
Usai bekerja, Marry bersiap untuk pulang. Sebelum meninggalkan kediaman keluarga Mars, Bob, asisten Nyonya Ruth memberikan amplop bayaran hasil kerja Marry.
Marry keluar dari rumah besar dan megah itu.
"Marry." Panggil seseorang.
Marry menoleh. "Oh, hai, Will, aku pikir kamu sudah pulang?" Tanya Marry sambil tersenyum.
William hanya tersenyum menanggapinya.
"Kamu mau pulang bersamaku?" William menawarkan pada Marry.
"Dengan senang hati." Sahut Marry sambil tersenyum.
William bergegas membukakan pintu mobil bagi Marry.
Dan Marry berhenti sejenak di dekat William saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Hmmm sepertinya aku mencium aroma parfum wanita.. Apakah ada yang usai melakukan kegiatan panasnya?" Tanya Marry sambil menyeringai pada William sambil seolah-olah membaui tubuh lelaki itu.
William tersipu dan hanya geleng-geleng kepala.
"Ayolah, jika benar aku juga tidak masalah. Siapa gadis yang beruntung mendapatkan cintamu, Will?" Selidik Marry.
"Ayolah, kita pulang saja. Hari sudah semakin larut!" Ajak William mencoba mengalihkan pembicaraan.
Marry terkekeh dan masuk ke mobil, William menutup pintu lalu bergegas ke kursi kemudi.
Dari sebuah jendela, sepasang mata, menatap dan mengamati keakraban yang terjadi antara William dan Marry dengan tatapan cemburu. Ya, Emily.
*
"Jadi, ceritakan padaku, wanita mana yang berhasil mendapatkan cintamu, Kak?" Tanya Marry masih penasaran pada William.
William hanya terkekeh mendengar pertanyaan Marry.
"Kamu seperti Nana saja, jika menyangkut urusan wanita yang dekat denganku." Sahut William.
__ADS_1
Marry terdiam seolah berpikir.
"Apakah dia selebriti, atau kerabat Tuan Mars?" Cecar Marry sambil menoleh pada William.
William hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Atau.... Jangan jangan..." Marry terdiam dan mendekatkan tubuhnya pada William sambil melotot.
"Jangan bilang kamu bersama Emily?!" Ucap Marry perlahan.
William menoleh ke arah Marry, dan menatapnya dengan wajah serius.
Marry segera menjauh dan matanya semakin lebar dan mulutnya menganga, cepat cepat dia menutup mulutnya dengan tangan, masih menatap William.
"Ya, aku bersama Emily, dan tadi usai bersamanya." Jawab William, dan sontak membuat Marry terkejut.
Kini, Marry yang berusaha mengatur emosinya usai keterkejutan akan pengakuan William.
"Kamu baik baik saja?" Tanya William yang mulai khawatir pada Marry.
"Ya, aku baik baik saja, Will. Aku hanya tak menyangka, kamu dengan Emily. Apakah Nana sudah mengetahuinya?"
Marry menatap William, dan siap mendengar kisah cinta William dan Emily.
"Aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama bertemu di kampus. Kami satu kampus dan dia hanya menganggap aku sebagai teman selama itu. Selama kuliah aku hanya bisa memendam perasaanku padanya." William mengambil napas sejenak, seakan mulai mengingat masa itu.
Marry masih mendengar dengan serius.
"Lalu setelah dia menjadi direktur di rumah sakit, dan aku bekerja di sana. Lalu aku mengambil spesialis anak, dan dia lebih sebagai peneliti. Kami hanya bertemu untuk sekedar urusan pekerjaan. Hingga dia membuat rumah sakit khusus anak anak, untuk penyakit kanker dan penyakit lain yang membutuhkan perawatan khusus, dan memberi bantuan pengobatan cuma cuma bagi anak anak yang tidak mampu. Sungguh, dari situ, rasa cintaku mulai tumbuh kembali. Kebetulan aku menjadi salah satu dokter yang bekerja di sana. Dan dia sering mengunjungi rumah sakit khusus anak itu, dan berinteraksi langsung dengan pasien di sana. Dan itu sungguh, membuatku semakin jatuh cinta padanya." William terdiam sejenak mengambil jeda.
