
"Em.... Emily... Tunggu!" Panggil William sambil setengah berlari mengejar Emily yang berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Emily seolah tak mendengar, padahal beberapa perawat menengok ke arah William saat memanggil Emily.
"Em... Tunggu sebentar! Emily!" William mempercepat langkahnya, saat Emily seolah sengaja menghindar darinya.
Beberapa hari setelah pesta di kediaman keluarga Mars, Emily seakan terus menghindar darinya. Bahkan saat membahas pekerjaan, seolah seperti rekan kerja biasa. Emily menjadi ketus, menjaga jarak, menghindari kontak secara langsung, jika ada urusan pekerjaan, selalu mewakilkan asistennya dengan alasan sibuk. Padahal William tahu, Emily bekerja seperti biasa, tidak ada hal yang mendesak, karena bukan dokter yang bertugas di ruang emergency.
Emily adalah dokter spesialis penyakit dalam. Lalu setelah memilih untuk fokus pada laboratorium, Emily mengambil fokus sebagai peneliti. Lalu dia diangkat sebagai direktur rumah sakit dan laboratorium.
"Tunggu Emily!" William meraih dan menggaet lengan Emily sehingga menarik tubuh wanita itu hingga berada sangat dekat dengan dirinya.
William dan Emily saling berhadapan, William menatap mata Emily seolah meminta penjelasan.
"Lepaskan, Will!" Sahut Emily sambil menepis lengannya, dan menarik tangannya dari pegangan William.
"Ada apa denganmu? Mengapa kamu menjadi seperti ini? Apa ada yang salah denganku? Katakanlah!" William mengeluarkan semua pertanyaan yang ada dalam pikirannya.
Emily menepis tangan William yang hendak menyentuhnya.
"Pikirkan sendiri! Kamu sama saja dengan lelaki lain. Hanya mendekatiku untuk karir, popularitas, atau uang, kekayaan..."
"Apa maksudmu?!" Seru William tersinggung dengan tuduhan tak berasalan dari Emily.
William menatap tajam Emily yang juga membalas dengan tatapan sinis.
"Aku sungguh sungguh mencintaimu. Bukan karena keluargamu yang kaya. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Di kelas saat pertama kita kuliah. Aku mencintaimu sejak itu. Kamu berkencan dengan lelaki lain sekalipun, aku berusaha menahan diriku. Karena aku merasa tidak pantas untukmu. Aku berusaha keras untuk membangun karirku, namaku sendiri. Hingga aku merasa pantas untuk dirimu, Em." William terus menatap Emily tanpa kedip, mencari alasan wanita itu menghindari dirinya.
"Aktingmu sangat bagus sekali." Balas Emily sambil tersenyum sinis.
"Apa maksudmu, Emily?" William mengerutkan keningnya.
Pasti ada suatu hal yang membuat Emily salah paham dengan dirinya.
"Pantas saja kamu selalu baik padanya. Bahkan memberi rekomendasi tempat strategis pada wanita itu. Rupanya kamu bersama dia selama ini, selain denganku." Cicit Emily sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Rekomendasi tempat? Wanita?"
"Sudahlah, Will. Jangan berpura pura terus!"
"Wanita lain, maksudmu?"
__ADS_1
"Ya, kamu dengan pelayan itu. Aku tau dia pemilik kedai kopi di seberang rumah sakit." Tembak Emily dengan marah.
"Astaga Emily!" Will mengusap wajahnya, lalu tersenyum sambil menatap Emily dengan lembut.
Emily mengernyit masih dengan posisi yang sama.
"Marry, maksudmu?" Tanya William memastikan.
"Marry atau siapalah namanya, aku tak peduli." Sahut Emily sambil menaikkan bahunya.
"Marry sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Sungguh! Kami tidak ada hubungan apa apa selama ini. Kebetulan tempat tinggalnyadi sebelah rumah Nana. Dan dia sering menitipkan putrinya dengan Nana. Dan kamu tahu? Dia juga mengidolakan dirimu." Tukas William.
William perlahan mendekati Emily, yang masih setengah tak percaya pada William dan ceritanya.
"Apa maksudmu mengidolakan diriku?" Tanya Emily heran.
