Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Mengantar Alice, Bertemu Justin


__ADS_3

Siang itu Kevin menjemput Alice seperti biasanya. Hari ini ada sebuah buku laporan mingguan siswa yang wajib ditandai tangani oleh orang tua atau wali.


Kevin menuju ke kelas untuk menandatangani buku itu dan mendapat laporan perkembangan Alice seminggu yang lalu.


Saat ini Alice sedang mengikuti program percepatan kelas, jadi Kevin menemui Olivia, guru kelas Alice sendiri.


Kevin manggut-manggut saat Olivia melaporkan kegiatan Alice.


"Jadi, sekarang Anda menjadi wali kedua dari Alice, Tuan Mars?" Tanya Olivia usai Kevin menandatangani buku.


"Ya. Dan mungkin kita lebih sering bertemu." Sahut Kevin sambil tersenyum penuh arti.


Kevin sadar, mungkin Joe telah banyak bercerita tentang dirinya dan Alice pada Olivia, seperti Joe menceritakan hubungannya dengan Olivia pada Kevin.


Olivia tersenyum.


"Terima kasih, sekali lagi untuk waktunya." Ucap Olivia dengan sopan.


Kevin menjabat tangan Olivia, lalu berjalan meninggalkan ruang kelas itu.


Alice yang sedang mengikuti kelas percepatan, masih sekitar tiga puluh menit lagi. Jadi Kevin memutuskan untuk menunggu di mobil saja sambil memeriksa ponselnya, dan membalas beberapa email mengenai pekerjaan.


Olivia masih termenung menatap punggung Kevin yang semakin menjauh di koridor sekolah.


Ini pertama kalinya dia melihat dengan jelas wajah Kevin, atasan Joe.


Kevin memiliki wajah yang rupawan, tegas dan tenang. Jika diperhatikan sungguh sungguh, Alice menampakkan kemiripan dengan Kevin, terutama di bagian matanya.


Olivia hanya tersenyum tipis saat mengingat kemiripan wajah Alice dan Kevin.


Joe memang telah banyak bercerita tentang Kevin saat dia mencari tahu tentang Marry dan Alice.


Mulanya Olivia sedikit cemburu, karena Joe telah bercinta dengannya, namun yang ditanyakan adalah Marry dan Alice.


Lalu Joe menceritakan tentang Alice dan Kevin. Lalu tentang Kevin dan Marry.


Dan meluncurlah cerita kehidupan Marry dan Sophie, serta Alice yang selama ini memang sangat dikenal baik oleh Olivia.


Olivia adalah sahabat Sophie, dan dia sering menghabiskan waktu di rumah Sophie, dan menganggap Marry seperti kakaknya sendiri.


Batapa terkejutnya Olivia, saat Joe menceritakan bahwa Alice adalah putri kandung Kevin. Dan setelah mengetahui kenyataan itu, dia sering bertemu dengan atasan kekasihnya itu di sekolah untuk menjemput Alice atau untuk beberapa urusan sekolah seperti saat ini contohnya.

__ADS_1


*


Setelah duduk di belakang kemudi, Kevin membaca hasil laporan mingguan Alice sejenak. Dia tertegun saat membaca tanggal lahir Alice.


11 Februari.


Dan saat ini sudah bulan februari. Jadi bulan ini dia berulang tahun. Lalu dia mengingat ulang tahunnya. Setelah menghitung bulan. Ternyata tak genap sembilan bulan usia kehamilan Marry. Kevin sempat bingung. Namun dia ingat, hasil tes DNA menyatakan bahwa Alice 99,99% adalah keturunannya.


"Berarti, Alice dilahirkan lebih cepat? Dia prematur? Lalu bagaimana Marry menjalani itu?" Gumam Kevin.


Dia teringat cerita Emily.


"William yang membantu persalinan Marry, di rumahnya. Saat itu Sophie dengan panik mengetuk pintu rumah Nana, meminta tolong, karena Marry kesakitan dan berdarah. Lalu saat Nana dan William tiba, ternyata Marry telah pecah ketuban, siap untuk melahirkan janinnya. Betapa terkejutnya Nana dan William karena selama ini mereka tidak tahu, jika Marry hamil. Karena Marry selalu mengenakan pakaian oversize." Cerita Emily saat itu.


Kevin memejamkan mata sejenak, membayangkan kejadian waktu Marry melahirkan. Pasti dia sangat menderita dan kesakitan.


Dada Kevin terasa sesak dan sedih. Ada rasa sesal yang mungkin Marry tak bisa memaafkannya.