"Kamu tahu, aku sangat menyukai anak anak, dan melihat Emily yang juga dekat dengan anak anak, dengan perhatian yang tulus. Aku tak bisa lagi menahan perasaanku. Hingga beberapa bulan yang lalu, saat kami sedang melakukan perjalanan dinas, aku memberanikan diri mendekatinya. Dan mengungkapkan perasaanmu padanya. Lalu tanpa terduga, ternyata dia selama ini juga menyimpan perasaan yang sama padaku." William menutup ceritanya dengan menoleh pada Marry sambil tersenyum.
"Kalian sangat beruntung. Aku turut berbahagia untuk kalian. Dan aku siap membantu kalian kapan saja. Emily tidak seperti gadis kaya lain kebanyakan. Yang memanfaatkan kekayaan keluarga untuk bersenang-senang. Dia berbeda. Emily berbeda dengan saudaranya yang satu itu. Emily banyak memanfaatkan kekayaan keluarganya untuk kegiatan sosial, bahkan mendirikan pusat penelitian untuk penyakit langka untuk membantu mencari obatnya. Sungguh Will, aku sangat senang dan berbahagia untuk kalian." Sahut Marry sambil menepuk pundak William.
"Terima kasih, Marry. Lalu bagaimana denganmu?"
Marry hanya menaikkan bahunya.
__ADS_1
"Aku juga selalu ingin mendengar kabar bahagia darimu. Selama ini, kamu tak pernah serius bersama seseorang. Atau kamu tidak ingin menemui lelaki yang telah menghamilimu? Setidaknya mengenalkan dia pada Alice." Ucap William.
Marry terdiam. Dia hanya menatap jalanan melalui kaca mobil. Menggenggam erat seat belt hingga buku buku jarinya tangannya terlihat memutih karena tegang.
William menoleh sekilas pada Marry yang hanya diam. William terus fokus menyetir.
Dia teringat saat Sophie berlari menggedor rumahnya pada tengah malam, karena Marry mengeluh sakit perut dan berdarah. Nana dan William, yang tinggal di sebelahnya, langsung bergegas ke rumah Marry dan Sophie. Betapa terkejutnya William dan Nana, saat mengetahui, Marry akan melahirkan. Kepala jabang bayi sudah mulai terlihat, dan William membantu persalinan Marry saat itu bersama Nana dan Sophie. Saat itu, kebetulan William baru saja menyelesaikan spesialis anaknya, tapi, menolong orang melahirkan baru kali pertama itu.
Itu adalah pengalaman pertama dirinya, yang akan selalu dia ingat dan tak terlupakan.
Tiba tiba, William menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menatap ke arah Marry.
"Marry, apa yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kamu menyimpan semuanya sendiri selama ini?" Tanya William.
Marry yang terdiam, tiba tiba terisak. William melepas seat belt Marry dan memeluk wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.
Marry menumpahkan semua yang dia rasakan selama ini. Rasa sakit, kecewa, dan marahnya. Semua rasa yang terpendam selama ini dia lepaskan dengan tangis dalam pelukan William.
"Menangislah, Marry. Lepaskan semuanya. Kamu juga berhak untuk bahagia." Ucap William sambil mengelus punggung Marry.
William menyadari, Marry mengalami hal yang buruk selama ini. Itulah alasan dirinya tak mau membuka diri dalam hubungan yang lebih serius. Mungkin karena trauma pada pasangan sebelumnya, dan mungkin Alice adalah akibat dari hal itu.
"Siapa yang menghamili dirimu, Marry?" Tanya William dengan nada suara lembut.
"Apakah kekasihmu dulu tak mau bertanggung jawab dan meninggalkanmu?" Lanjut William.
Marry melonggarkan pelukannya, dan menatap ke arah William.
"Aku yang meninggalkan dia, karena hamil. Aku merelakan beasiswaku karena ingin mengurus putriku. Aku membuang dan mengubur semua impianku dalam dalam karena dia. Jika semua tidak terjadi, saat ini, aku pasti telah menjadi dokter, seperti harapan Mama Papa, dan impianku." Ucap Marry dengan suara parau.
Marry berusaha menyeka air matanya. William memegang pundak Marry, lalu membantunya menyeka air mata yang terus mengalir.
"Kamu mau mengatakan siapa yang melakukan hal itu padaku?" Tanya William dengan raut wajah serius.
Marry melepaskan tangan William, dan menoleh ke arah lain. Menghela napas dalam-dalam.
"Biarlah, sementara ini aku simpan saja dalam hati. Sekarang sudah lebih baik, Will. Terima kasih." Marry menoleh ke arah William.
__ADS_1
William mengangguk dan menghidupkan kembali mobilnya dan melanjutkan perjalanan mereka lagi.