Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Austin


__ADS_3

"Tahan, Bu! Tarik napas dalam dalam, lalu hembuskan perlahan, sesuai instruksi, hitungan ketiga Ibu dorong kuat ya!" Ucap Dokter dengan perlahan, namun tegas.


Marry yang mulai merasakan gelombang cintanya semakin cepat, dan saat bidan memeriksa ternyata sudah genap bukaan 10.


Perawat segera memanggil dokter dan seorang perawat lain untuk mempersiapkan persalinan dalam ruangan.


Kevin menatap dan melihat sendiri perjuangan Marry saat akan melahirkan kali ini. Dia hanya menatap cemas pada istrinya itu, yang terus menggenggam tangannya, bahkan ketika berusaha menahan rasa sakit dia mencengkram dengan kuat, sehingga kulit Kevin tergores.


Kevin merasa sangat kasihan, dia hampir tak tahan. Setiap melihat Marry kesakitan dia selalu bertanya bagaimana jika operasi saja.


"Pak, memang seperti itu, jika hendak melahirkan. Bapak berdoa dan dampingi selalu istri Bapak. Beri semangat, dukungan, dan pelukan, untuk meredam rasa sakitnya. Rasa cinta dan sayang yang Bapak berikan akan sampai pada sang janin, supaya dapat lancar prosesnya." Ucap sang dokter yang menolong persalinan.


"Tapi saya kasihan, Dokter!" Ucap Kevin.


"Tenang, Pak. Semua yang mengalami persalinan normal akan merasakan seperti ini, hanya lama prosesnya yang berbeda beda."


"Lalu, kapan bayi saya akan lahir?"


"Sebentar lagi, Pak. Ini sudah bukaan sepuluh. Kami akan bantu Ibu Marry untuk melakukan yang terbaik."


Kevin menciumi kening Marry dan menyeka keringat yang keluar dari sela rambutnya.


"Baik, Bu. Sekarang silahkan mengejan!" Instruksi dokter.


Marry dengan sisa kekuatannya, melakukan instruksi dokter dengan baik.


Oe...oe...oe....


Tangisan bayi terdengar membahana di ruang persalinan.


"Bu, tolong mengejan sekali lagi!" Ucap dokter lagi.


Dan Marry pun melakukannya dengan baik.


Bayi mungil yang baru lahir itu dibersihkan darah dan kotoran yang menempel di tubuhnya oleh bidan, lalu diletakkan di dada Marry.


"Ya Tuhan!" Marry masih mengagumi bayi mungil yang ada di dadanya, bayi itu bergerak perlahan, seolah mencari sesuatu.


Bidan membimbing bayi mungil untuk mencari yang dibutuhkannya.


Saat proses menyusui dini itu, Marry hanya bisa menangis harus. Kevin menggenggam jemari istrinya, lalu mengabadikan momen mengharukan itu melalui ponselnya dan mengirimkan pada Alice, mama, dan Emily.


Setelah sang bayi puas menyusu dan tertidur. Bidan membersihkan tubuhnya, dan membawanya ke ruang bayi.


Marry telah dipindahkan ke ruang perawatan, Kevin masih setia menemaninya.


"Terima kasih, Sayang! Kamu memang wanita yang sangat hebat. Aku mencintaimu." Ucap Kevin sembari mencium kening istrinya.


Marry mengangguk lemah.


Kevin membiarkan Marry beristirahat. Dan dia menuju ke ruang bayi untuk melihat bayi mungil itu.


Kevin berdiri menatap sosok tubuh mungil melalui kaca pembatas, dengan nama bayi Nyonya Marry Mars.

__ADS_1


Bayi berjenis kelamin laki laki itu menatap ke arah Kevin, dan tersenyum sambil bergerak gerak pelan memainkan mulutnya.


Matanya masih tertutup, namun, seolah tahu, sedang diperhatikan oleh papanya.


"Selamat Kev!" William menepuk bahu Kevin lembut.


"Terima kasih."


"Kondisinya sangat sehat. Kebetulan aku sendiri yang memeriksa kesehatan putramu dan Marry."


Kevin tersenyum sambil menatap William.


"Aku sangat bersyukur sekali pada Tuhan. Aku tak menyangka dapat melihat proses kelahiran putra kami. Kesakitan Marry, aku benar-benar tak sanggup melihatnya. Tapi, saat mendengar suara tangisnya, semua kesakitan itu langsung seakan menghilang. Marry bahkan tak merasakan sakit lagi meski dokter sedang menjahit lukanya tanpa bius."


William tersenyum menanggapinya.


