
Jantung Marry berdegup kencang, dan tangannya terasa dingin dan gemetaran. Dia sangat sangat gugup dengan perlakuan Justin yang manis.
Rasanya sama seperti saat pertama kali Justin melakukan kontak fisik dengannya semasa sekolah dulu.
Marry mulai menyukai Justin sejak sekolah menengah pertama, dan dialah cinta pertamanya.
Justin yang terlihat cuek dan biasa saja selama itu. Mereka hanya sekedar saling sapa dan karena teman sekelas, Justin mengenal Marry.
Marry bersahabat dengan Terence sejak kecil. Lalu mereka menolong Claire saat dikurung di dalam kamar mandi sekolah.
Claire yang disiram air toilet, lalu dikurung di sana oleh sekelompok gadis geng populer.
Mereka tidak tahu, jika Claire adalah putri seorang pengusaha yang kaya. Sejak kecil orang tua Claire mendidik dan mengajari untuk hidup sederhana.
Lalu setelah itu Claire bergabung dengan Marry dan Terence.
Lalu setiap kali ada yang mulai mengganggu Claire yang lemah, Marry yang maju untuk membelanya. Hingga pernah suatu hari pelipis Marry robek karena berkelahi dengan seorang anak laki laki karena menggangu Claire dan Terence.
Beruntung, mamanya yang seorang perawat, langsung menanganinya dengan tepat. Dan sejak saat itu selalu mengingatkan Marry untuk tidak terlalu mencari masalah, dan mendiamkan saja anak anak yang mengganggunya.
Hingga suatu hari, mereka benar-benar terdesak. Anak anak nakal itu, belum puas, jika salah satu dari mereka belum teraniaya. Saat di sekolah Marry, Terence dan Claire berusaha untuk menghindar dengan pulang melalui jalan lain.
Namun, saat berhasil keluar dari gedung sekolah, ternyata beberapa teman mereka memergoki dan berteriak mengatakan bahwa Marry, Terence, dan Claire ada di halaman. Mereka terdiam dan terpojok, pasrah menerima apapun yang akan dilakukan oleh teman teman nakal itu.
Lemparan telur busuk dan air comberan menyerang tubuh mereka. Mereka hanya meringkuk melindungi tubuh di dekat tembok sekolah.
Tiba tiba suasana hening, dan tak ada lagi lemparan apapun yang mengenai mereka. Dan di hadapan mereka berdiri seorang anak lelaki tampan dan gagah, dan detik itu juga Marry langsung terpesona dan jatuh hati padanya. Itulah pertemuan mereka dengan Justin. Yang menjadi dewa penyelamat saat ada yang akan menggangu. Dan sejak Justin bergabung dengan mereka, hampir tak pernah ada yang berani mengganggu. Hanya sesekali ada yang mengerjai di dalam kelas saja dengan menarik rambut, atau menempel bekas permen karet di bangku kelas.
Hubungan Marry dan Justin berkembang, dan mereka saling menyukai satu sama lain ketika menjelang masuk sekolah menengah atas.
*
"Jadi, apa kegiatanmu selama ini?" Tanya Justin memecah keheningan di antara mereka.
"Aku bekerja dengan Nyonya Ruth." Sahut Marry.
Justin membuka bungkus Lay's dan mengambil isinya, lalu menyodorkan pada Marry. Seperti kebiasaan mereka dahulu.
"Jadi kamu tidak pernah pergi dari sini?" Justin menoleh ke arah Marry.
__ADS_1
Marry terdiam, sambil mengunyah keripik kentang itu.
"Kamu tidak pernah mengambil beasiswa itu?" Justin mengerutkan keningnya.
Marry menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan menuju bangku di taman dan duduk di sana sambil terus mengunyah keripiknya.
Justin mengikuti Marry dan duduk di sampingnya, dia menatap Marry seolah meminta penjelasan.
"Aku selalu di sini."
Justin terdiam dan masih terus menatap Marry. Marry yang tadinya tak berani menatap Justin, akhirnya menoleh dan menatap ke arah Justin.
Dia menelan ludahnya.
