Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Weekend


__ADS_3

"Jangan nakal, selalu jaga sikap. Mama tidak ingin kamu merepotkan orang lain. Dan ingat, hari Minggu sore, kamu harus pulang, untuk bersekolah hari Seninnya. Mama mengijinkan kamu kali ini, karena mama percaya, Alice akan jadi anak yang baik." Cerocos Marry saat selesai memasukkan pakaian Alice ke dalam tas untuk dibawanya di tempat Kevin.


"Terima kasih, Ma! Aku sangat semangat sekali akhirnya bisa berlibur kembali bersama papa Kevin." Sahut Alice tersenyum lebar.


Alice memeluk Marry karena senang.


"Jangan merepotkan orang lain ya. Dan jangan makan sembarangan! Di dalam tas, Mama sudah siapkan beberapa obat anti alergi, dan vitamin. Dan kabari Mama, jika kamu memerlukan bantuan Mama." Pesan Marry bertubi tubi.


Alice menjawab dengan anggukan kepala.


Tok Tok !


Alice berlari kecil ke arah pintu dan membukakan.


"Apakah kamu sudah siap?" Tanya Kevin sambil tersenyum.


"Ya. Aku sudah siap!" Jawab Alice dengan riang.


Alice memeluk Kevin sejenak, lalu menarik tangan untuk masuk.


"Hai! Kamu mau kopi?" Sapa Marry pada Kevin.


"Oh, hai! Ya, boleh. Memakai krimer, tanpa gula." Ucapnya.


Marry mengambil cangkir dan membuat kopi sesuai permintaan Kevin, lalu menaruh di depan Kevin yang telah duduk di kursi dapur.


"Terima kasih."


Marry mengangguk.


Lalu dia menyodorkan sepiring pancake yang terlah tersiram dengan sirup maple.


Aroma pancake yang baru matang membuat Kevin, secara tak sadar mengenduskan hidungnya sambil menutup mata menikmati aroma lezat makanan itu.


"Hmmm enak sekali!" Puji Kevin saat membuka mata.


Alice tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kevin.


"Masakan mama memang paling enak di dunia!" Seru Alice.


"Kamu beruntung mempunyai dia!" Sahut Kevin sambil melirik ke arah Marry ingin melihat reaksi wanita itu.


Namun, Marry hanya tersenyum tipis sambil menyesap kopinya perlahan.


Kevin hanya bisa menghela napas. Dalam hatinya bertekad ingin mengambil hati Marry dan mendapatkan cintanya.


Usai sarapan, Marry menyodorkan satu kantong, yang berisi kotak makanan.


"Kev, ini muffin untuk kudapan kalian, dan ini sandwich untuk makan siang kalian. Di dalam situ ada dua botol jus jeruk. Aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti, jaket, dan topi di dalam tas. Di kantong depan ada obat anti alergi milik Alice." Cerocos Marry.


"Alice alergi apa?" Tanya Kevin terhenyak.


"Aku tidak bisa makan udang dan kerang, Pa. Tubuhku akan terasa panas dan gatal. Lalu akan muncul ruam yang membuatku tak tahan. Aku tidak suka!" Celetuk Alice sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya. Dan tolong pastikan makanannya, jangan terkontaminasi makanan berbahan kerang dan udang." Pesan Marry.


DEG!

__ADS_1


Jantung Kevin seolah berhenti berdetak sejenak saat mengetahui alergi Alice.


Dia juga memiliki alergi yang sama. Kevin alergi makanan laut. Tapi tidak semua. Makanan berbahan kerang dan udang membuat tubuhnya bereaksi buruk dan membuat ruam merah uang parah, hingga wajahnya bentol, seperti lebam.


Terakhir kali, Kevin alergi parah dan harus dilarikan ke rumah sakit, usai menghadiri pesta pembukaan restoran papanya.


Kevin nekad menikmati udang yang lezat, dan hasilnya. Kulit Kevin ruam, seolah melepuh, dan meski telah ke dokter untuk meminta obat anti alergi, namun, tetap saja, Kevin harus menunggu hingga sepekan agar ruam dan alergi sembuh.


Secara spontan Kevin mengambil tangan Marry dan menggenggamnya.


Jantung Marry berdetak kencang dan dia hanya diam.


Tiba tiba ponsel Marry bergetar.


"Ma-maaf, ponselku berbunyi." Sahut Marry sambil sedikit mendorong tubuh Kevin.


Sejenak mereka saling berhadapan dan bersinggungan.


Marry yang tersadar, lalu menjawab panggilan itu di dalam kamarnya.


setelah beberapa lama, Marry merapikan kembali tas yang akan dibawa Alice.


Marry memeluk Alice sebelum pergi dengan Kevin.


*


*


Marry telah berada di pesta pembukaan perusahaan Terence, sahabatnya.


Di sana banyak pengusaha dan keluarga Mars ada di sana, kecuali Kevin.


Terence selalu didampingi oleh Claire di sisinya. Mereka berkeliling dan menyapa para tamu yang hadir.


Marry menyodorkan nampannya yang berisi buah.