"Kalian sangat beruntung. Kelahiran kali ini jauh berbeda, waktu Alice lahir. Tapi, aku percaya, kalian dapat membesarkan, merawat, dan mendidik anak anak kalian dengan baik. Aku tak percaya, dalam. Waktu dekat mengalami melihat kelahiran bayi dalam bulan yang sama."


Emily telah melahirkan, dua Minggu yang lalu. Dan kali ini Willian telah menjadi seorang ayah.


"Selamat untuk kita semua. Kali ini keluarga Mars memiliki keturunan baru lagi." Ucap Kevin.


"Ya." Sahut William.


*


"Hallo.. Sayang!" Nyonya Vicky menghambur masuk ke dalam ruangan dan memeluk Marry.


"Aku harus datang juga kali ini. Aku sangat senang, dalam bulan yang sama, aku mendapatkan dua cucu sekaligus." Cerocos Nyonya Vicky sambil tersenyum bahagia.


Tuan Morgan tersenyum menatap Marry.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Baik, Tuan, eh. papa." Jawab Marry, yang masih segan memanggil ayah Kevin dengan sebutan papa.


"Mana cucu kami?" Tanya Nyonya Vicky.


"Ayo ikut aku, Ma, Pa!" Ajak Kevin.


"Sayang, aku antar mama dan papa lihat Babay boy kita." Pamit Kevin.


Marry mengangguk.


*


Sekitar dua puluh menit berlalu, bayi Kevin dan Marry diantar ke kamar Marry untuk mendapatkan air susu ibu.


Marry tersenyum bahagia saat bayi mungil itu menikmati setiap tetes susu yang keluar.


"Mama...!" Alice menghambur sambil memeluk Marry saat masuk ke ruangan.


"Adikku!" Alice mencium pelan adiknya dengan rasa sayang.

__ADS_1


Sophie dan Ben tersenyum melihat Alice.


"Kalian datang!"


Sophie dan Ben, memeluk dan memberi selamat pada Marry dan Kevin.


"Terima kasih atas kunjungan kalian semua." Ucap Kevin dengan senyum bahagia terus mengembang.


Kebahagiaan keluarga Mars sangat terasa saat itu.


"Aku melupakan nenek Max." Ucap Marry.


"Tenang saja, setelah kamu boleh pulang, aku akan menjemput Nenek untuk tinggal sementara bersama kita."


"Oya! Aku akan sangat senang, Kev." Ucap Marry.


Ketika mereka sedang mengobrol sambil membahas bayi kecil Marry dan Kevin, Joe dan Olivia datang mengunjungi Marry.


"Selamat untuk kalian!" Ucap Olivia sambil memeluk Marry dan menatap bayi mungil dalam dekapan Marry itu.


"Terima kasih, Olivia! Kalian repot repot datang kemari."


"Aku penasaran, ingin melihat wajah adik Alice." Celetuk Olivia sambil mengamati bayi mungil itu.


"Ahhh.... Aku tahu. Wajahnya mirip papanya, tapi saat tersenyum itu senyummu, Marry." Ucap Olivia sambil tersenyum menatap bayi mungil yang tertidur itu dengan gemas.


"Iya! Aku baru ingat, wajahnya mirip Kevin saat masih bayi, tapi agak berbeda. Aku dari tadi mencoba mengingat bedanya di mana. Ternyata di senyumnya." Cetus Nyonya Vicky.


Semua tertawa mendengar itu, dan kebahagiaan menyelimuti mereka saat itu.


"Semua sudah beres, Kev. Mungkin besok mereka akan menyelesaikan finishing rumahmu, dan lusa dapat segera ditempati." Ucap Joe sambil mendekati Kevin, dan berbicara setengah berbisik.


"Kamu memang sangat bisa diandalkan." Sahut Kevin tersenyum senang.


"Bagaimana rumah di depannya?"


Joe terdiam.


Kevin menoleh ke arah temannya itu sambil mengerutkan keningnya.


"Aku juga akan membereskannya. Dan segera menempatinya." Ucap Joe sambil menaikkan bahunya.


"Aku yakin kali ini kamu berhasil Joe."


"Hai, kalian ngomong apa sih? Kok bisik bisik?" Tanya Olivia penasaran sambil mendekati Joe dan Kevin.


"Kami hanya membahas pekerjaan kantor biasa." Sahut Kevin santai.


"Siapa nama adik kecilku ini, Pa, Ma?" Tanya Alice dengan suara agak keras.


Semua yang ada dalam ruangan itu saling berpandangan, lalu tertawa hampir bersamaan, ternyata mereka melupakan nama untuk bayi mungil itu.


"Austin. Ya, namanya Austin Mars."

__ADS_1


__ADS_2