"Hai, lihatlah! Kamu terlihat makin gagah dan tampan. Aku yakin kamu pasti akan menjadi pengacara yang sukses, seperti Mamamu." Marry mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih." Justin tersenyum.
"Aku bangga, akhirnya kamu memilih Havard sebagai tujuan utamamu. Dan sekarang pasti kamu mendapat pekerjaan di firma hukum ternama, dan bagus untuk karirmu. Aku senang teman temanku sukses." Cerocos Marry.
"Terence juga sukses dengan usahanya dalam mengelola sampah dan limbah. Lalu Claire, juga, membantu kesuksesan Terence. Lalu sebentar lagi mereka akan menikah." Lanjut Marry sambil menerawang.
Jantung Marry berdetak tiga kali lebih kencang. Lidahnya kelu, dan kerongkongannya seakan tercekat. Tidak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya pada Justin. Apalagi mereka baru saja bertemu.
"Setelah beberapa tahun bekerja dengan Nyonya Ruth, aku membangun kedai kopi bersama adik iparku." Sahut Marry.
"Kamu sudah menikah?" Justin mengernyit sambil memeriksa jari Marry, memastikan ada.ya cincin di jari manisnya.
Marry terkekeh sambil menunjuk tangannya.
"Tidak.. tidak. Aku belum menikah, Justin. Suaminya Sophie. Kami join dan membuka kedai kopi kecil di seberang rumah sakit." Ucap Marry kemudian.
Justin tersenyum lega.
"Dan kamu? Apakah sudah menikah?" Marry balik bertanya.
Justin menjawab dengan menunjukkan jarinya. Dan keduanya tertawa.
"Tunggu! Kemarin adikku membeli muffin yang lezat dan kopi. Katanya di seberang rumah sakit. Apakah itu kedai milikmu?" Selidik Justin.
__ADS_1
Marry mengangguk sambil tersenyum.
"Ada apa?"
"Luar biasa! Kata adikku, sangat ramai dan sering kehabisan. Muffin dan cupcakenya sangat lezat." Puji Justin.
"Terima kasih. Datanglah kapan kapan ke kedai. Jika tidak ada aku, ada Ben di sana."
Justin menjawab dengan anggukan kepala.
"Pasti aku akan datang untuk memborong." Canda Justin.
Marry terkekeh.
"Lalu rumahmu?"
"Masih di sana. Tapi, Sophie dan suaminya yang menempati saat ini. Apalagi mereka telah memiliki anak. Jadi aku mengalah tinggal di apartemen di pusat kota." Jawab Marry.
"Mengapa?" Kevin bertanya dengan tatapan serius pada Marry.
Marry sejenak diam dan mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Aku tidak ingin berpisah dengan Sophie. Dan menjadi wali yang baik untuknya. Sophie bersekolah perawat dan sekarang dia bekerja di klinik. Dan suaminya, membuka usaha bersama denganku. Dan kini, beberapa bulan yang lalu aku mencoba menjual muffin dan cupcake, dan ternyata sambutan para pelanggan sangat luar biasa." Tutur Marry. Dia sengaja tidak membicarakan Alice dengan Justin malam itu. Dia ingin menikmati malam itu dengan Justin. Marry sangat rindu pada mantan kekasihnya itu.
"Mengapa kamu tidak datang malam itu? Dan tidak pernah menemuiku lagi?" Sela Justin.
Marry terdiam. Dia memejamkan matanya. Ada rasa pedih dan sakit dalam dadanya. Dia merasa bersalah pada Justin, tapi tidak mungkin menceritakan padanya saat ini.
"Justin, aku... Aku minta maaf atas..."
Tiba tiba bibir Justin telah menempel pada bibir Marry.
Justin tak ingin mendengar alasan apa apa lagi dari Marry. Dia pun sangat merindukan wanita itu.
Justin mencium Marry, lama. Marry membalas ciuman itu, dan mereka saling menumpahkan gairah yang selama ini tertahan. Reaksi kimia dan biologis mereka menginginkan lebih. Namun, bayangan Alice sekelebat dalam pikiran Marry.
Marry meregangkan tubuhnya, dan wajahnya bersemu merah.
Justin tersenyum menatap Marry. Ada rasa bahagia terpancar di wajahnya.
__ADS_1