
"Justin, Claire memintaku untuk menemaninya ke perancang busana untuk mengukur pakaian." Ucap Marry sambil merapikan kembali pakaiannya.
Justin lagi lagi hanya bisa mendengus kesal sambil menghela napas.
Justin mengantar Marry kembali ke kedai, karena Claire akan menjemputnya langsung ke kedai.
Mobil Claire tiba, tepat Justin pergi dari kedai Marry.
"Itu tadi Justin?" Selidik Claire.
Marry mengangguk pelan.
"Oh..." Marry menoleh pada Claire melihat respon sahabatnya itu.
"Ada apa?" Kini gantian Marry yang penasaran.
"Tidak apa apa. Kamu sudah memberitahu tentang Alice pada Justin?"
"Belum. Belum saatnya."
"Mengapa? Karena dia ayah biologis Alice?" Tanya Claire.
"Bukan. Bukan Justin ayah Alice." Sahut Marry.
"Lantas siapa ayah Alice?" Desak Claire.
Marry tersenyum menatap Claire.
"Sudahlah, kita fokus mengurus pesta pernikahanmu dan Terence saja dulu. Tidak usah memikirkan aku." Ucap Marry.
Claire masuk ke dalam butik dan memilih beberapa gaun untuk dikenakan pada pesta pernikahannya.
Claire masuk ke kamar pas, tak lama keluar dengan mengenakan gaun putih dengan model yang agak terlalu kuno, menurut pendapat Marry.
Claire mematut dirinya lagi di depan cermin dan menyetujui pendapat Marry tentang model gaun yang dikenakan saat ini. Lalu Claire memilih model lain untuk dicoba.
Marry memberi saran dan memilihkan beberapa model gaun pengantin, lalu meminta Claire untuk mencoba kembali.
Setelah beberapa kali bolak balik mencoba gaun pengantin, akhirnya Claire memilih tiga model gaun untuk dikenakan pada acara pernikahannya besok.
Marry turut bahagia melihat Claire yang akhirnya dapat menikah dengan Terence.
Saat menatap gaun gaun pengantin itu, seakan dia membayangkan dirinya mengenakan salah satu gaun itu dan berjalan ke altar pengantin. Di altar ada Justin yang menunggunya. Rasanya akan sangat bahagia sekali jika itu terwujud.
"Marry, Marry!" Claire menyadarkan Marry dari lamunan sambil menepuk bahunya.
"Oh, ya, ada apa?" Ucap Marry tergagap.
"Sepertinya aku ingin mengganti warna salah satu gaun, dengan warna putih daisy, supaya tidak terlalu membosankan warnanya." Claire menatap sebuah gaun pengantin.
__ADS_1
Marry sejenak tertegun dan mengangguk setuju pada akhirnya.
Lalu keduanya berbicara dengan perancang gaun, dan akhirnya telah terjadi kesepakatan.
Sedang untuk gaun pengiring pengantin, Claire memilih warna Salem, dengan model sebuah dress yang simple namun elegan.
Setelah berada di butik sekitar dua jam lebih, akhirnya Claire mengantar Marry untuk kembali ke kedai.
Setiba di kedai, mereka disambut oleh Alice.
Claire memeluk gadis kecil itu dan mengamatinya.
"Cantik." Ucapnya tiba tiba.
"Terima kasih, Bibi. Bibi Claire juga cantik." Sahut Alice.
Claire terkekeh. "Anak pintar." Gumam Claire sambil mengelus lembut rambut Alice.
"Hai, anak cantik, apakah kamu tidak ingin Mamamu bahagia?" Tanya Claire sambil menunduk supaya sejajar dengan Alice.
"Aku sangat ingin, Bibi Claire."
"Apa kamu senang, jika Mamamu memiliki calon Papa untukmu?" Tanya Claire pada Alice, namun melirik pada Marry sambil melihat reaksinya.
Sontak Marry melotot dan menatap Claire dan Alice.
"Aku telah memiliki Papa, Bi." Jawab Alice dengan polosnya.
"Papaku adalah Kevin Mars." Ucap Alice dengan bangga dan senang.
Claire melotot tak percaya lalu menoleh ke arah Marry, yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia terlalu mengidolakan Kevin, hingga bermimpi menganggap seperti Papanya." Sahut Marry.
"Tapi, mengapa Mama menyimpan fotonya?" Celetuk Alice.
Marry menghela napas sejenak.
"Itu sebagai kenang kenangan. Siapa yang tidak mengenal dan senang berfoto dengan Kevin. Bukankah begitu Claire?" Marry mencari pembenaran sambil menatap Claire.
Claire hanya mengangguk angguk mencoba mencerna segalanya.
