Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Mengaku


__ADS_3

"Hai, Oliv, apa kabar?" Sapa Marry sambil melongok ke dalam kelas, menyapa Olivia yang sibuk memeriksa tugas siswanya.


"Tumben sudah datang. Apakah lupa hari ini jadwal kelas percepatan Alice, dan dia pulang lebih sore." Olivia terkejut, saat Marry menghampirinya di kelas.


"Tidak. Aku tidak lupa." Marry menggelengkan kepalanya.


"Selamat atas kehamilannya." Ucap Olivia sambil melihat ke arah perut Marry.


"Terima kasih. Sepertinya Alice tak bisa menjaga rahasia mamanya untuk tak membicarakan kehamilanku sebelum acara resepsi Minggu ini." Marry hanya bisa menghela napas.


"Dia sangat senang, bahkan dia pernah menggambar dia dan adiknya."


Olivia berdiri, menuju ke pojok kelas, dan mengambil sebuah gambar, lalu menyodorkan pada Marry.


"Alice sangat senang kamu menikah dengan Kevin, seperti impiannya. Lalu dia berharap kalian akan memiliki bayi, yang akan menjadi adiknya. Dapat diajak bermain seperti Liam. Dan Liam akan memiliki teman. Alice akan menjaga dua adiknya itu dan akan mengajarkan berbagai hal pada adik adiknya nanti. Bahkan dia juga telah merencanakan berbagai hal juga dengan adiknya kelak." Cerita Olivia panjang lebar pada Marry.


"Wow! Sungguh kah? Aku sangat terharu sekali. Aku tahu dan yakin, Alice akan sangat menyayangi adiknya."


"Pasti!"


Lalu keduanya terdiam sejenak.


Marry menaruh kembali gambar pada tempatnya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Joe?" Marry menghela napas dan membalikkan tubuhnya menatap Olivia.


Olivia terkejut dan terdiam. Dia tak pernah menyiapkan alasan apapun tentang mengapa dia meninggalkan Joe.


Karena dia pun masih sangat mencintai lelaki itu. Dia hanya ingin melindungi dari ayah yang telah meninggalkan ibunya, tega menelantarkan ibunya dan dirinya. Bahkan sekali dia pernah datang hanya untuk meminta uang, lalu merampas semua uang milik ibunya, lalu memukul dan memaksa untuk melayani nafsu bejatnya, setelah itu meninggalkan mereka kembali.


Hingga ibunya meninggal dunia karena sakit, dan dia dirawat di panti asuhan dinas sosial.


Olivia sungguh telah menganggap ayahnya telah mati selama ini. Dia tak pernah ingin melihat bahkan mengenalnya lagi. Selama hidupnya, Olivia hanya sekali itu bertemu ayahnya saat ia berusia delapan tahun, yang membuatnya trauma untuk bertemu ayah kandungnya itu.


"Liv, aku yakin, kalian sedang tidak bermasalah. Kalian selalu baik baik saja selama ini. Bahkan keluarga Joe sangat menerimamu. Mereka tak mempermasalahkan hubungan kalian. Bahkan Nyonya Miller sangat merindukanmu. Aku bertemu dengannya tadi pagi, dan dia titip salam padaku untukmu. Mengapa Liv? Apa Joe membohongi dirimu?"


Marry mendekati Olivia yang duduk di bangku siswa, dan ikut duduk di sampingnya.


"Aku bertemu dengannya."


"Siapa?" Marry mengernyitkan dahinya.


"Lelaki jahat yang tak pernah ingin aku lihat lagi." Olivia berbicara penuh penekanan, ada rasa benci dan kemarahan pada suaranya.


"Siapa, Liv? Lelaki yang mana maksudmu? Mantan kekasihmu?"


Olivia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Orang yang selama ini telah meninggalkan dan menelantarkan hidup ibu dan aku. Lalu sempat kembali hanya untuk merampok dan menyiksa ibuku. Bahkan setelah itu tak pernah lagi dia menampakkan batang hidungnya. Saat ibu sakit, dia sama sekali tak pernah datang. Lalu tiba tiba dia muncul kembali di hadapanku, dan mengancamku."


Olivia berkata dengan nada penuh emosi dan marah.


"Ayahmu?"


Olivia mengangguk.


"Dia mengatakan bahwa dirinya sangat senang, jika aku bisa menjadi bagian dari keluarga Miller. Jalannya untuk menghasilkan banyak uang kembali. Dan aku tak akan membiarkan dirinya memeras keluarga Miller dengan memperalat diriku, Marry. Dia juga akan mengancam keselamatan Joe dan keluarganya, jika aku mengatakan rencananya itu." Ucap Olivia.


"Ya Tuhan!" Marry menutup mulutnya dengan tangan.


"Itulah, alasan yang sebenarnya, Marry. Aku tak ingin Joe dan keluarganya celaka karena aku. Jika sampai benar-benar terjadi aku tak akan memaafkan dirinya! Sungguh! Aku akan membalasnya! Aku mencintai, Joe. Dan tak ingin hal buruk terjadi padanya. Keluarganya yang begitu baik dan menerima diriku apa adanya, aku sangat terkesan sekali. Bahkan ibunya tak memberi jarak padaku. Menunjukkan foto foto Joe saat masih kecil, menceritakan Joe waktu kecil, kenakalannya. Aku sangat diterima dalam keluarganya."


Ucap Olivia dengan suara parau. Kini air matanya tak dapat lagi dibendung.


Marry meraihnya dan memeluknya, membiarkan Olivia menangis dalam pelukannya.


"Menangislah, luapkan semuanya!" Bisik Marry sambil membelai lembut rambut Olivia.


*


*

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2