Kevin menghela napas, lalu memikirkan beberapa rencana ke depan untuk memberi pesta kejutan untuk Alice.


*


Kevin menunggu sejenak di mobil, tak lama Alice datang sambil mengetuk kaca mobil.


Kevin tersadar dari lamunannya, dan membukakan pintu mobilnya.


"Maaf lama menunggu!" Ucap Alice saat duduk di bangku depan di samping Kevin.


"Tidak masalah. Aku sambil beristirahat sejenak juga di sini." Sahut Kevin sambil mengelus lembut rambut Alice.


"Bagaimana hasil laporan ku?"


"Seperti biasa mungkin. Hasilnya baik, memuaskan. Untuk bidang akademik semua nilai baik dan lulus. Di bidang sosial baik, tidak ada masalah."


"Itu tidak biasa!" Celetuk Alice.


Kevin menoleh ke arah Alice sambil mengernyit.


"Biasanya ada laporan aku berkelahi dengan seseorang." Seru Alice sambil nyengir.


Kevin tertawa kecil mendengar pengakuan Alice.

__ADS_1


"Tak masalah. Aku juga begitu sewaktu seusiamu. Jika ada seseorang yang menggangu, pasti akan langsung aku lawan. Tak peduli akan luka atau berakhir dengan wajah lebam atau pakaian kotak." Sahut Kevin sambil terkekeh.


Alice menatap Kevin penuh kekaguman.


"Sungguh?" Tanyanya.


"Ya." Kevin mengangguk.


"Biasanya yang akan kerepotan adalah Emily, karena dia kakak kelasku. Tak jarang dia akan dipanggil untuk kelakuanku. Bahkan jika sudah parah. Mama atau papaku yang dipanggil untuk menghadap kepala sekolah. Dan tak jarang aku masuk ke kelas khusus anak yang bermasalah di liburan musim panas, sebagai hukuman." Cerita Kevin mengenang masa sekolahnya dulu.


Alice masih menatap Kevin tak percaya.


"Ssttt.... Tolong jangan ditiru. Dan jangan ceritakan ini pada mamamu. Aku tak ingin dia mengira aku mengajarkan ini padamu." Sambung Kevin sambil mendekatkan wajahnya pada Alice sambil memberi isyarat telunjuk di bibirnya.


Alice mengangguk sambil tersenyum.


"Janji!" Sahut Alice sambil menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Kevin.


Mereka berdua tertawa kemudian, lalu Kevin melajukan mobilnya keluar dari wilayah sekolah.


"Aku ingin ke rumah Bibi Sophie saja, Pa. Karena Mama selalu pulang sore, jika menunggu di kedai. Aku ingin bermain dengan Liam, dan membantu merawat tanaman di halaman rumah Nana." Pinta Alice sambil menoleh ke arah Kevin.


"Oke. Baiklah. Aku akan antar ke sana."


Kevin menuju ke rumah Sophie, dan berhenti tepat di depan rumah.


Sophie menyambut kedatangan keduanya dengan gembira.


Sophie menawarkan Kevin untuk mampir, namun, Kevin menolak dan beralasan ada pekerjaan yang harus dilakukannya.


Sophie mengucapkan terima kasih, lalu membimbing Alice untuk masuk ke dalam rumah.


Kevin berlalu, menuju mobilnya. Tepat hendak membuka pintu mobil, ekor mata Kevin seakan menatap seseorang sedang memperhatikan gerak geriknya. Kevin melayangkan pandangan ke sosok itu yang berada di sebuah mobil di seberangnya.


Kevin menatap tajam ke sosok itu, yang ternyata adalah Justin yang tengah memperhatikan Kevin sedari tadi.


Justin saat hendak ke rumah orang tuanya, melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Sophie. Justin berhenti dan terus memperhatikan, mulai dari Kevin turun dan membukakan pintu untuk Alice. Lalu Sophie dengan ramah menyambut kedatangannya. Hingga Kevin berpamitan. Dan sekarang mereka saling bertatapan.


Sorot mata Justin seakan marah dan tak suka pada Kevin.


Kevin membalas tatapan Justin dengan tenang. Lalu dia masuk ke mobil, dan segera berlalu, namun perlahan-lahan.

__ADS_1


Dari kaca spion, Kevin terus mengawasi mobil Justin, yang juga mulai bergerak menjauh dari kediaman Sophie.


Setelah mobil Justin menghilang dari pandangan, Kevin segera mengemudikan mobilnya.


__ADS_2