"Ya. Dan aku juga memiliki banyak foto bersama Kevin juga. Karena, Terence, calon suamiku adalah sepupunya. Jadi, aku sering berfoto dengan Kevin juga." Claire membantu Marry.
Alice mengangguk mengerti.
"Apakah kamu mau menjadi gadis penabur bunga untuk di acara pernikahanku?" Tanya Claire sambil tersenyum lebar.
Raut wajah Alice seketika berubah menjadi sangat gembira. Dia menjawab dengan menganguk kuat kuat sambil memeluk Claire.
__ADS_1
"Tentu Bibi."
"Terima kasih. Nanti biar, Mamamu yang akan mengurus semuanya." Ucap Claire pada Alice.
"Apakah kamu keberatan, jika untuk sebulan ke depan, aku meminjam Mamamu untuk membantuku mempersiapkan acara pernikahan?" Tanya Claire menyelidik.
"Tidak. Aku sangat senang. Aku bisa bersama Bibi Sophie, Paman Ben, Nana, Paman Will, dan Jill."
Marry tersenyum melihat keakraban Claire dan Alice saat itu. Dia tak menyangka seberharap itu dia terhadap Kevin untuk menjadi papanya.
Marry hanya bisa menghela napasnya, menahan gejolak di dalam dadanya. Rasa sakit itu yang ditorehkan oleh Kevin masih ada, hingga saat ini.
"Aku pulang dulu. Lain waktu, kita mengobrol bersama sama lagi, ya!" Pamit Claire.
"Bye, Bibi Claire." Ucap Alice sambil melambaikan tangannya.
Marry mengantar Claire hingga mobilnya.
"Kamu dekat dengan Kevin?" Selidik Claire, sebelum masuk dalam mobil.
Marry menggeleng.
"Alice menemukan fotoku saat bersama Kevin, saat di pesta ulang tahun. Terence yang mengambil gambarnya, waktu itu." Jawab Marry.
Claire mengangguk.
"Marry." Claire menatap Marry dengan tatapan serius.
Marry membalas tatapan Claire dengan tenang.
"Kamu masih mengharapkan Justin?" Tanya Claire dengan serius.
Marry hanya terdiam. Dia belum bisa menjawab saat ini. Dia memang masih mencintai Justin. Namun, takut seandainya, Justin tidak bisa menerima Alice, dan kenyataan masa lalunya.
"Justin telah memiliki tunangan." Ucap Claire sambil menepuk bahu Marry.
Sontak, Marry terkejut dan menatap Claire tak percaya.
"Justin memiliki kekasih. Temannya semasa kuliah dulu. Aku sudah bertemu dengannya dan berkenalan. Aku tidak ingin kamu kembali terluka. Mereka telah bertunangan beberapa bulan yang lalu, aku dan Terence ikut diundang oleh mereka." Terang Claire.
"Aku tidak ingin kamu terluka, Marry. Seandainya, Alice adalah anak Justin, mungkin kamu bisa membicarakan hal itu baik baik. Namun, seandainya bukan. Jauhi saja dia. Sama seperti saat kamu menghilang kemarin."
"Apa maksudmu, Claire?" Tanya Marry tidak terima dengan ucapan Claire.
"Kamu telah membuat Justin patah hati. Kamu meninggalkan dia seenaknya, dan tanpa kabar. Mengapa? Lalu tiba tiba kamu datang dan kembali dekat padanya, dan memberi harapan palsu kembali pada Justin?" Cecar Claire.
Marry menatap tajam pada Claire.
"Aku tidak datang di malam prom, karena aku telah hamil. Tidak mungkin aku datang dengan perut membuncit. Aku menyembunyikan semuanya, Claire. Aku menyimpan rapat-rapat semuanya, dan berusaha untuk tidak merepotkan kalian. Aku berjuang sendiri selama ini. Membesarkan seorang anak. Selama ini, aku hanya memiliki Sophie, setelah ibuku tiada. Lalu Sophie diambil dalam asuhan dinas sosial, sedangkan aku harus berjuang sendiri selama itu. Lalu aku mengetahui kenyataan bahwa aku hamil, dan harus kehilangan impianku. Aku harus memilih antara bayiku atau cita-citaku." Marry mengambil napas, memberi jeda.
__ADS_1
"Aku masih memiliki hati nurani, Claire. Aku memilih untuk melupakan impianku dan mengasuh bayiku. Itulah alasanku mengapa aku seolah menghilang selama ini. Aku berjuang untuk membesarkan bayiku, supaya tidak diambil oleh dinas sosial. Aku bekerja, supaya menjadi seorang ibu yang bertanggung jawab di mata negara." Suara Marry bergetar, menahan tangis.
Claire memeluk Marry, dan tangis Marry akhirnya pecah saat memeluk sahabatnya itu.