Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Pengakuan


__ADS_3

Emily dan Joe menuju apartemen Kevin untuk memeriksa keadaannya. Terdengar suara orang muntah dari toilet yang ada di kamar Kevin begitu pintu apartemen terbuka.


"Huek... Huek... Huek..!"


Emily bergegas menuju arah suara. Kevin meringkuk di dekat toilet memuntahkan isi perutnya.


Emily mendekati adiknya dan mengusap usap punggung Kevin. Emily menyodorkan tisu dan memapah adiknya yang terlihat pucat dan lemas.


Joe membantu memapah Kevin dan mengerutkan keningnya, melihat bosnya yang terlihat menyedihkan itu.


Emily membuatkan minuman jahe, lalu membawanya ke ruang tengah. Menyodorkan pada Kevin yang telah duduk termenung dengan lesu di sofa, bersama Joe.


"Terima kasih, Kak." Ucap Kevin saat menerima mug dari kakaknya. Kevin menyesap air jahe dan meletakkan di meja.


"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Joe sambil menepuk bahu Kevin.


Kevin meringis dan tertawa. Dia menertawakan dirinya sendiri sebenarnya. Menertawakan kebodohannya di saat ada pekerjaan yang penting saat ini.


Emily duduk menyilang dua tangannya di depan dada sambil menatap tajam adiknya.


Kevin hanya bisa menelan ludah saat melihat kakaknya menatap seperti itu. Dia tahu, Emily kali ini sangat marah padanya. Dan berkat dia lah pekerjaannya dapat terselamatkan kembali. Ini bukan kali pertamanya.


"Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Sungguh!" Ucap Kevin tertunduk sambil menatap mug air jahenya.


"Karena Alice?" Joe menebak sambil memegang boneka kuda poni milik gadis kecil itu.


Kevin menoleh ke arah Joe sambil menggelengkan kepalanya.


Kevin merasa malu jika menceritakan kejadian yang sesungguhnya, bahwa dia berbuat bodoh seperti ini karena melihat tanda merah di leher Marry, seperti saat dia memberi tanda kecupan pada wanita wanita yang pernah tidur dengannya. Kevin tak bisa membayangkan Marry bercinta dan tidur dengan lelaki lain. Jika boleh jujur dia merasa cemburu.


Tapi mengapa bisa cemburu?


Lagi lagi Kevin hanya diam dan menyesap air jahe untuk meredakan mual dan pusing akibat minuman beralkohol yang terlalu banyak masuk dalam tubuhnya.


"Kev, kamu sudah dewasa. Perusahaannya juga bukan perusahaan main main. Dan klienmu itu, bukan orang sembarangan. Kali ini kamu mendapatkan klien angkatan laut, dan kamu berbuat bodoh seperti ini! Kamu punya otak tidak, hah?!" Geram Emily sambil menatap tajam Kevin.


"Dengar, kali ini papa dan mama tidak tahu. Tapi, jika terulang lagi. Aku tidak akan ragu untuk mengatakan semua pada Mama dan Papa. Dan menendangmu dari Mars Company. Camkan itu!" Ancam Emily sambil menunjuk dada Kevin.

__ADS_1


Kevin hanya diam dan tidak membalas mengatakan apa pun. Lalu dia tiba tiba berdiri dan memeluk Emily.


"Terima kasih, Kak. Aku janji tidak akan mengulangi lagi!" Bisik Kevin sambil memeluk Emily.


Emily menepuk punggung Kevin dan meregangkan pelukan mereka.


"Aku harus pergi. Ada beberapa panggilan dan pesan dari rumah sakit. Dan, ingat! Kamu berhutang cerita padaku tentang penyebab semua ini dan banyak cerita lain yang aku tidak tahu sebelumnya, seperti pemilik boneka itu." Tukas Emily sambil menunjuk boneka milik Alice.


Kevin terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


Setelah Emily meninggalkan apartemen Kevin. Joe kembali duduk di sofa.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya Joe.


"Aku melihat Marry bersama lelaki lain." Sahut Kevin lirih hampir tak terdengar.


Jawaban Kevin sempat membuat Joe terhenyak dan melotot.


Kevin mengambil napas dalam-dalam dan menatap Joe.