"Ya. Aku mengenalnya sudah sangat lama. Ketika kedua orang tuaku meninggal, karena kecelakaan. Lalu Nana mengajakku untuk tinggal di rumahnya. Nana adalah mama dari ayahku. Waktu itu aku masih bersekolah. Dan Marry masih kecil. Dia memiliki adik perempuan. Kami bertetangga. Saat itu papanya baru meninggal dunia juga. Mamanya bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Dia mengidolakan dirimu sejak kecil." Cerita William sambil menyandarkan punggungnya pada dinding.
Raut wajah Emily mengendur, tidak setegang sebelumnya. Dia masih memperhatikan William bercerita. Selama ini William tak pernah menceritakan tentang keluarganya.
Emily hanya tahu, orang tua William telah meninggal, dan kini dia tinggal bersama neneknya, yang selalu dipanggil Nana.
"Kamu sering memenangkan lomba karya ilmiah, lalu sering melakukan kegiatan sosial, sering membagikan pakaian yang sudah tidak terpakai pada anak anak lain. Kamu bahkan sering berinteraksi dengan orang lain, tanpa melihat status dia anak orang kaya atau tidak. Dari Marry aku mengenalmu. Dia sering bertemu denganmu di rumah sakit. Katanya kamu sering menghabiskan waktu di lab, dan dia ingin sepertimu."
"Saat aku masuk universitas, dan melihat ada namamu di daftar mahasiswa, aku memperhatikanmu. Membuktikan kebenaran dari semua cerita Marry. Semakin aku membuktikan, aku mulai mencintaimu." Tutur Will pelan.
Emily tersenyum.
"Maaf." Ucapnya lirih.
William tersenyum dan mendekati Emily yang menunduk. Meraih tangan wanita itu dan mencium tangan Emily dengan penuh cinta. Emily tersipu dan wajahnya bersemu merah karena malu.
Beberapa perawat berbisik bisik saat melihat adegan mereka itu.
Cepat cepat Emily menarik tangannya dari genggaman William dan berputar pura seperti tidak terjadi apa-apa.
William tersenyum geli melihat tingkah Emily. Emily membalasnya dengan pukulan ringan pada lengan William.
"Kamu cemburu?" William menggoda Emily.
__ADS_1
Emily mendengus kesal dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu, diikuti oleh William.
"Awas jika berani menggodaku lagi di tempat umum!" Ucap Emily sambil menunjuk wajah William.
William, menarik pergelangan tangan Emily masuk ke dalam ruangannya, lalu mengunci pintunya.
*
*
Kevin berjalan kaki kembali ke apartemennya, usai makan malam bersama klien di sebuah restoran mewah.
Kevin meminta Joe untuk langsung pulang, karena besok mereka akan ada pekerja di pagi hari.
Restoran itu tak jauh dari apartemen Kevin, hanya sekitar tiga blok saja.
Kevin membelokkan langkahnya saat di blok pertama, menuju ke suatu tempat.
Kevin berjalan tanpa memperhatikan kanan kirinya. Karena yang ada hanya apartemen lalu kedai, toko toko, dan beberapa klub kecil. Mata Kevin tertuju pada semua gedung apartemen yang gedungnya terlihat sudah tua, dan lingkungannya sedikit kumuh.
BUK !
Tiba tiba seseorang memukul Kevin dari belakang dengan sebuah benda tumpul. Lalu terdengar langkah lainnya.
"Aduh..!!" Kevin mengerang kesakitan saat tersungkur ke tanah.
Kevin berusaha membuka matanya, namun lagi lagi sebuah kepalan meninju perutnya dan wajahnya.
Kevin mengumpulkan kekuatannya, dan berusaha melawan. Dua orang tadi terus menyerang Kevin membabi buta hingga dirinya terpojok di sebuah gang sempit.
BUK.. BUK.. BUK..!
Bogem mentah berkali kali menghantam wajahnya dan perutnya. Berkali-kali dua orang itu menendang tubuh Kevin hingga Kevin tak bergerak.
Kevin yang telah setengah pingsan hanya diam.
Wajahnya telah lebam dan bengkak.
Darah mengucur dari hidung dan pelipisnya.
__ADS_1
Seseorang dari mereka merogoh saku kemeja dan celana Kevin. Mengambil dompet, jam tangan, dan gadgetnya.
Lalu meninggalkan Kevin sendirian di dalam gang yang sepi itu.