Marry melihat Joe dari arah pintu masuk ke dalam ruang pesta itu dan mengobrol dengan Tuan Morgan dan Terence.


*


Di balkon, terlihat Joe dan Terence sedang berdua mengisap rokok mereka.


"Kemana Kevin?" Tanya Terence.


"Dia ingin berlibur dan menghindari keramaian." Jawab Joe sambil menghisap rokoknya.


"Dengan gadis gadis?"


"Aku tak tahu."


Joe dan Terence sama sama diam dan menikmati rokok masing masing.


"Apa kamu masih ingat siapa saja yang ada di villa usai pesta ulang tahun Kevin dulu itu?" Tanya Terence tiba tiba.


Joe terdiam dan menoleh ke arah Terence.


"Mengapa?"

__ADS_1


"Marry ada di sana saat ulang tahun Kevin."


"Apa?" Joe tersentak dan membulatkan bola matanya bkarena terkejut.


"Marry bekerja pada hari itu. Sikapnya masih biasa saja setelah itu. Namun, menjelang ujian nasional dia berubah. Mulai menjauh dariku, Claire, dan Justin, kekasihnya." Terence menghisap rokoknya.


"Aku yakin, salah satu orang yang menghamilinya ada di sana malam itu."


"Mengapa kamu begitu yakin, Marry hamil karena ada suatu peristiwa pada malam itu?" Selidik Joe.


"Instingku."


"Mengapa tidak menyelidiki kekasih Marry saat itu?" Tukas Joe sambil mengernyit.


"Entahlah, aku merasa karena salah satu dari kalian, dia hamil. Dan Justin... Jika Justin yang melakukannya, Marry pasti akan mencarinya. Dia tidak akan meninggalkan Justin dan membuatnya patah hati." Sahut Terence.


"Bukan aku. Ahhh...ya..!" Joe memejamkan matanya seolah mengingat sesuatu.


Terence menatap Joe, menunggu pria itu mengucapkan sesuatu kembali.


"Malam itu, saat aku hendak memeriksa keadaan Kevin, aku bertemu dengan seorang gadis. Ya. Aku yakin itu Marry. Aku ingat sekarang! Selama ini aku merasa pernah bertemu Marry, namun entah di mana. Ya, Di anak tangga malam itu. Dia turun tergesa gesa sambil menangis memegang kemejanya." Gumam Joe.


"Tapi, saat itu, aku juga, ada dua gadis yang turun dari anak tangga sebelum Marry. Dan gadis itu adalah gadis penghibur yang aku panggil untuk menemani Kevin." Cerita Joe.


Joe mematikan puntung dengan pasir yang ada di pot. Lalu dia menepuk bahu Terence, dan berbaur kembali dengan. Penonton.


Terence masih merenungkan semuanya. Lalu dia mematikan rokoknya dan masuk ke ruang pesta itu.


Di ambang pintu, Terence melihat sosok yang sangat dikenalnya. Sosok itu juga menatap ke arah Terence dan mereka saling mendekat.


"Justin!"


"Terence!"


Mereka berpelukan ringan saat berdekatan.


"Lihatlah! Kamu terlihat gagah dan tampan sekarang. Dan yang lebih membanggakan, kini kamu memiliki usaha limbah sampah. Yang dapat menghasilkan energi alternatif dan pupuk organik. Kamu benar benar mengagumkan!" Puji Justin sambil menepuk belum bahu Terence.


"Semua itu tidak tiba tiba teman. Aku telah memulai sejak berkuliah, melakukan riset dan percobaan. Mencoba, gagal, coba lagi, gagal lagi. Coba lagi, gagal, dan coba terus hingga bisa. Aku juga meminta bantuan sepupuku juga. Jika semua ini dapat sebesar sekarang ini. Berkat dukungan keluarga, teman, dan Claire." Ucap Terence.


"Justin!" Claire terkejut dan bergegas mendekati Terence dan Justin. Mereka berpelukan sejenak dan Justin terpesona menatap Claire.


"Claire, kamu sangat cantik sekali!" Puji Justin sambil menatap tak percaya.


"Ya. Lama sekali tidak berjumpa denganmu, Justin. Hai, apa yang membawamu kembali kemari?" Tanya Claire penasaran.


"Aku akan berada di kota ini beberapa lama. Kebetulan aku ada pekerjaan di sini. Dan melihat undanganmu untuk ayahku." Jawab Justin.


"Jadi, kamu akan lama tinggal di sini?" Tanya Terence.


"Ya. Hingga pekerjaanmu selesai."


Mereka mengobrol melepas rindu sambil tertawa-tawa.


Di sudut ruangan, Marry melihat kehadiran Justin dengan perasaan campur aduk.


Ada kerinduan menjalar dalam dirinya. Namun, dia sadar telah salah selama ini.

__ADS_1


Justin malam itu terlihat sangat tampan. Wajahnya tidak banyak berubah. Namun, sekarang terlihat lebih gagah dan tegas. Tubuhnya masih atletis dan bagus. Marry yakin, Justin masih rajin berolah raga sampai sekarang.


Marry ingin sekali datang menghampiri dan menyapa Justin.


__ADS_2