"Mungkin suasana hatinya sedang baik. Atau kedainya ramai." Sela Joe.


"Aku tak sengaja memperhatikan Marry dan melihat tanda kecupan saat bercinta di lehernya." Sahut Kevin sambil membuang pandangannya ke luar jendela.


Sejenak Joe terdiam, berusaha mencerna setiap pengakuan yang keluar dari mulut Kevin. Joe sangat tahu sahabatnya ini. Baru kali ini dia mendengar Kevin merasa frustasi hingga melampiaskan dengan mabuk, hingga melupakan pekerja pentingnya, hanya karena melihat tanda kecupan di leher seorang wanita.


Sontak Joe tertawa terbahak bahak sesaat setelah menyadari arti semua itu.


Kevin cemburu, dan itu berarti Kevin menyukai Marry.


"Astaga Kev!?" Seru Joe sambil terbahak.


Kevin hanya bisa tersenyum kecut dan mengalihkan tatapannya. Dia merasa malu.


"Kamu jatuh cinta pada Marry?" Tanya Joe, kali ini dengan nada serius.


"Aku tak tahu." Sahut Kevin sambil menaikkan bahunya.

__ADS_1


"Kemarin aku sempat bertemu dengan Marry dan Justin di kedai. Mereka pergi berdua setelah itu." Ucap Joe, menceritakan kejadian pertemuannya dengan Marry dan Justin.


"Justin?" Kevin mengerutkan keningnya.


"Ya, kekasih Marry semasa sekolah."


Kevin dan Joe sama sama menghela napas kali ini mereka berdua sambil menikmati rokok untuk menenangkan pikiran.


"Justin." Gumam Kevin.


"Ada kemungkinan Justin ayah biologis dari Alice." Celetuk Joe.


"Tapi, aku merasa dia darah dagingku." Sahut Kevin.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu?"


"Aku tak tahu secara pasti. Tapi instingku mengatakan bahwa Alice adalah putriku. Dia memiliki alergi kerang dan udang, sama seperti aku, lalu dia memiliki IQ yang tinggi, dan kegemaran yang sama denganku dengan berbagai ilmu pengetahuan teknologi." Jawab Kevin.


"Kamu ingin tes DNA dengan Alice?" Tanya Joe dengan serius.


Kevin hanya diam. Tiba tiba dia menjadi takut mengetahui kenyataan, jika seandainya Alice ternyata benar bukan putrinya.


Entahlah, dia merasa telah memiliki ikatan batin dengan gadis kecil itu. Dan dari beberapa pertemuan dan kebersamaan mereka, membangun sebuah rasa sayang pada Alice. Dan rasa itu berkembang dan bertumbuh saat melihat Marry.


Sosok wanita muda, ibu tunggal yang gigih, cantik, dan berpendirian kuat. Kevin baru kali ini bertemu dengan wanita yang seperti itu. Dia berani melawan Kevin, bahkan mengacuhkan Kevin. Seolah tak peduli bahkan sama sekali tidak tertarik saat mendengar nama Mars.


Marry sosok ibu yang baik bagi Alice. Jika keibuannya, menambah daya pikatnya. Kevin mulai menyukai Marry. Dan beberapa kali Kevin berfantasi bercinta dengan Marry. Kevin terkadang harus memukul kepalanya sendiri saat fantasinya muncul. Dia tak ingin dianggap sebagai orang cabul oleh Marry.


Lalu kini hadir kembali Justin. Lelaki yang pernah menjadi bagian kisah cinta Marry. Dan ada kemungkinan dia adalah ayah biologis dari Alice.


Jika, dia melakukan tes DNA, dan mengetahui kenyataan yang sebenarnya, lalu kecewa. Kevin tidak ingin hal itu terjadi.


Dia ingin terus menganggap Alice sebagai putrinya, dan mengambil hati Marry, lalu membuatnya jatuh cinta pada dirinya.


Namun, di sisi lain hatinya, di masih yakin, Alice putrinya. Kevin hanya perlu mengingat kembali tujuh tahun tak silam. Apa yang pernah dia lakukan pada Marry, tepat saat perayaan ulang tahunnya ke-25 tahun?


*

__ADS_1


__ADS_2