Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Alasan


__ADS_3

Marry mengetuk pintu Alice dan membukanya. Alice duduk meringkuk di atas tempat tidurnya.


Alice menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya. Dia masih merasa trauma melihat orang-orang berlari mengejar dia dan mamanya saat di rumah sakit tadi.


Marry perlahan menghampiri Alice dengan senyum tersungging.


Marry duduk di bibir tempat tidur, di samping Alice. Membelai lembut rambut putrinya, dan menatapnya penuh kasih sayang.


"Makan yuk, Mama sudah buat Mac and cheese kesukaan kamu. Mama juga buat cake cokelat dengan toping Oreo. Nanti, di atasnya kita beri es krim vanila, lalu kita... Hap! Makan semua!" Marry mencoba menghibur Alice yang masih shock dengan kejadian tadi siang saat menjenguk Kevin. Yang dengan tiba tiba, Brenda, kekasih Kevin, yang berprofesi sebagai model dan artis itu datang menjenguk dengan membawa serombongan wartawan infotainment untuk meliput kunjungannya menjenguk Kevin.


Alice menoleh ke arah Marry dan memeluknya erat.


"Aku sayang Mama." Sahut Alice.


"Aku juga sayang kamu." Marry memegang wajah putrinya dan mencium pipi Alice dengan rasa sayang.


"Ayo, kita makan!" Marry mengangkat tubuh Alice untuk turun dari tempat tidurnya.


Alice yang merasa geli saat tangan Marry langsung tertawa terbahak-bahak.


*


"Mengapa Mama tidak mau mencari seseorang untuk menemani mama?" Tanya Alice saat mereka sedang menikmati hidangan penutup.


Marry menatap Alice, lalu tersenyum.


"Kan ada kamu. Itu sudah cukup buat Mama. Kamu segalanya buat Mama." Sahut Marry.


"Mama, apakah aku boleh tahu siapa papaku?" Desak Alice.


Marry meletakkan sendoknya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu menatap Alice.


"Jika buka Papa Kevin, aku pun tidak masalah." Ucap Alice meyakinkan Marry.


Marry tersenyum geli mendengar ucapan putrinya itu.

__ADS_1


"Jangan mimpi! Kevin itu dari keluarga kaya raya, Mama hanya seperti ini, orang biasa. Lalu mengapa kamu dapat menyimpulkan Kevin Papamu?" Marry bertanya balik pada Alice.


"Mama pernah mengatakan, bahwa papaku bukan orang sembarangan. Dia sosok pria cerdas, seperti diriku. Dia lulusan MIT, dan kecerdasanku menurun darinya." Jawab Alice.


Marry terkekeh.


"Kamu pikir, yang cerdas itu hanya dia? Mahasiswa MIT itu banyak." Marry terkekeh.


"Ssttt.... Tolong untuk yang satu ini, cukup menjadi rahasia kita berdua saja!" Marry memajukan tubuhnya sambil menatap Alice dengan serius.


"Jadi, dia pernah bersekolah di MIT?" Tanya Alice dengan antusias.


Marry hanya mengangkat bahunya.


"Mengapa Mama tidak pernah mencarinya?"


"Sudahlah, Sayang! Mama sudah sangat bersyukur dan bahagia memiliki kamu. Lalu ada Bibi Sophie, Paman Ben, Liam, Nana, Paman Will. Kamu juga harus bersyukur untuk ini semua."


"Tapi, aku ingin melihat mama bahagia dengan seorang lelaki, seperti orang tua teman temanku yang lain."


Marry memeluk Alice dan mencium keningnya.


"Alice, mama sudah sangat bahagia. Sudah, ayo kita habiskan makanan ini."


"Ma, seandainya Kevin menyukaimu, apakah Mama akan menyukainya juga?" Tanya Alice tiba tiba.


"Seandainya Mama tidak menyukai Kevin, kamu tidak apa apa, kan?" Marry bertanya balik pada Alice.


"Aku tidak apa apa. Aku hanya ingin ada yang bisa melindungi Mama." Jawab Alice.


Marry memeluk Alice dengan sayang.


Dalam hatinya sangat bersyukur mempunyai putri yang amat mengerti akan keadaan dirinya. Tapi, luka di dalam dirinya, kesedihan akan peristiwa tujuh tahun silam, membuatnya enggan untuk menjalin hubungan kembali dengan lelaki lain.


Marry dan Alice kembali melanjutkan makan malam mereka sambil tertawa-tawa dan bersenda gurau. Marry berusaha supaya Alice melupakan keinginannya memiliki seorang papa.

__ADS_1


*


*


Satu Minggu kemudian....


Joe telah membereskan masalah dengan wartawan infotainment. Berita mengenai Brenda menjenguk Kevin memang menjadi headline pada tabloid gosip. Namun, tidak ada berita atau foto Marry maupun Alice di sana.


Polisi juga telah menangkap orang orang yang merampok dan menganiaya Kevin. Gadget dan dompet milik Kevin telah kembali kepada empunya.


Kini, Kevin telah keluar dari rumah sakit, dan kembali ke apartemennya yang nyaman. Mama dan Papa meminta dua orang pelayan untuk datang ke apartemen Kevin untuk melayaninya selama kesehatan belum pulih. Namun, Kevin bersikeras menolak. Dia telah mempekerjakan seorang pelayan di kediamannya. Dan jika memerlukan apa apa, ada Joe yang akan membantunya. Begitulah alasannya pada kedua orang tuanya.


"Apa agendaku hari ini?" Tanya Kevin saat Joe masuk ke dalam apartemen untuk menjemputnya.


"Meeting dengan beberapa klien, usai makan siang, jadwal dengan pihak rumah sakit dan kepolisian tentang penggunaan sistem teknologi untuk divisi forensik. Malam, menemani Brenda, undangan pesta ulang tahun salah satu teman artisnya." Joe menuturkan semua jadwal hari itu pada Kevin.


Kevin mendengar sambil menganggukkan kepalanya, sambil menikmati muffin cokelat dari kedai milik Marry.


"Apa kamu pernah bertemu dengan Marry setelah kejadian kemarin? Aku menghawatirkan Alice. Aku ingin bertanya, tapi takut, dia marah, karena kejadian itu." Kevin menghela napas dalam-dalam.


"Aku sudah membereskan semuanya. Tidak ada berita atau nama Marry atau Alice, bahkan gambarnya pun tidak ada." Sahut Joe.


"Bagus. Jika aku menghubunginya, apakah dia akan marah?"


"Jika, kamu berniat baik dan menyampaikan dengan baik baik, aku rasa dia tidak akan marah." Jawab Joe.


Kevin terdiam sejenak.


"Joe, tolong batalkan acara pestaku dengan Brenda. Aku ingin berlibur nanti malam. Kamu bisa berlibur juga, dan temuilah gadismu itu." Tukas Kevin sambil menepuk bahu Joe.


Joe hanya tersenyum, mendengar Kevin berkata ingin berlibur.


Joe sangat yakin, nanti malam dia pasti akan menuju ke sebuah tempat.


Joe sangat yakin Kevin akan menemui Marry dan Alice.

__ADS_1


__ADS_2