.


*


Marry tiba di apartemen Kevin dan langsung menuju lift yang membawanya ke unit milik Kevin langsung.


Ting!


Tanda lift telah tiba di lantai tujuan. Lalu pintu lift terbuka lebar. Marry melangkah keluar dan menuju langsung ke pintu unit milik Kevin.


Ding Dong!


Tak lama pintu terbuka dan Kevin berada di ambang pintu.


Mereka saling berpandangan sejenak.


"Silahkan masuk." Ucap Kevin sambil melebarkan pintunya. Setelah Marry masuk dia menutup kembali pintunya.


Marry melayangkan pandangan ke seluruh ruangan tempat tinggal Kevin. Dia baru menyadari bahwa apartemen milik Kevin ini jauh lebih besar dari rumah milik orang tuanya yang saat ini menjadi tempat tinggal Sophie dan keluarga kecilnya.


Unit apartemen yang sangat mewah. Bahkan Marry tak pernah membayangkan tinggal sendirian di unit sebesar ini.


Marry tak melihat Alice.


"Alice tertidur di kamar." Kevin menunjuk sebuah kamar.


Marry ingat, itu kamar yang pernah dia masuki, saat mengetahui Alice bersama Kevin selama dirinya pergi bekerja tempo hari.


"Oh. Apakah sudah lama dia tidurnya?" Tanya Marry.


"Aku rasa baru sekitar lima belas menit yang lalu." Sahut Kevin.

__ADS_1


"Oya, aku sedang memasak, apa kamu mau bergabung denganku..."


"Ya. Tentu." Jawab Marry dengan cepat.


Marry mengikuti Kevin menuju ke dapur.


Marry terpana. Sebuah dapur yang sangat mewah. Dapur impian Marry selama ini. Sangat sangat elegan dan pasti mahal harganya


Mejanya terbuat dari marmer. Dapur dicat putih dengan list warna kayu. Perabot dapur dan peralatan masak bukan yang murahan pastinya. Oven, kompor, mesin mencuci piring. Semua yang ada di dapur ini benar benar seperti yang ada di benak Marry sejak dulu. Impiannya memiliki dapur yang mewah seperti ini.


Marry masih terkagum kagum menatap dapur milik Kevin.


"Marry... Marry, Hai, Hallo!" Tegur Kevin menyadarkan Marry dari lamunannya.


"Oh..iya! Maaf. A-aku.. tidak pernah melihat dapur seperti ini." Ucap Marry sambil tangannya menyusuri marmer meja dapur di apartemen Kevin.


Kevin tersenyum. Dia menyiapkan bahan untuk membuat saos spaghettinya.


Marry masuk ke dapur dan berdiri di samping Kevin.


Tangannya dengan lincah memotong bumbu bumbu, lalu memasukkan ke dalam panci. Sembari memasak spaghetti kering direbus hingga lunak.


Kevin terpana menatap Marry. Yang lagi lagi terlihat sangat cantik saat berada di dapur.


Jantung Kevin berdebar kencang menatap wajah Marry.


Marry masih sibuk memasak dan mengaduk aduk saos untuk spaghetti.


Lalu setelah matang semua. Marry menaruh spaghetti yang telah tercampur saos ke dalam mangkuk.


Lalu menaruh ke atas meja makan. Marry menyiapkan alat makan untuk mereka.


Setelah menyiapkan makanan di atas meja. Marry menuju wastafel untuk mencuci perkakas yang telah dia gunakan untuk memasak.


Kevin berdiri di samping Marry, bersandar pada dinding, sambil menatap Marry yang sibuk mencuci piring.


Kevin tertawa geli melihat Marry yang mencuci piring secara manual. Padahal di situ ada mesin cuci piring.


Kevin membiarkan saja Marry melakukan. Dia ingin menatap Marry lebih lama.


Selesai mencuci piring, dan mengeringkan tangannya. Marry membalikkan tubuhnya dan.


DEG!


Kevin ada di belakangnya persis. Dan kini mereka saling berhadapan, dengan jarak sangat dekat.

__ADS_1


Kevin benar benar ingin meraih pinggang Marry dan me ***** bibir ranum menggemaskan milik wanita di hadapannya ini.


*


__ADS_2